–, Undercover
Jisoo mengumpat. Mengusak surai rambutnya kasar. Sumpah serapah keluar dari bibirnya yang mungil.
Jisoo menghela napasnya, sembari mebanting tubuhnya di atas kasur. Meletakkan lengan kirinya diatas wajahnya, menutupi kedua netranya.
Jisoo mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Saudara kembarnya, Jisaa, memohon-mohon padanya, dengan tampang bak anjing kecil, dan mata yang berlinang air mata. Membuat Jisoo mau tak mau mengiyakan keinginan kakak kembarnya itu.
Jisaa, memohon kepada Jisoo untuk menggantikan dirinya diacara festival sekolahnya, yang bertepatan dengan lomba balletnya. Membuat Jisoo tak habis pikir. Mengapa kakaknya itu tidak izin dari sekolahnya? Namun, jawaban Jisaa membuat Jisoo ingin membenturkan kepalanya di dinding.
Dengan alasan 'Aku panitia, tenang saja kamu hanya diam, duduk, melihat anak-anak, gak perlu bersuara. Aku sudah bilang ke panitia lain aku sakit tenggorokan. Jadi, tolong kamu gantikan aku di sekolahku, doakan aku menang okay!'
Jisoo menghela napasnya. Berdoa dalam hati, agar keesokan harinya penyamarannya tidak di ketahui oleh orang lain.
*****
Jisoo mendekap erat buku kepanitiaan di dadanya. Dengan celana pendek selutut, kaos lengan pendek, dan jaket tipis khusus panitia tersampir di tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di punggungnya. Bergerak lembut seirama dengan hembusan angin.
Jisoo berusaha tenang. Mengabaikan tatapan memuja dari berbagai sudut. Jisoo baru mengetahui bahwa kakak kembarnya ini sangat populer. Bahkan sudah berjam-jam lebih dia tidak bersuara, tak ada satupun yang mencurigainya. Mereka semua benar-benar mengira, dia sakit tenggorokan.
Jisoo sempat tak percaya saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin kamarnya. Dengan polesan make up tipis, dan pemerah bibir, Jisoo benar-benar mirip kakak kembarnya.
Tak heran jika tak ada siswa yang mencurigainya.
Pikirannya buyar saat ada seseorang yang menepuk bahunya lembut. Membuat Jisoo menoleh. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut acaknya, dan senyum lebar yang membuat hatinya menghangat.
“Hai, Jisaa.”
Jisoo mengangguk pelan. Masih menatap lekat lelaki di depannya.
“Tumben diem mulu. Biasanya banyak bacot. Beneran sakit tenggorokan?”
Jisoo mengangguk sebagai konfirmasi. Membuat lelaki di depannya mengangguk paham.
“Aku ada cara biar tenggorokanmu cepet sembuh. Mau tau?”
Jisoo diam, lalu mengangguk. Tak ada gunanya menolak.
Lelaki di depannya tersenyum lembut. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan rambutnya yang menutupi lehernya. Jemarinya bergerak menyentuh tengkuk lehernya. Membuat Jisoo agak tersentak, merasakan betapa dinginnya tangan lelaki di depannya itu.
Lelaki di hadapan Jisoo, mendekatkan wajahnya ke leher Jisoo. Membuat Jisoo kaget, spontan mendongak. Jantungnya berdebar.
Lelaki di depannya mengecup lehernya. Mengecup lama, lalu melepaskannya.
Wajah Jisoo memerah. Menatap pemuda di depannya tak percaya.
“Semoga cepet sembuh.” ujarnya diiringi tawa ringan.
Lelaki itu bangkit. Meninggalkan Jisoo dengan wajah yang memerah dan jantung yang berdebar keras.
“Jisaa! Gak papa? Diapain sama Seokmin?”
Jisoo menoleh linglung ke arah temannya yang lain. Jisoo menggeleng.
“Kebiasaan Seokmin tuh.”
Jisoo hanya diam. Menatap punggung lekaki tadi yang baru saja Jisoo tahu namanya. Seokmin.
Senyum tipis muncul di bibirnya. Kepalanya berulang kali mengucapkan namanya bagai mantra.
Seokmin. Seokmin. Seokmin.
*****
Jisoo mendudukkan dirinya di atas kasur ruang kesehatan. Teman-temannya memaksa Jisoo untuk istirahat di ruang kesehatan. Entah kapan acara berakhir. Jisoo menikmati waktunya saat ini. Dia benar-benar iri dengan kepopuleran kakak kembarnya.
Jisoo melepas Wig rambutnya. Merasa gerah karena terlalu lama memakainya. Dia mengusak rambutnya lembut. Bersyukur bahwa ruangan kesehatan saat ini sepi. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Membuat Jisoo agak bernapas lega. Bisa menjadi dirinya sendiri untuk sementara, tanpa orang lain tahu.
Atau mungkin tidak?
Karena detik berikutnya, Jisoo tak sempat memakai Wig rambutnya, saat Seokmin, lelaki beberapa jam yang lalu ia temui, masuk ke ruang kesehatan, dan menyibak korden yang Jisoo tempati.
Keduanya saling tatap. Keheningan menyelimuti mereka. Mata Jisoo melebar. Rasa takut menyergap hatinya.
Jisoo menggigit bibirnya cemas. Menatap Seokmin yang hanya diam.
“Ah. Sesuai dugaanku.”
Jisoo cuman diam. Menatap Seokmin yang masih menganalisa dirinya dari atas hingga bawah. Sesekali mengangguk.
“Kamu bukan Jisaa.”
Jisoo tersentak. Napasnya seakan hilang. Mampus sudah.
Seokmin menyeringai. Dengan perlahan dia mendekati Jisoo. Membuat Jisoo tak bergerak di atas kasur, dengan tubuhnya yang disergap oleh tubuh Seokmin. Wajah keduanya sangat dekat. Bahkan Jisoo mampu menghitung bulu mata Seokmin.
“Siapa kamu?”
Jisoo masih enggan bersuara. Ditatap dengan lekat oleh Seokmin, entah kenapa membuat jantungnya berdebar.
“Kamu laki-laki kan?”
Seokmin menatap tubuh Jisoo dari atas hingga bawah. Berhenti tepat di selangkangan Jisoo.
“Apa perlu ku pegang biar kamu bersuara?”
Jisoo terlonjak. Tangannya otomatis menutupi selangkangannya dari pandangan Seokmin. Membuat lelaki di depan Jisoo tertawa.
“Kamu saudara kembarnya Jisaa, kan?”
Mau tak mau Jisoo mengangguk. Membuat Seokmin puas mendengarnya. Dia segera menjauhkan tubuhnya, lalu mendudukkan dirinya di samping Jisoo.
“Sudah kuduga. Tadi waktu aku cium lehermu, aku lihat jakunmu.”
Jisoo memerah saat mengingatnya.
“Kemana Jisaa?”
Jisoo menelan ludah. Harus kah dia jawab?
“Gak mau jawab gak papa.”
Jisoo menggeleng. “Dia ada lomba katanya. Ballet.”
Seokmin tertawa. “Ballet? Sejak kapan anak bar-bar macem dia ikut ballet. Dibohongin kamu sama kakakmu sendiri.”
Jisoo diam. Benarkah kakaknya membohongi dia?
“Nanti coba tanya aja ke kakakmu.”
Jisoo hanya mengangguk pelan. Kepalanya ia tolehkan ke arah Seokmin. “Kamu pacarnya kakak?”
Seokmin terkekeh. “Pacar? Ogah sama dia. Mending sama kamu aja.”
Jisoi memerah. Buru-buru ia alihkan kepalanya menatap arah lain.
“Tapi kan aku laki.” gumam Jisoo ragu.
Seokmin terkekeh. “Emang kenapa kalo laki? Aku kan yang suka kamu. Jadi, terserah aku.”
Jisoo hanya diam. Dia masih yakin jika Seokmin ini suka padanya karena tampangnya yang mirip kakak kembarnya. Siapa yang tak suka dengan kakak kembarnya itu.
“Jisaa itu udah punya pacar. Anak sekolah sebelah. Kayaknya dia gak masuk buat liatin pacarnya. Makanya kamu disuruh gantiin dia disini.”
Jisoo tak habis pikir. Jika kakaknya pulang nanti, dia akan meminta penjelasan. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otaknya. Seperti paham dengan omongan Seokmin.
“Jadi, karena kamu gak bisa dapetin kakakku, kamu mau dapetin adeknya? Yang laki ini? Biar kamu bisa ketemu terus kan sama Jisaa?”
Seokmin diam, lalu tertawa. “Ngapain aku suka sama Jisaa. Kamu sama Jisaa itu beda. Walaupun aku sama kamu baru ketemu hari ini. Wajah boleh sama, tapi sifat kalian beda jauh. Kamu kalem, tenang, pemalu dan kalo ngomong pasti di pikir-pikir. Beda sama Jisaa. Jadi, hilangkan pikiranmu yang ngira aku suka Jisaa tapi gak bisa dapetin dia.”
Jisoo hanya diam. Tangannya bermain di zipper jaketnya.
Seokmin terkekeh. “Aku tertarik sama kamu dari awal pagi ini. Auramu beda, aromamu beda, tingkahmu beda. Makanya aku berani lakuin tadi ke kamu. Kalo kamu Jisaa beneran, kamu bakal mukul aku.”
Jisoo masih bungkam. Lebih memilih mendengarkan ucapan Seokmin.
“Kalo aku pengen kenal dekat sama kamu gimana? Kamu mau?”
Jisoo menoleh. Bertatapan dengan netra Seokmin yang coklat tua. Entah mengapa, Jisoo menyukainya.
Anggukan pelan dari Jisoo, membuat Seokmin tersenyum cerah. Seokmin menyerahkan telapak tangannya di depan Jisoo.
“Ayo, aku antar pulang. Udah pada sepi di luar. Kamu gak perlu nyamar lagi.”
Jisoo menatap tangan Seokmin dan wajah Seokmin bergantian. Dengan pelan dia meraih tangan Seokmin.
Senyum lebar menghiasi bibir Seokmin. Genggamannya ia eratkan.
“Ayo.”
*****
“Hai, Jisaa.” ujar Seokmin sambil menyeringai, saat melihat Jisaa di perkarangan rumahnya.
Jisaa melotot horror, saat melihat adik kesayangannya bergandengan tangan dengan Seokmin.
“S-seokmin?!”
Seokmin tertawa. Jisoo hanya diam. Memilih pasrah dengan keadaan.
“Ini aku. Tenang aja, aku udah tau dari awal kalo Jisaa yang tadi itu bukan Jisaa asli. Adekmu cakep ya.”
Jisoo memerah. Matanya menatap kakaknya dengan perasaan bersalah.
“Gimana bisa kamu ketauan?”
Jisaa menghampiri Jisoo, menariknya agar menjauh dari Seokmin.
“Dia lepas Wig nya di uks. Pas bener akunya masuk.”
Seokmin menjawab diiringi kekehan ringan.
“Jangan deket-deket sama dia! Udah kamu jauh-jauh dari ini makhluk.”
Jisaa menarik Jisoo untuk bersembunyi di belakang punggungnya.
“Gak bisa. Aku sama Jisoo udah janji.”
Seokmin menyeringai. Ia melangkah mendekati Jisaa. Dengan gampang, dia menyingkirkan Jisaa. Membuat Seokmin bisa melihat Jisoo dengan jelas, menatapnya lekat-lekat.
Dengan lembut dia menangkup wajah Jisoo. Kecupan lembut ia daratkan di bibir Jisoo yang mungil, membuat Jisaa melotot tak percaya.
Seokmin menjauhkan wajahnya, mengusap lembut surai rambut Jisoo yang berantakan.
“Nanti hubungi aku.”
Jisoo mengangguk pelan. Wajahnya memerah.
Seokmin menoleh ke arah Jisaa. Melemparkan senyuman congkak.
“Bye, babu.”
Jisaa mengeram. “Sialan.”
Seokmin tertawa. Dia tersenyum lembut kearah Jisoo, yang dibalas anggukan malu dari sang empu.
Saat Seokmin sudah berlalu, buru-buru Jisaa mendekati Jisoo.
“Astaga, kenapa kamu bisa sama itu orang? Astaga.”
Jisoo masih tak paham kenapa kakaknya heboh seperti ini.
“Emang kenapa, kak?”
Jisaa melotot. “Kenapa? Kenapa katamu? Dia musuhku, Jisoo. Musuh!!”
Jisoo tertawa pelan. “Kan musuh kakak. Bukan musuh ku.”
Jisaa berdecak. “Kamu gak tau sifat aslinya.”
“Dia baik kok.”
Jisaa menggeleng pelan. “Udah kena peletnya kamu.”
Jisoo terkekeh. “Gak ah.”
Jisaa menghela napasnya pelan. “Emang kamu udah janji apa sama dia?”
“Oh. Janji buat kenalan lebih jauh. Dia suruh aku janji kalo gak mau penyamaran tadi di publikasikan di sekolah.”
Jisoo berucap polos. Tanpa beban. Membuat Jisaa mengerang frustasi.
“Astaga, Jisoo. Kamu dibodohin!”
Jisoo mengerjap bingung.
“Dibodohin gimana?”
“Ah, tau ah. Bye!”
Jisoo menatap kakaknya bingung.
“Dibodohin gimana sih?”