Puppyfrog

•Nightmare•

Minghao mencengkram seprei di bawahnya. Peluh menghiasi wajahnya yang mengkerut. Dahinya basah oleh keringat. Rambutnya lepek menempel di dahinya. Napas Minghao tersengal-sengal. Dadanya naik turun tak teratur.

Gumaman tak jelas keluar dari mulutnya. Tangannya menggapai-gapai seseorang. Siapapun. Namun tak kunjung mendapat tumpuan. Dia butuh seseorang.

“Gyu..”

Napasnya kini makin tak teratur. Suaranya bahkan hampir tak terdengar.

“Won..”

Lagi. Minghao masih berjuang di mimpi buruknya. Matanya terpejam erat. Seolah-olah enggan bangun dari mimpinya.

Minghao terjebak. Tubuhnya kaku. Seakan ada yang mengendalikannya. Dia ingin bangun. Keluar dari mimpi buruk ini. Namun jiwanya seakan terikat.

Ia ingin berteriak. Namun tenggorokannya seakan tercekik. Enggan mengeluarkan suara.

“Hao.”

Sapaan lembut di telinga Minghao, membuat sang empu berusaha menetralkan napasnya. Minghao mendengarnya. Namun lagi-lagi ia tak bisa keluar.

“Minghao.”

Sapaan lain di telinga kiri Minghao, membuat Minghao semakin berjuang. Berusaha bangun dari mimpi ini.

Dia mendengarnya. Mendengar dua orang lelaki yang ia percaya.

Usapan lembut di dahi, serta tangannya membuat Minghao tersentak.

Matanya terbuka lebar. Napasnya tak beraturan. Rakus menghirup oksigen cepat-cepat. Seakan dia lama tak menghirupnya.

Wajah Mingyu serta Wonwoo adalah pemandangan yang Minghao lihat pertama kali. Senyuman lembut serta pandangan penuh kasih, membuat Minghao lebih tenang.

Diraihnya tangan Mingyu serta Wonwoo ke dadanya. Mendekapnya erat.

“Hei. It's okay. Kamu aman.” ujar Mingyu berbisik. Dikecupnya pelan dahi Minghao yang lembab.

Wonwoo mengusap lembut surai hitam Minghao yang basah oleh keringat. Bibirnya ia gerakkan untuk mengecup singkat bibir Minghao.

Minghao tenang. Ia merasa aman. Nyaman. Minghao tak ingin terlelap dalam mimpi.

“Ayo tidur lagi.” ajak Mingyu sambil mengelus punggung tangan Minghao menggunakan ibu jarinya.

Minghao menggeleng. “Apapun selain tidur. Aku takut.”

Wonwoo menghela napasnya pelan. “Ada kami, Hao. Kamu gak akan mimpi buruk lagi.”

Minghao tetap menolak. Ia enggan untuk kembali terlelap. Minghao bangun dari tidurnya, melepaskan genggaman kedua orang di sampingnya.

Minghao masih shock. Napasnya masih ia atur perlahan. Minghao sangat benci mimpi buruk. Entah apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya, hingga ia sering bermimpi buruk.

Usapan lembut di kulit kepalanya, membuat Minghao rileks. Jari-jari Wonwoo yang panjang membelai lembut surai hitamnya. Dengan perlahan ia mendekati Minghao. Memposisikan tubuhnya menghadap Minghao.

Minghao memejamkan matanya. Jari-jari Wonwoo menggaruk lembut kulit kepalanya. Kuku-kukunya menggesek belakang telinga Minghao. Wonwoo menurunkan tangannya, hingga mengusap lembut tengkuk Minghao. Minghao menghembuskan napasnya lega.

Wonwoo menggerakkan jarinya ke arah rahang Minghao. Mengusapnya lembut. Ditangkapnya dagu Minghao untuk berhadapan dengan wajah Wonwoo.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Wonwoo lembut. Minghao menyentuh tangan Wonwoo.

“Lebih baik.” gumamnya. Minghao sudah lebih baik sekarang.

Wonwoo mengelus bibir Minghao. Diusapnya pelan bibir mungil itu. Minghao membuka mulutnya. Menjulurkan lidahnya ke ibu jari Wonwoo. Seakan mengajaknya masuk ke dalam.

Wonwoo melesakkan jarinya ke dalam mulut hangat Minghao. Membiarkan Minghao mengulumnya. Wonwoo menekan lidah Minghao lembut. Menatap lekat Minghao yang memejamkan matanya.

Mingyu bergeser mendekati Minghao, setelah beberapa menit hanya diam menatap keduanya dalam diam. Bisa Minghao rasakan wajah Mingyu menggelap. Mingyu menekan punggung Minghao dengan dadanya.

Wonwoo menarik paksa jarinya dari mulut hangat Minghao, membuatnya merengek tak rela.

Saat ini Minghao berada di antara Mingyu dan juga Wonwoo. Punggungnya bersandar di dada bidang Mingyu.

“Look at me, Hao.” perintah Mingyu lembut sambil mengusap pelan lengan Minghao.

Minghao membuka matanya. Memiringkan kepalanya dan menengok ke belakang untuk menatapnya.

“Apa yang kamu inginkan?”

Minghao tersentak. Otaknya berhenti bekerja. Sudah lama mereka tidak berhubungan secara seksual. Minghao selalu menghindarinya. Hati kecilnya selalu melarang, saat melihat wajah keduanya yang kelelahan sehabis dari kantor.

“Aku...”

Ucapan Minghao tergantung. Matanya masih menatap lekat wajah Mingyu. Wajahnya tak terbaca. Namun ia tau, Mingyu menunggu kata-kata yang sudah ia tunggu sedari lama.

Minghao memutuskan kontak matanya. Berganti menatap Wonwoo, yang juga menatapnya dalam diam. Minghao tahu kedua kekasihnya menginginkan Minghao saat ini. Namun, Minghao tak tega.

“Baby.” panggil Wonwoo lembut. Seakan memantapkan pilihan dan keinginan terbesar Minghao.

“Aku-”

“Aku ingin kalian.” katanya singkat.

****

Minghao berbaring di atas Wonwoo. Dadanya dengan dada Wonwoo bersentuhan. Wajah Minghao ia lesakkan ke ceruk leher Wonwoo. Menghirup dalam-dalam aroma Wonwoo yang menenangkan. Aroma citrus dan mint yang bercampur.

Kedua tangan Minghao ia letakkan di bahu kekar Wonwoo. Mencengkeramnya. Tangan Wonwoo mencengkram pahanya. Membuka kakinya lebar-lebar.

Mingyu duduk diantara kaki Wonwoo. Bersitatap dengan pantat Minghao yang putih polos. Lubangnya berkedut menggoda.

Wonwoo menarik Minghao, agar bersitatap dengannya. Diraupnya bibir Minghao yang mungil. Tangan lebarnya merambati dari belakang kepala Minghao, menuju tengkuk Minghao. Mengusapnya pelan.

Di belakang Minghao, Mingyu menundukkan kepalanya. Mendekati lubang Minghao yang kemerahan. Menjulurkan lidahnya menggoda.

Minghao hanya bisa pasrah. Menerima semua sentuhan dari dua kekasihnya. Membiarkan suaranya keluar tanpa ia tahan.

Mingyu memakan lubang Minghao seperti orang kelaparan. Mengobrak-abrik lubang kekasihnya. Tubuh Minghao bergetar di atas Wonwoo.

Mingyu memasukkan jarinya ke dalam lubang Minghao. Ikut berpartisipasi bersama lidahnya. Menggosok dan menekan lubangnya. Meluncur mulus ke dalam lubang Minghao.

Minghao mengerang. Mendesah nikmat. Wonwoo mengusap rambut Minghao lembut. Mengecup sisi kepala Minghao.

“That's it, sweety. Let your boyfriends take care of you. We love you so much. We're going to make you feel so good.”

Minghao mengerang. Pinggulnya ia gerakkan. Meminta lebih jari-jari Mingyu untuk menusuknya. Minghao menggesekkan penisnya dengan penis Wonwoo. Membuat Wonwoo mendesah nikmat.

“Do you want us to fuck you, baby boy? Hm?”

Minghao mengerang. Merasakan jari-jari Mingyu menyentuh prostatnya berulang kali.

“Yes! Ah- please...”

“Please what?” bisik Wonwoo menjilat telinga Minghao. Memainkan lubang telinganya.

“Ahh... Please, fuck me!”

“Good boy.”

Wonwoo mengirimkan sinyal kepada Mingyu, membuat Mingyu mengangguk mengerti.

Mingyu menggigit bokong Minghao gemas. Membuat Minghao tersentak. Mengerang keras.

Mingyu mengecup lembut punggung Minghao yang basah. Tangannya yang lebar mengusap naik turun sepanjang punggung Minghao.

“Aku mencintaimu.” bisik Mingyu di telinga Minghao. Membuat Minghao mendesah.

Mingyu memposisikan penisnya di depan lubang Minghao. Saat dia menyelinap masuk, Minghao mengerang. Tersedak oleh ludahnya sendiri. Napasnya tercekat.

“Relax, sweety. I've got you.”

Minghao berusaha rileks. Merasakan penis Mingyu mendorong pelan ke dalam lubangnya.

Beberapa menit Mingyu diam, lalu mulai menggerakkan penisnya. Mengobrak-abrik lubang Minghao. Di cengkramnya pinggul Minghao agar diam di tempat. Membuat Minghao mengerang dan mendesah keenakan.

“Yashh... Hah... Ahh.. Ahh..”

“Apa kamu bisa bangkit, baby? Menungging? Aku ingin memainkan dadamu.” ucap Wonwoo lembut.

Di tengah-tengah kenikmatannya, Minghao mengangguk. Berusaha bangkit, bertumpu dengan kedua lututnya. Tangannya ia tumpu di antara kepala Wonwoo.

“Good boy.”

Wonwoo menarik pinggang Minghao mendekat. Membuat badan Minghao melengkung indah.

Wonwoo menjulurkan lidahnya. Menggoda nipple Minghao yang sudah mencuat tegak. Minghao mendongak. Membuka mulutnya keenakan.

“Ngahh... Yeshh.. Ahh.. Ahh..”

Wonwoo mengulum nipple Minghao. Menghisap, menggigit dan menjilatnya. Nipplenya yang lain di mainkan oleh jari-jari Wonwoo. Di tekan, di putar dan di tarik.

Membuat Minghao mengerang. Mendesah keenakan. Semua stimulasi yang ia rasakan terlalu banyak.

Tusukan Mingyu semakin brutal dan cepat. Minghao mendesah tak karuan. Suaranya berantakan. Hanya desahan dan nama kekasihnya yang terlontar dari bibirnya.

Wonwoo melepaskan kulumannya. Tangannya berpindah mencengkram penis Minghao.

Membuat Minghao berteriak. Memekik keenakan.

Wonwoo mengocok penis Minghao. Mengurutnya naik turun. Memainkan kedua bola Minghao yang mungil.

“Ah... Hahh... Wonwoo... Ahhh...”

Suara Minghao berantakan. Desahannya tak terkontrol. Gerakan Mingyu sudah cepat dan tak teratur.

“Ahhh... Gyu... Aku-”

Minghao berteriak. Menyemprotkan cairannya deras. Mengenai dada Wonwoo dan juga perutnya.

Minghao bergetar. Efek orgasme membuat tubuhnya super sensitif.

Mingyu mencengkram pinggang Minghao. Menusuk cepat. Mendorong penisnya melesak ke dalam lubang Minghao.

“Hao... Ahh..”

Mingyu mendesah. Menyemprotkan cairannya ke dalam lubang Minghao.

Keduanya masih terdiam. Napas tersengal.

Mingyu mencabut penisnya. Membuat cairannya mengalir keluar turun ke paha mulus Minghao.

Mingyu membanting tubuhnya di samping Wonwoo. Menetralkan napasnya.

“Won. Giliranmu.”

Wonwoo menggeleng. “It's okay. Our baby is tired.”

Minghao mendongak. Menatap Wonwok yang tersenyum lembut padanya.

Minghao menggeleng. Dia ingin memuaskan Wonwoo.

“No. I'm not tired.”

Minghao bangkit dari lututnya. Memposisikan dirinya duduk diatas paha Wonwoo. Tangannya mencengkram penis Wonwoo yang sudah berdiri tegak.

Wonwoo mengerang. Keenakan dengan sentuhan yang ia dapatkan.

Minghao mulai memijit penis kekasihnya. Mengurutnya lembut. Memainkan kedua bola kekasihnya pelan. Membuat Wonwoo menggeram. Tangannya otomatis menarik leher Minghao untuk turun. Menyesap penisnya.

Minghao terbelalak. Kaget dengan gerakan Wonwoo.

Minghao menatap wajah Wonwoo yang keenakan. Dengan perlahan dia mulai menghisap penis kekasihnya. Layaknya balita yang di beri permen. Mulut Minghao sibuk. Menghisap, menjilat dan menggigit gemas. Lidahnya ia mainkan. Menjilat dari pangkal ke ujung. Menjilat ujung penis Wonwoo pelan. Suara kecipak basah yang erotis membuat Minghao tegak kembali. Wonwoo mendesah keenakan. Tangannya mencengkram surai rambut Minghao.

Minghao menatap Mingyu,yang sedang mengocok penisnya sendiri.

Minghao sengaja melepas kulumannya. Membuat Wonwoo mengerang protes.

Minghao terkekeh. Dia memposisikan tubuhnya di atas penis Wonwoo. Menyiapkan lubang nya untuk berhadapan dengan penis Wonwoo yang menegak sempurna.

“Shit, baby. You want to ride me? You want to make me die, right?”

Minghao terkekeh geli. Melihat ekspresi Wonwoo yang tersiksa.

“Yes, daddy.”

“Fuck.”

Minghao memposisikan penis Wonwoo di depan lubangnya. Dalam sekali hentak dia berhasil melesakkan penis kekasihnya, ke dalam lubangnya yang lembab.

Minghao mengerang. Kepalanya ia dongakkan. Mulutnya terbuka lebar. Bibirnya merekah.

Wonwoo menggeram keenakan. Merasakan dinding Minghao memijat lembut penisnya.

“Shit, Hao. You're mean to me.” rengek Mingyu kesal. Sibuk dengan penisnya yang tegak.

Minghao di tengah rintihannya, terkekeh. “I'm sorry, daddy. Maybe next time.”

Mingyu mendengus.

Wonwoo mengisyaratkan Minghao untuk bergerak.

Minghao mulai memompa dirinya. Mencengkram dada Wonwoo. Menaik turunkan tubuhnya. Mencari kenikmatan.

“Ahh.. Ahh.. Wonu..”

Wonwoo mencengkram pinggang Minghao. Membantunya untuk bergerak.

Minghao mendesah tak karuan saat dia menyentuh prostatnya.

Minghao mendongak nikmat. Bibirnya ia gigit. Ekspresi erotis muncul di wajahnya. Membuat Wonwoo menggeram.

“How can you be this hot, baby?”

Minghao terkekeh. “I don't know.”

Minghao menggerakkan tubuhnya makin cepat. Wonwoo mendesah keenakan. Menggeram betapa seksinya Minghao saat ini.

Minghao mendorong tubuhnya menjauhi Wonwoo. Tangannya mencengkram ke belakang. Memegang erat paha Wonwoo.

Pinggul Wonwoo ikut bergerak. Mempercepat tusukannya.

“Ahh... Emmm.. Yaahh.. Wonu...”

Wonwoo mengangguk. “Me too, baby.”

Minghao mendesah tak beraturan. Jarinya ia arahkan ke mulutnya. Menggigitnya gemas. Merasakan tumbukan berulang kali pada prostatnya.

“Nyahhh... Hahh... Let me come..”

Wonwoo mendesis. Mencengkram pinggang Minghao erat.

“Come to me, baby boy.”

Minghao mendesah. Cairannya menyemprot deras. Mengenai dada Wonwoo serta wajahnya.

Beberapa detik kemudian Wonwoo menyusul. Menyemprotkan cairannya ke dalam lubang Minghao. Beberapa mengalir di pahanya.

Keduanya terengah-engah. Kekehan kecil keluar dari mulut mereka.

“Damn.” ujar Mingyu yang orgasme hanya melihat Minghao.

“Aku seperti nonton porno live action.” lanjutnya.

Minghao tertawa. Dia bangkit. Melepaskan penis Wonwoo dari lubangnya. Membuatnya mendesis

Minghao melempar badannya ke samping. Berbaring diantara Mingyu dan Wonwoo.

“Next time, you have to ride me, Hao.”

Minghao terkekeh. Mengecup bibir Mingyu yang mengerucut lucu. Iri dengan Wonwoo.

“Of course. Giliranmu selanjutnya.”

Wonwoo tertawa. “Hari ini aku beruntung. Melihat wajah Minghao yang erotis mengendaraiku. Ah. Memikirkannya aku jadi tegang.”

Minghao memukul Wonwoo. “Aku gak tanggung jawab. Selesaikan sendiri di kamar mandi. Aku lelah.”

Wonwoo terkekeh. “Just kidding.”

Wonwoo memeluk Minghao erat. Melingkarkan tangannya di dada Minghao. Di kecupnya lembut, pelipis Minghao.

Mingyu melingkarkan tangannya yang besar di pinggang Minghao. Mengecup pipi Minghao lembut.

“Good night, baby.”

“Good night, Gyu.”

“Good night, sweety.”

“Good night, Won.”

•Happy Birthday•

Jeonghan dengan gugup mondar-mandir berulang kali di dalam kamar tidurnya. Dia bimbang. Hari ini adalah ulang tahun Seungcheol. Pacarnya. Dan saat ini pacarnya izin bahwa dia lembur kerja. Jeonghan ingin memberi kejutan untuk kekasihnya yang satu itu. Namun ide yang ia pakai membuatnya menyesal saat ini. Betapa bodohnya dia mau memakai saran dari Joshua. Yang notabene orang paling mesum yang pernah ia kenal.

Entah apa yang merasuki Jeonghan, ia pergi membeli lingerie berwarna ungu tua berbahan sutra di salah satu toko kecil di sudut kota. Dia harus merelakan harga dirinya saat membeli itu.

Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselnya. Dengan buru-buru Jeonghan mengambil ponselnya.

Melihat bahwa sang kekasih yang memberinya pesan.

'15 menit lagi aku pulang. Batal lembur hehe.'

Bagai disiram air panas, Jeonghan makin kalang kabut. Apakah harus ia memakai itu? Joshua sialan. Dan betapa bodohnya dia mau di hasut oleh kawannya satu itu. Dengan kasar dia menghela napasnya. Sudah ia putuskan. Mungkin memberi sedikit hadiah tak biasa untuk kekasihnya, boleh juga.

****

Seungcheol memasuki apartemennya dengan tenang. Dia heran kemana perginya Jeonghan. Dia melepas sepatunya, lalu melangkah pelan memasuki apartemennya lebih dalam.

“Han.” panggilnya keras.

“Hannie?”

Tak ada jawaban. Seungcheol bingung. Dia mengecek dapur, ruang tengah serta kamar mandinya. Tak ada keberadaan sang kekasih.

Seungcheol membuka kamar tidurnya. Hening dan gelap. Seungcheol heran.

“Han?”

“C-cheol.”

Seungcheol tersentak. Dia segera menyalakan lampu tidurnya.

Betapa kagetnya Seungcheol melihat Jeonghan terbaring di atas kasur memakai lingerie berwarna ungu, dengan renda di ujungnya, serta wajah yang memerah. Jangan lupakan kedua kaki Jeonghan yang terbuka lebar. Seakan menggoda Seungcheol untuk menyantapnya.

Rambut hitam Jeonghan berantakan. Terlihat jelas bahwa ia malu dan juga gugup. Terbukti dengan ia menggigit bibir bawahnya.

“Shit, Han.” bisik Seungcheol.

Ia segera melepas kemeja kerjanya, sabuk, serta celananya.

Menyisakan celana dalam berwarna hitam.

Seungcheol berjalan mendekati Jeonghan, dan menaiki atas kasurnya. Menindih Jeonghan.

“How can you wear this beautiful lingerie?” bisik Seungcheol sambil melesakkan hidungnya di leher Jeonghan.

Jeonghan mendongak. Memberi akses Seungcheol untuk menikmati lehernya.

“Special untuk ulang tahunmu hari ini.” balas Jeonghan tak kalah berbisik.

“You look so sexy. Fucking beautiful.” ujar Seungcheol sambil menatap lekat Jeonghan dengan napas yang tak teratur.

“Ini warna kesukaanmu, bukan?”

Dalam sekejap Seungcheol menyambar bibir Jeonghan. Membungkam suaranya. Menekan bibirnya erat-erat ke bibir Jeonghan. Dengan menggoda dia mengusap nipple kiri Jeonghan menggunakan ibu jarinya. Membuat lelaki yang ada di bawahnya mengerang.

Tak tinggal diam, Seungcheol melesakkan lidahnya ke dalam mulut Jeonghan. Dia mengerang dalam ciuman Seungcheol. Reflek, lengannya ia lingkarkan ke leher Seungcheol. Menariknya makin dekat.

Jeonghan bisa merasakan tangan besar Seungcheol meraba seluruh tubuhnya yang dibalut oleh kain tipis berbahan sutra. Tubuhnya memanas.

Tangan Seungcheol bergerak naik menuju dadanya. Mengusap pelan kedua nipplenya. Sesekali mencubit dan memelintirnya.

“Ahngg..” Erang Jeonghan setelah melepas paksa ciumannya.

Seungcheol menggerakkan bibirnya mengecup rahang, leher, serta bahu kekasihnya. Menghisap rakus leher jenjang Jeonghan, menjilat sepanjang tenggorokan hingga dagunya, serta menggigitnya gemas di seluruh area. Tak berniat meninggalkan seincipun.

Tangannya yang besar bergerak meremas dada Jeonghan.

Jeonghan mengerang keras. “Fuck... Hahh... Ahh...”

Seungcheol menggerakkan tangannya ke paha Jeonghan. Mengusapnya sensual, tanpa berniat menyentuh penis Jeonghan yang sudah keras dan basah.

Tangan Seungcheol bergerak menurunkan lingerie Jeonghan. Agar leluasa menikmati dada kekasihnya.

Lidahnya ia julurkan untuk menjilat nipple Jeonghan yang sudah menonjol. Berwarna kemerahan.

“Ngahh... Hahh.. Cheolhh..”

Seungcheol mengulum nipple Jeonghan gemas. Sambil menatap ekspresi keenakan Jeonghan.

Seungcheol tak berhenti. Dengan gemas ia menggigit dan menarik nipple Jeonghan. Menggodanya dengan sengaja.

“Ahhh.... Yeshhh... Uhhh...”

Jeonghan merintih. Pipinya memerah, rambutnya makin berantakan.

“Just fuck me already.” ujar Jeonghan dengan napas yang tersengal. Tak sabar ingin di sentuh oleh kekasihnya.

Seungcheol melepaskan kulumannya, dan menyeringai memandang wajah Jeonghan yang memerah.

“Open your mouth, babe.”

Joenghan membuka mulutnya lebar. Dengan cepat Seungcheol memasukkan kedua jarinya ke dalam mulut hangat Jeonghan.

Jeonghan menggerakkan lidahnya di sepanjang jari-jari Seungcheol. Membasahinya. Dia tahu bahwa Seungcheol menyukainya.

Ketika sudah merasa cukup basah, Seungcheol menarik jarinya keluar. Dia menyibak lingerie yang dipakai Jeonghan ke atas. Menampilkan penis Jeonghan yang sudah tegak dan basah diujungnya.

“Betapa nakalnya kamu saat ini.” ucap Seungcheol dengan nada rendah, membuat Jeonghan merengek tak sabar.

Dengan menggoda, Seungcheol mengelus pelan pinggiran lubang Jeonghan. Bisa ia rasakan, lubang Jeonghan yang megerut sebagai respon. Seungcheol menyeringai.

Perlahan, dia memasukkan jarinya ke dalam lubang Jeonghan. Membuat Jeonghan mengerang. Mendongak nikmat saat merasakan lubang nya terisi oleh sesuatu.

Seungcheol mendorong jarinya makin dalam. Berusaha mencari special spot kekasihnya. Dengan tak sabaran ia menggerakkan cepat keluar masuk. Sambil mengobrak-abrik lubang Jeonghan. Menimbulkan suara erotis di seluruh kamar.

“Ahhh.. Hahh.. Cheolhh... Shitt...”

Jarinya ia gerakkan seperti gunting. Menjajah dinding lubang Jeonghan dengan brutal. Menekan segala penjuru. Membuat Jeonghan mengerang keras.

Seungcheol berulang kali menyentuh prostat Jeonghan. Membuat pahanya bergetar. Pinggulnya ia angkat, seperti pasrah. Membiarkan lubangnya dihajar oleh Seungcheol.

Seungcheol mengeluarkan jarinya. Menimbulkan erangan protes dari Jeonghan.

Seungcheol melepas celana dalamnya, memposisikan penisnya yang sudah tegak dan keras di depan lubang Jeonghan.

“Tanpa lube, gak masalah?” tanya Seungcheol sambil mengelus paha Jeonghan lembut.

Jeonghan ngangguk. “Gak masalah. Just fuck me, please.”

Seungcheol menyeringai. Dengan gemas ia meremas penis Jeonghan.

“Akhhh... Hah.. Hahh..”

“Anything for you, baby.”

Seungcheol mendorong penisnya memasuki lubang ketat Jeonghan. Jeonghan merasa napasnya tersekat. Dia mendongak dengan mulut yang terbuka. Merasakan penis Seungcheol memasuki lubangnya semakin dalam dan dalam. Merasa lubang nya penuh dengan kejantanan Seungcheol.

Seungcheol diam beberapa detik, lalu mulai menarik keluar dan masuk penisnya. Awalnya lambat, namun makin lama makin cepat. Jeonghan menikmati lubangnya yang di hantam oleh penis Seungcheol. Membiarkan lubangnya merenggang lebar. Suara kecipak basah memenuhi ruangan mereka.

Seungcheol membuat tusukan cepat dan keras. Jeonghan mulai mengerang. Menggerakkan pinggulnya untuk mencari kenikmatan lebih. Ketika Seungcheol mengenai prostatnya, Jeonghan terbelalak. Mulutnya terbuka. Mengerang keras akan kenikmatan yang ia rasakan.

Tangan Jeonghan bergerak meremas rambut Seungcheol. Mencari pelampiasan kenikmatannya.

Seungcheol semakin sering menumbuk prostat Jeonghan. Membuat sang empu memekik keenakan.

Tangannya bergerak menuju punggung Seungcheol. Mencari tumpuan.

Seungcheol bergerak makin cepat. Gesekan di lubang Jeonghan semakin tak beraturan. Keduanya sudah hampir dekat.

“Cheol- ahh.. Cheolhh.. Aku...”

Jeonghan menyemburkan cairannya. Seluruh tubuhnya bergetar.

Seungcheol mendorong penisnya lebih keras di dalam lubang Jeonghan yang sangat ketat. Efek orgasme, membuat Seungcheol susah bergerak di dalamnya.

Dengan tak terkendali Seungcheol mulai menumbuk terus menerus. Sudah merasa dirinya dekat.

“Hann..” erang Seungcheol keras.

Seungcheol menyemburkan cairannya ke dalam lubang Jeonghan. Mendorongnya lebih dalam memasuki lubang kekasihnya.

Keduanya tetap di tempat. Saling terengah-engah. Seungcheol mengecup bibir Jeonghan lembut.

“Thanks, Han.”

Jeonghan tersenyum lemah. “Happy birthday, Cheol.”

Seungcheol terkekeh. “Thanks for the gift.”

“Anything for you, Cheol.”

•10 hal tentang Junhui yang ku benci •

Jihoon duduk dengan buku tulis yang selalu ia bawa kemana-mana, terbuka lebar di atas meja. Saat ini Jihoon sedang di perpustakaan, menghindari Jun yang membuatnya kesal pagi tadi.

Bagaimana ia tidak kesal. Jun terus saja mengoceh saat Jihoon fokus mencari ide untuk tugas musiknya minggu depan. Jihoon menegurnya. Bukannya diam, malah makin keras. Jun menggodanya. Semakin mengoceh tak jelas.

Jihoon mencengkram pulpen yang ia pegang. Kesal dengan kelakuan dan tingkah Jun.

Dengan emosi yang meletup-letup, Jihoon menulis di buku tulis kesayangannya.

'10 hal tentang Junhui yang ku benci'

  1. Suaranya Suara Jun membuatnya sakit kepala. Memang suara Jun itu lembut,serak dan dalam. Tetap saja, Jihoon benci saat Jun mengoceh segala hal di telinga Jihoon setiap saat. Membuatnya jengkel.

  2. Tingkahnya Jihoon memutar matanya malas jika mengingat tingkah Jun. Seperti anak kecil. Jihoon seperti mengurus keponakannya yang berumur 5 tahun, jika bersama Jun. Jun susah diatur. Tidak bisa tenang. Heboh. Persis seperti bocah berumur 5 tahun. Dia bisa sakit kepala jika melihat Jun yang sudah bertingkah barbar layaknya anak kecil.

  3. Tangannya Jihoon benci dengan tangan Jun. Dia benci karena tangan Jun bisa menggenggam tangannya yang mungil dalam sekali genggam. Dia benci merasakan kehangatan tangan Jun, saat dia menggenggam tangan Jihoon lembut. Sungguh ia benci.

  4. Senyumannya Oh. Jihoon benci dengan senyum Jun. Senyumnya menjengkelkan. Membuatnya tak tenang. Membuatnya susah bernapas. Membuatnya ingin menonjok Jun saat itu juga.

  5. Tawanya Jihoon benar-benar benci jika Jun sudah tertawa. Tawanya renyah dan lembut, membuat perut Jihoon tak enak. Seperti ada yang menari-nari. Dan Jihoon benci itu.

  6. Lesung pipi Ini sudah berapa kali Jihoon mengumpat. Dia sangat sangat benci jika melihat lesung pipi Jun terlihat, saat dia tersenyum. Oh tolonglah. Jihoon gatal ingin menonjok wajah Jun jika melihat lesung pipinya.

  7. Rahangnya Jihoon sangat tidak suka dengan bentuk rahang Jun. Terlihat tegas dan kokoh. Sangat jantan. Dan Jihoon membencinya! Apalagi jika dilihat dari samping. Ingin Jihoon menamparnya.

  8. Hidungnya Sudah berapa kali dia menulis kata tonjok di bukunya? Lagi-lagi ia benci dengan hidung bangir Jun. Terlihat tajam dan kokoh. Apalagi jika Jihoon melihatnya dari samping. Ingin rasanya ia patahkan hidung Jun saat itu juga.

  9. Badannya Jihoon mengutuk Jun yang memiliki badan yang bagus. Bentuk yang proposional. Pundak yang lebar. Kaki yang jenjang. Jihoon kan terlihat kecil! Jika Jun dan Jihoon berjalan berdampingan, Jihoon seperti adiknya Jun. Dan itu membuat Jun tertawa melihat Jihoon. Sialan kau Jun!

  10. Bibirnya Jihoon benci bibir Jun. Sangat sangat sangat benci. Bibirnya merah. Terlihat lembut. Seperti meminta untuk dikecup. Jihoon gemas ingin mencubitnya jika melihat bibir Jun.

Jihoon menarik napasnya pelan lalu menghembuskannya. Lega setelah menulis semua ini.

“Padahal yang kamu tulis itu yang kamu suka dari aku.” ucap seseorang dari belakang Jihoon.

Jihoon tersentak. Menengok kebelakang. Terlihat Jun yang berdiri dengan senyumnya yang menjengkelkan.

“J-jun?”

“Iya ini aku, pacarmu. Siapa lagi.” ujar Jun sambil mengecup pipi gembul Jihoon, lalu duduk di hadapan Jihoon.

“S-sejak kapan? Kamu disitu?”

Jun meletakkan dagunya di atas telapak tangannya. Menatap Jihoon dengan lekat.

“Hmm. Semenjak kamu nulis judul '10 hal tentang Junhui yang ku benci' itu.”

Jihoon bersemu merah. “Sialan. Kenapa gak bilang.”

Jun terkekeh. “Kan aku penasaran. Apa yang kamu 'benci' dari aku.”

Jihoon mendengus. Tak sadar bahwa wajahnya hingga lehernya memerah.

“Emang itu kok yang kubenci dari kamu.”

Jun menaikkan alisnya heran. “Ah. Yakin benci?”

Jihoon menatap Jun balik. “Iya benci.”

“Benci sama senyumku? Suaraku? Tingkahku? Tanganku? Badanku? Ketawaku? Rahangku? Hidungku? Lesung pipiku? Bibirku?”

Jihoon terdiam. Matanya ingin menghindari tatapan Jun yang mematikan. Namun, tak bisa. Ia tidak bisa lepas dari tatapan Jun.

Jantungnya berdetak tak karuan. Dilihatnya Jun berdiri dari duduknya, berjalan mendekati Jihoon. Menangkap dagu Jihoon dan mengarahkannya agar bertatapan dengan Jun.

“Coba bilang. Kamu benci sama semua itu? Atau kamu suka?” bisik Jun di depan wajah Jihoon. Hingga Jihoon bisa merasakan hembusan napas Jun menerpa wajahnya.

“Benci.” bisik Jihoon. Menatap lekat Jun.

“Benci, hm?”

Tubuh Jihoon meremang. Tangan Jun menari menyentuh wajah Jihoon. Mengusap pelan pipi, hidung, rahang serta bibirnya.

“Kamu benci bibirku?”

Jihoon memerah. Tatapan Jun membuatnya tak bisa berpikir. Tubuhnya seperti di kendalikan oleh Jun.

“Bilang sekali lagi, sayang. Kamu benci bibirku?” bisik Jun yang memperpendek jarak nya dengan Jihoon hingga tersisa beberapa senti lagi.

“Iya. Aku benci.” bisik Jihoon.

Setelahnya, Jun menubrukkan bibirnya dengan bibir Jihoon yang mungil. Mengecapnya lembut. Menjilat dan melumatnya. Menggoda pelan bibir Jihoon dengan lidah Jun. Menggigit nya pelan. Gemas dengan ucapan Jihoon yang berbalik dari hatinya. Terakhir kalinya, Jun mengecup singkat bibir Jihoon, dan menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Jihoon.

“Jadi, kamu benci? Atau suka?”

Jihoon memerah. Masih menetralkan napasnya yang tidak teratur.

“Suka.” gumannya pelan.

Jun tersenyum. Terkekeh dengan tingkah Jihoon yang menggemaskan.

“Gitu dong, ngaku. Ayo keluar. Ku beliin susu buat kamu. Biar tinggi.”

Jihoon memukul tangan Jun. “Gak usah mulai.”

Jun terkekeh. “Iya, baby. Ayo.”

Jun menarik Jihoon berdiri. Jihoon menutup bukunya, dan mendekapnya erat di dada.

Membiarkan tangannya di genggam dan ditarik oleh Jun.

Sepertinya Jihoon harus mencoret judul tulisannya tadi. Bukan 10 yang dia benci dari Jun. Tapi 12. Mata serta ciuman Jun, yang membuatnya makin benci dengan Jun.

•Benci•

Jihoon itu cuek. Dia jarang mengungkapkan apa isi hati dan pikirannya lewat ekspresi dan tindakan. Teman-temannya bilang Jihoon itu menakutkan. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan jika bersama dengan Jihoon. Dia tak masalah. Jihoon tak masalah. Dia tidak bisa memaksa teman-temannya untuk mengerti dirinya. Dia tidak memaksa mereka untuk mengetahui apa yang Jihoon rasakan. Karena memang, tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti Jihoon. Kecuali satu orang. Sahabat serta temannya sejak kecil. Jeon Wonwoo.

Jeon Wonwoo seperti tahu apa yang ia rasakan hanya sekali lihat. Wonwoo cukup menatapnya lekat, dan ia bisa tahu apa yang Jihoon rasakan. Dan hal itu yang Jihoon benci. Dia benci dengan Wonwoo. Dia benci bahwa Wonwoo mengerti dirinya. Dia benci dengan senyum lembut Wonwoo. Dia benci dengan Wonwoo karena berhasil membuatnya tertawa. Membuatnya tersenyum. Dia benci. Dia benci dengan Wonwoo. Dia benci karena menyukai sahabatnya itu.

Yap. Jihoon menyukai Wonwoo. Sahabatnya. Dia benci menaruh rasa suka kepada Wonwoo. Dia benci karena sebentar lagi Wonwoo akan mengetahuinya.

Dia benci bahwa pertemanannya sedang di ambang batas. Dia benci bahwa ia harus menghindari Wonwoo. Namun, ia harus melakukannya. Ia harus melakukannya, agar Wonwoo tidak mengetaui apa yang ia rasakan.

Sudah seminggu ia menghindari Wonwoo. Beralasan sibuk dan sebagainya. Pulang lebih cepat. Berangkat lebih awal. Dia lelah menghindar. Namun dia takut. Takut Wonwoo akan membencinya.

Seperti saat ini. Dia sedang berjalan cepat menuju ruang musik. Ruang yang ia jadikan pelarian selama seminggu ini. Untungnya, dia memiliki akses bebas masuk ke dalam ruang musik. Jihoon bersyukur bahwa dia menjadi murid kesayangan guru musiknya.

Jihon mendorong pelan pintu ruang musik. Melihat sekeliling. Untungnya sedang kosong.

Jihoon berjalan mendekati piano hitam. Mendudukkan dirinya di atas kursi.

Akhir-akhir ini dia sering melampiaskan perasaannya dengan bermain piano. Membuatnya tenang dan rileks.

Dengan pelan dia mulai menggerakkan jemarinya. Memainkan lagu kesukaannya.

I'm jealous of the rain That falls upon your skin It's closer than my hands have been I'm jealous of the rain I'm jealous of the wind That ripples through your clothes It's closer than your shadow Oh, I'm jealous of the wind, cause

I wished you the best of All this world could give And I told you when you left me There's nothing to forgive But I always thought you'd come back, tell me all you found was Heartbreak and misery It's hard for me to say, I'm jealous of the way You're happy without me

Jemarinya memainkan piano dengan lembut. Jihoon menumpahkan segala perasaannya melalui lagu yang ia mainkan. Tak sadar bahwa seseorang sedang berdiri menatap Jihoon dalam diam.

Jihoon menghentikan permainannya. Menarik napasnya pelan. Lalu bangkit dari duduknya.

Betapa kagetnya Jihoon, saat melihat Wonwoo sedang menatapnya lekat dalam diam. Jihoon terdiam. Tubuhnya tak bisa ia gerakkan. Jantungnya meronta tak karuan.

Jihoon takut. Ia takut mendengar suara Wonwoo. Ia takut. Tak pernah dalam hidupnya ia setakut ini.

Bisa ia lihat Wonwoo berjalan pelan mendekati Jihoon. Jihoon menghindari kontak mata dengan Wonwoo. Sebisa mungkin ia hindari.

Wonwoo berhenti di hadapan Jihoon. Lalu menarik Jihoon ke dalam dekapannya.

Jihoon tersentak. Tak tahu harus apa. Ia hanya bisa diam. Menikmati pelukan Wonwoo. Tangannya memeluk Wonwoo otomatis. Memeluknya erat. Wajahnya ia tenggelamkan kedalam dada bidang Wonwoo. Menghirup dalam-dalam aroma Wonwoo. Aroma yang ia rindukan.

Bisa ia rasakan Wonwoo melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Jihoon lekat.

“Kenapa menghindar?” tanya Wonwoo pelan.

Jihoon menatap lekat Wonwoo. “Kamu tahu.”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu tahu!”

Keduanya diam. Jihoon menatap Wonwoo lekat. Keduanya saling tatap.

Wonwoo menarik napasnya pelan. “Kamu suka aku?”

Jihoon menahan napasnya. Dia tidak bisa menjawab.

“Jihoon.” panggil Wonwoo lembut.

Sungguh. Jihoon benci mendengarnya.

“Apa yang kamu takutin?”

Jihoon menatap Wonwoo.

“Kamu takut aku benci kamu?”

“Kamu takut aku jauhin kamu?”

Jihoon hanya diam. Dia tak tahu harus bagaimana.

“Jihoon.”

Jihoon menunduk. Menyembunyikan wajahnya. Matanya memanas. Bisa ia rasakan air mata mengalir di pipinya.

Sebuah tangan menangkup dagunya dan mengangkatnya. Agar bersitatap dengan Wonwoo.

“Jangan nangis.” bisiknya pelan.

Wonwoo menghapus air mata Jihoon. Di kecupnya lembut dahi Jihoon. Dan menatap sahabatnya penuh kasih.

“Kamu gak perlu takut.”

“Karena aku juga suka kamu.”

Jihoon tersentak. Napasnya ia tahan. Tak percaya dengan ucapan Wonwoo.

“Aku suka kamu. Udah lama.”

Jihoon masih tak percaya.

“Gak percaya?”

Jihoon ngangguk.

“Sama. Aku juga gak percaya suka sama anak macem kamu.”

Jihoon mendengus. Wonwoo tertawa. Ditariknya tubuh mungil Jihoon ke pelukannya.

“Jangan hindarin aku lagi. Aku kangen kamu.” ujar Wonwoo sambil mengusap punggung Jihoon.

“Gak usah alay.”

Wonwoo terkekeh. “Padahal kamu juga kangen aku.”

Jihoon tertawa pelan. “Kepedean.”

Wonwoo tersenyum. “Jadi kita pacaran kan?”

“Terserah.” jawab Jihoon sok tak peduli.

“Aku anggap itu iya.” ujar Wonwoo sambil tertawa.

Jihoon mendengus. Dia mengeratkan pelukannya. Tak ingin lepas dari Wonwoo.

Jihoon benci. Dia benci. Dia benci bahwa Wonwoo selalu membuatnya jatuh cinta berulang kali.

•Post-it kuning•

JUNHUI POV

Derasnya hujan membuat percikan air tercetak indah diatas permukaan jendela perpustakaan, yang sedang kupandangi saat ini. Aku mengeratkan jas sekolah yang membalut tubuhku. Pemanas ruangan sudah di nyalakan oleh penjaga perpustakaan beberapa menit yang lalu, serasa tak berguna. Tetap saja, dinginnya temperatur udara dari luar jendela berhasil menyusup masuk ke dalam perpustakaan.

Ku lihat keadaan perpustakaan sunyi senyap. Meninggalkan beberapa siswa yang memustuskan menunggu hujan reda. Kulihat kembali keadaan di luar jendela. Banyak siswa berlarian menembus hujan dengan bermodalkan tas atau jas sekolah.

Beberapa dari mereka ada yang memang sengaja bermain air, ada yang berlarian kesana kemari, adapula yang berlari kencang seakan-akan tidak ingin tersentuh air hujan. Aku tersenyum lembut melihat momen jenaka yang berhasil mengusik netra mataku.

Aku kembali fokus kedalam buku bacaan yang telah terbuka lebar diatas meja yang kutempati saat ini. Susunan meja yang rapih,membuatku betah berlama-lama disini.

Meja perpustakaan saat ini terdiri dari 2 meja panjang yang disusun secara berhadapan. Satu meja memuat 5 orang. Sehingga membuat siapa saja nyaman berlama-lama disini.

Tiba-tiba post it berwarna kuning menempel indah di atas halaman buku bacaanku.

'Hai :)'

Aku mengangkat wajahku,untuk melihat siapa gerangan yang menempelkan post it kuning di atas buku bacaanku.

Terlihat dihadapanku seorang lelaki tampan berambut hitam, yang sedang 'membaca' buku. Entah mengapa aku bersemu merah. Membuat kilat-kilat berkilau seakan-akan bereaksi satu sama lain.

Aku meraih pulpen yang tergeletak diatas meja,dan mengambil post it kuning yang memang sudah lelaki ini siapkan.

'Hai juga :)'

Setelah kutulis jawabanku, aku menempelkannya di meja yang ia tempati. Kembali fokus ke dalam buku bacaanku adalah pilihan tepat saat ini, dalam bentuk usaha menyibukkan diri. Lebih tepatnya berpura-pura.

Beberapa menit kemudian,post it kuning kembali tertempel di atas halaman bacaanku.

'Siapa namamu?'

Aku tersenyum lembut,dan kemudian menuliskan jawabanku.

'Mengapa harus ku jawab? Namamu saja aku tak tahu'

Kemudian,aku tempelkan kembali post it kuning di meja yang ia tempati. Kali ini aku kembali fokus ke bacaanku. Sebuah karya romance klasik,yang bercerita pada abad ke 18. Menceritakan kisah cinta tragis dari seorang biarawati muda yang jatuh cinta dengan seorang pendeta muda.

Perhatianku teralihkan oleh bunyi ketukan pada mejaku. Ku alihkan pandanganku ke asal suara. Kulihat,lelaki di depanku menatap bosan diriku. Aku mengernyitkan dahiku tanda bingung.

Lelaki di hadapanku menunjukkan sesuatu dengan dagunya. Aku mengikuti arah yang dia tunjuk. Post it kuning yang dipenuhi kata-kata, menempel indah di ujung buku bacaanku.

'Jeon Wonwoo. Namamu?'

Aku menuliskan jawabanku secepat kilat. Agaknya aku sedikit bersemangat. Menandakan sedikit hiburan yang menyenangkan.

'Junhui.'

Lalu, aku tempelkan lagi post it kuning di tanganku, ke mejanya.

Aku kembali menundukkan kepala. Kembali fokus pada bacaanku.

Post it kuning tertempel lagi di atas halaman bukuku.

'Junhui. Nama yang cantik. Seperti orangnya.'

Aku terkekeh. Lalu menuliskan jawabannya. Lagi-lagi aku tempelkan post it kuning tadi, di meja depannya.

'Aku tidak cantik. Aku laki-laki. Jelas saja tampan.'

Lelaki di hadapanku tersenyum sambil menulis jawabannya. Dia menatapku, lalu menempelkannya di atas halaman bukuku.

'Bagiku kamu cantik. Apakah aku boleh mendapat nomormu?'

Aku mendongak. Bertatapan dengan kedua netra kelam pemuda di hadapanku.

'Apakah kamu sedang mendekatiku?'

Aku tempelkan lagi di atas mejanya. Dia membaca lalu terkekeh. Menulis cepat, lalu menempelkannya di atas bukuku.

'Terlihat jelaskan? Aku tertarik padamu. Jadi, mau memberi nomormu? Mungkin setelah ini aku bisa mengajakmu makan bersama.'

Aku terkekeh. Buru-buru menuliskan nomorku serta jawabanku.

'Gerak-gerikmu sangat terlihat. Boleh saja. Asal kamu yang mentraktirku.'

Aku menempelkan post it kuning di mejanya. Aku bahkan lupa dengan bacaanku sekarang.

Dia membaca jawabanku lalu tertawa pelan. Dengan cepat dia menulis balasan, dan menempelkannya lagi di atas bukuku.

'Tentu aku mentraktirmu. Jadi, ayo kita pergi?'

Aku membacanya. Wajahku memerah. Aku menatapnya.

“Ayo.” ucapku dengan suara pelan.

Wonwoo tersentak. Tak menyangka aku menjawab secara langsung.

“Aku kira kita akan selamanya memakai post it.” ujarnya sambil terkekeh.

Suaranya yang berat membuatku terpesona sebentar. Aku tak menyangka suaranya bisa sedalam dan selembut itu.

“Tidak mungkin. Jadi, ayo makan?” ujarku sambil tersenyum lembut. Membereskan buku yang ada di mejaku.

“Tentu saja. Makan dan berkenalan dengan orang secantik dirimu tidak akan aku lewatkan.”

Aku bersemu. “Aku tampan. Bukan cantik.”

“Tapi saat kamu tersenyum dan tertawa, di mataku kamu cantik.”

“Aku tebak kamu sudah menggoda banyak perempuan.”

Wonwoo tertawa. “Kamu orang pertama yang aku goda. Harusnya kamu bangga melihat seorang Jeon Wonwoo menggoda seseorang yang baru ia lihat di perpustakaan.”

Aku tertawa. “Aku sangat bangga.” ujarku kepada Wonwoo.

“Ayo.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.

Dengan ragu-ragu aku menyambutnya, dan menggenggam tangannya.

“Wonwoo.”

“Jun.”

Saling berpegangan tangan, melupakan beberapa kertas post it yang menempel di atas meja perpustakaan.

•Malu-malu kucing•

Minghao anaknya pemalu, pendiam, dan kalem. Dia sudah tinggal selama 6 bulan di Korea, dan masih belum memiliki satu pun teman. Dia punya teman. Namun satu tahun lebih tua darinya. Lebih tepatnya, kakak kelas Minghao. Sama-sama dari China. Karena itulah Minghao akrab dengannya.

Di kelas, Minghao lebih banyak diam. Dia berbicara jika ada yang mengajaknya berbicara. Mengeluarkan suara seperlunya. Hingga beberapa teman kelasnya mengira bahwa Minghao anak yang sombong.

Namun Minghao membiarkannya. Itu memang salahnya. Dia tidak ingin berbaur dengan mereka. Karena dia pemalu. Dia malu dengan aksen bahasa Korea-nya. Dia malu memiliki tubuh kurus dan mungil. Dia malu tidak bisa dengan lancar berbicara dengan orang lain. Sejujurnya dia benci pindah ke Korea. Sangat benci. Namun dia tidak bisa mengatakan hal itu, saat kedua orang tuanya bertampang bahagia.

Aktivitas Minghao jika di sekolah adalah kelas, atap, perpustakaan. Siklusnya itu saja. Namun anehnya, Minghao menikmati hal itu. Tidak pernah bosan. Dia tidak pernah ke kantin omong-omong. Dia selalu membawa bekal. Dan pergi ke atap untuk menyantap makanannya.

Seperti saat ini. Dia sedang menikmati semilir angin lembut, dan sinar mentari, tak lupa bekal makanan yang ada di tangannya. Minghao menikmati makanannya dengan pelan. Sambil sesekali bersenandung.

BRAKK

Minghao tersentak. Hampir saja bekal makanannya terjatuh.

Tampak seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang agak berantakan, serta seragam sekolah yang tak rapih, menatap Minghao dengan datar.

Minghao hanya diam. Tak sadar bahwa ia berhenti mengunyah, hingga kedua pipinya menggembung.

Pemuda yang ada di depan pintu melangkahkan kakinya mendekati Minghao. Minghao tetap diam. Agak takut. Karena penampilan sang pemuda menakutkan.

Si pemuda berjongkok di depan Minghao. menatap Minghao dengan intens. Minghao yang ditatap seperti itu jadi gugup.

Tatapan mata sang pemuda sangat tajam. Tidak ada satupun ekspresi yang terlihat. Minghao merasa risih.

“Uhh.. Ada yang bisa ku bantu?” ucap Minghao pelan dengan aksen Korea-nya yang lucu.

Sang pemuda diam, lalu mengambil duduk bersila di hadapan Minghao.

Minghao menatap tak mengerti. Pemuda ini butuh apa?

Si pemuda menunjuk bekal makanan Minghao. Minghao menaikkan alisnya.

“Bekal?”

Si pemuda mengangguk. Minghao berpikir apakah orang ini ingin bekalnya?

“Kamu mau bekalku?”

Si pemuda diam. Menatap Minghao dengan lekat. Lagi-lagi Minghao risih. Wajahnya terasa terbakar. Mungkin karena efek matahari.

Si pemuda mengangguk pelan. Menatap bekal makanan Minghao dengan penasaran.

“Ini makanan China. Kamu ingin yang mana?”

Si pemuda tampak berpikir. Melihat isi bekal Minghao yang berisi beragam bentuk. Dia menunjuk sesuatu berukuran kecil dan berwarna putih kekuningan.

“Ah, dimsum? Kamu mau?”

Si pemuda menatap mata Minghao lagi. Lalu mengangguk.

Minghao mengambil makanan tersebut dengan sumpitnya, lalu mengarahkan ke arah si pemuda.

“Ini.”

Si pemuda diam. Tampak berpikir. Lalu membuka mulutnya. Minghao menyuapi pemuda asing di hadapannya sebuah dimsum.

Si pemuda mengunyah dengan perlahan. Tampak menerawang. Lalu mengangguk-angguk.

“Enak?”

Si pemuda ngangguk. “Enak.” ucapnya.

Minghao tersentak saat mendengar suara pemuda di hadapannya. Terdengar berat,dalam dan renyah. Entah kenapa Minghao bersemu merah.

“Maaf mengganggumu. Bukannya aku tidak sopan, tapi uangku baru saja di curi oleh temanku. Dan aku kemari. Aku tak bermaksud mengganggumu.”

Minghao mengangguk pelan. “Tak apa.”

Si pemuda diam. Menatap Minghao dengan intens. Sungguh Minghao sangat malu ditatap seperti itu.

“Namaku Jeon Wonwoo.”

Minghao mendongak. Menatap tangan Wonwoo yang mengajaknya bersalaman.

Minghao dengan ragu membalasnya. “Xu Minghao.”

Wonwoo-nama pemuda di depannya-mengangguk mengerti.

“Kamu anak baru?”

Minghao ngangguk. Dia lupa dengan makanannya.

“Baru 6 bulan.”

Wonwoo mengangguk paham. “Pantas, aksenmu berbeda.”

Minghao lagi-lagi tersentak. Malu akan aksennya.

Sepertinya Wonwoo sadar akan itu. “Ah. Maafkan aku. Tapi, jujur aku menyukai suaramu. Suaramu lembut dan juga...”

Minghao menatap Wonwoo penasaran.

“Imut.”

Blush

Minghao memerah. Baru pertama kali ini seseorang mengatakan dirinya imut.

“A-apa? A-aku tidak...”

Wonwoo terkekeh. “Sepertinya kamu malu dengan suaramu? Padahal aku menyukainya.”

Minghao hanya menunduk. Memainkan makanannya.

“Hei.”

Minghao mendongak.

“Mau jadi pacarku?”

Minghao bersemu merah. Apa-apaan pemuda ini. Baru kenal sudah mengajaknya berpacaran.

“Ki-kita kan baru kenal.”

Wonwoo mendekatkan wajahnya ke arah Minghao, membuat Minghao memundurkan kepalanya.

“Aku sudah kenal denganmu sejak lama.”

Minghao menatapnya tak mengerti. “Maksudmu?”

“Nanti kau juga tahu.”

Minghao menatapnya tak mengerti.

“Jadi, mau jadi pacarku? Aku bisa mengajarimu bahasa korea. Aku bisa membimbingmu.”

Minghao diam. “Kenapa aku harus mau menerimamu?”

“Karena aku lelaki baik. Padahal aku populer. Kenapa kamu tidak tahu aku?”

Minghao hanya diam. Bagaimana dia tahu jika kerjaannya di sekolah hanya belajar, diam di kelas, di atap dan di perpustakaan.

“Tak punya teman.”

Kedunya diam. Wonwoo menatap Minghao lekat. Lalu menghela napasnya pelan.

“Maka dari itu, jadilah pacarku dan juga temanku.”

“Tapi aku tidak suka kamu.”

Wonwoo diam. Dia makin mencondongkan tubuhnya. Membuat Minghao harus memundurkan kepalanya.

Tangan Wonwoo terangkat. Menyentuh pipi Minghao. Bisa ia rasakan ibu jari Wonwoo mengusap bibirnya lembut dan perlahan. Menatap Minghao dengan lekat. Tak berniat memutuskannya.

“Yakin tak suka padaku?” bisik Wonwoo yang membuat Minghao memejamkan matanya.

Wonwoo terkekeh. Lalu menjauhkan badannya, dan mengusap rambut Minghao lembut.

“Aku teman Junhui. Aku tahu darinya. Aku sering melihatmu bersamanya. Tapi aku malu untuk berkenalan denganmu. Hari ini temanku, Junhui dan juga Soonyoung merampas uangku, dan menyuruhku ke atap. Memaksaku kemari. Dan bilang bahwa ada makanan untukku. Aku tak tau bahwa makanan yang mereka maksud adalah kamu.”

Minghao bersemu merah. Mendengar ucapan Wonwoo yang agak ambigu.

“Bagaimana mereka tahu aku disini?”

Wonwoo tampa berpikir. “Mungkin dari Jun? Aku juga tak tahu.”

Keduanya diam. Wonwoo tampak diam. Menatap langit. Enggan menatap Minghao.

Suara bel sekolah membuat keduanya tersentak. Wonwoo menatap Minghao yang ternyata juga menatapnya balik.

“Aku tidak memaksamu menjawabku. Aku tahu kamu tidak menyukaiku.” ujar Wonwoo sambil bangkit dari duduknya. Membersihkan celananya.

“Aku pergi duluan, okey? Makasih atas makanannya.” ujar Wonwoo laku berbalik menuju pintu keluar.

“Tunggu!”

Wonwoo berhenti. Menatap Minghao dalam diam.

“B-bagaimana jika, uuhh.. kita berteman dulu? Maksudku... uhhh agar aku tahu lebih banyak tentangmu.” ucap Minghao sambil menunduk. Malu dengan situasi saat ini.

Wonwoo terkekeh. Membuat Minghao mendongak.

“Tentu saja. Aku juga mau kenal lebih dekat denganmu.”

Minghao bersemu merah. Tak sadar bahwa dia menggigit bibirnya.

“Aku balik, okey? Nanti aku akan mendatangi kelasmu.”

Minghao hanya ngangguk.

“Oh iya.” ujar Wonwoo tiba-tiba.

Wonwoo menatap Minghao lekat. Minghao menatapnya penuh tanya.

“Sudahkah aku bilang bahwa kamu manis dan juga imut?”

Minghao tersentak. Bisa ia rasakan wajahnya memanas. Wonwoo terkekeh.

“Jadi makin imut.”

Setelahnya Wonwoo berbalik, pergi meninggalkan Minghao, yang masih berdiri tak percaya mendengar ucapan Wonwoo.

Mingyu berdiri di dapur, fokus memasak untuk pacarnya. Menghiraukan tatapan Minghao yang intens dari meja makan.

Dia fokus menyiapkan bahan-bahan yang ia perlukan. Membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang sekiranya bisa ia pakai. Ia meletakkan bahan-bahan tadi diatas konter. Lalu menuju ke meja makan untuk mengambil bumbu, yang mungkin dipakai Minghao saat makan tadi.

Dia berdeham untuk menghilangkan suasana awkward saat ini. Dia buru-buru mengambil sebotol lada, namun langkahnya terhenti saat Minghao menahan pergelangan tangannya.

“Kenapa, Hao?”

Minghao tidak bisa menghentikan tubuhnya untuk mendekati Mingyu. Nafasnya semakin cepat dan menerpa wajah Mingyu.

Mingyu menjatuhkan matanya menatap bibir mungil Minghao yang memerah.

“H-hao?” bisiknya pelan. Minghao melangkah semakin dekat. Ia bisa merasakan napas Mingyu menerpa wajahnya.

“Mingyu-” matanya beralih menatap bibir Mingyu. “Shit.”

Minghao maju kedepan, menempelkan bibirnya dengan bibir Mingyu. Bisa ia rasakan Mingyu tersentak, namun dia tidak menarik dirinya.

“Shit.” gumam Mingyu di bibirnya. Minghao hendak menarik diri, namun tangan Mingyu menahan kepalanya,dan menariknya lebih dekat, bibir menekan semakin dalam kearah Minghao.

Minghao mengerang dan menyelipkan tangannya melingkari leher Mingyu. Menariknya makin dekat.

Minghao tidak bisa menahan erangannya saat tangan lebar Mingyu meremas keras pantatnya. Mingyu menggunakan momen itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut Minghao yang hangat. Mengeksplorasi seluruh isi mulut kekasihnya. Menggoda langit-langit Minghao dengan sensual. Minghao mengerang sejadinya.

Dia merasa bahwa Mingyu mendorongnya ke ruang tengah. Menindihnya di atas sofa abunya. Tangan besar Mingyu berada di pinggangnya.

Minghao menggerakkan jarinya ke belakang kepala Mingyu. Meremasnya. Menyalurkan rasa nikmat yang ia rasakan. Lidahnya berusaha melawan Mingyu. Mendorongnya, yang makin membuat Mingyu semakin liar.

Minghao mengerang. Tubuhnya terasa panas. Mingyu menggesekkan ereksi keduanya bersamaan saat merasa posisi mereka di sudut yang tepat.

Mingyu memusatkan semua indranya hanya pada Minghao. Yang kini di bawah nya. Mengerang dan menggeliat tak nyaman. Mingyu masih menjelajahi mulut Minghao. Merasakan dan mengecap segala inci yang ada di mulut Minghao. Tangannya berkeliaran menyentuh tubuh lelaki yang ada dibawahnya. Mulut keduanya berpisah saat Mingyu mulai melepas pakaian kekasihnya.

Mingyu menarik kaos Minghao dengan mudah, melepasnya dari tubuh Minghao dan menjatuhkannya ke atas lantai. Begitupula celana Minghao, ia melepasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Menampilkan tubuh polos Minghao yang putih bersih. Membuat Mingyu tanpa sadar menjilat bibirnya yang kering.

Tangan Mingyu bergerak melepas sabuknya. Menariknya dan menjatuhkan ke atas lantai. Minghao menatap Mingyu dengan nafas terengah-engah dan wajah yang memerah.

Mingyu buru-buru melepas celana jins serta celana dalamnya. Membuka kaos hitamnya, menampilkan tubuhnya yang besar dan berotot.

“Shit.” gumam Minghao.

Mingyu menyeringai. “Senang dengan yang kamu lihat?”

Minghao memerah. Mingyu mendekati Minghao. Menyatukan bibir mereka kembali. Mingyu menggerakkan tangannya ke puting Minghao, mula-mula menggosok dengan lembut, kemudian dia mulai mencubit dan memuntirnya. Minghao mengerang sebagai respon.

Mingyu melepas pagutannya. Mulai mencium dan mengisap rahang Minghao. Menggigitnya lembut. Mingyu mulai menelusuri leher Minghao. Membuat sang empu mendongak. Memberi akses agar Mingyu semakin mudah. Menjilat, mengecup dan menggigitnya. Menghisap serta membuat beberapa tanda yang akan menghilang dalam beberapa hari. Minghao mendesah saat Mingyu menghisap area sensitifnya.

Mingyu mencium tulang kerahnya, menggigitnya dan menjilatnya sensual. Dia terus mencium, bergerak turun dan turun ke bawah tubuh Minghao, dari tulang dada ke pusar, ke seluruh tubuh pucat Minghao.

Dia mencengkeram pinggul Minghao erat-erat, menjepitnya ke sofa, saat dia bergerak ke bawah kearah penis Minghao yang sudah tegak memerah. Meminta untuk dilahap.

Mingyu menatap ekspresi Minghao yang keenakan. Dalam sekali waktu, dia melahap penis kekasihnya. Minghao mengerang dan berteriak secara spontan. Melengkungkan punggungnya.

“Hah..hahh..Mingyu..”

Mingyu menghisap lebih keras. Hingga pipinya menghilang. Hanya menghisap ujung penis Minghao. Yang membuat Minghao menggila.

Dia meremas sofa yang ada di bawahnya. Menyalurkan rasa nikmatnya.

Mingyu mulai menaik turunkan kepalanya. Membuat penis Minghao menyentuh tenggorokannya.

Minghao mengerang. Semakin meremat sofanya gemas.

“Mingyu... Aku-aku... Aku mau...” erang Minghao saat ia mengeluarkan orgasme pertamanya. Tubuhnya bergetar menggelinjang. Mingyu menelannya. Menghisap ujung penis Minghao tak bersisa.

Tubuh Minghao bergetar atas stimulasi yang masih ia rasakan. Napasnya terengah-engah.

Mingyu melepaskan kulumannya. Menatap wajah Minghao yang sayu.

“Jangan bilang kamu udah capek?” ujar Mingyu sambil menyeringai.

Minghao berdecak. “Berisik.”

Mingyu tertawa. Mengecup bibir Minghao lalu turun ke dadanya. Mingyu mengecup puting Minghao, memainkannya dengan lidahnya, dengan ringan dia menggigitnya gemas. Minghao merasa kewalahan dengan sentuhan Mingyu.

“Ngahh... Hahhh... Ahh...”

Mingyu melepaskan kulumannya dari puting Minghao dan bergerak menuju bawah Minghao. Menggenggam penis Minghao yang setengah keras.

“Kamu baru keluar dan udah tegak lagi?”

Minghao mendesah panjang. Mingyu menurunkan wajahnya untuk menjilat bola-bola Minghao. Menggodanya. Minghao bisa melihat dunianya memutih.

“Min-mingyu... Please...”

Mingyu menekuk lutut Minghao dan melebarkannya. Mendorongnya agar menempel di dada Minghao. Menampilkan lubang merah muda yang menggoda Mingyu.

Mingyu menurunkan lidahnya menuju lubang Minghao. Menelan lubang Minghao, hingga hidungnya menempel di kemaluannya. Menjilat perlahan pinggiran lubang Minghao. Menusuk-nusukkan lidahnya di lubang Minghao. Mingyu menggenggam kedua pantat Minghao keras. Melebarkannya, hingga lubang Minghao terbuka. Mingyu memasukkan lidahnya ke lubang Minghao. Ia meronta. Merasakan sensasi yang baru ia rasakan.

“Ahh... Hahhh... Gyu..”

Tangan kekar Mingyu menggenggam pinggul Minghao yang melompat dari sofa. Mingyu terus fokus bekerja pada lubang Minghao. Erangan Minghao yang memabukkan, membuat Mingyu semakin liar untuk memainkan lubang Minghao. Menjulurkan lidahnya keluar masuk lubang Minghao.

“Ngahh... Ahhh.. Hahh”

Mingyu mengaduk-aduk lubang Minghao. Hingga terasa basah dan lembab. Diam-diam Mingyu memasukkan satu jari kedalam lubang Minghao.

Minghao menjerit. Rasa panas dan tak nyaman ia rasakan di dalam lubangnya.

Mingyu mulai memasukkan jari kedua, tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengelus paha Minghao agar ia rileks.

Minghao menatap Mingyu dengan kakinya yang gemetar.

“Rileks, baby.” ucap Mingyu dengan suaranya yang dalam.

Minghao bergetar. Menahan orgasmenya hanya karena mendengar suara Mingyu.

Mingyu membiarkan matanya menatap wajah Minghao, sementara dirinya sibuk menggerakkan jarinya ke dalam dan keluar.

“Yes... Ahhh... Mingyu...” desah Minghao saat Mingyu menyentuh prostatnya.

Mingyu mulai menambahkan jari ketiga. Mempersiapkan lubang Minghao untuk penisnya yang sudah keras sedari tadi.

Jari-jarinya meluncur keluar masuk. Mingyu sengaja menyentuh prostat Minghao berulang kali.

“Shit... Mingyu.... More... Ahhh..”

Mingyu mengeluarkan jarinya. Yang membuat Minghao mengerang tak rela.

Dengan lembut dia melebarkan kedua kaki Minghao. Memposisikan penisnya di lubang Minghao. Menggodanya sedikit.

“Mingyu..”

Mingyu menaikkan pandangannya. Menatap Minghao yang sudah memerah. Napasnya terengah-engah.

“Yes, baby?”

Minghao mengerang. Mingyu terkekeh. “You like it when i call you baby. Isn't it?”

“Yes..”

Minghao melihat penis Mingyu yang besar dan memerah. Membuat Minghao sedikit takut. Apakah bisa masuk ke dalam lubangnya.

Mingyu menarik penisnya sedikit lalu mendorongnya masuk. Menguburnya ke dalam lubang Minghao. Mengambil napas dalam-dalam untuk mengendalikan diri. Dinding lubang Minghao mencengkram penisnya erat. Membuat Mingyu menggeram.

Mingyu mulai mengeluarkan dan memasukkan penisnya cepat. Minghao berteriak. Rasa sakit bercampur dengan kenikmatan membuatnya menggila. Dia mencengkeram rambut Mingyu, menarik kepala Mingyu lebih dekat, menuntut untuk dicium.

Mingyu melahap mulut Minghao ketika dia mendorong langsung ke prostat Minghao berulang-ulang. Satu tangan meraih ke bawah untuk membelai penis Minghao. Tangan Minghao menjelajahi dada dan punggung Mingyu.

Mingyu menggeram di dalam mulutnya, dorongannya menjadi kasar. Tubuh Minghao bergetar. Dia bisa merasakan orgasme keduanya akan datang. Dia mencoba menahannya

Dorongan Mingyu semakin tak menentu. Dinding-dinding Minghao mencengkram penisnya tak terkendali. Mingyu bisa Merasakan dirinya dekat.

“Gyu... Hahh... Aku...”

Mingyu menggeram. “Yes, baby. Together.”

Dia berhasil melakukan beberapa dorongan lagi, sebelum dia meledak ke dalam tubuh Minghao, mendorong sedalam mungkin di lubang Minghao.

Keduanya menggelinjang. Menikmati orgasme mereka.

Napas tak beraturan memenuhi ruangan. Mingyu mencabut perlahan penisnya. Membuat sperma Mingyu mengalir keluar.

Mingyu jatuh diatas tubuh Minghao. Wajahnya bersembunyi di leher Minghao. Mengecup leher serta bahu Minghao lembut.

Napas Mingyu menggelitik leher Minghao. Namun dia menikmatinya. Tangannya melingkari tubuh Mingyu yang berkeringat.

“Wow. Tadi itu sangat. Panas.” ujar Mingyu sambil mengecup pipi Minghao.

Minghao terkekeh. “Sangat panas.”

Mingyu bangkit, lalu menatap Minghao dalam.

“I love you.”

Minghao tersentak. Lalu dia tersenyum lembut. “Love you too.”

Mingyu mengecup bibir Minghao.

“Do you want to take a bath together, baby?”

Minghao memerah. Dengan malu dia mengangguk.

“Sure.”