Puppyfrog

Minghao tertawa kecil, ketika wajah Mingyu terlihat terganggu.

“Alay lu. Gua baru tau lu tinggal sendirian.”

Mingyu tak ada niatan mengajak Minghao masuk ke dalam kos nya. Keduanya masih betah berhadapan di depan pintu.

“Lu mau apa?”

Minghao masih menahan tawa. Mengingat wajah Mingyu yang seperti wajah-wajah orang tersiksa.

“Ambil buku taneman lu.”

Mingyu berdecak jengkel.

“Ah, ngerepotin orang aja lu.”

Minghao tertawa keras. “Baperan lu. Mana cepet. Gua sibuk.”

Mingyu memutar matanya malas. “Bacot.”

Mingyu berbalik mengambil buku miliknya, menyerahkan secara tak ikhlas ke arah Minghao.

“Pergi lu. Gua gak bisa lama-lama deketan sama banci.”

Minghao tertawa remeh. “Tadi aja lu aneh. Sekarang balik lagi normalnya.”

Minghao menyerahkan nasi padang yang sudah ia beli ke dada Mingyu.

“Ambil. Gua gak tau lu udah makan apa belum. Kalo pun lu jijik buat makan ya buang aja.”

Mingyu dengan terpaksa menangkap bungkus kresek berisikan nasi padang.

“Eat well. Thanks bukunya.”

Minghao tersenyum simpul sambil membalikkan badannya, pergi meninggalkan kamar kos Mingyu.

DEG

Lagi-lagi dada Mingyu terasa geli.

“Gua kenapa sih?”

Mingyu berucap lirih. Entah kepada angin atau ke dirinya sendiri.

Keduanya, Minghao dan Mingyu berjalan beriringan menuju gasebo sekolah. Disana memang biasa digunakan beberapa siswa untuk belajar atau sekadar nongkrong bersama.

“Oh ya, karna kita gak ada laptop jadi kita tulis aja dulu ya point-point yang mau kita masukkin ke makalah apa aja.” Minghao berucap sambil melayangkan pandangannya ke seluruh penjuru area sekolah.

“Iya, gua aja yang nulis nanti gua fotoin terus kirim ke lu.”

Minghao mengangguk. “Oh ya, gua mau beli jajan dulu. Lu duduk aja duluan.”

Tanpa menunggu persetujuan, Minghao langsung berlari laju ke arah kantin. Untungnya kantin sekolah mereka masih buka hingga pukul 4 sore.

Mingyu yang menatap punggung Minghao mulai jauh, hanya bisa menghela napasnya.

Tanpa menunggu lama Mingyu langsung mendudukan dirinya di gasebo sekolah. Mulai mengeluarkan alat tulisnya.

Otaknya asik melamun dengan tangan yang entah sibuk menulis apa di atas buku.

“Hoi, mingyu.”

Agak kaget, Mingyu mendongak mendapati Minghao sudah ada di depannya.

“Nih.”

Minghao menyodorkan sekotak susu coklat kesukaan Mingyu.

“Gua gak tau lu suka apa jadi gua beliin ini aja. Tenang gak gua emut kok sedotannya.” Lanjut Minghao sambil menyesap sekaleng soda di tangannya.

Mingyu terdiam. Menatap Minghao dan kotak susu yang ada di depannya.

“Thanks.” Mingyu menerima susu yang diberikan padanya. Mengabaikan Minghao yang mulai berceloteh di depannya.

Dengan wajah tanpa ekspresi dan tangan yang berusaha menusukkan sedotan ke kotak susu, membuat Mingyu tak sadar ditatap Minghao aneh.

“Sumpah, lu dari kemarin aneh. Sini gua tusukkin.”

Tanpa aba-aba, Minghao merebut kotak susu yang ada di tangan Mingyu, menusukkan sedotan di lubang yang tersedia.

“Nih.” Minghao menyodorkan kembali ke Mingyu.

Melihat keduanya diam beberapa detik membuat Minghao berdecak jengkel.

“Anjir lu.”

Minghao menyuapkan sedotan susu yang masih bersih itu ke dalam mulut Mingyu.

“Minum.”

Mingyu terbelalak. Dengan sigap memegang kotak susu yang di sodorkan ke arahnya. Menyesap rasa coklat yang ada di mulutnya.

“Jangan ngelamun. Ntar ketempelan.”

Mingyu masih menatap Minghao lekat. Yang anehnya, dada Mingyu terasa geli.

DEG

Dadanya kenapa?

Mingyu menahan napas saat batang hidung Minghao sudah terlihat.

Sedikit ogah-ogahan dan malas-malasan, Minghao berjalan ke arah bangkunya yang tepat di depan Mingyu.

“Pagi.” Sapa Minghao cuek sambil mendudukan pantatnya di bangku mejanya.

Tanpa mendengar jawaban Mingyu, Minghao membalikkan badannya, berhadapan dengan Mingyu.

“Jadi makalah kita gimana? Lu mau ambil bab yang mana?”

Mingyu masih enggan menatap langsung wajah Minghao.

“Gua ambil pembahasan sama penutup aja.”

Mingjao mengangkat alisnya heran.

“Gua apaan? Pendahuluan aja? Gila lu. Gua gak kerja dong.”

Mingyu mendengus geli. Dimana-mana orang senang jika bekerja sedikit.

“Iya, biar gua sisanya.”

Minghao menggebrak meja tak terima. “Gua gak mau.”

Mingyu menghela napasnya lelah. Kenapa Minghao tak ingin mengalah?

“Kan enak kerjaan lu sedikit. Kenapa gak mau?”

Mingyu masih enggan menatap Minghao, ia sibuk menulis di bukunya.

“Karna kita berdua satu kelompok. Gua sama lu barengan. Gua tau susahnya bikin makalah gimana. Jadi gak usah sok pinter dah lu.”

Mingyu masih diam. Wajahnya masih betah menunduk menatap buku yang ada di atas mejanya.

Minghao yang melihat tingkah Mingyu yang aneh itupun sudah mulai frustasi.

“Lu kenapa sih?”

Minghao berusaha mempertemukan netra Mingyu dengan netra miliknya.

“Mingyu.”

Diam. Masih enggan menatap.

“Mingyu.”

Minghao sudah habis kesabaran.

“Mingyu!”

SET

Kini tangannya menangkap rahang Mingyu. Memaksa wajah Mingyu untuk menatapnya.

“Lu denger gak?”

Mingyu yang tak siap bertatapan, tak sengaja menahan napas. Menatap Minghao yang menatapnya kesal.

“Iya, denger.” Ujarnya agak lirih.

“Bagus. Jadi gak ada penolakan. Kita berdua kerja bareng. Kapan lu luang? Habis pulang sekolah gimana? Ngerjainnya di gasebo deket kantin.”

Mingyu hanya mengangguk kaku. Tangan Minghao belum lepas dari rahangnya.

“Okedeh. Kalo gitu nanti habis pulang sekolah lu tungguin gua.”

Minghao melepaskan tangannya dari rahang Mingyu. Tersenyum puas sambil membalikkan badannya kembali. Tanpa ia tahu betapa merahnya wajah Mingyu di belakangnya.

“Fuck.” Gumam Mingyu dalam hati.

Keduanya sibuk masing-masing. Suasana diantara Hoshi dan juga Jihoon agak sedikit aneh.

Jihoon akan bersuara seperlunya untuk mengajarkan rumus-rumus dan sedikit penjelasan. Hoshi pun akan bersuara jika dirinya bertanya akan sesuatu. Terlihat sekali keduanya tidak akur.

“Gua udah ngerti. Mending lu pulang.”

Jihoon melirik tak minat.

“Kerjaan gua sampe jam 5 sore. Tenang aja gua juga ada tugas habis ini.”

Hoshi melirik jam dinding di rumahnya. Masih pukul 4 sore. Dia berpikir keras. Bagaimana cara mengusir Jihoon?

“Lu gak mau nyusul mama gua?”

Jihoon seketika bersemangat. “Emang Tante Ratna dimana?”

Hoshi diam sejenak. Otaknya berpikir keras.

“Ke rumah lu. Dia lagi diskusi sama ibu lu.”

Jihoon tanpa pikir panjang langsung berdiri.

“Kok lu gak bilang?!”

Hoshi hanya memutar matanya malas.

“Oh iya, minta nomor lu biar les berikutnya lu yang tentuin.”

Jihoon menyerahkan ponselnya.

Hoshi dengan ragu menerima ponsel milik Jihoon, mulai memasukkan nomor ponselnya.

“Dah.”

Jihoon tersenyun lebar. Yah, walaupun dia tak suka dengan anak crushnya, demi kepercayaan yang sudah diberikan Tante Ratna terhadapnya, Jihoon harus mengajari dengan serius.

“Kalo gitu gua pergi dulu, bye.”

Jihoon segera pergi setelah membereskan barang-barangnya.

Hoshi tersenyun cerdik diam-diam, menatap punggung Jihon yang menghilang.

Keduanya sibuk masing-masing. Suasana diantara Hoshi dan juga Jihoon agak sedikit aneh.

Jihoon akan bersuara seperlunya untuk mengajarkan rumus-rumus dan sedikit penjelasan. Hoshi pun akan bersuara jika dirinya bertanya akan sesuatu. Terlihat sekali keduanya tidak akur.

“Gua udah ngerti. Mending lu pulang.”

Jihoon melirik tak minat.

“Kerjaan gua sampe jam 5 sore. Tenang aja gua juga ada tugas habis ini.”

Hoshi melirik jam dinding di rumahnya. Masih pukul 4 sore. Dia berpikir keras. Bagaimana cara mengusir Jihoon?

“Lu gak mau nyusul mama gua?”

Jihoon seketika bersemangat. “Emang Tante Ratna dimana?”

Hoshi diam sejenak. Otaknya berpikir keras.

“Ke rumah lu. Dia lagi diskusi sama ibu lu.”

Jihoon tanpa pikir panjang langsung berdiri.

“Kok lu gak bilang?!”

Hoshi hanya memutar matanya malas.

“Oh iya, minta nomor lu biar les berikutnya lu yang tentuin.”

Jihoon menyerahkan ponselnya.

Hoshi dengan ragu menerima ponsel milik Jihoon, mulai memasukkan nomor ponselnya.

“Dah.”

Jihoon tersenyun lebar. Yah, walaupun dia tak suka dengan anak crushnya, demi kepercayaan yang sudah diberikan Tante Ratna terhadapnya, Jihoon harus mengajari dengan serius.

“Kalo gitu gua pergi dulu, bye.”

Jihoon segera pergi setelah membereskan barang-barangnya.

Hoshi tersenyun cerdik diam-diam, menatap punggung Jihon yang menghilang.

Dalam sekejap mata, semalaman berlalu begitu cepat. Antara senang dan malas. Senang karna akhirnya niatnya terlaksana, malas karna harus bertemu dengan orang yang tak ingin Jihoon temui.

Jihoon menyiapkan barang-barang yang ia perlukan untuk mengajar pelajaran kimia. Tak lupa memasukkan semuanya ke dalam tas ransel kesayangannya.

Lagi-lagi helaan napas ia keluarkan. Namun demi crush nya yang sudah ia pendam sejak kecil, Jihoon harus mendapatkan kesan yang baik.

Jika ia ingat-ingat lagi, Jihoon pertama kali bertemu dengan Tante Ratna saat ia dibangku kelas 6 sekolah dasar.

Waktu itu Jihoon asik kabur dari sergapan ibunya di rumah. Tak melihat jalan, kaki Jihoon tersandung kerikil, membuat lututnya terluka. Tanpa Jihoon duga datang perempuan cantik menolongnya berdiri dan mengobati lukanya. Sejak itu Jihoon seolah terpesona dan jatuh cinta kepada tetangganya sendiri. Jihoon pikir saat itulah cinta pertamanya tumbuh hingga detik ini.

Kepalanya ia gelengkan cepat untuk mengusir lamunannya. Jihoon segera membawa tasnya dan bergegas untuk memulai perjanjiannya dengan Tante Ratna. Demi berjalan mulusnya cinta Jihoon, akan ia lakukan apapun demi Tante Ratna. Begitu pikirnya.


Senyum Jihoon pudar saat menatap anak Tante Ratna yang berdiri menjulang di depan Jihoon. Tingginya lebih tinggi dari tubuh Jihoon. Membuat Jihoon harus mendongak untuk menatap wajahnya.

'Ck.' Jihoon berdecak dalam hati.

“Oh. Lu guru les gua?” Ujar bocah remaja yang Jihoon sangat kenal.

“Mana Tante Ratna?” Jihoon berusaha mengabaikan pertanyaan bocah yang ada di depannya sekarang.

“Mama gua lagi arisan. Gak ada kesempatan lu buat cari muka di depan mama gua.” Balasnya congkak di sertai senyum miring yang membuat Jihoon ingin menonjoknya.

“Simpen ucapan kosong lu. Kimia aja lu gak bisa. Gak heran kalo lu bego.”

Jihoon berjalan masuk seenak jidat mengabaikan keberadaan pemilik rumah.

“Yeah yeah, ucap orang yang mau jadi guru les gua, demi mepetin mama gua.”

Jihoon menggertakkan giginya kuat. Dia benar-benar kesal.

“Diem lu bocah.”

Orang yang ada di belakang Jihoon memutar matanya malas.

“Kita cuman beda setaun doang asal lu tau.”

Jihoon tak bersuara, hanya berfokus menyiapkan buku-buku yang akan ia pelajari.

“Dan gua gak akan setuju punya bapak bocil kayak lu.” Lanjut si pemilik rumah yang sudah duduk tepat di hadapan Jihoon.

Jihoon menatap tajam. “Dan gua gak butuh persetujuan dari anak goblok kayak lu...” Ucapan Jihoon menggantung, di akhiri dengan nada rendah yang terkesan geram.

”.. Hoshi.”

Semenjak kejadian semalam, Mingyu banyak diamnya. Minghao memerintah Mingyu untuk duduk sejenak dan membiarkan Minghao bekerja.

Hampir 15 menit Minghao berusaha mendirikan tenda kemahnya seorang diri. Mingyu menatap kosong Minghao, dan lukanya yang berbalut kasa perban bergantian.

Semalaman Minghao tak bisa tidur. Membuat Mingyu bangun dan memutuskan untuk berjaga di luar.

Esoknya, wajah Mingyu masih terlihat sama. Bedanya, hanya terlihat lelah dan letih. Minghao tebak Mingyu tak tidur karna Minghao temui dirinya bangun seorang diri, tadi pagi.

Hari kedua kegiatannya berbeda. Setiap kelompok ditugaskan untuk mencari buah-buahan serta tanaman herbal yang bisa mereka kumpulkan.

Berbekal buku kecil informasi-informasi tanaman, Mingyu melesat pergi membawa buku yang telah di berikan.

Minghao hanya menghela napas lelah. Ia rasa Mingyu sedang menghindari nya.

Ia paham mungkin Mingyu sedikit shock dengan kejadian semalam. Apalagi Mingyu sampai mau memberikan seluruh isi tenda untuk Minghao seorang.

Kepala Minghao hanya berputar Mingyu, Mingyu dan Mingyu. Heran dengan sikap Mingyu yang diam. Dia tak biasa.

Tak terasa sudah 2 jam waktu berlalu. Waktu yang diberikan untuk semua siswa mengumpulkan segala jenis tanaman sudah berakhir. Kepala Minghao celingukan mencari sosok Mingyu di segala arah.

PUK PUK

“Udah selesai dari tadi?”

Minghao menengok kebelakang, melihat Mingyu dengan napas nya yang tersengal.

“Lu habis lari?”

Mingyu sedikit tertawa pelan. Membuat Minghao sedikit kaget.

“Ngejar waktu, gua gak mau ngerepotin orang lain kayak kemarin.” Ucapnya sambil mengangkat tas yang berisikan tanaman-tanaman yang dibutuhkan.

“Wah.. lu cari semuanya sendirian?”

Mingyu mengangguk. “Buat lu.”

Minghao bingung. “Maksudnya?”

Mingyu menyodorkan tas yang ia bawa ke arah dada Minghao.

“Buat lu. Makasih yang semalem.”

Minghao mengambil tas yang di sodorkan oleh Mingyu, agak ragu-ragu. Tanpa sepatah dua kata, Mingyu berbalik meninggalkan Minghao.

“What the...” Sungguh, Minghao bingung.

Apalagi saat dirinya melihat sepasang telinga Mingyu sedikit memerah.


Beberapa materi dan tujuan pembelajaran hari ini di sampaikan oleh pak Wasik. Minghao sama sekali tak fokus.

Mengingat pemberian Mingyu sebagai tanda terimakasih karna kejadian semalam.

Matanya melirik Mingyu yang ada di sampingnya. Entah kenapa Mingyu benar-benar berbeda. Terlihat tenang dan jinak.

Minghao mengerang frustasi.

Ah, masa bodo.

Mingyu tetaplah lawannya. Tak ada kata ampun untuk lawan Minghao.

“Eh, Hao jangan gerak.”

Suara Mingyu terpecah. Minghao spontan menengok sang empu secara cepat.

“Hah? Apaan?”

Tangan Mingyu meraih atas kepala Minghao, membuatnya terpaku.

“Apaan anjir?” Jelas saja Minghao kaget.

Mingyu mengangkat alisnya bingung. “Apanya?”

“Ck. Ada apa di kepala gua?”

Mingyu menyentuh surai kepala Minghao, membuat beberapa helai rambutnya tersapu jari-jemari Mingyu.

“Ada kumbang.”

Mingyu menyerahkan kumbang kecil ke depan wajah Minghao.

“Whoa!” Tangan Minghao spontan menepis telapak tangan Mingyu yang sangat dekat dengan wajahnya.

Matanya menatap lekat Mingyu yang ada di depannya.

“T-thanks.”

Mingyu hanya mengangguk awkward. Setelahnya, situasi canggung menyelimuti keduanya.


Semua murid mulai membereskan barang-barang yang mereka bawa. Minghao melipat tenda yang ia dirikan, sedangkan Mingyu mulai membersihkan lingkungan sekitar tenda keduanya.

Tak ada satu kata pun yang keluar dari keduanya. Membuat Minghao semakin frustrasi.

“Oh ya, Hao lu bisa langsung ke mobil kok. Kerjaan lu tinggalin aja, biar gua yang urus.”

Minghao menatap Mingyu cengo.

“Hah? Gak lah, masa lu kerja sendirian.”

Mingyu menatap Minghao dalam diam. “Naik sekarang atau lu gua gendong masuk mobil?”

Minghao melotot. “Apaan sih lu freak. Yodah gua duluan.”

Dengan rasa emosi yang memuncak Minghao membanting tenda kemahnya diatas tanah.

Helaan napas lelah Mingyu keluarkan setelah Minghao agak menjauh darinya.

Kedua netranya menatap lurus punggung Minghao yang berjalan naik ke atas mini bus. Sepertinya Mingyu harus menghentikan semuanya. Entah kenapa, pundak dan hatinya terasa memberat.

Minghao mengusap rambutnya kasar dengan kaki yang bergerak malas berjalan ke gerombolan anak kelasnya.

Hari ini tepat acara pembelajaran outdoor berlangsung. Mereka berada di sebuah hutan yang jaraknya lumayan jauh dari sekolahnya. Harus menggunakan mini bus dan menempuh 20 menit perjalanan.

Beberapa terlihat gembira dan tak sabar. Tapi bagi Minghao sendiri, ini lumayan merepotkan. Namun sudah lama, dia tak mengikuti acara seperti ini. Terakhir kali saat dia masih duduk si bangku SMA dulu.

Terlihat sudah membentuk kelompok-kelompok yang ditentukan oleh pak Wasik. Minghao mengerang malas. Kenapa dia harus bersama Mingyu? Orang yang paling ia tak suka. Minghao berharap Mingyu akan kabur dan bolos acara kelasnya hari ini.

Namun, doanya harus ia telan mentah-mentah saat melihat badan tegap Mingyu, dengan wajah malasnya berjalan mendekati Minghao.

“Anjir. Kok lu masuk?” Minghao heran. Justru dia berharap Mingyu bolos saja.

“Kok ngamuk? Lu yang harusnya bolos.”

Minghao berdecak. “Yang suka bolos kan elu. Harusnya lu bolos hari ini. Kan ngerepotin.”

Mingyu meliriknya sinis. “Kalo gua gak diancem juga gua mau bolos.”

Diingatnya ingatan semalam tentang Jihoon yang mengancamnya. Helaan napas kasar ia keluarkan.

“Kali ini gua mau kerjasama bareng lu. Awas aja lu ngerepotin.” Minghao berucap dingin.

Mingyu tertawa remeh. “Lu yang harusnya jangan ngerepotin gua. Lu kan banci.”

Tanpa basa-basi, Minghao menginjak kaki Mingyu keras.

“Aghhh!”

Mingyu mengaduh kesakitan. Sedangkan Minghao tertawa keras.

“Kita liat, siapa yang lemah disini.”


Minghao dan Mingyu berbaris dengan rapih, menatap arahan gurunya yang ada di depan.

“Baik, acara outdoor hari ini akan dimulai. Bapak akan berikan peta untuk menemukan alat perkemahan dan makanan-makanan yang dibutuhkan.”

Para siswa mulai menyebarkan lembaran peta ke seluruh murid yang berpartisipasi.

Minghao serta Mingyu menggenggam dan melihat peta yang diberikan.

“Seperti yang kalian lihat, terdapat lokasi-lokasi tempat yang kalian butuhkan. Jika tak bisa mendapatkan sebelum matahari terbenam, maka kalian tidak tidur di dalam tenda, dan tidak makan selama 2 hari. Semua tergantung tindakan kalian. Dan untuk semuanya, dilarang membantu orang-orang yang gagal mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan. Jika kalian melanggar, maka kalian akan mendapatkan hukuman yang sama.”

Minghao menelan ludahnya kasar. Ini cukup serius rupanya.

Matanya melirik Mingyu yang sama gugupnya.

“Kita harus benar-benar kerjasama. Kalau gak, lu tau apa yang lu dapet kan?”

Minghao berucap menatap Mingyu yang tak bersuara. “Gua harap lu mau singkirin gengsi lu yang gede itu.”

“Baik! Cukup penjelasannya, silahkan melakukan pencarian barangnya. Ingat, sebelum matahari terbenam harus berkumpul disini. Pencarian, dimulai!”

Suara pak Wasik membuyarkan obrolan Minghao dan Mingyu. Tanpa basa-basi, Minghao pergi menuju lokasi sesuai peta, diikuti oleh Mingyu di belakangnya.


“Lu salah jalan, Hao. Lu bisa baca peta gak? Jelas-jelas ini arah barat di petanya. Ck.”

Minghao diam tanpa menghiraukan Mingyu yang terus mengoceh di belakangnya.

Sumpah. Minghao mantan anak Pramuka. Jadi dia tahu arah mata angin dengan jelas.

“Hao! Anjing. Lu jalannya pelan-pelan anjir. Banyak serangga.”

Minghao memutar bola matanya malas.

“Hao! Kita salah arah. Bodo amat, gua balik.”

Minghao tak menghiraukan Mingyu. Dirinya terus berjalan dengan mata yang menatap jalan dan peta berulang kali. Tanpa tahu bahwa Mingyu benar-benar berbalik arah. . . . . . . . . . .

Mingyu berdecak kesal. Dirinya menatap peta dan jalan yang ada di depannya. Tujuannya saat ini mencari bahan makanan. Dia kelaparan. Apalagi dia juga di kejar waktu.

Kakinya terus berjalan jauh semakin dalam ke dalam hutan.

Sesekali tangannya ia kibas-kibaskan ke sekitar kepalanya mengusir serangga-serangga yang menganggu.

“Ck. Sial. Coba tuh anak kaga ngeyel.”

Mingyu berjalan menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal yang menyelimuti.

Semakin ia berjalan jauh, semakin menggelap langit yang ada di atasnya. Mingyu mulai heran. Tidak ada tanda-tanda barang yang ia butuhkan. Padahal sudah berjalan sesuai lokasi.

Mingyu terbelalak. Jangan-jangan dia salah arah?

Gengsinya tinggi. Bisa malu dia kalau kembali saat ini. Kepalanya ia gelengkan cepat. Tidak. Dia sudah berjalan di arah yang benar. Ia teruskan melangkah tanpa tahu, bahwa dia mulai tersesat. . . . . . . . . . . . . . .

Minghao tersenyum puas dengan tangan yang menggenggam penuh barang yang ia temukan. Yang pertama tas berisi tenda kemah yang ia butuhkan, kedua makanan instan seperti mie ramen, sosis kemasan, air minum mineral, beras instan serta kompor portabel.

Kakinya berbalik arah ingin kembali ke halaman utama tempat mereka berkumpul.

Jam tangan yang melingkar di tangannya telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Kakinya baru saja melangkah namun otaknya teringat seseorang.

Mingyu.

Minghao tau bocah satu itu, sok pintar tapi tak tahu apapun. Mulutnya berdecak pelan dengan kaki yang berjalan cepat hampir berlari kecil. Entah kenapa firasatnya tak enak.


Mingyu merutuki kebodohannya yang baru saja ia lakukan. Harusnya ia tak keras kepala, dan mengikuti Minghao dalam diam. Tanpa tujuan, dia terus melangkah hingga ia tersesat di dalam hutan.

“Fuck.”

Apalagi sekarang ia terjatuh ke dalam lubang, dengan kaki dan tangan luka-luka.

“Lu pinter banget, Mingyu.” Ucapnya sarkastik ke dirinya sendiri.

Sumpah. Ia menyesal.

Mulutnya meringis. Matanya melirik tangan dan kakinya yang terluka lumayan parah. Mustahil jika ada orang datang ke dalam hutan saat ini.

Ia tebak Minghao sudah berkumpul dengan anak-anak lain, dengan wajah mencemooh menertawakan dirinya yang bodoh.

Mingyu menggeram marah. Sial. Dia marah ke dirinya sendiri yang bertindak sembrono.

“Mingyu?”

Mingyu tersentak. Kepalanya ia dongakkan keatas.

Matanya melebar kala melihat Minghao melongokkan wajahnya ke bawah lubang.

“Minghao?”

Wajah Minghao kelihatan khawatir. “Lu gak papa? Lu bisa naik ke atas pake tali gak?”

Minghao menurunkan tali tambang yang ia bawa ke arah Mingyu.

“Gua gak bisa naik, Hao. Tangan kaki gua berdarah.”

Mingyu menatap lengan serta kakinya yang tergores ranting dan batu saat ia jatuh tadi.

Minghao berdecak pelan. “Oke tunggu, gua bakal turun.”

Mingyu panik. “Eh jangan anjir ntar lu kejebak juga disini.”

Minghao tak merespon. Ia lemparkan tas yang ia bawa ke bawah lubang, dan melompat mendekati Mingyu.

“Hao!”

Minghao mendarat dengan sempurna, dengan kaki dan tangan yang bertumpu di atas tanah.

“Tenang, gua gak bego. Gua udah sempat lapor ke pak Wasik dan rombongan lain bakal jemput lu.”

Mingyu terdiam. Dia hanya melihat pergerakan Minghao tanpa suara.

Dengan cekatan Minghao membuka tas yang ia bawa, mengambil kotak P3K berisi obat-obatan dan perban.

“Sorry gua gak handal soal ngobatin orang, jadi gua obatin ala kadarnya gak papa kan?”

Minghao menatap Mingyu lekat. Meminta jawaban.

Tak mampu bersuara, Mingyu hanya mengangguk pelan.

Tangan terampil Minghao mulai bergerak setelah mendapat persetujuan. Di bersihkannya luka yang ada di lengan dan kaki Mingyu menggunakan alkohol. Diiringi suara ringisan, keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing.

Membubuhkan obat merah dan kasa perban, Minghao menutup seluruh luka yang ada di badan Mingyu dengan plaster coklat agar perban merekat sempurna.

“Lu gak papa? Udah ini aja yang luka? Perut lu? Atau kepala aman?”

Mingyu hanya menggeleng. “Gak ada.”

Lega. Minghao bernapas lega. Ia bisa datang tepat waktu.

“Lu minum dulu deh. Biar tenang.” Minghao menyerahkan botol air minum yang ia bawa.

“Thanks.”

Mingyu mengambil dengan ragu-ragu. Meneguknya hingga tak bersisa.

Tangan Minghao merapihkan barang-barang yang ia bawa kembali masuk tas ranselnya. Menatap atasnya berharap para rombongan cepat datang.

“Semoga mereka cepet dateng.”

Mingyu menatap wajah Minghao dalam diam.

“Kenapa?”

Minghao menoleh. “Apa?”

“Kenapa lu nyariin gua?”

Mata Mingyu melirik arah lain. “Kan lu bisa pura-pura gak tau dan pergi gitu aja.” Lanjutnya lagi.

“Ya karna lu kelompok gua.”

Mingyu diam. Masih tak ingin menatap Minghao.

“Karna lu kelompok gua, artinya lu tanggung jawab gua, begitu juga dengan gua, yang tanggung jawab lu.” Lanjut Minghao kembali.

Mingyu ingin kembali bersuara, saat suara panik rombongan kelasnya datang ke lubang tempat ia terjebak.

Ia telan semua perkataan yang ingin ia ucapkan, menatap kedua sahabatnya yang panik dan guru kelasnya yang khawatir. Untuk saat ini Mingyu kesampingkan hal yang ingin ia bicarakan kepada Minghao. Dia masih punya banyak waktu yang tepat untuk berbicara kepada Minghao.

Langkah kaki Mingyu ia seret menuju bangku mejanya. Wajahnya terlihat malas dan ogah-ogahan. Kedua netra milik Mingyu ia lirikkan ke arah Jihoon yang sedang memasang senyum puas melihat kehadiran sobatnya itu.

Hidungnya mendengus. Mulutnya menguap malas seakan tak ada gairah hidup.

“Ck. Males banget dah.”

Mingyu bergumam sendiri sambil melihat ke arah luar jendela.

“Apasih yang lu gak males.” Tukas suara lain ikut menimpali.

Mingyu melirik sinis belakang kepala Minghao yang ada di depannya.

“Gak usah banyak bacot.”

Tak ada balasan apapun hingga lelaki paruh baya dengan kumis timis di atas bibirnya, memasuki ruangan kelas.

Mingyu mendesah pelan. Telihat benci menatap kehadiran gurunya. Sudah betul-betul wali kelasnya itu tak datang lama karna urusan pekerjaan di luar kota.

“Selamat pagi semua, hilangkan wajah malas kalian, telihat jelas kalian tak senang gurumu datang.”

Suara erangan protes mulai terdengar dari mulut semua siswa.

“Baik, baik. Untuk kali ini kita tidak belajar materi. Bapak akan memberikan informasi penting untuk kalian semua.”

Seluruh siswa menatap guru yang ada di depannya penasaran.

“Berhubung ajaran semester 2 ini baru dimulai, kita akan mengadakan pembelajaran outdoor.”

Si bapak, yang biasa dipanggil oleh anak-anak lain pak Wasik, mulai menjelaskan dengan detail.

“Sesuai dengan peraturan sekolah, setiap kelas dipersilahkan mengadakan evaluasi tahunan. Bapak mengambil awal semester karna kalian pasti akan tersiksa di tengah sampai akhir semester.”

Pak Wasik memberi jeda sembari menyapu pandangannya ke seluruh siswa. “Maka dari itu, kita akan mengadakan pembelajaran di luar ruangan selama 2 hari.”

Reaksi para siswa bergemuruh. Ada yang senang, tak sabar, ada pula yang tak suka.

Mingyu mengerang protes. Ia tahu kalau pembelajaran ini tidak lah enteng.

“2 hari ngapain aja pak?” Mingyu mulai bersuara.

“Tentu saja belajar. Kalian penasaran bukan? Siapkan hati dan fisik kalian, karna pembelajaran kali ini sangat berharga.”

Mingyu memutar bola matanya malas.

“Baik, itu saja dari bapak. Untuk kali ini bapak beri kalian waktu kosong untuk bersantai. Hitung-hitung kalian menyiapkan mental untuk acara lusa nanti. Info selanjutnya akan bapak kirim via grup chat kelas ya.”

Tanpa banyak kata pak Wasik meninggalkan kelas dengan situasi yang beragam.

Mingyu paham kalau ini akan menjadi hal yang merepotkan.

Mingyu menguap malas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Langkah kakinya terkesan malas-malasan dan tak bersemangat. Hari ini ia banyak mengalami kejadian menyebalkan sampai mengerikan. Hari terburuk yang pernah ia rasakan.

Jalur transportasi terlihat lengang dan sepi. Hanya ada beberapa mobil dan motor yang berkendara. Mungkin efek sore hari. Padahal biasanya, saat ini adalah jam pulang kerja para karyawan.

Jarak kos Mingyu dengan sekolahnya lumayan dekat. Menempuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Matanya menerawang ke depan sambil melakukan apa saja bahan-bahan makanan yang akan ia beli untuk beberapa hari ke depan.

Perutnya juga keroncongan minta diisi. Mingyu biasa berbelanja di supermarket dekat persimpangan karna banyak diskon yang diberikan.

Asik melamun sambil bersenandung, tiba-tiba tangannya di tarik masuk ke dalam jalan sempit.

“H-hei..”

BRUK

Mingyu terpelanting. Mulutnya mengaduh pelan saat punggungnya menubruk dinding beton.

“Apaan si anjing?”

Mingyu melotot tak terima. Menatap beberapa rombonga orang yang Mingyu hitung lebih dari 5 orang.

“Lu Mingyu ya?” Ucap salah satu orang dari kumpulan rombongan yang mengepung Mingyu.

“Ya menurut lu? Gak bisa liat nametag gua?”

Tawa reme keluar dari orang yang Mingyu lawan.

“Ngelunjak juga ya lu. Elu ya yang ngehajar anak buah gua?”

Mingyu menatap heran. “Anak buah yang mana?”

Tiba-tiba dari arah ujung gang, berjalan pelan sosok babak belur yang berbalut perban penutup luka.

Mingyu seakan sadar sesuatu. “Oh, lu si pengecut kemarin yang mau lawan gua tapi gak bisa ya? Sekarang lu ngadu ke abang lu karna kalah gelut? Kocak.”

Orang yang Mingyu sebut 'abang', berdecak kesal.

“Brengsek, beneran minta dihajar lu ya?!”

Mingyu tertawa keras. “Ya maju aja sini, kalo bisa ngalahin gua sih.”

Tanpa basa-basi, kumpulan lelaki asing yang mengepung Mingyu mulai menerjang nya serentak.

Mingyu yang ahli dalam berkelahi, dan sudah memiliki banyak pengalaman di jalanan, mulai melawan mereka satu per satu.

Walaupun saat ini Mingyu sudah lelah karna banyaknya kejadian yang ia alami di sekolah, ditambah pula ia belum makan apapun sejak pagi, kondisi Mingyu yang tidak prima tak menyurutkan kekuatannya dalam bertarung.

Dengan lihai dan tangguh Mingyu menepis dan membalas serangan-serangan yang ada.

Pertarungan yang berat sebelah itu, berlangsung cukup lama. Dan anehnya tidak ada yang melerai.

Mungkin karna efek jalanan yang sepi, tidak ada manusia lain yang lewat menegur mereka.

Atau tidak?

CEKRIK

“Perkelahian yang menganggu masyarakat dan membuat warga sekitar resah, ditambah mulai menghancurkan fasilitas kota. Gua udah punya bukti foto dan video, ditambah gua juga udah telpon polisi. 5 menit lagi mereka sampe, apa masih mau gelut?”

Perkelahian sengit yang tak mungkin bisa dilerai, tiba-tiba terhenti mendengar ucapan tamu asing tak diundang.

Mingyu menoleh. Terbelalak menatap siapa yang ada di depannya kini.

“Cepet pergi atau kalian di tangkep polisi?”

Orang-orang yang mengepung Mingyu mulai menatap orang asing yang menyela perkelahian mereka.

“Lu siapa? Temennya? Lu mau di hajar juga?”

Lelaki asing yang baru saja tiba itu mulai menanggalkan tas dan barang ia bawa di samping kakinya.

“Emang lu semua bisa hajar gua? Pede banget.”

Baru satu bait kalimat dia ucapkan, orang-orang yang mengepung Mingyu mulai lepas kendali. Emosi mereka tak terkendali mendengar nada remeh dari lawannya.

“Brengsek! Tangkap dia!”

Tanpa basa-basi, serentak mereka menerjang remaja laki-laki yang masih berbalut seragam.

Dengan lihai dan terlihat tenang, ia menepis dan melawan semuanya bagaikan aktor laga yang sedang beraksi.

Mingyu menatap cengo orang yang ada di depannya.

Gimana mungkin?

Tangan kurus yang tak terlihat kuat itu, mulai menerjang titik lemah lawannya. Kedua mata yang tajam, bergerak liar melihat pergerakan lawan. Tak ada satupun celah. Mingyu bisa melihat bahwa pengalaman orang yang ada di depannya jauh di atas Mingyu.

Gimana bisa?

10 menit pertarungan, semuanya berhasil dilumpuhkan seorang diri.

Mingyu menatap takjub. Baru kali ini dia melihat pertarungan seintens ini.

“Pergi sekarang, dan jangan nunjukin muka lu semua ke dia lagi.”

Semuanya kabur tanpa perkataan apapun. Mingyu berdiri mendekati orang yang sedari tadi ia lihat.

“Kenapa?” Mingyu bertanya.

“Kenapa apanya?”

“Kenapa lu nolongin gua?”

Orang yang ditanya Mingyu terdiam. “Emang gua nolongin lu?”

Mingyu berdecak. “Terus lu ngapain buang-buang waktu gelut?”

“Gua kasian aja. Muka lu kayak orang kelaperan tapi dipaksa gelut.”

Brengsek

“Gak usah mikir macem-macem. Gua gak ada niat apapun. Gua kebetulan lewat.”

Mingyu hanya diam.

“Kenapa lu gak lawan gua kayak lu lawan orang-orang tadi?”

“Maksudnya?”

“Kenapa lu gak lawan gua kalo gua lagi bully lu, Minghao?”

Minghao. Orang yang dipanggil Minghao menatap lekat Mingyu.

“Gak asik kalo langsung adu jotos sama lu. Gua punya cara balas dendam tersendiri biar bagus. Itu yang namanya seni.”

Mingyu tertawa. “Kek bisa aja lu balas dendam ke gua.”

Minghao tersenyum tipis, menatap Mingyu rendah. “Jangan ngerasa gua masih Minghao yang dulu. Gua belum maafin lu atas semua yang udah lu lakuin ke gua.”

“Emang gua lakuin apa?” Tanpa rasa bersalah, Mingyu bertanya sok polos.

Minghao hanya bisa menyeringai. “Tanya ke diri lu sendiri. Saat lu sadar gua bakal maafin lu.”

“Gua gak minat minta maaf ke lu asal lu tau.”

Minghao mengambil barang-barang nya kembali, dan bergegas membalikkan badannya.

“Dan gua juga gak minat maafin lu.”

Minghao berhenti sebentar. “Obatin luka lu, jangan lupa isi perut lu.”

Tanpa menunggu jawaban Mingyu, Minghao pergi meninggalkan Mingyu seorang diri.