Puppyfrog

–, Sunflower

Seokmin itu ibaratkan matahari. Cerah, hangat dan menenangkan. Senyumnya indah. Matanya akan tersembunyi di balik kelopaknya, membentuk bulan sabit. Indah. Sangat indah.

Rambut coklatnya yang bergerak liar, terhembus seirama oleh angin. Kakinya yang jenjang, bergerak cekatan menggiring bola. Sinar matahari yang terik, kalah saing oleh pesona Seokmin.

Sorak sorai dan pekikan penonton, menyemangatinya. Suasana mendebarkan. Menunggu Seokmin mencetak score, untuk membawa pulang tropi kemenangan.

Hingga beberapa detik tersisa, dengan gerakan super gesit, dan taktiknya yang cerdik, Seokmin berhasil menendang bola masuk ke gawang lawan. Suara heboh menyerukan nama Seokmin. Semua orang berlari kearahnya. Memeluknya. Mengangkatnya tinggi-tinggi, bagai menyembah pahlawan.

Yang di lakukan Seokmin? Tertawa dan tersenyum. Wajahnya sumringah. Cerah. Sangat cerah. Tak ada kilat lelah dari matanya. Rasa puas dan bangga menyelimuti relung hatinya.

Di sisi lain, sosok lelaki dengan surai hitamnya, serta wajahnya yang melembut. Senyum tipis terbingkai indah, di bibir mungilnya. Kedua tangannya tergenggam erat di atas pangkuannya. Rasa bahagia serta bangga merambati dadanya. Melihat sosok yang ia sayangi, terlihat bahagia di depannya. Dia tahu perjuangan Seokmin, persiapan Seokmin selama ini. Mengharuskan lelaki matahari itu, merenggut waktu bermain serta istirahatnya.

Seokmin menatap lelaki di sisi lapangan, dengan lembut. Senyum lebar ia arahkan padanya.

Seokmin menggerakkan bibirnya tanpa suara. Berharap bahwa lelaki di sisi lapangan, mengerti maksudnya.

'Tunggu aku.'

Seokmin menatap penuh harap. Hingga sebuah anggukan pelan, tertangkap di mata Seokmin. Tawa ringan keluar dari bibirnya.

Seokmin kembali fokus terhadap temannya. Menikmati euphoria kemenangan, yang menyelimuti mereka semua.

*****

Seokmin sudah berganti pakaian. Mencuci wajahnya, serta memakai wewangian. Seluruh anggota teamnya sudah pergi terlebih dahulu. Seokmin menikmati waktu kesendiriannya. Memastikan bahwa penampilannya sudah lebih baik.

Buru-buru Seokmin mengambil tas punggungnya, memakainya, lalu melangkahkan kakinya cepat menuju seseorang yang mungkin sudah menunggunya lama.

Tangannya bergerak untuk menggalih kantong celananya. Mencari ponsel kesayangannya. Kaki jenjangnya sibuk berlari menuju sosok yang ia nanti-nanti.

Seokmin menatap ponselnya. Tak ada notifikasi penting, dari sosok yang ia harapkan. Seokmin mulai khawatir. Takut jika lelaki itu pergi tanpa sepengetahuannya.

Kaki Seokmin mendekati taman sekolahnya. Terlihat punggung yang ia kenal.

Perlahan, Seokmin memelankan langkah kakinya. Napasnya ia atur perlahan.

Dengan lembut, ia tepuk pundak lelaki di depannya.

Wajah yang Seokmin rindukan, menengok cepat kearahnya. Senyum lembut menyambut Seokmin.

“Hai.”

Suaranya masih sama. Lembut dan menenangkan. Senyumnya masih sama. Indah dan menyegarkan. Matanya masih sama. Jernih dan memikat hati.

Seokmin mendudukkan dirinya di samping lelaki itu.

“Jisoo.” ucapnya lembut.

Sosok yang Seokmin rindukan, Jisoo. Tersenyum. Menatap Seokmin dengan lembut.

“Seokmin.”

Seokmin menatap lekat lelaki di hadapannya. Dengan cepat, tangannya menarik tubuh Jisoo, kedalam dekapannya.

Mendekapnya erat. Menghirup aroma Jisoo lekat-lekat. Sudah 3 bulan mereka tidak bertemu. Berkirim kabar hanya melalui ponsel.

Seokmin telah melaksanakan karantina khusus bagi pemain sepakbola pilihan di kota mereka. Pertandingan siang tadi adalah bukti nyata dari perjuangan Seokmin selama 3 bulan terakhir.

“Aku kangen.” ucap Seokmin pelan. Enggan melepaskan dekapannya.

Jisoo meletakkan sisi wajahnya, di pundak Seokmin. Merasakan kehangatan serta aroma Seokmin yang sangat ia rindukan.

“Aku juga.” bisiknya

Seokmin tertawa pelan. “Aku tahu.”

Keduanya diam. Menikmati waktu mereka. Menikmati setiap detiknya. Pelukan keduanya semakin erat.

“Kamu gak nangis kan, selama aku pergi kemaren?” tanya Seokmin menggoda.

Jisoo mencibir. Tawa ringan keluar dari mulutnya. “Kayaknya kamu deh yang nangisin aku.”

Seokmin tertawa keras. “Tau aja kamu.”

Jisoo tertawa. “Apasih yang gak aku tahu dari kamu.”

Seokmin melepaskan dekapan mereka. Tangannya bergerak menangkup kedua sisi wajah Jisoo. Keduanya saling tatap. Menyelami satu sama lain.

“Jadi, kamu sekarang tahu kan jawaban apa yang bakal kamu kasih dari pertanyaanku 3 bulan lalu?”

Mata Jisoo melebar. Tak menyangka bahwa Seokmin akan membawa topik itu sedini ini.

“Ya.” ucapnya ngambang. Tak yakin.

Seokmin menatapnya terluka. “Kurang ya 3 bulan? Kamu masih gak yakin. Aku gak maksa kok.”

Jisol menggeleng. Tangannya tergerak untuk menggenggam kedua pergelangan tangan Seokmin yang ada di kedua sisinya.

“Enggak. Cukup kok. Aku udah tahu jawabannya.”

Seokmin menatapnya lekat. Tak ingin menaruh harapan bahwa Jisoo akan menerima pernyataan cintanya.

“Oke.” ujar Seokmin pelan. Kelewat pelan.

Jisoo menatapnya dengan lembut. Senyum tipis tak lepas dari wajahnya.

Tangannya tergerak untuk menangkup kedua sisi Seokmin.

Keduanya terdiam selama beberapa detik.

“Aku suka kamu.”

Seokmin menatapnya tak percaya.

“Aku suka kamu.” ujar Jisoo lagi.

Seokmin tersenyum lebar. “Iya?”

Jisoo mengangguk. “Iya.”

Seokmin tertawa. Suaranya renyah di telinga Jisoo.

“Terimakasih.” bisik Seokmin.

“Aku yang makasih. Udah setia sama aku.”

Seokmin nyengir. Di tariknya wajah Jisoo mendekat. Mempertipis jarak keduanya. Di kecupnya pelan, bibir ranum Jisoo. Saling menempel selama beberapa detik.

Keduanya menjauhkan wajah mereka. Menatap satu sama lain dengan lekat.

Tawa ringan lolos dari bibir mereka. “Aku tadi keren gak?” tanya Seokmin yang kini menggenggam tangan Jisoo erat. Menatap jari-jari mereka terkunci satu sama lain.

“Keren. Kamu keren kok.”

Seokmin terkekeh. “Kamu juga manis kok.”

Jisoo memerah. “Aku bukan gula.”

“Gula kalah manis dari kamu.”

Jisoo tersedak. “Sejak kapan kamu jago godain orang?”

“Sejak aku suka kamu?”

Jisoo makin memerah. Merambat hingga lehernya. “A-apasih.”

Seokmin tertawa. “Kamu kalo malu makin manis ya. Baru sadar aku.”

Jisoo membuang muka. Menghindari tatapan Seokmin yang membuat dadanya berdebar.

“A-ayo pulang.”

Jisoo bangkit dari duduknya. Menarik tangan Seokmin.

Seokmin ikut bangkit. Tawa tak henti dari mulutnya.

“Aku bakal sering-sering bikin kamu malu. Biar kamu makin manis. Biar orang-orang tahu kalo kamu punya Seokmin.”

Jisoo berjalan cepat. Mengabaikan Seokmin yang mengikuti langkahnya sedikit kesulitan.

“B-bodo amat.”

Seokmin sibuk menggoda Jisoo, di bawah sinar matahari yang lembut. Seperti memberikan kebahagiaan bagi kedua insan yang baru saja terikat.

–, Penjaga Warnet

Katakan bahwa Minghao gila. Mungkin dia sudah tidak waras lagi. Ini semua bermula sejak seminggu yang lalu. Saat pc dan printernya rusak, mengharuskan Minghao untuk pergi ke warnet dekat rumahnya. Demi mengerjakan tugas laporan kimianya, Minghao harus mau pergi ke warnet yang selalu ramai 24 jam.

Sebenarnya Minghao malas. Namun apa daya, tugas yang ia butuhkan harus di kumpul keesokan harinya.

Dengan agak canggung dan ragu-ragu, Minghao memasuki warnet dengan perlahan. Melihat semua komputer sepertinya sudah terisi.

Minghao menengok kearah kiri. Terlihat penjaga warnet yang menatapnya dalam diam. Sepersekian detik, Minghao terpesona. Bagaimana bisa lelaki setampan itu, menjaga warnet? Itu adalah hal yang dia bingungkan.

Minghao mengangguk pelan ke penjaga tersebut, lalu berjalan menyusuri semua komputer. Mencari komputer yang kosong.

Minghao berjalan hingga ujung. Namun, semua tempat sudah terisi penuh. Kecuali satu komputer, yang terletak tepat di depan meja penjaga komputer.

Akhirnya dengan terpaksa, Minghao mengambil tempat itu. Mengabaikan pandangan intens penjaga warnet yang menatapnya.

Minghao mulai fokus mengerjakan tugasnya. Padahal dalam dadanya ribut berdebar. Penjaga warnet di depannya seperti memiliki sesuatu yang membuat jiwa Minghao meronta-ronta.

Hingga 2 jam tak terasa, Minghao segera menyimpan tugasnya di flashdisk. Mematikan komputer, lalu mengecek apakah ada barang yang tertinggal atau tidak.

Setelah memastikan bahwa semua aman terkendali, Minghao pergi menuju meja penjaga warnet.

“Em, permisi. Komputer nomor 8.”

Sang penjaga menatap Minghao lekat, lalu mengangguk.

“5000.”

Minghao hampir mengerang. Suara orang di depannya sangat berat. Berat dan dalam. Minghao menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengusir pikiran kotornya.

“Ah iya.”

Minghao segera merogoh kantongnya. Menyerahkan uang pas.

“Terimakasih.” ucap sang penjaga warnet.

Minghao ngangguk, lalu berbalik pergi. Berusaha mengusir pikirannya yang ambigu.

*****

Sudah seminggu sejak kejadian warnet yang lalu, Minghao tidak bisa berhenti memikirkan lelaki penjaga warnet yang ada di dekat rumahnya. Bahkan Minghao tidak bisa tidur dengan nyenyak. Silahkan pikirkan sendiri, apa yang Minghao lakukan.

Seperti saat ini, Minghao mengerang di atas kasurnya. Membayangkan wajah tampan, serta rambut hitam lelaki asing yang ia sukai sejak seminggu yang lalu.

Oke, katakan saja bahwa Minghao tidak waras. Bahkan dia tidak tahu namanya. Bagaimana bisa Minghao menjadikan cowok tersebut bahan kotornya?

Minghao menghela napasnya, saat merasakan cairan hangat mengalir di telapak tangannya.

Minghao membanting kepalanya di atas kasur. Mungkin jika lelaki asing itu tahu apa yang Minghao lakukan, dia akan mengutuk Minghao ribuan kali.

Minghao bangkit dari kasurnya. Mengambil tissu dan membersihkan kekacauan yang telah ia perbuat. Sepertinya dia harus mandi, lalu mulai pergi ke warnet itu lagi. Laporan fisikanya sudah menanti. Minghao segera bangkit, lalu pergi menuju kamar mandi. Berharap bahwa pikiran kotornya dapat pergi dari otaknya.

****

Minghao memakai sweater yang agak kebesaran di tubuhnya, yang berwarna kelabu, serta sweetpants. Rambut hitamnya dibiarkan berantakan. Minghao menarik napasnya lalu menghembuskannya.

Dengan perlahan dia mendorong pintu, lalu melongokkan kepalanya ke dalam. Melihat apakah ada komputer kosong. Lagi-lagi yang tersisa hanyalah komputer nomor 8.

Minghao mengerang. Dengan pasrah dia masuk ke dalam warnet. Menengok ke arah penjaga warnet.

Lelaki asing itu menatap Minghao sama seperti sebelumnya. Lekat dan dalam. Minghao merasa tubuhnya meremang.

Minghao berusaha mengabaikan pandangan lelaki itu. Buru-buru menduduki kursi yang ada, dan menghidupkan komputer. Benar-benar mengabaikan penjaga warnet, yang sudah mengusik tidur indah Minghao, selama seminggu ini.

Minghao berusaha positif thinking. Mungkin memang pandangan orang itu yang membuat orang lain merasa di makan hidup-hidup.

Minghao mulai mengerjakan laporan fisikanya. Tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari komputer. Dia benar-benar fokus.

Hingga satu jam lebih, Minghao hampir menyelesaikan laporannya. Namun, satu masalah muncul. Minghao tidak tahu cara meletakkan gambar bergerak di laporannya.

Minghao menggigit bibirnya cemas. Menaikkan pandangannya kearah penjaga warnet. Yang mengejutkan Minghao adalah, lelaki itu menatap Minghao. Minghao tersentak. Buru-buru menurunkan pandangannya. Kembali menatap komputernya.

Minghao bersandar ke sandaran kursi. Berusaha menenangkan kecemasannya.

Minghao memejamkan matanya. Menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Tiba-tiba suara ketukan di meja komputernya, membuat Minghao membuka matanya.

Terlihat penjaga warnet yang membuat jantung Minghao tak karuan, berdiri di depan Minghao dengan tatapan yang sulit di jelaskan.

“Y-ya?”

Suara Minghao mendadak hilang.

“Ada masalah?” tanya lelaki asing itu kepada Minghao.

Minghao diam. Menatap lekat lelaki di hadapannya itu.

“S-sedikit.”

“Mungkin aku bisa bantu.”

Minghao tersentak. Menatapnya tak percaya. “B-benarkah?”

“Iya.”

Setelahnya, lelaki itu bertanya apa masalah Minghao, lalu Minghao mengarahkan mouse komputer ke masalah yang sejak tadi membuatnya frustasi.

Lelaki di hadapan Minghao tampak mengerti.

“Aku coba ya.”

Setelahnya, tangannya menyentuh punggung tangan Minghao. Menggerakkan mouse sambil menjelaskan kepada Minghao.

Sedangkan Minghao tak fokus. Pandangannya tertuju pada tangan mereka yang bersentuhan. Pipinya menghangat. Warna merah mewarnai wajah manisnya.

Minghao menggigit bibirnya gemas. Menahan dirinya untuk tidak berteriak.

“Sudah ngerti?”

Minghao segera sadar dari pikirannya. Lalu menatap lelaki di hadapannya. Mengangguk cepat. Padahal Minghao tidak mendengarkan satu katapun barusan.

Lelaki di hadapan Minghao menatap Minghao lekat. Sangat intens. Tangannya yang bersentuhan dengan tangan Minghao, ia gerakkan ke bibir Minghao.

“Jangan digigit.” bisiknya sambil mengusap bibir Minghao.

Minghao menatap lekat lelaki di hadapannya dengan wajah yang memerah. Otomatis dia melepaskan gigitannya. Membuat bibirnya merekah terbuka.

“Bibirmu...”

Minghao menunggu ucapan lelaki di hadapannya. Menatap lelaki asing di depannya tanpa melepaskan kontak mata.

“Gak. Gak ada apa-apa. Udah kan? Aku balik dulu.”

Lelaki asing tadi kembali ke mejanya. Meninggalkan Minghao yang semakin gila.

Minghao otomatis menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Jantungnya berdetak tak karuan.

Dengan kasar dia menghela napasnya. Segera menyelesaikan tugasnya.

Setengah jam kemudian, Minghao berhasil menyelesaikan dengan berbagai cobaan yang melanda otak serta dadanya.

Buru-buru dia menyimpan tugasnya. Memindahkannya ke flasdisk miliknya. Tak lupa untuk mematikan komputernya. Setelah sudah selesai, Minghao buru-buru berdiri dan pergi menuju meja penjaga komputernya.

“B-berapa?”

Lelaki asing tadi menatap lekat Minghao lagi. “5000.”

Minghao buru-buru memberikan uang lima ribu kepadanya.

“M-makasih.”

Cepat-cepat Minghao berbalik, ingin segera menjauh dari tatapan lelaki asing tadi.

Saat Minghao hampir sampai di rumahnya, Minghao merogoh kantongnya, untuk mengambil ponselnya. Dan baru sadar, jika ponselnya tertinggal.

Minghao mengerang, lalu buru-buru berbalik. Berjalan cepat ke warnet itu kembali.

Minghao mendorong pintu dengan tergesa. Segera mengecek meja komputernya. Namun ponselnya tidak ada. Minghao panik.

“Nyari apa?”

Sebuah suara yang berat dan dalam tepat di telinganya, membuat Minghao berbalik cepat. Hidung mereka hampir bersentuhan.

Minghao otomatis mundur selangkah.

“Ah, anu. Em, ponsel. Warna item.”

Lelaki asing di depan Minghao menyerahkan sebuah ponsel yang Minghao cari dari tadi.

“Ini?”

Minghao senyum lega. “Iya.”

Minghao mengambil ponselnya. Lalu memeluknya di dada. “Terimakasih.”

“Gak masalah.”

Setelahnya, Minghao pamit pergi dan buru-buru meninggalkan laki asing itu lagi.

Minghao membuka ponselnya, melihat aplikasi note terbuka. Tampak sebuah pesan tertinggal di note ponselnya.

'Hai, namaku Hansol. Penjaga warnet deket rumahmu. Udah suka kamu dari lama. Mungkin kamu gak sadar. Kapan-kapan aku cerita. Jadi, mau kencan?'

Minghao memerah. Setelah membaca pesan tadi, Minghao berteriak seperti orang kesetanan.

Minghao melanjutkan bacaannya.

'Btw, terimakasih ponselmu tidak dikunci. Aku udah masukin nomorku di hapemu. Cukup cari 'Calon pacar' itu adalah nama kontakku di ponselmu. Segera hubungi aku.'

Minghao menangkup pipinya yang memerah. Merasa menjadi manusia paling beruntung.

Entah seumur hidup dia bersyukur, tidak memberikan pengaturan kunci di ponselnya.

Buru-buru Minghao mencari kontak lelaki warnet yang dia tahu bernama Hansol.

'Hai Hansol. Namaku Minghao. Tentu saja aku mau kencan denganmu. Jadi, kapan?'

–, Rival

Jeonghan dan Seungcheol itu rival sejati. Gak ada hari mereka baikan. Pasti ada aja yang bikin mereka ribut.

Jeonghan itu ketua eskul lari. Sedangkan Seungcheol kapten sepak bola. Mereka selalu rebutan lapangan buat latihan eskul mereka. Membuat kedua anggota eskul tersebut geleng-geleng kepala. Lebih memilih menonton perkelahian ketua mereka.

Seperti saat ini. Jeonghan serta Seungcheol sibuk bertengkar. Rebutan lapangan. Keduanya sama-sama ada lomba buat minggu depan. 'SMANSA CUP' namanya. Perlombaan yang di adain dalam rangka hut sekolah. Semua sekolah di kota mereka bakal dateng ke sekolah mereka, buat saling tanding.

Dan mereka cekcok buat rebutan lapangan.

“Gak bisa. Lu udah make ini lapangan kemarin. Sekarang giliran team gua yang make.” ucap Jeonghan jengkel.

“Gak bisa. Mingdep sepakbola tanding pertama.”

Begitu terus. Sampe malem. Sampe pada pulangan.

Pembina keduanya sudah pasrah. Gak bisa memisahkan keduanya.

Akhirnya setelah cekcok kurang lebih sejam, akhirnya Jeonghan berhasil make lapangannya.

Seungcheol mukanya merah. Nahan emosi. Akhirnya ia ngalah. Make sisa lapangan buat ngomongin strategi sama pemanasan.

Jeonghan langsung mulai latihan. Mereka udah pemanasan sebelumnya. Seperti biasa, mereka latihan lari zigzag, lari bola-balik, lari ke ujung lapangan.

Sedangkan Seungcheol menatap Jeonghan dalam diam. Bola di kakinya ia mainkan.

Sebuah ide terlintas di pikirannya. Dengan sengaja dia menendang bola kearah Jeonghan yang sedang lari cepat.

“JEONGHAN!” teriak semua team Jeonghan, kepadanya.

Jeonghan melihat bola melambung cepat ke wajahnya. Terlambat. Dia tak bisa menghindar.

Dengan keras bola mengenai wajahnya. Membuatnya terjatuh. Kepalanya terkantuk tanah lapangan. Terakhir yang ia dengar adalah teriakan semua orang, hingga kegelapan menyerang dirinya.

*****

Jeonghan membuka matanya. Terdengar bentakan pelatihnya kepada seseorang. Jeonghan ada di uks sekarang.

“PARAH KAMU. BISANYA KAMU BERCANDA GITU. UNTUNG JEONGHAN GAK KENAPA-KENAPA. GIMANA KALO DIA PATAH TULANG? GEGAR OTAK? JANGAN KEKANAKAN. SAYA GAK NYANGKA KAMU SEPENDEK INI PIKIRANNYA.”

Jeonghan tersentak. Ia tebak, pelatihnya sedang memarahi Seungcheol. Ada rasa puas dan rasa kasihan menyelimuti hati Jeonghan.

“SAYA GAK MAU LAGI NGELIAT TINDAKAN KEKANAKANMU LAGI. NGERTI?!”

“Iya, Pak.”

Suara Seungcheol terdengar pelan dan merasa bersalah. Jeonghan pikir mungkin Seungcheol gak mengira bakal begini.

Tiba-tiba pintu uks terbuka. Tampak Seungcheol yang wajahnya berantakan. Terlihat stress dan banyak masalah.

“Hei.” ucapnya pelan.

Jeonghan ngangguk. Dia cuman diem. Membiarkan Seungcheol yang berbicara.

“Sorry. Bercanda gua keterlaluan. Lu gak papa? Ada yang sakit?”

Jeonghan merasa aneh. Dia asing dengan sikap Seungcheol saat ini.

“Gak kok.”

Seungcheol terlihat menghembuskan napasnya. “Maaf banget. Gua gak bakal gitu lagi. Um, lu boleh make lapangan. Anak eskul gua bakal make di sekolah lain.”

Jeongham tersentak. Dia gak tahu mau jawab apa.

“Kalo gitu lu istirahat aja. Sekali lagi gua minta maaf.”

Jeonghan cuman ngangguk. Gak membalas ucapan Seungcheol.

Setelahnya Seungcheol pamit buat duluan. Ninggalin Jeonghan yang agak bingung. Melihat perubahan emosi Seungcheol yang sangat drastis.

******

Sudah 3 hari sejak keterdiaman Seungcheol terhadap Jeonghan. Sejak kejadian bola beberapa hari yang lalu, Seungcheol berubah.

Dia gak lagi ngajak ribut. Gak lagi merecoki Jeonghan. Gak lagi ngusik Jeonghan. Bahkan dia ngalah buat make lapangannya. Membuat Jeonghan bingung sekaligus seneng.

Dia cerita ke temennya Joshua, dan Joshua ikutan senang dengan itu. Namun Jeonghan gak sesenang itu. Dia ngerasa sepi. Hampa.

Yang biasanya selalu ribut sama Seungcheol, sekarang enggak. Yang biasanya selalu adu bacot, sekarang enggak.

Seungcheol juga keliatan lebih kalem. Lebih dewasa. Bahkan anak kelas mereka heran sama sikap Seungcheol dan Jeonghan.

Bahkan anggota eskul mereka juga heran. Tapi mereka juga seneng. Karena gak ada yang ributin mereka lagi.

Jeonghan menyesap teh poci yang ada di tangannya dengan pelan. Menatap Seungcheol dari lantai 2. Seungcheol sama temen-temennya lagi asik main sepakbola. Sekarang lagi jam istirahat. Anak kelas 11 yang lagi free, memutuskan buat join bareng Seungcheol.

“Kangen dia?” tanya Joshua tiba-tiba.

Jeonghan tersentak. “Gak.”

“Bilang aja kangen. Keliatan dari muka lu.”

Jeonghan cuman diam. Mengabaikan Joshua. Tapi jujur, Jeonghan emang kangen ribut sama Seungcheol.

“Kenapa gak lu yang mancing dia buat ribut lagi?”

Jeonghan menghela napasnya. “Udah. Dan dia cuman diem terus ngalah.”

Joshua terkekeh. “Wah. Dia terpukul banget berarti, pas lu pingsan.”

Jeonghan memerah. “Gak mungkin. Dia biasa aja.”

“Mana tau lu sama perasaan orang. Coba entar sore liat SMANSA lawan SMANDA. Hari pertama lawannya udah berat. Coba semangatin dia. Gua yakin dia pasti semangat setelah liat muka lu.”

Jeonghan tersedak. “Sok tau banget lu.”

“Dibilangin. Gua mau ngeliat Seokmin juga. Jam 4 mereka mulai. Mau ikut?”

Jeonghan diam. Tampak berpikir. Beberapa menit kemudian dia ngangguk. “Okelah.”

*****

Disinilah Jeonghan. Melihat tim sekolahnya yang sudah ketinggalan jauh. Dia menggigit bibirnya khawatir. Seungcheol terlihat tertekan.

Masih ada kesempatan. Tapi kelihatan, bahwa Seungcheol memiliki banyak pikiran.

Semua tim sekolahnya terlihat menatap Seungcheol khawatir.

Jeonghan gemas. Dia tak kuat.

Dengan tarikan napas panjang, Jeonghan teriak dari lantai 2.

“SEUNGCHEOL GUA KANGEN LU. PLIS. KALO LU MENANG GUA AJAK MAKAN.”

Semua mata menatap Jeonghan kaget. Begitupula Seungcheol. Menatapnya horror. Lalu tertawa di akhir.

Dan benar saja. Seungcheol kembali semangat. Sekolahnya berhasil mengejar ketertinggalan.

Suara peluit berbunyi. Tim Seungcheol menang. Jeonghan melompat gembira. Dia senang. Senang sekali.

Dia buru-buru turun. Berdiri di pinggir lapangan. Nunggu Seungcheol buat hampirin dia.

Setelah ngerayain kemenangan bareng teamnya, dan salaman akhir bareng team lawan, Seungcheol jalan menghampiri Jeonghan.

“Hai.” ucapnya saat berdiri di hadapan Jeonghan.

Jeonghan mendengus. “Gak usah sok baik. Jangan ngerasa bersalah sama waktu itu. Udah lewat. Kayak biasa gak bisa? Gua kangen ribut sama lu.”

Seungcheol memerah. “Lu kangen?”

Jeonghan ngangguk. “Biasanya ada yang gua ejek. Sekarang gak ada.”

“Sialan.”

Keduanya tertawa. Saling pandang.

“Jadi, lu traktir gua kan habis ini?” tanya Seungcheol sambil tersenyum.

“Iya. Gua traktir.”

“Oke. Gua ke anak-anak dulu.”

Jeonghan ngangguk. Seungcheol lalu lari, ke arah teamnya.

Joshua berdiri dari kejauhan. Tersenyum menatap Seungcheol dan Jeonghan.

“Gobloknya keterlaluan. Jelas-jelas saling suka. Hadeh.”

–, Ouija

Soonyoung baru saja membeli papan permainan yang sedang hits saat ini. Namanya papan Ouija. Permainan horror yang ingin ia mainkan. Ia membelinya di salah satu website resmi, yang terkenal menjual barang-barang horror.

Kini papan yang ia inginkan sejak dulu, ada di tangannya. Rencana awal, ia ingin memainkannya sendiri. Namun, jika dipikir-pikir berbahaya juga. Akhirnya, Soonyoung memutuskan untuk bermain bersama sahabatnya, Wonwoo. Lagi-lagi Wonwoo jadi korban penasaran Soonyoung.

Soonyoung buru-buru mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan untuk Wonwoo. Agar lelaki itu ke rumahnya sekarang.

Setelah mengirimkan pesan, Soonyoung meletakkan papan Ouija di atas kasurnya. Berharap papan itu akan berkerja.

*****

Disinilah keduanya. Wonwoo serta Soonyoung duduk berhadapan. Di tengah mereka ada papan Ouija. Kedua tangan mereka menyentuh penunjuk yang memiliki kaca pembesar di tengahnya.

Dalam papan ouija terdapat huruf dari A hingga Z, kemudian penomeran mulai dari 0 sampai 9, terdapat kata “YES” dan “NO”, “HOME”, dan “GOOD BYE”.

Sebelum memulai permainan, Wonwoo serta Soonyoung harus menyiapkan lilin untuk penerangan, dan tempat yang remang-remang. Setelah berdiskusi dengan Soonyoung yang lebih banyak ngotot, akhirnya mereka bermain di loteng rumahnya.

Setelah sudah siap, kini Wonwoo dan Soonyoung saling pandang. Lilin sudah di nyalakan di samping papan Ouija. Penunjuk sudah siap di tengah papan. Jari telunjuk keduanya sudah menempel di penunjuk.

Dengan agak ragu-ragu, Soonyoung berucap, “Roh, roh yang ada di sini ... Roh, roh yang ada di sini ... Roh, roh yang ada disini ... Tolong keluarlah dan bermain bersama kami!”

Soonyoung mengucapkan mantra itu, sambil menggerakkan penunjuk memutar secara perlahan. Soonyoung mengucapkan mantra itu berulang kali sambil memutar penunjuk di telunjuknya.

Penunjuk yang mereka sentuh mulai memberat. Wonwoo serta Soonyoung saling pandang.

Soonyoung mengkode Wonwoo untuk menanyakan pertanyaan kepada roh yang sudah hadir.

Wonwoo berdeham. Dengan agak ragu dia berkata, “Um, apakah disini ada banyak hantu?”

Soonyoung mendelik. Masalahnya ini rumah Soonyoung.

Tiba-tiba penunjuk bergerak pelan ke pilihan “YES” membuat Soonyoung menatap horror papan Ouija di bawahnya.

Wonwoo menahan tawanya. Lalu mengode Soonyoung untuk bertanya.

“Apakah Wonwoo sedang menyukai seseorang?”

Wonwoo serta Soonyoung saling pandang. Tiba-tiba penunjuk bergerak liar, dan kembali ke jawaban “YES”.

Soonyoung mengangkat alisnya penasaran. Sebuah senyum lebar terpampang di bibirnya.

“Apakah aku kenal dengannya?”

Penunjuk kembali bergerak liar, dan kembali berhenti di pilihan “YES”.

Wonwoo tampak diam saja. Mempersilahkan Soonyoung, untuk menguasai papan Ouija di depan mereka.

“Siapa namanya?”

Penunjuk tampak diam, lalu bergerak pelan. Menuju ke huruf S, lalu O, bergerak liar, lalu kembali ke huruf O, bergerak lagi ke huruf N, lalu turun ke huruf Y, lalu menggeser drastis ke samping ke huruf O, lalu bergeser lagi dengan cepat ke huruf U, bergeser lagi ke kiri berhenti di huruf N, dan bergerak naik ke huruf G.

Penunjuk diam. Soonyoung tampak tak percaya. Dia perlahan mengangkat wajahnya menatap Wonwoo. Yang ternyata sudah menatap lekat Soonyoung.

“Won.”

Wonwoo hanya diam. Dengan pelan dia berucap, “Permainan telah berakhir.”

Tangannya menggerakkan penunjuk kearah pilihan “GOODBYE”, lalu memutar penunjuk secara perlahan. Saat dirasa ringan, dia menghentikan gerakannya. Lalu meniup lilin yang ada di samping papan Ouija.

Setelahnya, keheningan melanda keduanya. Soonyoung menatap Wonwoo dengan lekat. Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya.

“Won.”

“Nyong.”

Soonyoung diam. Dia mempersilahkan Wonwoo untuk menjelaskan ini semua.

Wonwoo terlihat mengusak rambutnya, lalu menghela napasnya.

“Terserah kamu mau nganggep apa masalah yang tadi. Tapi kalo kamu minta aku jawab jujur, iya. Aku udah suka kamu. Dari dulu.”

Soonyoung diam. Agak tak percaya dengan ucapan Wonwoo.

“Aku serius. Terserah kamu mau percaya atau gak.”

Kali ini Wonwoo menegaskan kembali. Tampak tak peduli juga.

“Ini udah selesaikan? Aku mau balik.”

“Tunggu!”

Soonyoung nyegah Wonwoo buat pergi. Wonwoo menatap Soonyoung lekat. Tampak menyembunyikan ekspresinya.

“A-aku juga suka kamu.” Ucap Soonyoung pelan.

Wonwoo menggeleng. “Kamu gak perlu gitu, aku tahu kamu kasihan sama aku.”

“Enggak! Aku gak bohong. Aku juga suka kamu. Dari smp.”

Wonwoo menatap lekat Soonyoung. Keduanya saling tatap. Entah berapa lama.

“Beneran?” tanya Wonwoo meminta kepastian.

Soonyoung ngangguk. “Iya. Iya, Wonwoo.”

Wonwoo tersenyum lembut, lalu menarik Soonyoung ke dalam dekapannya.

“Gak sia-sia aku main permainan gak jelas ini sama kamu.”

Soonyoung terkekeh. “Gak nyangka juga aku bakal berfungsi beneran papannya.”

Wonwoo hanya tersenyum. Tak membalas ucapan Soonyoung. Tiba-tiba seringai ganjal nampak di bibir Wonwoo.

“Ayo turun. Kita tinggal aja papannya disini.” ujar Wonwoo sambil melepas dekapannya, lalu menggenggam tangan Soonyoung. Menariknya bangkit.

Soonyoung ngangguk. Lalu memandang papan terakhir kalinya. Seperti mengucapkan terimakasih.

Setelahnya, Soonyoung berjalan bersama Wonwoo. Tak tahu, jika sejak awal Wonwoo lah yang menggerakkannya.

–, Hujan

Bulan Desember identik dengan musim hujan. Sama dengan kota Malang, yang dilanda hujan dipenghujung tahun ini. Seperti biasa, semua orang tidak akan mengira, jika siangnya akan hujan selebat ini. Padahal pagi tadi terang benderang, tanpa ada tanda-tanda akan hujan.

Sama seperti Jun, yang tidak mengira jika kotanya akan di landa hujan selebat ini. Jika tahu begini, dia akan membawa payung kecil pemberian ibunya.

Dengan pasrah Jun menunggu hujan reda di halte bus yang sudah sepi setengah jam yang lalu. Bisa saja Jun menerobos hujan dan berlari menuju rumahnya yang dekat dengan sekolah. Namun dia masih sayang tubuhnya. Masalahnya dia ada pertandingan pencak silat minggu depan. Jika ia sakit, tamatlah riwayatnya.

Dengan helaan napas yang panjang, Jun menatap jalanan di depannya yang ramai oleh kendaraan-kendaraan. Menikmati derasnya hujan yang membentur atap halte. Setidaknya Jun tidak merasa kesepian.

Tiba-tiba angin kencang menerpa tubuhnya. Spontan, Jun memeluk dirinya sendiri. Bulu kuduknya meremang. Dia menggigil. Jun menyesal tidak membawa hoodie kesayangannya.

Sial sekali Jun hari ini. Jun memeluk tubuhnya, menyenderkan dirinya di senderan halte, dan memejamkan matanya. Berusaha menerima semua ini dengan tabah.

Tiba-tiba, suatu yang hangat dan lembut menutupi dadanya.

Jun membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rambut hitam yang basah, dan wajah kecoklatan yang mengkilat akibat air hujan mengenai wajahnya.

Jun kenal wajah ini. Wajah tampan ini. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat.

“Belum pulang, Jun?” tanya orang itu dengan suaranya yang berat dan agak serak.

Jun ngangguk pelan. “Belum. Nunggu reda.”

Sosok itu ngangguk. “Pake hoodieku aja dulu. Dari jauh keliatan kamunya kedinginan.”

Jun memerah. Menggenggam hoodie pemberian sosok yang ada di hadapannya.

“Terus kamu gimana, Gyu? Gak dingin?” tanya Jun kepada Mingyu, temannya.

“Gak. Aku udah biasa. Kamu kan gak suka dingin. Apalagi mingdep ada lomba kan?”

Jun menggigit bagian dalan pipinya. “Iya.” gumamnya.

“Buruan pake. Atau mau ku bantuin?”

Jun menggeleng keras. “Gak perlu. Makasih, Gyu.”

“Gak masalah. Yaudah aku duluan ya. Jangan di terobos hujannya. Tunggu reda. Awas aja sampeku denger dari ibumu kalo kamu sakit.”

Jun memerah. Bagaimana bisa Mingyu seperhatian ini?

“Iya.” ucapnya pelan.

“Yaudah aku pergi. Bye, Jun.”

“Bye, Gyu.”

Setelahnya, Mingyu berlari. Melindungi kepalanya dengan tas hitam miliknya.

Jun meremat hoodie Mingyu yang ada di tangannya. Buru-buru dia segera memakai hoodie pemberian Mingyu.

Rasa hangat dan aroma khas Mingyu menyapa hidungnya. Jun memerah. Jantungnya tidak kian tenang.

Jun memasukkan tangannya di kantong hoodie Mingyu. Menghirup dalam-dalam aroma Mingyu, yang tertinggal di hoodienya.

Jika Jun mengingat beberapa tahun lalu, bagaimana ia bisa kenal dengan Mingyu, membuat perasaannya berantakan seperti ini.

Tepatnya saat Jun pindah sekolah dan pindah rumah. Saat Jun pindahan dari Balikpapan, dan harus pindah ke Malang mengikuti pekerjaan orang tuanya.

Jun tinggal di samping rumah Mingyu. Awalnya mereka tidak saling kenal dan tidak peduli. Namun, saat ibu Mingyu mengenalkan satu sama lain bahwa Jun seumuran dengan Mingyu, dan akan sekolah di sekolah yang sama seperti Mingyu, membuat Jun terkejut.

Mingyu itu tampan. Tinggi. Kulit sawo matangnya membuat Jun memerah. Jangan lupakan gigi taring Mingyu yang nampak, saat cowok itu tertawa. Entah kenapa saat itu jantungnya berdetak aneh.

Mereka semakin dekat. Mingyu membantunya mempelajari bahasa daerah. Mengajarinya berbagai hal. Hingga Jun menyadari perasaan aneh terhadap Mingyu. Membuat Jun menjaga jarak dengan Mingyu.

Hingga mereka menginjak kelas 12, mereka hanya berbicara secukupnya. Membuat Jun merasa jelas, bahwa Mingyu tidak mungkin menyukainya balik.

Jun menarik napasnya pelan. Dan menghembuskannya cepat. Saat rintik hujan semakin pelan, membuatnya yakin bahwa hujan sudah mereda. Dengan perlahan Jun bangkit, dan berjalan menuju rumahnya. Menikmati kehangatan hoodie Mingyu, yang menyelimuti tubuhnya.

******

Hari kedua sama seperti perkiraan Jun. Siang hari di kota Malang, di landa hujan kembali. Kali ini tidak berangin, namun deras. Untungnya, Jun membawa payung dan juga hoodie milik Mingyu. Rencana awalnya, dia ingin mengembalikan kepada pemiliknya langsung. Namun, saat dia ke kelas Mingyu, orangnya tidak ada. Kata temannya, Mingyu ada rapat tim basketnya.

Dengan agak berat, Jun membawa hoodie Mingyu kembali, masuk ke dalam tasnya.

Siang ini Jun pulang terlambat. Dia baru saja selesai briefing, masalah lomba pencak silat untuk minggu depan.

Kini Jun berdiri di lorong sekolahnya. Sibuk menggali tasnya, untuk mengeluarkan hoodie Mingyu. Buru-buru Jun memakai hoodie Mingyu. Takut dirinya masuk angin.

Setelah dia sudah selesai memakai hoodienya, Jun membuka payung merahnya. Siap untuk melangkah menuju rumahnya.

Namun seruan namanya, membuatnya menengok kebelakang.

Terlihat Mingyu berlari kearahnya. Dengan rambut hitamnya yang bergerak kesana kemari, mengikuti gerakan sang pemilik.

Mingyu tersenyum lebar. Lega bercampur senang terlihat di wajahnya.

“Aku bareng kamu ya? Aku gak bawa payung, hehe.”

Jun tersentak. Artinya dia akan sepayung berdua dengan Mingyu? Serius?

Dengan kaku dia mengangguk. “Gak masalah.”

Jun menyerahkan payungnya ke Mingyu. Karena cowok di depannya lebih tinggi darinya.

Dengan cengiran yang tidak tertinggal dari bibirnya, Mingyu mengambil payung dari tangan Jun, lalu merangkul pundak Jun. Menariknya mendekat.

“Dekat-dekat sini. Entar kena hujan.”

Jun cuman bisa pasrah. Berusaha terlihat normal. Padahal dalam dadanya ribut dangdutan.

Keduanya berjalan di bawah payung yang sama. Keheningan menyelimuti keduanya.

Jun tidak sadar jika air hujan yang menetes dari payungnya, mengenai bahunya. Bagaimana dia bisa sadar, jika pikirannya saat ini kemana-mana.

Mingyu menggerakkan tubuh Jun, untuk berdiri di depannya.

Posisinya saat ini Jun di depan tubuh Mingyu, tangan Mingyu berada di pundak Jun. Meremasnya posesif. Payung yang Mingyu pegang agak ia majukan. Agar Jun tidak terkena air hujan

“K-kenapa?” tanya Jun gugup.

“Pundakmu basah. Jadi kamu berdiri di depanku. Biar gak kehujanan.” ucapnya tepat di telinga Jun, membuatnya memerah.

Jun hanya diam. Genggaman tangan Mingyu tidak terlepas. Masih menyentuh pundak Jun.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Suara rintik hujan mengalun di telinga keduanya.

“Jun.” bisik Mingyu.

Jun tersentak. “Ya?”

“Kenapa kok jauhin aku?”

Jun diam. Tak tahu harus menjawab apa. “Enggak. Perasaanmu aja kali.”

“Engga. Kamu emang jauhin aku. Kenapa?”

Suara Mingyu datar. Tidak ada ekspresi di nada bicaranya. Jun jadi bingung. Apakah Mingyu marah?

“Apa aku buat salah?”

Jun menggeleng. “Enggak. Ini salahku. Kamu gak salah apa-apa.”

“Kalo gitu bilang. Kamu kenapa?”

Gak bisa. Jun gak bisa bilang ke Mingyu. Dia takut. Dia takut Minggu jauhin dia.

“Gak bisa.” bisik Jun.

“Kenapa?”

Mingyu masih ngotot. Dia penasaran. Kenapa Jun yang dulu sedekat nadi, tiba-tiba menjauh. Sejauh matahari.

“Jun.”

Keduanya terdiam. Berhenti melangkah.

“Jun.”

Jun menggeleng. Dia lemah dengan itu. Dia lemah, saat Mingyu memanggilnya dengan lembut. Penuh perasaan. Terasa cocok di bibirnya.

“Jun. Tolong.”

Jun menghela napasnya. Lalu berbalik. Menghadap Mingyu, yang menatapnya lekat. Entah ada sesuatu yang aneh di kedua netra Mingyu. Ada sesuatu yang tidak bisa Jun deskripsikan.

“Aku suka kamu.” ucap Jun cepat.

Hening. Jun menahan jantungnya yang terasa sakit. Seperti ada yang meremasnya.

“Aku suka kamu. Makanya aku jauhin kamu. Puas?”

Jun menahan air matanya yang ingin tumpah. Menatap Mingyu, yang juga menatapnya.

“Sejak kapan?” Mingyu hanya mengucapkan itu.

“Kelas 10.”

Mingyu terlihat terkejut. “Sumpah?”

Jun ngangguk. “Udah puaskan. Bisa gak kita pulang?”

Mingyu menggeleng. “Gak bisa.”

Jun ingin sekali menonjok Mingyu.

“Kamu gak mau denger balesanku?”

Jun menggeleng. “Aku udah tahu. Kamu gak suka aku.”

Mingyu menaikkan alisnya. “Tahu dari? Kok yakin banget.”

“Tahu aja. Kamu diem aja pas aku jauhin.”

Mingyu menahan tawanya. “Kukira kamu pengen nyari temen lain. Ternyata pas kelas 12, temenmu itu-itu aja.

Jun hanya diam. Merasa agak bingung. “Jadi?”

Mingyu tersenyum lembut. “Aku juga suka kamu. Sejak pas makan malem itu.”

Jun tersentak. Menatap tak percaya. “Bohong.”

Mingyu terkekeh. “Ngapain aku boong. Kalo boong aku bakal ninggalin kamu sekarang.”

Jun memerah. “Kamu suka aku?”

Mingyu ngangguk. Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Jun. “Iya. Puas? Jadi jangan jauhin aku lagi. Aku kangen tidur di pangkuanmu.”

Jun memerah. “U-um. Gak tahu.”

“Gak tahu kenapa?” Mingyu bingung.

“Kita apa?”

Mingyu menatap Jun lekat. “Kita pacar lah. Kan kita sama-sama suka.”

Jun hampir tersedak. “K-kita?”

“Iya. Kenapa? Gak mau?”

“M-mau!”

Mingyu terkekeh. Dengan gemas dia menarik Jun dalan dekapannya.

“Jadi, besok mau gak nonton film? Gimana, pacar?”

Jun memerah. Menyembunyikan wajahnya di bahu Mingyu. “T-terserah.”

“Haha. Okey. Besok kencan pertama. Besok aku bawa motor.”

“T-terserah. Asal sama kamu, aku mau.” jawab Jun pelan.

“Pft, jago gombal ya?”

Jun memukul punggung Mingyu, membuat sang empu tertawa.

Jun memeluk Mingyu balik. Menikmati pelukan Mingyu yang hangat, di bawa payung merah, ditemani rintikan hujan, di bulan Desember.

–, Tetangga baru

Jisoo cuman pria biasa yang berumur 24 tahun. Jarang keluar rumah, dan punya teman yang bisa ia hitung dengan jari.

Karena Jisoo bekerja sebagai editor, maka dia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Ia jarang keluar rumah jika tidak diperlukan. Kedua orang tua Jisoo hanya geleng-geleng. Pasrah dengan kelakukan Jisoo yang seperti itu.

Jisoo single. Dia jarang menyukai seseorang. Terlalu malas untuk memikirkan hal-hal romantis di luar kemampuannya. Lagipula, pekerjaannya sudah cukup membuatnya pusing. Dia enggan untuk menambah beban hidup dengan masalah percintaan.

Namun, semua itu berubah saat Jisoo memiliki tetangga baru, yang menempati rumah kosong di samping rumahnya.

Dunia Jisoo yang datar, sedatar papan, berputar 180 derajat.

*****

Pagi itu Jisoo melakukan rutinitasnya seperti biasa. Bangun dari tempat tidur, ke kamar mandi, mencuci muka dan sarapan. Setelah semua rutinitas ia lakukan, ia akan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum terselesaikan.

Jisoo dengan tampang gembelnya, memakai celana pendek di atas lutut berwarna kelabu, serta kaos polos berwarna putih. Jisoo memakai kacamata bacanya, lalu berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia membuka gorden, dan membuka jendelanya lebar-lebar. Membiarkan udara pagi memasuki kamarnya.

Jisoo menghirup dalam-dalam udara pagi yang menyegarkan. Lalu pandangannya tertuju pada halaman rumah di samping rumahnya.

Selama hidup Jisoo ia tidak pernah bersyukur dia memilih kamar lantai dua, dengan jendela berhadapan langsung dengan rumah tetangganya.

Bagaimana tidak, Jisoo melihat lelaki tampan dengan surai hitamnya yang berantakan. Bibir merah. Serta peluh membasahi tubuhnya.

Lelaki asing yang Jisoo lihat, sedang sibuk dengan kegiatannya. Dengan barbel di tangannya, lelaki asing itu menggerakkan tangannya secara konstan.

Jisoo menganga. Menatap lelaki asing yang berhasil membuat Jisoo terpikat. Oke, mungkin Jisoo agak lebay. Tapi, ini benar terjadi. Lelaki yang Jisoo tidak tahu siapa namanya itu, berhasil membuat Jisoo yang aseksual menjadi menyukai seseorang.

Penampilan pria asing di pandangan Jisoo juga menggugah selera. Celana boxer hitam serta kaos hitam yang menyetak tubuhnya jelas. Serta otot-otot yang menggoda iman.

Jisoo mengumpat dalam hati. Buru-buru Jisoo menjauhi jendelanya, dan duduk di atas kasurnya.

Jisoo memegang dadanya. Jantungnya berdetak kencang. Wajahnya memerah. Masih tak percaya dengan yang ia lihat.

“Efek kopi. Kamu gak aneh kok, Jisoo.”

Jisoo berusaha merapalnya berulang kali. Dengan agak takut-takut Jisoo mengintip jendelanya. Ternyata lelaki asing tadi sudah hilang entah kemana.

Jisoo menghembuskan napasnya pelan. Lega bahwa orang itu tidak ada. Jisoo menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir pria tadi dari pikirannya. Dengan cepat, dia duduk di atas kursi kerjanya, memilih fokus melanjutkan pekerjaannya.

*****

Hari kedua. Lagi-lagi Jisoo melakukan rutinitasnya seperti biasa. Dengan celana pendek warna putihnya, serta hoodie favoritenya, Jisoo membuka jendelanya lebar-lebar.

Lagi-lagi dia melihat lelaki asing yang asik berolahraga. Jisoo menelan ludahnya kasar. Tak sadar bahwa Jisoo menatap orang itu dengan lekat.

Lelaki asing yang tampak tak sadar akan keberadaan Jisoo, asik melompat-lompat dengan lompat tali di kedua tangannya.

Kali ini lelaki asing itu menggunakan kaos tanpa lengan. Menampakkan otok lengannya yang besar. Wajah Jisoo memerah.

Tiba-tiba lelaki asing itu menengok kearah Jisoo. Jisoo tersentak. Napasnya tertahan. Jisoo dan lelaki itu saling tatap.

Bukannya pergi, lelaki itu tersenyum kepada Jisoo dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Jisoo.

Jisoo memerah. Buru-buru dia menutup jendela, serta gordennya.

Jisoo berjungkok. Menyembunyikan wajahnya di atas lututnya.

“Astaga. Astaga. Astaga.”

Jisoo tak tahu, jika kejadian barusan akan merubah hidupnya dalam semalam.

******

Hari ketiga. Kedua orang Jisoo pergi ke acara amal gereja. Meninggalkan Jisoo sarapan dan sebuah pesan yang berisi, 'Jika tetangga sebelah meminta pesanan bunga, serahkan saja. Omong-omong namanya Seungcheol. Atas nama Seungcheol, lalu berikan bunganya.'

Jisoo mengangguk dalam diam. Dia tidak tahu siapa itu Seungcheol, mungkin saja anak tetangga yang lain. Karena ibu Jisoo memiliki toko bunga, tetangga di sekitar rumah Jisoo sering membeli bunga di ibu Jisoo. Beruntung usahanya semakin pesat saat ini.

Jisoo segera menyantap sarapannya, dan kembali naik ke dalam kamarnya.

Kali ini dia tidak membuka jendela kamarnya selama seharian. Hingga saat sore menjelang, suara bel pintu membuatnya tersentak.

Dengan cepat dia menyimpan pekerjaannya, lalu turun ke bawah.

Saat Jisoo membuka pintu, dirinya hampir terjengkang. Melihat lelaki asing yang sudah ia lihat dua hari ini, berdiri di hadapannya sekarang.

Jisoo diam. Tak tahu harus bicara apa.

“Sore. Mau ngambil bunga atas nama Seungcheol.”

Suaranya berat dan dalam. Jisoo hampir pingsan dibuatnya.

Dengan gugup dia menjawab, “Ah, em tunggu.”

Jisoo meninggalkan sang tamu di depan pintu. Berlari menuju meja ruang tengah, mengambil sebuah bingkisan bunga.

Jisoo kembali ke pintu, dan menyerahkannya ke lelaki asing di hadapannya Jisoo.

“I-ini.”

Lelaki asing itu tersenyum, lalu mengambil bingkisan yang ada di tangan Jisoo perlahan. Jisoo tersentak, saat kulit mereka tak sengaja bersentuhan.

“Terimakasih.”

Jisoo gugup dan linglung. Hanya menjawab dengan anggukan cepat.

“B-baiklah. Uh, sampai jumpa.” ujar Jisoo buru-buru, lalu menutup pintunya cepat.

Namun, pintu rumahnya ditahan oleh lelaki asing tadi, menggunakan kakinya.

“Tunggu.”

Jisoo tersentak. Buru-buru membuka lebar pintunya. Agak khawatir dengan kaki lelaki di depannya.

“Namaku Seungcheol.” ujarnya sambil menyerahkan tangannya yang berotot di hadapan Jisoo.

Jisoo menatap tangan dan wajah lelaki asing di hadapannya, bergantian.

Dengan ragu, dia mengambil tangan lelaki di depannya. “Ji-jisoo.”

“Jisoo?”

Jisoo ngangguk. Wajahnya memerah. Merasakan tangan lebar dan kuat, menggenggam tangannya yang biasa-biasa saja.

“Mau makan bareng?”

Jisoo tersentak. Menatap Seungcheol kaget. “Makan bareng?”

“Iya. Kamu sendirian kan? Aku mau ngajak kamu makan. Anggep aka perkenalan kita jadi temen. Atau mungkin lebih?”

Jisoo memerah. Agak bingung. “Um..”

“Jangan bilang aku gak tau kalo kamu udah liatin aku dari kemarin.”

Jisoo makin memerah. Berusaha menghindari tatapan lekat, lelaki di hadapannya.

“Jadi, mau ikut?”

Jisoo bingung. Tapi ia ingin mengenal lebih jauh lelaki di hadapannya ini.

“Um, oke.”

“Oke?”

Jisoo mengangguk. “Iya.”

Seungcheol terkekeh. “Gitu dong, manis.”

Jisoo memerah. Tubuhnya bergetar saat Seungcheol memanggilnya manis.

Jisoo menarik tangannya dari genggaman Seungcheol. “A-aku ambil hp sama dompet dulu.”

Tanpa mendengar jawaban Seungcheol, Jisoo buru-buru membalikkan badan, dan lari menuju kamarnya.

Seungcheol hanya terkekeh, melihat tingkah Jisoo yang menggemaskan.

“Lucu juga dia.”

•How to make my crush falling in love with me•

Siapa yang tidak kenal dengan Moon Junhui. Anak jurusan Bahasa, keturunan China asli, tampan, ramah, dan primadona sekolah. Berteman dekat dengan Jihoon, teman masa kecilnya.

Jihoon anak jurusan Mipa. Pinter, berprestasi, cuek, jarang ngomong, dan murid andalan guru. Tiap kemana-mana pasti bareng sama Jun. Mereka udah sahabatan dari bayi. Rumah dempetan. Buka jendela, udah keliatan kamar masing-masing. Tapi, tanpa orang-orang tahu Jihoon suka sama sahabatnya, Jun.

Jihoon pesimis. Dia yakin Jun gak suka sama dia. Dia lebih memilih memendam perasaannya daripada ngerusak pertemenan mereka yang udah jalan 17 tahun.

Sampai suatu ketika, Minghao tahu rahasia Jihoon.

******

Disinilah Minghao dan juga Jihoon. Keduanya saling diam. Suara pendingin ruangan perpustakaan menemani mereka.

“Jadi, yang gua tebak bener berarti. Gak ada niatan ngaku ke dia?” tanya Minghao yang memulai pembicaraan.

Jihoon menghela napasnya, lalu menggeleng. “Takut.”

Minghao mendesah. “Takut apalagi anjir. Jelas-jelas dia juga tertarik sama lu.”

Jihoon menggeleng. “Engga.”

Minghao menghela napasnya. “Oke. Gua ada cara. Ini yang gua pake pas deketin Mingyu.”

Jihoon menatap Minghao lekat. “Gimana?”

Minghao menyeringai. Dia menyerahkan buku kecil berwarna biru muda ke hadapan Jihoon.

“Ini baca. Besok mulai lu lakuin. Semoga berhasil. Gua yakin Jun suka sama lu.”

Minghao bangkit, lalu pergi meninggalkan Jihoon.

Jihoon dengan ragu mengambil buku Minghao, lalu mulai membaca isi di dalamnya.

*****

How To Make My Crush Falling In Love With Me

  1. Berucap lembut, tak lupa senyum manis di wajah

Pagi itu Jihoon seperti biasa. Belajar, ulangan, bantu guru, dan ngurus kerjaan sekolahnya. Sampai akhirnya Jun datang ke kelasnya. Bawa sekotak bekal, berjalan pelan ke meja Jihoon.

“Hey.”

Jihoon mendongak. Mengingat rencananya tadi malam.

Dengan lembut dan senyum yang cerah dia membalas Jun. “Hey.”

Jun diam. Dia duduk pelan. Menatap Jihoon lekat. “Lagi good mood?” tanya Jun.

Jihoon menggeleng pelan. “Engga. Biasa aja. Emang kenapa?”

Jun diam, lalu menggeleng. “Engga. Tumben banget senyum.”

Jihoon tersentak, lalu tertawa. “Masa sih? Kalo gitu aku bakal sering senyum.”

Jun menatap Jihoon lekat lalu membalas senyum Jihoon.

“Iya. Sering-sering senyum. Kamu imut kalo senyum.”

Jihoon memerah. Lalu menyibukkan dirinya dengan buku-buku di atas mejanya.

  1. Sering-sering tunjukin sisi imutmu

Malam itu Jun ngajak Jihoon pergi beli mochi. Katanya mau traktir Jihoon. Jihoon setuju. Kapan lagi di beliin mochi gratis. Dia inget rencananya. Dengan sengaja, Jihoon ngambil hoodie Jun yang warnanya hitam. Ukurannya kebesaran di badannya. Dia belum ikhlas ngembaliin hoodie ke pemiliknya. Bahkan Jihoon enggan untuk mencucinya.

Setelah siap, dia pergi keluar rumah. Ternyata Jun udah nunggu.

“Maaf lama nunggu ya, Jun.”

Jun nengok lalu ngangguk. “Gak masalah. Ayo.”

Jihoon jalan di samping Jun. Tangannya bergesekan dengan milik Jun. Wajahnya memerah. Dengan pelan dia memakai tudung hoodienya, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Setelah sampai di kios mochi, mereka membeli satu porsi, memakannya bersama.

Jihoon mulai melancarkan aksinya. Dengan sok imut dia mengunyah mochi sekaligus. Membuat kedua pipinya menggembung.

Jun yang melihat wajah Jihoon, terkekeh. “Lucu banget kamu.”

Jihoon memerah. Bibirnya sengaja mengerucut. “A-apasih.”

Jihoon makin terkekeh. “Akhir-akhir ini kamu tambah imut. Suka deh.”

Jihoon pura-pura tak dengar. Dia acuh. Asik makan mochi yang ada di tangannya.

Tiba-tiba tangan Jun memegang pipinya. Jihoon menatap Jun lekat. Begitupula dengan Jun. Mereka saling tatap. Dengan lembut, ibu jari Jun mengusap pelan bibir Jihoon yang belepotan.

“Bibir kamu.” bisik Jun.

Jihoon memerah. Dengan gugup dia berucap, “T-thanks.”

Jihoon merasa yakin, bahwa buku Minghao sedikit demi sedikit ampuh untuk hubungannya.

  1. Sering-sering kasih skinship

Siang itu, lagi istirahat siang. Jun serta Jihoon seperti biasa jalan bareng. Mereka menuju kantin. Mau beli nasi pecel langganan mereka. Sambil nunggu pesenan. Jihoon ngambil tangan Jun. Dia genggam tangan Jun, membandingkan tangannya yang kecil dengan tangan Jun yang lebar. Jihoon mainin tangan Jun, gak sadar kalo yang punya tangan udah memerah.

“Kenapa?” tanya Jun pelan.

Jihoon hanya bergumam. “Tangan kamu sama tanganku ukurannya beda jauh. Telapak tanganmu gede banget.”

Jun terkekeh. Dia menggenggam tangannya erat ke tangan Jihoon. Menguncinya. Kelima jari mereka saling terikat.

“Bagus dong. Biar tanganku bisa genggam semua tanganmu. Nih lihat. Pas kan. Anget gak?”

Jihoon memerah. Dengan malu dia ngangguk pelan. “Iya.”

Jun terkekeh. Tanpa ia lepas genggamannya, dia mengayunkannya kesana kemari. “Tanganku gede, tanganmu kecil. Kebetulan ya.”

Jihoon memerah. Dia merasa jantungnya bisa lompat kapan saja. Dengan pelan dia menjawab. “Udah takdir.”

Setelahnya keduanya diam. Menikmati nasi pecel mereka tanpa melepas genggamannya.

  1. Cemburu

Jihoon baca tadi malem, jangan ragu-ragu tunjukin rasa cemburumu. Sangat kebetulan. Pagi itu, Jihoon lewat kelasnya Jun. Dia ngelihat Jun di kerumunin cewek-cewek. Kelihatan banget kalo Jun kewalahan. Dengan rasa cemburu yang membuncah, dia melangkahkan kakinya cepat ke arah Jun.

Dengan sigap dia menerobos kerumunan, dan menariknya. Dengan lantang dia teriak, “Jun punyaku!”

Setelahnya, Jihoon menarik Jun ke arah taman belakang sekolah. Mendudukkan dirinya serta menarik Jun untuk duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa?” tanya Jun bingung.

“Aku lihat kamu kesusahan. Makanya ku bantuin.”

Jun diam. Lalu berucap, “Yang kamu bilang tadi bener gak? Aku punyamu?”

Jihoon diam, wajahnya memerah. “Ugh, maksudku kan kamu sahabatku.”

Jun terkekeh. “Iya aku punyamu.”

Jihoon makin memerah. Dia melihat kemana saja, asal tidak melihat Jun.

“Kalo aku punyamu, kamu punyaku juga dong?” tanya Jun sambil nyengir.

Jihoon gelagapan. “Ah, um uhh terserah kamu lah.”

Jun terkekeh. “Terserahku kan? Yaudah kamu punyaku.”

Jihoon hanya diam. Berdoa, agar Jun tidak mendengar suara jantungnya.

  1. Kasih kode

Hari ini adalah hari terakhir Jihoon menjalankan rencananya. Dia lagi berdua sama Jun di kamar milik Jun. Mereka berdua setuju untuk belajar bareng.

Jihoon pura-pura fokus belajar. Padahal pikirannya gak ada di tempat. Di samping Jihoon ada Jun. Dia fokus sama laptopnya.

“Jihoon.” ucap Jun pelan.

Jihoon bergumam tak jelas. Dia masih asik menulis hitungannya. Pura-pura.

“Kamu lagi suka orang?” tanya Jun menebak.

Jihoon tersedak ludahnya sendiri. “Hah? Kesimpulan dari mana tuh.”

“Tingkahmu aneh. Berubah aja gitu.”

Jihoon diam. Dia bingung. “Kamu gak suka aku berubah?”

“Bukan gitu. Aku suka. Kamu jadi lebih ceria. Cuman pasti ada penyebabnya. Jadi kamu lagi suka orang?”

Jihoon tampak berpikir. Dia harus bisa kasih kode ke Jun.

“Bisa jadi.”

Jun menengok ke arah Jihoon. Nampak sesuatu yang aneh di mata Jun. Jihoon gak tau apa itu.

“Siapa?”

Jihoon diam. Dia kodenya gimana?

“Aku kenal orangnya?”

Jihoon nengok ke arah Jun. Dengan ragu dia ngangguk. Lagi-lagi, ada kilat aneh di mata Jun.

“Siapa? Anak mana?”

Dengan pelan dia menjawab “Anak bahasa.”

Jun kaget. “Anak kelasku? Siapa? Wonwoo? Seungcheol? Chanyeol? Siapa?”

Jun bertanya dengan cepat. Jihoon makin takut. Dia menggigit bibirnya pelan. Bingung harus menjawab apa.

“Uh, bukan mereka.”

“Terus siapa? Mereka kan anak bahasa.”

Jihoon diam. Enggan menatap mata Jun. Keheningan melanda mereka.

“Jangan bilang aku?”

Jihoon tersentak. Dia tak menjawab. “Aku?” tanya Jun lagi.

Jihoon masih diam. Tangan Jun menggenggam bahunya. Mengarahkannya untuk menatap Jun langsung.

“Jihoon.”

Dengan takut-takut dia menatap Jun. Jun manatapnya lembut.

“Aku?”

Dengan pelan dia mengangguk. “Maaf.”

Jun tersentak. Ditariknya tubuh Jihoon, kepelukannya. “Hei. Ngapain minta maaf. It's okay.”

Jihoon memeluk Jun balik. Mendekapnya erat. Menenggelamkan wajahnya di bahu Jun. Menghirup aroma Jun kuat-kuat.

“Sejak kapan?” tanya Jun lembut. Tangannya mengusap pelan punggung Jihoon.

“Udah lama.” gumam Jihoon.

Jun terkekeh. “Aku juga suka kamu dari lama.”

Jihoon kaget. Dia melepaskan pelukannya, dan menatap Jun lekat-lekat.

“Aku juga suka kamu. Dari lama.” ulang Jun lagi.

Mereka saling pandang. Jun yang menatap Jihoon lembut, serta Jihoon yang tak percaya.

“Beneran?”

“Ngapain aku boong sih.”

Jihoon memerah. “Kali aja.”

Jun terkekeh. Dengan gemas dia mengusap rambut Jihoon pelan.

“Gemes banget. Jadi kamu berubah buat aku?”

Jihoon malu. Dengan pelan dia berucap, “Sebenernya itu rencana yang dikasih tau Minghao. Dia ngasih buku ke aku.”

Jun tertawa. “Mau aja kamu di suruh Minghao.”

“Kan aku pengen sama kamu.”

Jun tersenyum. Di peluknya erat Jihoon. “Kan sekarang aku udah sama kamu.”

“Jadi kita pacaran?”

Jun bergumam. “Kalo kamu mau.”

“Aku mau!”

Jun terkekeh. “Oke, kamu pacarku.”

Jihoon memerah. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jun.

“Pacar, kamu gak mau nyium aku nih?” tanya Jun menggoda.

Jihoon memerah. Dengan pelan dia menjauhkan badannya, lalu menatap lekat Jun.

Tangannya bergerak menangkup pipi Jun. Dengan lembut dia mengecup bibir Jun. Lalu hidungnya, serta dahinya.

Jun tersenyum. Tangannya bergerak menangkup rahang Jihoon. Giliran Jun yang mengecup Jihoon.

Bibirnya mengecap rasa manis Jihoon. Lalu turun mengecup sepanjang rahang Jihoon. Mendaratkan ciumannya di sepanjang leher Jihoon. Membuat Jihoon mengerang.

Jun menjauhkan wajahnya. Lalu tersenyum lembut. “Makasih, Jihoon.”

Jihoon memerah. Dengan malu-malu dia menjawab, “Makasih juga, buat kamu.”

•Hujan dan rahasia•

Soonyoung itu anaknya ramah. Supel. Humoris. Punya banyak teman. Dan punya banyak koneksi dimana-mana. Semua orang suka sama Soonyoung. Termasuk Jihoon.

Jihoon cuman salah satu siswa yang cuek, jarang ngomong dan pinter minta ampun. Dia suka sama sifat Soonyoung. Seakan anak itu gak punya beban hidup. Jihoon pengen kayak Soonyoung. Tapi gak mungkin. Jihoon sama Soonyoung itu beda. Jihoon gak akrab sama Soonyoung. Walaupun mereka sekelas, dia jarang interaksi sama Soonyoung.

Jihoon murid teladan. Dia pinter. Kesayangan guru. Sedangkan Soonyoung, dia gak pinter-pinter amat. Jago di olahraga. Lumayan sering bolos. Tapi guru-guru suka Soonyoung. Karena kepribadiannya yang cerah.

Sampai suatu hari Jihoon menemukan rahasia Soonyoung. Rahasia yang hanya Jihoon yang tahu.

*****

Waktu itu bulan November. Hujan sering melanda kotanya. Jihoon berjalan pelan, di bawah payung birunya. Sambil menikmati suara rintikan hujan, Jihoon bergumam melodi asal.

Sampai di sebuah gang, Jihoon menghentikan langkahnya. Dia melihat Soonyoung, asik menghajar seseorang. Orangnya lebih besar dari Soonyoung. Soonyoung gak takut. Dia terus ngehajar orang di bawahnya. Hingga dia ngerasa selesai, Soonyoung menoleh kearah Jihoon. Jihoon diam. Tubuhnya kaku. Gak tahu harus ngapain.

Soonyoung tersenyum, dengan entengnya dia jalan mendekati Jihoon.

Soonyoung gak peduli hujan yang membasahi tubuhnya. Dia jalan dengan santai kearah Jihoon. “Jangan lambat-lambat kalo jalan. Bahaya disini. Lu bisa di rampok.”

Setelah berucap seperti itu, Soonyoung meninggalkan Jihoon.

Jihoon saat itu ngira. Mungkin Soonyoung habis gebukin preman kurang ajar, yang ngerampok dia.

Jihoon jalan lagi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Minggu selanjutnya, di hari yang sama. Hujan yang sama. Di gang yang sama. Jihoon melihat Soonyoung gebukin preman lagi. Kali ini ada 3 orang. Jihoon ngerasa ngelihat film action. Dia cuman diam. Sembunyi. Memantau dari jauh.

Waktu udah selesai, Soonyoung pergi gitu aja meninggalkan 3 orang yang tepar di bawah hujan.

Jihoon masih bingung. Kenapa Soonyoung suka gebukin orang?

Minggu selanjutnya Jihoon tahu segalanya. Hari itu hujan. Hujan deras sekali. Anginnya lebat. Jihoon takut. Dia jalan cepet-cepet. Takut kalo ada angin topan. Emang lebay.

Waktu lewat gang yang sama, kali ini dia ngelihat Soonyoung yang tepar, di gebukin sama 4 orang. Jihoon kaget. Dia sembunyi. Dia khawatir sama keadaan Soonyoung. Jihoon nunggu. Nunggu semua orang pergi dari situ.

Beberapa menit kemudian, preman-preman tadi pergi. Ninggalin Soonyoung di atas tanah.

Jihoon berlari mendekati Soonyoung. Wajah Soonyoung berdarah. Seragamnya kotor. Jihoon ngangkat Soonyoung pelan. Lengannya nahan tubuh Soonyoung.

Jihoon ribet sama tangannya. Dia buang payungnya, lalu bawa Soonyoung ke tempat teduh terdekat.

*****

Jihoon berhenti di salah satu supermarket. Dia dudukin Soonyoung pelan di bangku. Jihoon beli beberapa obat sama handuk. Gak lupa beli air mineral.

Dia jalan pelan mendekati Soonyoung. Soonyoung diem aja. Jihoon ngeringin tangan, wajah serta rambut Soonyoung pelan. Takut kalo Soonyoung kesakitan.

Setelah kelar, Jihoon mulai ngobatin luka-luka Soonyoung. Dengan telaten dia ngobatin luka Soonyoung. Pelan-pelan. Pas udah selesai Jihoon ngerapihin sampah-sampah, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Jihoon sama Soonyoung diam. Gak ada satupun yang bersuara. Mereka nunggu hujan reda.

“Lu gak mau tahu sesuatu?” tanya Soonyoung pelan.

Jihoon diam. “Kalo lu gak mau cerita gak masalah.” jawabnya.

Soonyoung diam. Lalu menghembuskan napasnya.

“Gua kesepian. Gua ceria di sekolah. Tapi di rumah, gua kesepian. Gua ngelampiaskan rasa kesel gua dengan mukulin orang. Gua mukulin preman. Preman-preman yang ngambil duit orang lain. Pokoknya gak ada hari gua gak gebukin orang. Tadi gua lagi apes. Mereka semua nyerang gua.”

Jihoon cuman diam. Dengerin cerita Soonyoung. Ternyata sosok yang dia sukai, gak seceria yang dia kira.

“Lu kenapa gak ikut taekwondo?” tanya Jihoon

Soonyoung tertawa. “Gua ikut. Tapi karena gua suka gebukin anak lain, gua di keluarin.”

“Kenapa gak nyoba boxing?”

Soonyoung diam, lalu tertawa. “Iyaya. Kok goblok ya gua.”

Jihoon tersenyum tipis. “Kalo mau, entar gua bilangin ke kakak sepupu gua. Dia jaga tempat boxing.”

Soonyoung nengok ke arah Jihoon. “Iya? Wah makasih. Lu baik banget.”

Jihoon ngangguk. Gak sadar kalo wajahnya memerah.

“Dan gua juga mau makasih sama lu. Udah bantuin gua tadi.”

Soonyoung tersenyum lebar. Di balas anggukan oleh Jihoon.

“Gua gak butuh makasih lu kok.”

“Terus gua harus gimana? Gua kan ngerasa utang budi.”

Jihoon mikir. Enaknya gimana.

“Kalo nemenin gua beli buku gimana?” tanya Jihoon ragu.

Soonyoung mikir bentar, lalu ngangguk. “Oke.”

“Oke?”

Soonyoung ngangguk lagi. “Iya.”

Jihoon tersenyum. “Makasih.”

Soonyoung terkekeh. “Sama-sama.”

Hujan sudah agak reda. Langit udah mulai menggelap. Jihoon harus pulang.

“Gua harus pulang. Lu gak papa sendirian?” tanya Jihoon sambil berdiri.

“Santai aja. Gua bisa sendiri.”

Jihoon ngangguk. “Yaudah gua duluan ya.”

“Oh iya, kapan kencannya?”

Jihoon berhenti. “Kencan?”

“Lu ngajak kencan kan?”

Jihoon tersedak. “B-bukan kencan. Gua minta nemenin buku.”

“Iya-iya. Gua anggep itu kencan. Jadi kapan?”

Jihoon memerah. “Uh, um besok? Jam 10.”

“Oke. Gua jemput ke rumah lu ya.”

Jihoon menatap Soonyoung heran. “Emang tau rumah gua?”

“Tau lah. Kan gua sering ngikutin lu.”

Jihoon diam. Soonyoung diam. Keduanya memerah.

“Um m-maksudnya, gua tau dari anak-anak.” ucap Soonyoung cepat-cepat.

Jihoon hanya diam. Wajahnya memerah. Dengan kaku dia mengangguk. “Em yaudah, gua duluan.”

“Ah, iya. Makasih, Jihoon.”

Jihoon berhenti, lalu menengok ke belakang. Senyum lembut, gak lepas dari bibirnya. “Sama-sama, Soonyoung.”

•Maling•

Wonwoo duduk di depan teras, sambil menikmati udara malam. Lelah habis membereskan dan merapihkan barang-barangnya.

Hari ini Wonwoo baru saja pindah ke rumah baru. Kedua orang tuanya saat ini sedang beristirahat. Mungkin sudah terlelap dalam tidur. Lagipula, ini sudah tengah malam. Kedua orangtuanya pasti lelah seharian.

Wonwoo menyesap kopi yang ia buat. Sambil menikmati langit malam.

Ia suka rumah barunya. Halaman depan rumah yang tidak begitu luas, serta pagar pembatas yang membatasi rumah di sebelahnya hanya sebatas pinggangnya. Dia mungkin bisa akrab dengan tetangganya.

Bosan melanda, Wonwoo mulai memainkan game di ponselnya. Sebuah suara aneh mengusik indra pendengarannya. Wonwoo mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Mencari dimana asal suara tersebut. Saat melihat sesosok yang mencurigakan, Wonwoo memasukkan ponselnya di saku celana, lalu mendekati sosok yang ia curigai.

******

Junhui mengumpat. Dia berlari secepat mungkin menuju rumahnya. Dia mengutuk Soonyoung yang enggan melepaskan dirinya, hanya untuk mendengarkan curhatan tak mutu dari bibir sahabatnya.

Junhui mengendap-endap mendekati pagar rumahnya. Berdoa bahwa orang rumahnya sudah tidur. Bisa tewas di tangan ibunya, jika dia tahu bahwa Junhui pulang terlambat.

Junhui mendorong pintu pagar rumahnya pelan. Tak bergerak. Dia mengumpat pelan. Ibunya benar-benar jahat kepadanya. Bagaimana bisa dia mengunci anaknya sendiri?

Junhui mengusak rambutnya kasar. Dia melihat kesekeliling. Sepi.

Dia memutuskan untuk memanjat pagar. Tak ada pilihan lain.

Dengan perlahan Junhui mulai memanjat. Sebisa mungkin tak menimbulkan suara. Namun, naas. Sebuah suara membuatnya berhenti.

Junhui menengok. Terlihat seorang pemuda dengan rambut hitamnya yang berantakan. Serta tatapan yang mengunci tubuhnya. Sosok itu bersender santai di pagar rumahnya.

“Maling?”

Junhui melotot. Bagaimana bisa orang asing ini menuduhnya maling?

“Gua bukan maling!” geram Junhui. Aksi memanjat pagarnya terhenti, oleh cowok asing yang sok akrab dengannya.

“Kalo bukan maling terus apa? Kamu manjat pagar orang.”

Junhui merinding. Badannya merespon asing. Suara cowok di depannya sangat berat dan dalam. Tiba-tiba, perut Junhui terasa berputar.

“B-bukan urusan lu!”

Cowo di hadapan Junhui terkekeh. “Aku bisa laporin polisi sekarang juga.”

Junhui mengerang. “Udah gua bilang. Gua bukan maling!”

Junhui kesal bukan main. Cowo di depannya ini sok tahu.

“Terus kalo bukan maling apaan? Kamu manjat pager di jam segini.”

Emosi Junhui udah di ujung tanduk. Dia benar-benar emosi.

“Emang apa urusannya sama lu? Gak usah ikut campur lu!” bentaknya. Dia tak sadar sudah berteriak saat ini. Salahkan lelaki di hadapannya, yang membuatnya geram.

“Jun?”

Sebuah suara membuatnya Junhui terlonjak. Dengan patah-patah dia menengok. Terlihat ibunya yang memakai daster kembang-kembang, sambil memegang sapu ijuk di tangannya.

Junhui menelan ludahnya pelan.

“Hehe, ma.”

Ibunya mendelik. “Turun.”

Junhui menghela napasnya. Ini semua gara-gara cowo sialan itu.

Dengan pelan-pelan dia turun ke pekarangan rumah. Lalu melirik sinis lelaki samping rumahnya.

“Sialan lu.” ucap Junhui kesal.

Orang yang di semprot oleh Junhui, hanya terkekeh.

“Eh, nak Wonwoo. Belum tidur?” tanya ibu Junhui ramah sekali.

Junhui memutar bola matanya malas.

“Ah, malam tante. Baru aja kelar beres-beres.” ucap Wonwoo sambil tersenyum lembut.

“Betah-betah ya disini. Sering ajak keluar Jun, ya. Dia seumuran kok sama kamu.”

Junhui menggumam 'ogah' lalu di balas jitakan oleh ibunya.

“Yaudah kita masuk dulu ya, Wonwoo. Kamu buruan masuk. Biar gak masuk angin.” ujar ibu Junhui sambil terkekeh.

Wonwoo mengangguk. “Siap tante. Malem ya, tante.”

“Iya nak, malam.”

Wonwoo tersenyum. Lalu, berganti menatap Junhui.

“Malam, Jun.”

Junhui mendelik. Dengan santai di melengos. Tak membalas ucapan Wonwoo.

Wonwoo terkekeh. “Lucu juga.”

******

Wonwoo sudah siap memakai seragam sekolahnya. Dia duduk di teras rumah. Menunggu batang hidung tetangga sebelahnya.

Saat melihat Jun dan ibunya di pekarangan rumah, Wonwoo buru-buru berjalan mendekati pagar pembatas.

“Pagi, tante.” ucap Wonwoo ramah.

“Ah. Pagi, nak Wonwoo. Kamu satu sekolah sama Jun ya? Bareng Jun aja.”

Jun mengerang protes. Ibunya memukul pantat Jun keras.

“Temenin sana. Jahat banget kamu.”

Jun mengaduh. Lalu keluar dari rumahnya, dan berjalan menuju depan rumah Wonwoo.

“Ayo.” gumam Jun kesal.

Wonwoo terkekeh. Dia berpamitan dengan ibu Jun, lalu keluar rumah mendekati Jun.

“Pagi, Jun.”

Jun hanya menggumam. Wonwoo terkekeh. “Namaku Wonwoo.”

“Gak nanya.”

Wonwoo tertawa. “Galak banget.”

Jun mendengus. “Ayo buruan.”

Wonwoo mencekal tangan Jun. Menahan Jun untuk tidak bergerak.

“Kenapa?” tanya Jun heran.

Wonwoo mendekatkan wajahnya ke wajah Jun. Membuat Jun menjauhkan wajahnya spontan.

Tangan Wonwoo menahan kepalanya. Mereka saling tatap.

“A-apa?”

Wonwoo masih menatap lekat sosok di hadapannya.

“Coba merem.”

Jun memerah. “B-buat apa?”

“Shhh, merem aja.” bisik Wonwoo

Jun mau tidak mau menuruti perintah Wonwoo. Dengan pelan dia memejamkan matanya. Menunggu apa yang di lakukan Wonwoo. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat. Aneh sekali.

Sedangkan Wonwoo, dia menatap lekat wajah Jun. Menikmati wajah manis dan tampan Jun. Bulu matanya panjang. Hidungnya bangir. Bibir yang bergetar gugup.

Wonwoo terkekeh. Dengan pelan dia mengambil bulu mata yang menempel di bawah kelopak mata Jun.

“Udah.”

Jun membuka matanya. Melihat Wonwoo yang tersenyum tipis.

“Ada bulu mata jatuh.”

Jun diam. Wajahnya memerah. Dengan kaku dia menganggukkan kepalanya.

“Thanks.” gumamnya.

Wonwok tertawa. “Urwell. Ayo berangkat.”

Tangannya bergerak menarik tangan Jun. Menyeretnya untuk jelan bersamanya.

“Emang lu tahu sekolah lu?” tanya Jun masih agak gugup.

“Engga. Kan ada kamu.”

Jun memerah. Dengan pelan dia mengarahkan pandangannya ke tangan Wonwoo yang menggenggam tangannya.

Jun memerah. Kali ini dia diam saja. Membiarkan Wonwoo, menggenggam tangannya.

•Taruhan•

Siapa yang tidak tahu siapa itu Mingyu dan juga Wonwoo. Dua visual ternama siswa Pledis Senior High School. Berwajah tampan serta berkharisma. Memiliki segudang bakat. Namun sayang, mereka tidak memanfaatkan itu semua. Bolos dan berkelahi menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Menghiraukan ucapan guru, dan lebih memilih bersenang-senang. Masa bodo dengan kehidupan sekolah mereka.

Walaupun termasuk siswa berandalan dan juga urakan, nilai mereka selalu di atas rata-rata. Sayangnya, kepribadian mereka buruk. Walaupun begitu, semua murid memuja mereka. Tak peduli dengan perilaku mereka.

Termasuk Minghao. Salah satu siswa yang diam-diam memuja Mingyu dan juga Wonwoo.

Xu Minghao. Siswa pendiam, yang irit bicara. Berwajah datar, dan tak berekspresi. Siswa yang tak punya teman. Siswa pendiam yang bahkan aura keberadaannya tak terasa oleh orang-orang di sekitarnya.

Dan beruntungnya, Minghao sekelas dengan keduanya. Walaupun harus menyembunyikan ekspresi sebenarnya.

Minghao cukup senang hanya melihat keduanya dari jauh. Seperti saat ini. Minghao memandang dari sudut kelas. Melihat kerumunan geng Mingyu dan juga Wonwoo yang asik berceloteh ria.

Minghao menghela napasnya. Mengambil semua bukunya, dan pergi secepatnya keluar kelas. Berusaha sehening mungkin, agar sosoknya tak disadari siapapun.

****

Mingyu dan juga Wonwoo asik tertawa bersama kawan-kawannya. Namun terhenti saat salah satu dari kawannya bersuara.

“Siapa nama murid yang barusan keluar?” tanya Seungcheol sambil memandang Mingyu dan juga Wonwoo penuh tanya.

“Siapa?” tanya Wonwoo balik. Melihat arah pintu yang tak ada siapapun.

“Tadi. Cowo kurus, kacamataan. Rambutnya item.”

Salah satu dari mereka menepuk tangan. “Ah! Minghao maksud lu? Yang duduk di pojokan?” tanya Soonyoung yang sepertinya sadar akan sesuatu.

“Mungkin? Gua gak tau makanya nanya.” Ujar Seungcheol mendengus.

“Dia Minghao. Anak kelas sini. Pendiem. Jarang ngomong. Gak punya temen.” ucap Soonyoung lengkap.

“Kok lu tau?” tanya Mingyu heran.

“Ah elah. Sapa sih yang gak tahu anak cina yang pendiem kalem. Ya pasti Minghao lah. Lu nya aja yang gak update.”

Mingyu tersedak. “Bukan gua yang gak update. Dianya aja yang gak populer.”

“Ya emang gak populer. Temen aja gak ada.” balas Soonyoung kesal.

“Emang kenapa dah lu nanya, Cheol?” tanya Wonwoo yang belum tahu arah pembicaraan ini.

“Taruhan ayo.”

Ketiganya menatap Seungcheol tertarik. “Gua kasih duit 2 juta kalo lu berdua berhasil nge-fuck dia besok. Gimana?” ujar Seungcheol sambil menunjuk Mingyu dan juga Wonwoo.

“Dalam rangka apaan lu taruhan si Minghao?” Wonwoo heran.

“Ada sesuatu.” ujar Seungcheol sambil menyeringai.

Mingyu dan juga Wonwoo saling tatap. Bingung dengan kawannya satu ini.

“Okelah. Gak bisa di naikin dikit? 2 juta dikit.” Mingyu berucap congkak.

Seungcheol memutar matanya malas. “2 juta masing-masing.”

“Deal!” Mingyu bersorak.

Wonwoo menatap Mingyu tak habis pikir.

“Lumayan, Won. Kapan lagi nge-fuck orang dapet duit. Lu gak bosen apa sama cewe-cewe yang ngemis ke kita.” ujar Mingyu ringan.

“Lagian, sekali-kali lah sama cowok. Gua gak pernah sama cowok. Buat pengalaman ajalah.” lanjutnya sambil menyeringai.

Wonwoo menggeleng pasrah. Tak habis pikir dengan Mingyu.

“Yaudahlah. Gua juga butuh duit.” ucap Wonwoo final.

Seungcheol menyeringai. “Inget, besok. Pas jam sekolah. Terserah mau make jam apa.”

Mingyu dan Wonwoo mengangguk. “Penasaran gua. Cowo pendiem macem Minghao gimana kalo di serang.” ujar Mingyu penasaran.

“Besok kan lu liat. Mending sekarang mikirin rencana kita. Masalahnya kita gak kenal Minghao.”

Yang diucapkan Wonwoo ada benarnya. Mereka bahkan tak kenal dengan Minghao.

Tiba-tiba Mingyu menyeringai. “Gua ada rencana.”

“Apaan?” tanya Wonwoo penasaran.

Mingyu hanya diam. Seringai lebar tak hilang dari wajahnya.

******

Minghao berjalan cepat menuju kelasnya. Bersyukur dia tidak terlambat. Salahkan Jeonghan yang tidak membangunkannya tepat waktu. Beruntung dia bisa mengejar keterlambatannya.

Minghao memasuki kelasnya dengan tenang. Berusaha setenang mungkin agar dirinya tak disadari.

Dia segera mendudukkan tubuhnya di bangku miliknya. Melepas tas nya dan mulai mengeluarkan buku-bukunya. Saat dia akan memasukkan buku di bawah laci, tangannya terbentur sesuatu.

Dengan heran Minghao meletakkan bukunya dan mengambil sesuatu di dalam lacinya.

Sebuah kotak bekal berwarna hijau, serta post-it kuning menempel di atasnya.

'Makan ini. Aku tahu kamu belum makan. Jam kedua temui aku di ruang perlengkapan.'

Minghao heran. Siapa yang meletakkan makanan ini di lacinya?

Minghao was-was. Curiga jika dicampuri sesuatu. Namun, dia tak pernah memiliki musuh. Dia pendiam. Tak mengusik siapapun. Dan lagi, perutnya berteriak minta diisi.

Dengan ragu-ragu Minghao membuka kotak bekal yang ada di tangannya. Aroma sedap menguar, menerpa hidungnya.

Berbagai lauk yang sedap, menggoda matanya. Minghao mengambil sumpit yang sudah tersedia, dan mulai menyantap isi bekal yang ia terima. Berdoa bahwa ia akan baik-baik saja.

****

Minghao merasa tubuhnya gerah. Panas yang ia rasakan di tubuhnya, membuatnya bergerak gelisah. 30 menit setelah menyantap makanan tadi, tubuh Minghao mulai merasa aneh.

Minghao menatap sekeliling. Takut jika orang lain sadar akan kondisinya saat ini. Dia menahan dirinya. Menunggu bel pelajaran berakhir.

Matanya menatap bangku Mingyu dan juga Wonwoo yang kosong. Seperti biasa, keduanya selalu membolos.

Napas Minghao tersengal-sengal. Tubuhnya terasa sensitif.

Bunyi bel pelajaran berakhir, terdengar.

Minghao buru-buru melepas kacamatanya, dan meletakkannya di atas meja. Secepat kilat keluar kelas. Menuju seseorang yang menunggunya. Berusaha meminta penjelasan, apa maksud tujuannya. Minghao tidak akan tinggal diam, dirinya di permainkan.

*****

Minghao merasa dirinya di dorong ke tengah ruangan oleh seseorang. Tubuhnya memutar otomatis, kemarahan sudah di ujung kepalanya.

Betapa kagetnya Minghao saat melihat Mingyu dan juga Wonwoo ada di hadapannya.

Minghao tak paham. Menatap keduanya penuh tanya.

“Hai, Minghao.” ujar Mingyu dengan seringai di wajahnya. Perlahan tapi pasti, Mingyu berjalan pelan mendekati Minghao.

Minghao hanya diam. Berusaha tenang. Menenangkan tubuhnya yang tak beres, serta jantungnya yang berdebar keras.

“Uh.. Kalian yang meletakkan bekal di mejaku?” tanya Minghao memastikan.

Wonwoo mengangguk. Kini giliran Wonwoo yang berjalan mendekati Minghao. Melewati tubuhnya, dan berdiri di belakang Minghao.

“Memang kami.”

Minghao tersentak, saat Mingyu menipiskan jaraknya. Tangannya yang lebar bergerak menyentuk leher Minghao yang jenjang.

Minghao menahan suaranya. Tubuhnya tersentak. Panas menyebar semakin parah, di seluruh area kulitnya. Semakin terasa terbakar saat Mingyu menyentuh kulitnya.

“Betapa bodohnya kamu, menyantap makanan yang belum tentu aman bagi tubuh mungilmu.” bisik Mingyu tepat di telinganya. Lidahnya yang basah menjilat sensual telinga Minghao yang memerah.

“Ahhh...”

Desahan lembut, lolos dari mulutnya. Merasakan tubuhnya berteriak untuk disentuh.

“Ah, suaramu indah sekali. Kenapa kamu pendiam, hm?”

Mingyu meluncurkan kecupan-kecupan lembut di sepanjang rahang dan leher Minghao. Membuat Minghao memejamkan matanya nikmat. Napasnya tersengal-sengal.

Wonwoo berjalan mendekat. Melingkarkan lengannya di pinggang Minghao. Telapak tangannya yang lebar merambat naik menyentuh dadanya. Minghao bisa merasakan bahwa Wonwoo dekat dengannya. Terbukti dengan napas Wonwoo yang terasa panas di telinganya.

Minghao memekik saat jari Wonwoo mencubit nipplenya.

Mingyu mengecup, menjilat serta menghisap leher Minghao. Tanpa henti.

Minghao menyandarkan dirinya di tubuh Wonwoo. Pasrah dengan keduanya. Tubuhnya menginginkan ini.

“You like it?” bisik Wonwoo di telinganya. Tak lupa menjilat telinga Minghao pelan. Membuat Minghao mendesah panjang.

“Aku anggap itu sebagai iya.” Ujar Mingyu yang kini sudah melepaskan bibirnya dari leher jenjang Minghao.

Tangannya bergerak cepat melepas seragam Minghao, serta melepas celananya. Minghao berdiri diantara keduanya dalam keadaan polos.

Minghao tak memiliki energi. Kakinya gemetaran. Tubuhnya gemetaran.

“Want us to yake care of you?”

Wonaoo berbisik di bahu Minghao. Menggigitnya gemas, hingga timbul kemerahan. Minghao berteriak.

“Ahh.. Hahh...”

“Answer us, baby.”

Mingyu mengulum nipple Minghao yang tegak kemerahan. Memainkan lidahnya disana. Menghisap layaknya anak bayi. Menjilat serta menggigitnya kecil.

Minghao gemeteran. Kepalanya ia banting ke bahu Wonwoo. Desahan lolos dari mulutnya.

“Aahhh.... Ahhh..”

Tangan Wonwoo bergerak menggenggam penis Minghao yang sudah tegak dan basah.

“Aahhhhh... Hahh..”

Minghao memekik. Napasnya tak beraturan. Jika ia tidak di tompang oleh Wonwoo, dia bisa ambruk kapan saja.

Tangan Wonwoo mulai bermain di penis Minghao. Mengurutnya pelan. Mengocoknya cepat. Tak lupa memainkan kedua bola Minghao yang mungil. Membuat tubuh Minghao bergetar.

“Ngahh... Ahhh... Wonu...”

Tangan Wonwoo bergerak cepat. Telunjuknya bermain di ujung penis Minghao.

“Hyahh... Ahh.. Hahh..”

Minghao pusing. Merasakan banyak kenikmatan dalam sekaligus. Minghao menunduk. Melihat Mingyu yang menghisap nipplenya, serta tangannya yang lain mencubit dan memelintir nipplenya yang lain.

Minghao membanting kepalanya lagi. Mulutnya terbuka lebar. Tubuhnya mengejang. Merasakan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

“Ahh... Ahhh... Akuu.. Ahhh..”

Cairan Minghao menyemprot deras. Mengenai seragam Mingyu dan juga tangan Wonwoo.

Tubuh Minghao menggelinjang. Super sensitif karena orgasme yang ia rasakan sebelumnya. Wonwoo memerah penisnya hingga tak ada satupun cairan yang tersisa.

Napas Minghao tersengal. Tubuhnya masih panas. Namun tak sepanas sebelumnya.

“You like it?” Mingyu mengecup bibir Minghao lembut.

Minghao memerah. Mengangguk pelan.

“Good. You can suck mine, right?” Mingyu bertanya kepada Minghao sambil membuka seragamnya yang terkena cairan Minghao. Menampilkan tubuh atasnya yang atletis. Wajah Minghao memerah.

“I'll try.”

Suara Minghao serak. Mingyu menyeringai.

“Jangan bilang kamu sudah lemah? Kita berdua belum keluar.”

Minghao memerah. Menatap kebelakang. Memastikan ekspresi Wonwoo.

Wonwoo tersenyum kecil. Sambil melepaskan kancing seragamnya. Menampilkan tubuhnya yang putih berotot.

Minghao pasrah. Mau tak mau melakukan ini.

Mingyu menurunkan celananya. Menampilkan penisnya yang besar, tegak dan merah. Minghao menelan ludahnya takut.

“Like what you see?”

Minghao memerah. Mingyu terkekeh. “Want yo try it?”

Minghao makin memerah. Dengan ragu dia membungkuk. Langsung berhadapan dengan penis Mingyu yang sudah tegak.

Dengan pelan tangannya menggenggam penis Mingyu. Meremasnya pelan. Membuat Mingyu mendesah keenakan. Lidahnya ia julurkan. Mejilat pelan ujung kepala penis Mingyu.

Membuat Mingyu mendesis. “Shit.”

Minghao mulai melahap penis Mingyu. Menghisapnya layaknya permen. Memaju mundurkan mulutnya. Mengecap dari ujung hingga pangkal penis Mingyu. Lidahnya bergerak liar. Menyapu seluruh penis Mingyu.

Mingyu mendesah. Tangannya bergerak meremas rambut Minghao.

Di sisi lain, Wonwoo berjongkok. Menatap bokong putih Minghao yang mulus. Lidahnya bergerak, menjilat bibirnya yang kering. Penasaran dengan rasa lubang Minghao.

Tangannya meremas kedua pantat Minghao. Membuat sang empu berjingkat. Wonwoo menyeringai. Di lebarkannya, kedua pantat Minghao. Menampilkan lubangnya yang berkedut. Meminta untuk disantap.

Wajahnya ia lesakkan ke dalam pantat Minghao. Lidahnya terjulur, menjilat lubang kemerahan yang mungil. Membuat Minghao tersentak.

Lidah Wonwoo menjilat pinggiran lubang Minghao. Menusuk-nusukkan lidahnya ke lubang Minghao. Membuat Minghao melepaskan kulumannya dari penis Mingyu.

“Ahhh...”

Tangan Mingyu mencengkram rambut Minghao, lalu memaksa mulut mungil Minghao untuk menghisap penisnya lagi.

Wonwoo bergumam di lubang Minghao. Membuat Minghao bergetar.

Dengan beringas, Wonwoo memakan lubang Minghao. Menjilat dan menghisap lubangnya keras. Membuat Minghao mendesah tak jelas.

“Ahggg... Nghhhhhh.”

Wonwoo makin gencar mengobrak-abrik lubang Minghao yang basah.

Giginya ia arahkan untuk menggigit lubang Minghao. Minghao tersentak.

“Aahhhghh...sghopp”

Mingyu mendesah keenakan. Merasakan getaran dari mulut Minghao yang mendesah tak jelas.

Wonwoo melepaskan mulutnya. Melesakkan jarinya di lubang Minghao. Membuat Minghao melotot. Mendorong masuk penis Mingyu hingga pangkal tenggorokannya.

Mingyu mendesah nikmat.

“Terus mainkan lubang nya, Won.”

Wonwoo mendengus. Dengan pelan dia melesakkan jari kedua. Membuat Minghao menyodokkan penis Mingyu makin dalam di mulutnya.

Wonwoo menggerakkan jarinya. Menusukkan berulang kali. Meraba seluruh dinding Minghao. Mencari prostatnya. Dengan pelan ia menggerakkan jarinya seperti gunting. Memasukkan dan mengeluarkan jarinya cepat.

Minghao tersedak, saat Wonwoo tak sengaja menyentuh prostatnya.

Wonwoo menyeringai. Mengingat posisi prostat Minghao.

Dengan pelan ia bangkit. Melepaskan celananya. Menampilkan penisnya yang sudah tegak dan basah.

Wonwoo mempersiapkan di depan lubang Minghao. Dalam sekali hentak, Wonwoo melesakkan penisnya ke dalam. Membuat Minghao berteriak.

“Aaahgggg...”

Mingyu mendongak keenakan. Pinggulnya bergerak mencari kenikmatan. Menyodok mulut hangat Minghao, pelan.

Wajah Minghao berantakan. Air mata turun mengalir di pipinya. Air liur menetes di dagunya. Mengalir ke lehernya.

Wonwoo diam sesaat. Lalu mulai menggerakkan penisnya keluar-masuk. Awal tempo pelan, lama kelamaan makin cepat.

Lubang Minghao ia obrak-abrik. Menyentuh berkali-kali prostatnya. Desahan Minghao berantakan. Tubuhnya bergerak maju mundur sesuai irama.

Mulutnya sibuk memberi kenikmatan Mingyu. Sedangkan lubangnya di hajar oleh Wonwoo.

“Yes. Oh, God.” desah Mingyu nikmat.

Lupa bahwa yang sedang ia hajar adalah mulut Minghao, ia menggerakkan penisnya cepat. Membuat Minghao berantakan.

“Aaahgg.. Ngahhhh.. Eghhh”

Wonwoo terus menumbuk prostat Minghao. Membuat sang empu bergetar kenikmatan.

Tangan Wonwoo yang diam ia arahkan untuk meremas penis Minghao.

“Ngahhhh...”

Suara kecipak basah membuat ruangan sempit itu semakin panas.

Tangan Wonwoo bergerak meremas lembut penis Minghao. Mengocoknya cepat.

Tubuh Minghao bergetar.

“Sepertinya dia mau keluar.” ujar Wonwoo dengan napas tersengal.

Mingyu ngangguk. “Aku juga.”

“Me too.”

Mulut Minghao makin berantakan. Mingyu menghajar mulut Minghao keras. Mencari kenikmatan.

Wonwoo makin mempercepat tusukannya dan kocokannya.

“I'm coming.” geram Mingyu keras.

Ia menyemprotkan cairannya. Membuat Minghao mau tak mau menelan cairan Mingyu.

Wonwoo makin cepat. Dalam hitungan detik dia menyusul Mingyu.

Menyemprotkan cairannya ke dalam lubang Minghao. Mendorongnya makin dalam.

Minghao mendesah dalam kuluman penis Mingyu.

Cairannya menyemprot deras. Tubuhnya menggelinjang. Bergetar penuh kenikmatan.

Wonwoo mencabut penisnya. Membuat cairannya mengalir sepanjang paha Minghao.

Mingyu mencabut penisnya, dari mulut Minghao.

Membuat Minghao mendesah lega.

Tubuhnya ambruk. Tergeletak di atas lantai.

Napasnya masih tersengal. Tubuhnya masih menikmati orgasmenya.

“Boleh juga.” ujar Mingyu sambil memakai celana serta merapihkan seragamnya.

Wonwoo melakukan hal yang sama. Memakai dan merapihkan seragamnya.

Minghao hanya diam. Ia yakin ia akan di tinggalkan. Minghao benci keadaannya yang sekarang.

Tangannya ditarik lembut oleh Wonwoo. Tubuhnya lemas. Hanya bisa pasrah.

Wonwoo menatapnya lekat. Minghao hanya diam. Wajahnya pasti berantakan.

“Gyu.”

Mingyu meletakkan ember yang berisi air. Dan kain kering.

“Kita gak sebrengsek yang lu pikir.” ujar Mingyu dari arah belakang Minghao.

Minghao hanya diam. Dia merasakan tubuhnya di paksa menyender pada dada Mingyu. Sedangkan Wonwoo membersihkan tubuhnya.

Napasnya sudah tenang. Dia lelah. Sangat lelah. Matanya memejam. Menikmati sentuhan lembut dari kedua orang yang ada di dekatnya.

******

Minghao berjalan pelan-pelan menuju rumahnya. Tadi ia terbangun di atas kasur ruang kesehatan. Sepertinya mereka membawanya ke sana.

Tas serta barang-barangnya ada di dekatnya. Minghao memutuskan untuk pulang.

Dia membuka pelan pintu rumahnya, menemukan Jeonghan serta Seungcheol asik berduaan.

“Loh, Minghao? Udah pulang?” tanya Jeonghan heran.

Minghao ngangguk pelan. Dirinya masih lemas.

“Sehat, Hao?” tanya Seungcheol sambil menyeringai.

Minghao mendengus. Dia tahu ulah siapa ini.

“Tanya pada dirimu sendiri.”

Seungcheol tertawa. Jeonghan menatap keduanya bingung.

“Ada apa, Cheol?”

Seungcheol hanya menggeleng. “Bukan apa-apa.”

Minghao mendengus, lebih memilih pergi menuju kamar nya.

Mengabaikan Seungcheol yang mengucapkan selamat padanya.