Minghao mengusap rambutnya kasar dengan kaki yang bergerak malas berjalan ke gerombolan anak kelasnya.
Hari ini tepat acara pembelajaran outdoor berlangsung. Mereka berada di sebuah hutan yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahnya. Harus menggunakan mini bus dan menempuh 20 menit perjalanan.
Beberapa terlihat gembira dan tak sabar. Tapi bagi Minghao sendiri, ini lumayan merepotkan. Namun sudah lama, dia tak mengikuti acara seperti ini. Terakhir kali saat dia masih duduk si bangku SMA dulu.
Terlihat sudah membentuk kelompok-kelompok yang ditentukan oleh pak Wasik. Minghao mengerang malas. Kenapa dia harus bersama Mingyu? Orang yang paling ia tak suka. Minghao berharap Mingyu akan kabur dan bolos acara kelasnya hari ini.
Namun, doanya harus ia telan mentah-mentah saat melihat badan tegap Mingyu, dengan wajah malasnya berjalan mendekati Minghao.
“Anjir. Kok lu masuk?” Minghao heran. Justru dia berharap Mingyu bolos saja.
“Kok ngamuk? Lu yang harusnya bolos.”
Minghao berdecak. “Yang suka bolos kan elu. Harusnya lu bolos hari ini. Kan ngerepotin.”
Mingyu meliriknya sinis. “Kalo gua gak diancem juga gua mau bolos.”
Diingatnya ingatan semalam tentang Jihoon yang mengancamnya. Helaan napas kasar ia keluarkan.
“Kali ini gua mau kerjasama bareng lu. Awas aja lu ngerepotin.” Minghao berucap dingin.
Mingyu tertawa remeh. “Lu yang harusnya jangan ngerepotin gua. Lu kan banci.”
Tanpa basa-basi, Minghao menginjak kaki Mingyu keras.
“Aghhh!”
Mingyu mengaduh kesakitan. Sedangkan Minghao tertawa keras.
“Kita liat, siapa yang lemah disini.”
Minghao dan Mingyu berbaris dengan rapih, menatap arahan gurunya yang ada di depan.
“Baik, acara outdoor hari ini akan dimulai. Bapak akan berikan peta untuk menemukan alat perkemahan dan makanan-makanan yang dibutuhkan.”
Para siswa mulai menyebarkan lembaran peta ke seluruh murid yang berpartisipasi.
Minghao serta Mingyu menggenggam dan melihat peta yang diberikan.
“Seperti yang kalian lihat, terdapat lokasi-lokasi tempat yang kalian butuhkan. Jika tak bisa mendapatkan sebelum matahari terbenam, maka kalian tidak tidur di dalam tenda, dan tidak makan selama 2 hari. Semua tergantung tindakan kalian. Dan untuk semuanya, dilarang membantu orang-orang yang gagal mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan. Jika kalian melanggar, maka kalian akan mendapatkan hukuman yang sama.”
Minghao menelan ludahnya kasar. Ini cukup serius rupanya.
Matanya melirik Mingyu yang sama gugupnya.
“Kita harus benar-benar kerjasama. Kalau gak, lu tau apa yang lu dapet kan?”
Minghao berucap menatap Mingyu yang tak bersuara. “Gua harap lu mau singkirin gengsi lu yang gede itu.”
“Baik! Cukup penjelasannya, silahkan melakukan pencarian barangnya. Ingat, sebelum matahari terbenam harus berkumpul disini. Pencarian, dimulai!”
Suara pak Wasik membuyarkan obrolan Minghao dan Mingyu. Tanpa basa-basi, Minghao pergi menuju lokasi sesuai peta, diikuti oleh Mingyu di belakangnya.
“Lu salah jalan, Hao. Lu bisa baca peta gak? Jelas-jelas ini arah barat di petanya. Ck.”
Minghao diam tanpa menghiraukan Mingyu yang terus mengoceh di belakangnya.
Sumpah. Minghao mantan anak Pramuka. Jadi dia tahu arah mata angin dengan jelas.
“Hao! Anjing. Lu jalannya pelan-pelan anjir. Banyak serangga.”
Minghao memutar bola matanya malas.
“Hao! Kita salah arah. Bodo amat, gua balik.”
Minghao tak menghiraukan Mingyu. Dirinya terus berjalan dengan mata yang menatap jalan dan peta berulang kali. Tanpa tahu bahwa Mingyu benar-benar berbalik arah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mingyu berdecak kesal. Dirinya menatap peta dan jalan yang ada di depannya. Tujuannya saat ini mencari bahan makanan. Dia kelaparan. Apalagi dia juga di kejar waktu.
Kakinya terus berjalan jauh semakin dalam ke dalam hutan.
Sesekali tangannya ia kibas-kibaskan ke sekitar kepalanya mengusir serangga-serangga yang menganggu.
“Ck. Sial. Coba tuh anak kaga ngeyel.”
Mingyu berjalan menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal yang menyelimuti.
Semakin ia berjalan jauh, semakin menggelap langit yang ada di atasnya. Mingyu mulai heran. Tidak ada tanda-tanda barang yang ia butuhkan. Padahal sudah berjalan sesuai lokasi.
Mingyu terbelalak. Jangan-jangan dia salah arah?
Gengsinya tinggi. Bisa malu dia kalau kembali saat ini. Kepalanya ia gelengkan cepat. Tidak. Dia sudah berjalan di arah yang benar. Ia teruskan melangkah tanpa tahu, bahwa dia mulai tersesat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Minghao tersenyum puas dengan tangan yang menggenggam penuh barang yang ia temukan. Yang pertama tas berisi tenda kemah yang ia butuhkan, kedua makanan instan seperti mie ramen, sosis kemasan, air minum mineral, beras instan serta kompor portabel.
Kakinya berbalik arah ingin kembali ke halaman utama tempat mereka berkumpul.
Jam tangan yang melingkar di tangannya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Kakinya baru saja melangkah namun otaknya teringat seseorang.
Mingyu.
Minghao tau bocah satu itu, sok pintar tapi tak tahu apapun. Mulutnya berdecak pelan dengan kaki yang berjalan cepat hampir berlari kecil. Entah kenapa firasatnya tak enak.
Mingyu merutuki kebodohannya yang baru saja ia lakukan. Harusnya ia tak keras kepala, dan mengikuti Minghao dalam diam. Tanpa tujuan, dia terus melangkah hingga ia tersesat di dalam hutan.
“Fuck.”
Apalagi sekarang ia terjatuh ke dalam lubang, dengan kaki dan tangan luka-luka.
“Lu pinter banget, Mingyu.” Ucapnya sarkastik ke dirinya sendiri.
Sumpah. Ia menyesal.
Mulutnya meringis. Matanya melirik tangan dan kakinya yang terluka lumayan parah. Mustahil jika ada orang datang ke dalam hutan saat ini.
Ia tebak Minghao sudah berkumpul dengan anak-anak lain, dengan wajah mencemooh menertawakan dirinya yang bodoh.
Mingyu menggeram marah. Sial. Dia marah ke dirinya sendiri yang bertindak sembrono.
“Mingyu?”
Mingyu tersentak. Kepalanya ia dongakkan keatas.
Matanya melebar kala melihat Minghao melongokkan wajahnya ke bawah lubang.
“Minghao?”
Wajah Minghao kelihatan khawatir. “Lu gak papa? Lu bisa naik ke atas pake tali gak?”
Minghao menurunkan tali tambang yang ia bawa ke arah Mingyu.
“Gua gak bisa naik, Hao. Tangan kaki gua berdarah.”
Mingyu menatap lengan serta kakinya yang tergores ranting dan batu saat ia jatuh tadi.
Minghao berdecak pelan. “Oke tunggu, gua bakal turun.”
Mingyu panik. “Eh jangan anjir ntar lu kejebak juga disini.”
Minghao tak merespon. Ia lemparkan tas yang ia bawa ke bawah lubang, dan melompat mendekati Mingyu.
“Hao!”
Minghao mendarat dengan sempurna, dengan kaki dan tangan yang bertumpu di atas tanah.
“Tenang, gua gak bego. Gua udah sempat lapor ke pak Wasik dan rombongan lain bakal jemput lu.”
Mingyu terdiam. Dia hanya melihat pergerakan Minghao tanpa suara.
Dengan cekatan Minghao membuka tas yang ia bawa, mengambil kotak P3K berisi obat-obatan dan perban.
“Sorry gua gak handal soal ngobatin orang, jadi gua obatin ala kadarnya gak papa kan?”
Minghao menatap Mingyu lekat. Meminta jawaban.
Tak mampu bersuara, Mingyu hanya mengangguk pelan.
Tangan terampil Minghao mulai bergerak setelah mendapat persetujuan. Di bersihkannya luka yang ada di lengan dan kaki Mingyu menggunakan alkohol. Diiringi suara ringisan, keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Membubuhkan obat merah dan kasa perban, Minghao menutup seluruh luka yang ada di badan Mingyu dengan plaster coklat agar perban merekat sempurna.
“Lu gak papa? Udah ini aja yang luka? Perut lu? Atau kepala aman?”
Mingyu hanya menggeleng. “Gak ada.”
Lega. Minghao bernapas lega. Ia bisa datang tepat waktu.
“Lu minum dulu deh. Biar tenang.” Minghao menyerahkan botol air minum yang ia bawa.
“Thanks.”
Mingyu mengambil dengan ragu-ragu. Meneguknya hingga tak bersisa.
Tangan Minghao merapihkan barang-barang yang ia bawa kembali masuk tas ranselnya. Menatap atasnya berharap para rombongan cepat datang.
“Semoga mereka cepet dateng.”
Mingyu menatap wajah Minghao dalam diam.
“Kenapa?”
Minghao menoleh. “Apa?”
“Kenapa lu nyariin gua?”
Mata Mingyu melirik arah lain. “Kan lu bisa pura-pura gak tau dan pergi gitu aja.” Lanjutnya lagi.
“Ya karna lu kelompok gua.”
Mingyu diam. Masih tak ingin menatap Minghao.
“Karna lu kelompok gua, artinya lu tanggung jawab gua, begitu juga dengan gua, yang tanggung jawab lu.” Lanjut Minghao kembali.
Mingyu ingin kembali bersuara, saat suara panik rombongan kelasnya datang ke lubang tempat ia terjebak.
Ia telan semua perkataan yang ingin ia ucapkan, menatap kedua sahabatnya yang panik dan guru kelasnya yang khawatir. Untuk saat ini Mingyu kesampingkan hal yang ingin ia bicarakan kepada Minghao. Dia masih punya banyak waktu yang tepat untuk berbicara kepada Minghao.