Puppyfrog

TAK

Minghao meletakkan pulpen yang ia genggam, di bangku meja yang ada di belangkangnya. Menatap Mingyu yang alisnya sudah saling bertemu.

“Ribut mulu lu nyari pulpen. Kalo mau pinjem ngomong nya yang baik-baik, gosah nyolot. Gak heran gua yang lain kaga berani liat lu.”

Mingyu heran melihat tingkah Minghao. Tanpa basa-basi, Minghao segera membalikkan badannya ke posisi semula.

“H-heh gua gak butuh pulpen lu njing. Jijik gua megang barang lu.”

“Ya ya ya. Buang aja gak masalah. Gua kasih lu satu, punya gua banyak.”

Mingyu berdecak kesal. Menatap belakang kepala Minghao jengkel.

“Gua gak pinjem ya njing. Lu yang ngasih sendiri.”

Minghao menyangga kepalanya malas. “Hm ya ya.”

Mingyu agak ragu-ragu menerima pulpen yang Minghao beri. Karena keadaan sedang tak baik, dan dia dalam keadaan terjepit. Mau tak mau Mingyu memakai pulpen yang ada.

“Cih. Gua pake karna gua lagi kepepet ya njir. Kalo kaga kepepet udah gua buang.”

Minghao menahan tawanya. Dilihat-lihat Mingyu memang seperti bocah.

“Serah, bocil.”

Mingyu melotot marah. “Gua bukan bocil anying.”

Minghao menoleh ke belakang, seakan waktu melambat, ia tertawa pelan. “Bocil.”

Agaknya pemandangan yang baru saja Mingyu lihat, membuatnya tersentak.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Minghao tersenyum kembali.

“Hoi.”

Seungcheol menepuk bahu Jihoon dari belakang, mendudukkan badannya tepat di samping Jihoon.

“Kaget njir.” Mulutnya merespon dengan helaan napas di akhir kata.

“Ngelamun lu?” Dengan cuek, Seungcheol membuka sedotan plastik yang menempel di kemasan susu kotaknya, kepalanya menoleh menatap Jihoon.

“Iya, ngelamunin Tante Ratna.”

Seungcheol mendengus. “Tante Ratna mulu lo. Gak doyan dia sama bocil kek lu.”

Jihoon diam saja. Mulutnya mengapit sebatang rokok yang masih ia hisap dalam-dalam.

“Jadi, lu mau ngomong apaan?”

Seungcheol membuka percakapan. Jarang-jarang keduanya berdiskusi bersama seperti ini.

“Lu inget gak kita pernah deket banget sama Minghao?”

Jihoon menatap Seungcheol lekat. “Kita deket banget kemana-mana bareng. Inget?”

Seungcheol menerawang ke depan. Memang, mereka bertiga pernah dekat dengan Minghao. Layaknya sahabat dan kakak adik.

“Lu inget gak kenapa kita bisa tengkar sama Minghao?”

Helaan napas keluar dari mulut Seungcheol. “Ya.. karna dia suka mingyu?”

“Dan kita ngerasa jijik kan? Sahabat kita sendiri, udah kita anggep kayak adek, ternyata mandang sobat kita sendiri beda.” Jihoon melanjutkan.

“Jujur waktu itu gua takut. Maksudnya gua normal. Gua gak ada pikiran kalo di sekitar gua ada yang begitu.”

Jihoon mematikan rokok yang ada di tangannya, menatap Seungcheol sekilas. “Gua sadar sesuatu setelah kejadian tadi siang. Baru pertama kalinya gua liat Minghao marah-marah apalagi ngelakuin tindakan ekstrim ke Mingyu.”

“Lu tau, Minghao yang dulu beda sama Minghao yang sekarang kita liat, Cheol. Dari cara dia liat Mingyu, liat kita, beda. Dulu, Minghao liat kita sedih, sekarang boro-boro sedih. Liat kita aja dia ogah.” Lanjutnya lagi.

Seungcheol setuju dengan perkataan Jihoon. Minghao berbeda.

“Gua ngerasa tindakan gua selama ini ke dia salah. Awalnya bercanda, tapi candaan gua udah bukan bercanda lagi. Apalagi Minghao agak lembut dari laki-laki pada umumnya. Gak heran dia pernah koma gara-gara kita.”

Seungcheol tersentak. “Gara-gara kita?”

Jihoon terdiam. Sedikit menyiapkan mental untuk bercerita ke kawannya ini.

“Waktu liburan, dia pernah koma Cheol.”

Suara Jihoon agak serak. Ada rasa bersalah terselimuti di dalam kata-katanya.

“Dia pernah koma, gara-gara overdosis.”

Seungcheol menoleh cepat. Menatap Jihoon melotot. “Lu gak usah bercanda njing.”

Jihoon menatapnya datar. “Apa gua keliatan bercanda?”

Seungcheol menggigit bibirnya kuat-kuat. “Lu tau darimana? Ibu lu?”

Dia tak heran jika Jihoon tahu hal ini dari ibunya. Pasalnya, keluarga Jihoon turun temurun mengambil bidang kedokteran sebagai profesi mereka. Ayah dan ibu Jihoon salah satunya.

“Iya nyokap gua. Sebenernya rahasia pasien gak boleh di bocorin apalagi ke luar tanpa izin pasien dan orang tua pasien. Tapi, ibu gua nanyain apa gua kenal Minghao karna kita di sekolah yang sama.”

Seungcheol berdecak khawatir. “Terus? Dia masuk RS?”

“Enggak. Dia dirawat di rumah. Ibu gua dipanggil ke rumahnya. Udah gua bilang di chat kan, Minghao bukan orang biasa. Kayaknya nyokap bokapnya berduit.”

Seungcheol menggeleng tak percaya dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.

“Tapi kok dia gak ada pergerakan apa-apa selama dia di bully??”

Jihoon menggeleng pelan. “Gua gak tau. Kalo sampe dia bertindak kayaknya kita bertiga udah gak lolos dari lama, Cheol.”

Keduanya terdiam.

“Apa dia stress, tertekan karna kita ya? Maksudnya, ditambah perlakuan mingyu yang agak kasar ke dia, ditambah kita ikutan nambahin. Dia jadi overdosis?”

Jihoon menggeleng pelan. “Kita cuman bisa asumsi doang Cheol. Tapi siapa yang kuat sih, udah di bully, di hina-hina orientasi seks nya, gak ada temen yang nemenin, siapa yang kuat Cheol.”

Keduanya sadar sesuatu. “Yang lu bilang bener juga..”

“Ada kemungkinan setelah dia bangun koma, dia mau berubah dan gak mau di injak-injak orang lain lagi. Yang Minghao bilang tuh bener Cheol. Apa susahnya hargain kehidupan orang. Dia juga gak pernah aneh-aneh ke kita. Semua manusia emang beda, kalau gak bisa menghargai ya terus menerus siklus kehidupan gini terus. Dan kita yang bangsat ini, berlindung dibalik kata candaan. Mau orientasi dia bener atau salah, yang bisa nilai dia kan cuman Tuhan. Kita gak ada hak buat cap dia buruk.”

Rasa sesal memang selalu datang terlambat. Seorang pengecut bersembunyi di balik kata candaan. Tak ada yang lucu sama sekali dari candaan ketiganya.

“Dibilang nyesel gua nyesel, Cheol. Bukan nyesel lagi. Gua gak tau harus nebus apa perlakuan gua ke Minghao sampe Minghao hampir gak ada gara-gara gua. Kalau ibu gua tau, mungkin dia bakal liat gua kecewa. Apalagi gua diharapin jadi dokter kayak nyokap bokap. Dokter macem apa yang pernah bully orang, dan hampir bikin anak orang tewas karna kelakuannya.”

Jihoon bangkit dari duduknya, menatap Seungcheol dari atas.

“Sebelum gua lebih nyesel lagi, gua pengen berhenti Cheol. Gak langsung berhenti, gua takutnya Minghao kena sasaran Mingyu karna kelakuan gua yang berubah tiba-tiba.”

Jihoon menatap ke depan. “Gua mau nyoba gak ikut campur, dan ngebantuin Minghao dari jauh.”

Keduanya bertatapan. “Kalo lu gua gak tau ya Cheol. Keputusan tentang tindakan lu silahkan lu pikir sendiri, gua cukup mikirin masa depan gua.”

“Gua gak mau masa depan gua gak berjalan mulus karna rasa nyesel dan tindakan gua yang lebih liar dari binatang.” Lanjutnya lagi.

“Lagi pula gua harus siapin masa depan yang cerah, buat nikahin Tante Ratna.”

Seungcheol tertawa pelan. Kepalanya ia gelengkan tak percaya. “Hadeuh, Tante Ratna mulu lu anjir. Kek anaknya ngerestuin lu aja. Mana mau anaknya punya bapak seumuran dia.”

Jihoon melirik sinis. “Bacot. Ntar gua ambil hati anaknya dulu. Baru Tante Ratna.”

Seungcheol ikut bangkit dari duduknya. “Ya terserah lu deh. Dipikir-pikir gak dewasa banget nakalnya gua bully orang. Apalagi gua hampir bikin anak orang hilang nyawa.” Diakhir kalimatnya, ada rasa menyesal yang sangat kentara.

“Seenggaknya kita ada sedikit sadar, Cheol. Mau berubah dikit, dan stop buat begitu ke anak-anak lain. Kalo Mingyu gak usah ditanya. Gua harap dia bisa secepet nya sadar. Kelakuan dia bisa ngerusak mental orang.”

Seungcheol menatap sepatu yang ia kenakan. “Cara kita minta maaf ke Minghao tanpa ketahuan Mingyu dan gak berubah sikap tiba-tiba gimana ya, ji?”

Jihoon juga mempertanyakan hal yang sama. “Kita jalanin plan A aja dulu.”

Seungcheol menatap tertarik. “Apa tuh?”

“Kita gak usah berubah baik dulu. Ntar curiga juga Minghaonya. Kayak biasanya aja, tapi kalau ada yg macem-macem ke dia kita bantuin. Keknya buku-buku dia kaga ada kan? Basah karna Mingyu, kita kasih aja ke dia, alesan apa gitu. Dia norak kek, goblok kek, tapi kita bantuin. Gimana?”

Seungcheol mengangguk paham. “Iya gitu aja. Gak usah tiba-tiba baik. Gua jadi Minghao juga ogah maafin orang yg ngebully gua.”

Keduanya tersenyum miris. “Udah akibatnya Cheol. Kelakuan kita emang gak termaafkan.”

“Udah, jangan terlalu dipikir, ji. Pelan-pelan aja. Kita berubah dikit, pasti dikasih kelancaran.”

“Gua harap juga gitu.”

Minghao tersenyum menang, setelah puas memberi pelajaran ketiga bocah preman bau kencur. Tawa pelannya ikut mengiringi sepanjang perjalanannya menuju atap sekolah.

Untuk kali ini di hari pertama ia masuk sekolah, ia akan membolos seharian. Lagipula ia percaya diri dengan keadaan kapasitas otaknya yang luar biasa pintar.

Kepalanya ia gelengkan pelan jika mengingat tingkah-tingkah bocah kelasnya tadi. Memang ya tidak semua orang memiliki pemikiran seperti Minghao.

Dulu, saat dia masih menjadi Myeongho dia tak pernah mengusik ataupun mengganggu orang-orang yang memiliki orientasi seks yang berbeda darinya.

Minghao pernah nakal. Tapi nakalnya berbeda dengan bocah-bocah di sekolahnya saat ini. Ia tak pernah menindas ataupun memandang sebelah mata orang-orang yang berbeda darinya.

Minghao rasa semua orang memiliki pemikiran, pandangan dan kebahagiaan masing-masing. Begitupun juga dengan orientasi seksual seseorang. Memang di negaranya saat ini tabu dengan semua itu. Namun apa susahnya menghargai kehidupan satu sama lain?

Minghao lurus sejak dulu. Bahkan dia punya beberapa mantan yang memiliki pesonanya masing-masing. Minghao juga punya teman-teman yang memiliki orientasi seksual yang berbeda darinya, namun dia tak pernah menghina ataupun memandang aneh mereka seolah-olah kotoran yang harus di basmi.

Semua punya jalan cerita masing-masing. Mau itu benar atau salah, hanya Tuhan yang bisa mengadili. Hidup diri sendiri saja belum benar, apalagi mengurusi hidup orang lain.

Helaan napas keluar dari mulutnya. Kedua netranya menatap langit cerah yang terbentang di atas kepalanya.

“Harusnya lu ketemu gua, Hao. Biar gua bisa lindungin lu.”

Minghao menundukkan pantatnya, sambil merogoh ponsel yang ada di sakunya.

“Ini tempat enak juga buat kabur bolos.”

Pandangannya menyapu keadaan bersih atap sekolahnya. Sayang sekali, Minghao tak membawa cemilan apapun.

“Kok gak ada memori-memori baru ya? Gua clueless kok bisa Minghao suka orang macem setan.”

Memorinya datang tidak sekaligus. Sedikit demi sedikit kembali di waktu tak tentu. Seperti waktu dia pertama kali sadar, Minghao hanya mengingat nama, umur, apa kegiatannya saat ini, dan ketakutan terbesar nya.

Belum muncul ingatan tentang keluarganya, maupun alasan mengapa dan kenapa Minghao bisa menjadi bahan pembullyan di sekolahnya.

“Kenapa dia gak laporan ke orang tuanya? Ortunya kaya raya padahal.”

Minghao mengusap dagunya. “Apa gak ada petunjuk sama sekali?”

Tangannya masih mengotak-atik ponsel yang ada di genggamannya. Gerakan jarinya terhenti kala menangkap suatu aplikasi menarik.

“Diary?”

Minghao berdecak kagum. “Jaman sekarang ada diary digital ya.”

Tanpa basa-basi, Minghao segera membuka diary yang ada di ponselnya.

Berbagai jenis halaman mulai tertampil.

“Shit man...”

Tak bisa di hindari, kedua netranya terbelalak tak percaya.

“Gua suka cara lu, Minghao.”

Berbagai jenis halaman diary berjejer rapih dari atas hingga bawah. Cukup banyak untuk dibaca seharian.

Minghao tersenyum lebar. “Gimana kalau kita mulai?”


26 Juni, 2016

Em.. pertama kalinya pakai aplikasi ginian. Gak ribet lagi pakai buku.

Semoga aku sering nulis disini :D


05 Juli, 2016

Hai, ketemu lagi hehe. Aku baru masuk sekolah baru. Mereka seru-seru. Baik jugaa. Aku seneng disini. Semoga papa gak pindah-pindah kerja lagi :(


Minghao mengernyitkan dahinya. “Apa bapaknya suka pindah kerja ya?”

Matanya menatap arah atas, seperti sedang berpikir.

“Iya juga sih, udah berbulan-bulan gua hidup tapi gak pernah ketemu orang tuanya.”

Minghao menghela napasnya pelan. “Oke lanjut lagi.”


07 Juli, 2016

Seneng banget punya temen banyak. Akhirnya aku gak kesepian lagi :D

Seru ya ternyata belajar bareng, makan bareng, jalan bareng. Aku bakal lindungin hal-hal ini biar gak ilang!


10 Juli, 2016

Aku punya sahabat sendiri :')

Seneng banget punya sahabat.. oh my God. Aku punya 3 sahabat. Mereka bilang karna aku lucu dan kayak adek mereka sendiri :((

Udah lama aku gak disayang kayak gini sama orang lain

Aku bersyukur kenal jiji, kenal cheol, kenal mingyu. Mereka baik bangett

Tuhan, jangan ambil kebahagiaan aku yaa.


12 Juli, 2016

Kesel banget. Banyak yang kasih tau aku kalo tiga sahabatku cuman manfaatin aku

Gak. Mereka gak gitu. Mereka baik

Walaupun mereka manfaatin aku buat tugas, atau ujian-ujian aku gak masalah. Itu balesan ku buat kebaikan mereka

Mereka bertiga baikk


15 Juli, 2016

Seneng banget berenang bareng sama jiji, gyu, cheol AAAAAA

Walaupun aku di olokin badan kerempeng bocil :((

Untung mingyu marahin jiji sama Cheol buat gak ganggu aku ehehehe


10 Agustus, 2016

Aku mulai liat kejelekan mereka bertiga. Walaupun gitu mereka tetep sahabatku

Mereka kadang suka jahilin orang-orang, atau kadang malakin orang-orang. Suka bolos atau ngehina orang lain

Aku gak mau mereka gini terus. Apalagi mingyu. Yang paling parah diantara semuanya memang mingyu. Mentang-mentang anak kepala sekolah bisa gitu

Aku tau mingyu dasarnya orang baik. Kelihatan jelas dari kedua matanya. Mata gelap yang buat aku meleleh terus kalau liat langsung

Gak gak. Aku gak mau ngerusak pertemanan ku sama mereka. Apalagi mingyu. Aku harus hilangin ini


25 Agustus, 2016

Kelakuan mereka makin parah

Aku gak tega ngeliat temen-temen kelasku dijahatin mereka. Tapi aku bisa apa?

Beberapa anak kelas ngeliatin aku marah. Kenapa aku diem aja. Aku harus apa?

Aku temen mereka tapi aku bisa apa?


26 Agustus, 2016

Aku mulai ngerasa aneh

Anak kelas mulai ngebully aku kalau aku gak bareng jiji, Cheol, Gyu

Salahku apa? Kenapa aku yang diginiin?

Aku gak ngapa-ngapain..


10 September, 2016

Aku tengkar hebat sama mereka bertiga

Aku mulai negur mereka dan ngasih tau kalau mereka salah

Di depan semua anak kelas, aku mau mereka tau kalau aku udah ngelakuin usaha yang terbaik yg aku bisa

Aku pengen nolong mereka. Asal semuanya hidup tenang, dan bahagia, aku gak papa

Iya gak papa. Aku kuat

Walaupun ujungnya perasaan aku kebongkar

Iya.. gak masalah...

Aku kuat. Walaupun aku yang jadi korban. Gak masalah

Aku bakal baik-baik aja kan?


15 September 2016

Aku gak kuat

Kenapa? Kenapa semuanya gak nolongin aku? Kenapa semuanya pura-pura gak liat aku?

Aku nolong kalian. Aku bahkan rela tengkar sama mereka bertiga. Tapi kenapa sekelas gak ada yg bantuin aku?

Kenapa kalian ikutan bully aku juga?

Kenapa?? Kenapa?!

Tuhan, kenapa jadi gini?

Aku salah apa? Aku bantuin mereka. Tapi kenapa jadi gini?

Aku kira mereka bertiga sahabatku..

Ternyata mereka bisa perlakuin aku lebih buruk dari sampah..

Apa aku salah suka sama mingyu? Aku bahkan gak ada niatan apapun yang lebih jauh..

Aku capek


20 November, 2016

Kehidupan sekolahku hancur

Kebahagiaan yang aku suka, udah hilang

Sekolah lebih buruk dari neraka

Apa hal kayak gini bakal terjadi sampai aku gede nanti?

Aku takut. Apa bisa aku berdiri sendiri tanpa satupun orang yg nolongin aku?

Aku nyesel. Nyesel nolongin semua orang. Aku nyesel berteman sama mereka bertiga.

Aku nyesel.

Aku nyesel kenapa aku harus suka sama mingyu


25 Desember, 2016

Aku hebat. Udah akhir tahun, dan bentar lagi libur panjang

Dikit lagi aku kuat

Aku bisa bertahan 2 tahun lagi

Tinggal sedikit lagi setelah itu aku bisa lepas dari semuanya.

Ayo Minghao, semangat!!


30 Desember, 2016

Hari terburuk

Untuk hari ini mereka bertiga keterlaluan

Rasanya sakit. Sakit kalo diinget

Mereka mulai nyentuh aku. Mereka bisa ketawa sambil ngelakuin hal keji kayak gitu

Kenapa bisa manusia kayak mereka masih hidup?

Aku takut. Aku takut sama mereka. Harusnya aku gak suka sama laki-laki

Harusnya aku gak gini

Harusnya aku normal. Kalau aku normal aku gak diginiin

Tuhan, tolong buat aku normal kayak orang lain...


1 Januari, 2016

Aku pengen tidur. Tidur panjang

Aku gak mau bangun lagi

Gak ada yang peduli sama aku

Aku udah siapin obat tidur. Mungkin kalau aku habisin aku bisa bahagia

Makasih Tuhan, udah kasih aku kesempatan hidup

Aku sayang Tuhan. Aku pengen ketemu Tuhan.


Minghao menatap layar ponselnya hampa. Air mata jatuh diatas layar berkali-kali. Tangannya mengepal, meremas seragam celananya.

“BANGSAT.”

Sesak. Dadanya sesak. Air matanya tak ingin berhenti.

NGIING

Minghao mencengkeram rambutnya kuat-kuat. Memori baru mulai berdatangan. Membuat kepalanya pening dengan informasi yang datang.

“AGHH.”

Sakit. Kepalanya berdenyut nyeri. Mengingat ingatan aslinya yang berputar terus menerus.

Perasaannya campur aduk. Sesak, sedih, marah, kecewa. Ia mengingat semuanya. Minghao ingat bagaimana perlakuan mereka.

Berulang kali lengannya menggosok matanya yang berair.

“Bajingan lu semua.”

Bibirnya ia gigit kuat-kuat. Rasa marah dan kesalnya membuncah naik.

Minghao meletakkan ponselnya. Matanya menatap lurus ke depan. Niat dan ambisinya mulai terkumpul.

“Gua abisin lu semua. Bakal gua buat lu semua mohon-mohon sujud di bawah kaki gua.”

Niatnya tak akan goyah. Tak ada yang bisa mengubah dan melunturkan ambisinya.

“Bakal gua buat lu bertiga tersiksa.”

Tangannya ia remas kuat-kuat. “Terutama lu, Kim Mingyu.”

Agak aneh bagi Minghao bersekolah lagi untuk kedua kalinya. Sepanjang lorong, sejak ia menginjakkan kaki di sekolahnya, berbagai pasang mata menatapnya lekat dari atas hingga bawah.

Minghao yang dasarnya sudah terbiasa menjadi tontonan orang, tak terlihat risih dengan pandangan aneh para penghuni sekolah.

Mendadak Minghao merasa dirinya selebritis. Ingatan tubuh asli Minghao masih ada namun samar-samar. Ia belum bisa mengingat dengan jelas. Yang ia tahu bahwa Minghao yang dulu memang menjadi sasaran utama para berandalan sekolah.

Mengabaikan segalanya, Minghao dengan acuh masuk ke dalam kelas yang anehnya ia merasa familiar.

Bangku meja yang ia duduki berbeda dengan yang lain. Disaat yang lain putih bersih tak ada noda, hanya milik Minghao lah yang bernoda.

Ya, bernoda. Penuh kata-kata tak senonoh yang hebatnya diucapkan bocah SMA bau kencur.

HOMO Banci Homo Sampah Masyarakat Jauh-jauh lu homo PENYUKA K-NTOL

Minghao terkekeh geli menatap tulisan-tulisan berjejer penuh, memenuhi mejanya.

“Baru juga gua masuk, ada yang ngajak ribut.”

Meja miliknya yang penuh dengan coretan celaan, ia tukar dengan bangku yang ada di belakangnya.

Minghao tak tahu meja siapa pula itu. Yang jelas, mereka semua salah berhadapan dengannya sekarang.

“Heh banci, punya adab lu nuker-nuker meja gua?”

Minghao menoleh. Menatap tiga orang bocah SMA yang bisa dibilang menurut Minghao memang tampan.

“Meja lu?” Minghao bertanya balik.

“Lu tolol apa pura-pura gak tau? Sejak kelar liburan lu makin aneh ya, banci.”

Ketiganya tertawa keras. Minghao menatap mereka aneh.

“Lucu?”

Ketiganya mendadak diam.

“Balikin meja gua.” Lawan bicara Minghao berusaha membalikkan topik kembali.

Minghao meletakkan tas ranselnya di atas meja, sambil menyisir rambut hitam legamnya ke arah belakang.

“Emang lu siapa? Bisa buat lu nyuruh-nyuruh gua?”

Tawa remeh mulai keluar bercampur kesal.

“Lu di diemin ngelunjak ya, banci.”

Minghao menendang kaki meja yang ada di sampingnya.

“Bangsat. Banci banci mulu. Nama gua Minghao goblok, bukan banci.”

Seluruh penghuni kelas tersentak. Suasana sunyi membuat keadaan semakin mencekam.

“Heh..”

Ketiganya terlihat heran dan terdiam.

“Kesambet apaan lu?”

Salah satu dari ketiganya yang sejak tadi adu mulut dengan Minghao, maju selangkah mendekati dirinya.

“Oh, lu main jual mahal sekarang? Gak lembek kek dulu? Sorry, gua gak bakalan kasih k*ntol gua ke lu.”

Mendidih. Minghao kehilangan akal.

Sialan, pikirnya.

TAK

Tangannya merampas silet kecil yang ada di dalam kotak pensil terbuka di meja sebelah kiri Minghao.

SEET

WUSH

Tangannya menggenggam silet dan bergerak menghempaskan ke arah leher sebelah kiri orang yang ada di hadapan Minghao, menyisakan jarak kurang lebih 5 cm dari kulit lehernya.

“Jaga mulut lu ya njing. Lu punya orang tua? Ucapan lu kayak gak di didik orang tua lu. Oh, atau lu emang gak di didik?”

Silet yang Minghao genggam, ia lemparkan ke atas lantai.

“Dan tentang ucapan lu, tenang aja, walaupun gua homo gua nyesel pernah suka lu. Kok bisa gua suka orang kelakuan lebih dari binatang macem lu.”

Minghao menatap semua wajah yang ada di kelasnya saat ini.

“Lu semua kan masih bocah ya. Masih minta duit dari bapak lu semua. Gak usah ngatain gua homo lah, banci lah, penyuka kont*l lah. Emang orientasi seks gua ganggu lu semua? Emang gua pernah grepek-grepek lu? Emang gua pernah ngangkang minta di ewe? Kaga kan? Gua juga kaga bakal ngajak-ngajak lu semua belok.”

Minghao mengacak rambutnya frustasi.

“Bisa kaga hargain kehidupan masing-masing? Keknya kaga bisa sih, lu semua kan tolol.”

Kekehan ringan keluar dari mulut Minghao.

“Gua bakal malu sih kalo orang-orang yang ngatain gua homo, suatu saat jadi homo beneran.”

Minghao menatap orang yang berdiri di depannya.

“Sorry ya, gua udah gak suka sama lu. Anyway, gua masih suka cewe. Naksir sama lu petaka bagi gua sih.”

Tangan Minghao menepuk-nepuk bahu lebar lawan bicaranya, sambil melirik nama panjang yang tertera di dada nametag.

“Ya? Kim Mingyu.”

Minghao menatap lekat bayangan dirinya, yang ada di depan cermin. Melihat inci demi inci perubahan badannya yang terlihat sangat berbeda.

Lengannya terlihat berisi, badannya terlihat lebih tinggi dari sebelumnya, wajahnya terlihat lebih tegas, dan mulai timbul otot-otot kencang di seluruh lengan, dada, bahu, dan kaki jenjangnya.

Minghao tersenyum puas. Tak sia-sia dia bangun di subuh hari, lari jarak jauh setiap pagi dan sore hari, melakukan push up, sit up, pul up entah sudah berapa ribu kali, jadwal boxing dan karatenya yang ia lakukan setiap hari, hampir 2 bulan makan makanan bergizi. Usahanya tak mengkhianati hasil.

Minghao terkekeh geli melihat penampilan nya saat ini. Memakai seragam SMA, siapa sangka dirinya akan masuk ke bangku SMA lagi.

Tanpa buang-buang waktu, Minghao segera menyambar tas ransel sekolahnya dan segera turun ke bawah.

Myeongho- ah ralat Minghao, berdiri menatap cermin besarnya. Karna dirinya saat ini adalah Minghao, maka ia harus melanjutkan hidup dengan tenang, tentram, dan aman. Karna hidupnya saat ini dipertaruhkan, ia tak ingin mati sia-sia.

Saat ini ia berumur 16 tahun. Dengan jiwa tua berumur 25 tahun, maka Minghao memiliki pengalaman hidup lebih banyak. Bocah tengil melawannya? Yang benar saja.

Sekarang sedang libur panjang musim dingin. Masih ada cukup waktu untuk Minghao mengasah fisik, mengatur pola makannya, mengasah kemampuan beladirinya dan membentuk sedikit otot-otot badannya.

Butuh perjuangan untuk menguatkan tubuh kecil nan kurusnya sekarang.

Ia harus segera bertemu koki rumahnya untuk mengatur menu makanan sehatnya, dan membeli alat-alat fisik untuk Minghao gunakan berlatih. Tak lupa ia juga harus membeli susu, vitamin dan suplemen tubuh.

Minghao menghela napasnya berat. Sepertinya perjuangan kali ini sungguh berat.

Sekarang dia bukan lagi Seo Myeongho, melainkan Xu Minghao.

Entah sudah berapa kali Myeongho menghela napas hari ini. Kepalanya berdenyut nyeri, memproses segalanya. Dalam sekejap dia berpindah ke tubuh orang lain, dan mungkin hidupnya yang monoton dan terkesan datar dulu, akan berubah 180 derajat.

Myeongho telah menyusun dan menulis beberapa list yang sudah ia tangkap selama setengah jam ini.

Pertama, tubuh cungkringnya saat ini bukanlah miliknya. Sesuai dengan ingatan yang ada di dalam tubuhnya sekarang, pemilik asli badan ini adalah Xu Minghao. Bocah SMA yang hampir naik ke bangku kelas 2, yang hidupnya terbilang mewah dan special.

Kedua, dia kembali ke masa lalu. Menurut Myeongho, terakhir kali ia hidup ia masih di tahun 2021. Namun, saat ini ia berdiri di tahun 2017. Agak tak masuk akal, Myeongho hampir mengira dirinya sudah hampir gila.

Ketiga, sesuai dengan ingatannya, bocah asli Xu Minghao ini buronan para perundung. Terlihat jelas dari sosoknya yang mungil, kecil dan kurus, Minghao asli memang santapan lezat para pengecut.

Keempat, kalau berdasarkan teorinya, jika Myeongho saat ini di tubuh Xu Minghao, otomatis tubuh aslinya memiliki jiwa Xu Minghao.

Kelima, hal yang paling membuatnya hampir sekarat. Dia berada di tubuh bocah SMA berumur 16 tahun, dengan jiwa tua berumur 25 tahun.

“Yang bener aja njing...”

Myeongho mengerang kesal. “Apasih ini gua yang gila apa gimana?”

Dilihatnya kertas kosong berisikan list-list yang ia simpulkan seorang diri.

“Gak mungkinkan ini kejadian? Kok kayak novel novel fiksi..”

Myeongho masih clueless.

Ponsel yang tergeletak di atas kasur ia ambil secepat mungkin. Segera menelpon nomor ponselnya saat ini. Ingin memastikan bahwa jiwa Xu Minghao ada di tubuhnya sekarang.

“Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi..”

Myeongho mengernyit heran. Sekali lagi ia coba.

“Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi..”

Myeongho mencoba berulang kali. Hasilnya tetap sama.

Aneh. Padahal nomornya tak pernah ia ganti sejak dulu. Harusnya masih ada jika tubuh aslinya masih hidup saat ini.

Myeongho segera mencari laman Facebook untuk mencari akunnya yang ia buat dulu

Seo Myeongho

Hasil pencarian tidak ada

Myeongho menatap heran. “Gua perasaan punya Facebook..”

Lagi, ia mencari akun Twitter dan Instagram nya. Hasilnya nihil. Tidak ada keberadaan Seo Myeongho.

“Apasih.. ini apa-apaan.”

Myeongho meremas rambutnya kuat-kuat.

Ia berusaha mencari di akun kampusnya. Tetap tak ada list nama Myeongho di website yang ia masuki dengan nomor mahasiswa nya dulu.

Aneh. Sangat aneh.

Jujur ia takut. Siapa yang tidak takut, jika hanya dirinyalah yang tahu apa yang terjadi.

“Bentar bentar. Gua harus tenang.”

Myeongho menenangkan dirinya. Berusaha tenang dan berkepala dingin.

“Oke, keknya teori keempat gak sesuai. Jadi, tubuh asli gua gak ada. Eksistensi gua gak ada?”

Myeongho mulai menuliskan apa yang ia tangkap.

“Berarti eksistensi jiwa asli Minghao juga udah gak ada?”

Pulpen yang ia genggam ia ketuk-ketukkan di kepalanya.

“Kalau tubuh gua gak ada, eksistensi gua gak ada, berarti ingatan orang-orang tentang gua juga gak ada?”

Myeongho menghela napasnya lagi.

“Ya kali gua harus ke Jakarta buat ngecek. Tapi akun-akun gua gak ada. Nama gua pun gak ada di website kampus, padahal gua masih kuliah seharusnya.”

Myeongho mulai menatap lekat kertas yang ia tulis.

“Jadi.. jiwa Xu Minghao asli gak ada, badan Seo Myeongho asli juga gak ada, apa sekarang gua jadi Xu Minghao?”

Kakinya menendang-nendang selimut sampai jatuh berantakan. Frustasi dengan keadaannya.

“AGHH BANGSAT.”

Myeongho membanting tubuhnya terlentang di atas kasur. Matanya menatap kosong plafon langit-langit kamarnya.

“Berarti sekarang bukan Myeongho lagi, tapi Minghao huh?”

Lengannya ia letakkan di atas keningnya, mulai memantapkan niat. Kalau sekarang dirinya Minghao, berarti sudah tak ada lagi Minghao yang dulu.

“Gua pastiin hidup lu yang sekarang tenang, Minghao. Gak ada lagi yang bully lu. Gak ada lagi yang lecehin lu. Gak ada lagi yang mandang lu rendah.”

Myeongho mengeratkan kepalan tangannya.

“Sekarang gua Xu Minghao. Akan gua bales bocah-bocah tengil yang berani lawan gua.”

“AGHHHHHHHH “

Myeongho terbangun tiba-tiba. Napasnya tersengal seperti dikejar hantu. Keringat basah membasahi dahi dan tubuhnya. Ia segera memeriksa badannya dari atas hingga bawah.

“Hidup? Gua hidup?”

Jemari-jemarinya memastikan inci demi inci seluruh organ tubuh Myeongho masih utuh seperti sedia kala.

Matanya masih terbelalak. Tangannya merasakan detak jantungnya berdebar begitu cepat, siap keluar kapan saja.

“Apa mimpi?”

Otaknya masih memproses segalanya. Rasanya begitu nyata.

Myeongho menengok kanan kiri seperti sadar akan sesuatu.

“Gua dimana?”

Netranya menelusuri setiap sudut ruangan luas yang terkesan mewah, yang Myeongho asumsikan sebagai kamar.

“Sejak kapan gua kaya raya?”

Tangannya meremas selimut yang ia pakai. Otak andalan Myeongho berpikir keras dengan bola mata yang bergerak liar kesana kemari.

“Sialan.”

Kematiannya masih ia ingat betul. Pertikaian sengit antara dirinya dan beberapa kumpulan preman yang menyerang Myeongho.

Myeongho agak menyesali aksi heroiknya yang sok ingin menolong orang.

Masih sangat jelas ingatannya melekat. Wajah pasrah dengan senyum menyebalkan, serta mata bening yang begitu cerah.


2021, hujan deras sedang mengguyur kotanya. Myeongho laki-laki berumur 25 tahun yang sialnya baru saja dipecat, menghisap sebatang rokok dengan tangan yang lain menenteng plastik belanjaan yang baru saja ia beli. Agak nekat, kakinya bergerak cepat karna derasnya rintik hujan.

Pikirannya saat ini hanya kasur empuk serta Emo si kucing kesayangan Myeongho yang sedang menunggunya.

Dari jauh terdengar suara erangan dan tawaan angkuh yang Myeongho sangat paham. Jauh di dalam dirinya, berusaha menahan aksi sok heroiknya agar tak ikut campur masalah orang lain. Cukup sudah kesialan Myeongho dari kebaikan berujung kesialan. Ingin bersikap acuh, Myeongho melewati gang sempit dengan langkah kaki yang ia percepat.

Lengkingan isak tangis membuat nya terhenti.

Tak bisa. Ia tak bisa.

Myeongho berbalik menatap sekumpulan lelaki besar yang sedang menghajar lelaki kurus di atas tanah becek bercampur tanah.

“Hei. Stop.”

Kelimanya menengok. Menatap Myeongho sinis.

“Lu siapa? Gak usah ikut campur.”

Myeongho terkekeh geli. “Mending gua saranin lu semua potong kontol lu pada dah. Gak malu lu berlima lawan satu orang doang?”

Kelima preman dihadapan Myeongho saling tatap. Suara tawa kelimanya menggelegar.

“Oh. Lu pacar homonya ya? Pantes sih. Sampah sama sampah.”

Lagi-lagi tak ada rasa takut. Dengan santainya bibir ranum milik Myeongho menghisap rokok yang masih mengapit di bibirnya. Jemarinya mengarahkan putung rokok ke hadapan mereka.

“Sampah ngomong sampah.”

Kelima preman yang ada di hadapan Myeongho mendidih.

“BANGSAT.”

Satu persatu semuanya menerjang Myeongho.

Dengan lihai dan ahli ia menghindar dan membalas lima orang yang ia lawan.

Bersyukur ia pernah menjadi mantan brandalan dan teknik karate yang pernah ia pelajari, berguna saat ini.

Di bawah rintik hujan, dengan tenaga yang ia keluarkan untuk melawan dan menepis kelima orang yang berbadan gempal, Myeongho akui cukup membuat napasnya memberat.

Matanya sesekali melirik lelaki ringkih yang tergeletak tak berdaya diatas tanah.

“Ck. Merepotkan.”

Tangannya dengan cepat memukul dan menepis segala serangan yang Myeongho terima. Kedua kakinya menendang dan mendorong badan lawan dengan cepat.

Mata bening dan cerah yang terlihat redup menatap Myeongho dari kejauhan.

Fokusnya terbagi. Ia segera berbalik saat merasakan hawa ancaman yang begitu kuat.

Benar saja, hampir Myeongho di tusuk sebilah pisau begitu saja.

Sibuk menangkis dan melawan, ia tak waspada dengan bagian punggungnya yang lain.

“AWAAAAS”

Teriakan asing menerpa gendang telinganya. Myeongho berbalik.

DOOORR

Terlambat. Myeongho tersentak menatap lelaki asing yang ia tolong melindunginya dari serangan tiba-tiba.

“HEEEI!”

Myeongho panik. Tangannya menangkap tubuh ringkih yang terluka tertembus peluru tajam.

Matanya melotot menatap salah satu preman yang ia lawan menggenggam senjata api ilegal.

“BRENGSEK.”

JLEB

Belum sempat ia bernapas, Myeongho lagi-lagi tersentak. Matanya terbelalak menatap arah punggungnya patah-patah.

Ia tak waspada. Punggungnya tertusuk pisau menembus dadanya.

Sakit. Benar-benar sakit. Napasnya tersengal-sengal bercampur menggigil. Rasa perih dan sakit yang menusuk bercampur derasnya air hujan berhasil melumpuhkan Myeongho.

Tubuh kurus yang ia tangkap terjatuh di atas pangkuan nya. Menatap wajah Myeongho dengan senyum tipis di bibirnya.

Tangan Myeongho gemetaran.

“H-hei.. lu jangan mati.”

Lelaki asing yang ada dipangkuannya terkekeh pelan.

“Makasih. Makasih udah nolongin aku, padahal kita gak saling kenal.”

Myeongho terdiam.

“Apa kamu menyesal?”

Netra keduanya saling menatap. Seolah tahu kapan ajal keduanya datang.

“Agak nyesel dikit. Gua belum nikah.”

Lagi-lagi lelaki kurus yang ada di bawahnya tertawa.

“Aku nyesel. Nyesel aku gak cukup kuat. Nyesel aku lemah. Nyesel aku gak waras kayak orang-orang.”

Myeongho agak bingung. Seperti mendengarkan orang curhat sebelum ajal menjemput.

Senyum tipis yang diarahkan ke arah Myeongho tak memudar.

“Aku harap aku bisa nolong kamu dan hidup lebih lama dari sekarang. Maaf kayaknya harapanku gak bisa terkabul.”

Netranya melirik darah yang mulai menembus baju yang ia kenakan.

“Yeah.. its a shame gua habis ini juga mati.” Myeongho sedikit menyayangkan ucapannya.

Keduanya terdiam cukup lama. Terasa sunyi dan tak terdengar apa-apa.

“Kalau diberi kesempatan buat mutar waktu apa kamu mau kembali hidup?”

Pertanyaan aneh dari orang yang sedang sekarat cukup membuat Myeongho pening.

“Ya jelas maulah.”

Lagi-lagi wajah asing yang mulai pucat pasi tersenyum menatap Myeongho.

“Walaupun menjadi orang lain?”

Myeongho terdiam.

“Ya gak masalah. Hidup gua flat, guanya gak banyak duit. Kalo gua hidup bergelimang harta kayaknya seru.”

Tangan kurus penuh darah meraih wajah Myeongho. Mengusap pipi basahnya dengan lembut.

“I hope your wish come true.”


Myeongho menghela napas dengan tangan yang sibuk memijat pelipis.

“Yakali doa itu anak ke kabul.”

Myeongho bangkit dari kasurnya, menyusuri kamar minimalis yang terkesan hampa bagi Myeongho.

Sepertinya ucapan yang baru saja ia ucapkan harus ia telan mentah-mentah.

“Fuck. Gua beneran jadi tuh anak.”

Matanya melotot tak percaya menatap tubuh kurus nan mungil di depan cermin. Jemarinya mengusap wajah familiar yang terlihat lebih muda dari terakhir kali ia lihat.

“Kok kayak bocah?”

Myeongho segera mencari informasi yang ada. Tangannya meraih ponsel canggih yang ada di atas nakas meja. Melihat tanggal hari ini.

“ANJINGG??”

Myeongho ingin berteriak saat ini. Otaknya tak siap menangkap segala kehebohan hari ini.

“2017???”

NGIINGG

Myeongho terjatuh tiba-tiba. Tangannya meremas kuat kepalanya. Suara dengungan dan mengalir nya memori-memori asing membuat Myeongho sakit kepala.

“A-aghh...”

Terputar nya ingatan pemilik asli secara mendadak, membuat Myeongho sedikit tersengal. Rasa emosi, kesedihan, kegelisahan, ketakutan, dapat Myeongho rasakan saat ini.

“Shit.”

Matanya menatap ke depan. Napasnya masih memburu. Tapi satu yang ia yakini, saat ini dirinya menjadi orang lain.

Matanya sedikit berair. Agak tak tega dengan kehidupan mengenaskan sosok yang pernah ia tolong.

“Hidup lu drama banget...”

”.... Minghao.”

–, Kondom

Bisa dibilang Mingyu seleranya agak aneh. Gimana bisa dia suka pelanggannya sendiri yang selalu beli kondom tiap malam Minggu sekali.

Ini bermula sejak sebulan yang lalu. Mingyu kebetulan kebagian jaga waktu malam. Tau kan kalo kedapetan jam malam itu ngantuknya bukan main?

Saat itu Mingyu sedang ngantuk-ngantuknya. Dia sibuk menguap entah sudah berapa kali. Matanya langsung melotot segar saat pemuda manis dan imut mendatangi tempat kasirnya. Suaranya juga lembut.

“Mas. Tolong kondom sutranya satu.”

Mingyu jujur cengo bukan main. Ia segera mengambil pesanan pelanggannya itu. Wajah Mingyu agak kaget tapi juga sedikit geli. Ternyata lelaki di depannya ini gak sepolos kelihatannya.

Dan minggu-minggu berikutnya, Mingyu selalu bertemu dengan pelanggan manisnya dengan agenda yang sama. Membeli kondom.

Tekatnya ia bulatkan. Mingyu masa bodo dibilang lancang atau ikut campur. Rasa penasarannya sudah ia tahan hingga sebulan lebih. Kini saatnya ia bergerak.

“Mas. Tiap Minggu 'main' sama pacarnya ya?”

Lega. Mingyu sudah lega mengeluarkan aspirasinya.

Pelanggan di depan Mingyu memerah malu. Kelihatan sekali wajahnya merah padam hingga lehernya.

“E-eh. Bukan buat saya mas. Ini buat temen saya. Dia nyuruh saya. Astaga pasti saya keliatan mesum ya di mata masnya.”

Mingyu tertawa lepas. “Jujur iya mas. Masnya sebulan ini beli kondom di saya. Saya kira emang sering main.”

Pelanggan di depannya ini menggeleng cepat. “Gak kok mas. Emang saya mau sama siapa. Jomblo gini.”

“Oh jomblo? Bagus deh. Nama masnya siapa?”

Pelanggan yang ada di depan Mingyu menyerahkan uang ke arahnya.

“Minghao, mas.”

Mingyu mengangguk paham. Ia merobek kertas struk ke arah Minghao, dan memberikan kembaliannya.

“Nama saya Mingyu. Mau nyoba kondomnya sama saya gak?”

–, Ribut

“GIMANA BISA LU MAKAN BUBUR DIADUK?”

“ENAKAN DIADUK, HYUNG. LU NYA AJA ANEH GAK DIADUK.”

“LU LEBIH ANEH, HAO. BENTUK ABSTRAK GITU DIKATA ENAK.”

“MAKANYA COBA, HYUNG. COBA!”

Soonyoung menguap malas melihat pertengkaran yang tak bermanfaat dari pasangan paling konyol yang pernah Soonyoung kenal. Tak ada hari tanpa adu mulut. Malah terlihat aneh jika keduanya terlihat manis layaknya pasangan lainnya.

Namun, Soonyoung senang melihat pertengkaran keduanya. Entah kenapa, Soonyoung bisa melihat aura asmara dari keduanya jika beradu mulut. Anggap saja Soonyoung gila.

“MAKAN BUBUR YA ENAKNYA MINUM TEH ANGET, HYUNG!”

“HEH DIMANA-MANA YA ES TEH!”

Yap. Topik mereka berubah. Menjalar kemana-mana. Dan Soonyoung sudah terbiasa dengan itu.

“KALO MAKAN BUBUR ENAKAN GAK ADA KUAHNYA, HAO!”

“GIMANA BISA GAK ADA KUAHNYA, HYUNG?! LU MAU MAKAN KERINGAN?”

Ya. Soonyoung benar-benar lelah sekarang.

“GAK USAH SOK BILANG BUBUR ENAKAN PAKE KUAH. LU AJA MAKAN BUBUR YANG DIKASIH MINGYU KEMARIN. GAK ADA KUAHNYA. LU DOYAN AJA TUH!”

“ITU BEDA LAGI!”

“OH TAHU. APA KARNA MINGYU MANTAN LU? IYA?”

“GAK ADA HUBUNGANNYA, HYUNG!”

Oke. Topik mulai menjalar ke mantan. Soonyoung mulai menyiapkan sekaleng soda dan semangkuk popcorn.

“Ada apa, Nyong?”

Wonwoo datang. Berbisik pelan, sambil menatap perkelahian Jihoon dan juga Minghao.

“Biasa tengkar gak guna lagi.”

Soonyoung menyuapkan popcorn ke arah Wonwoo, yang disambut senang hati oleh Wonwoo.

“Ribut apa lagi sih?”

Kini giliran Seokmin datang. Mengambil tempat di samping Wonwoo.

“Hoonhao tengkar lagi.” Wonwoo berucap.

Ketiganya menatap datar perkelahian pasangan aneh itu.

“GUA TAU LU KEMARIN MAKAN BUBUR PAK SOMAT SAMA MANTAN LU, HYUNG. SIAPA NAMANYA. AH GUA LUPA.”

“CHAN.”

“AH SI CHAN. DASAR PELAKOR.”

“DIA BUKAN PELAKOR, HAO!”

“KAN LU BELAIN LAGI!”

Ketiganya geleng-geleng. Kini topiknya sudah makin melebar.

“Taruhan, Hao bakal bahas Seungkwan.” Soonyoung bertaruh.

“Taruhan, Jihoon bakal bahas Seungcheol.” Kini Wonwoo ikut bertaruh.

“Taruhan, mereka bakal hina satu sama lain.” Seokmin bertaruh terakhir.

“LU TUH GAK GANTENG.”

“LU JUGA GAK GEMESIN.”

Seokmin tersenyum menang. “Kalian hutang ramen ke gua.”

“KALO GITU LU NGAPAIN MASIH SAMA GUA, HYUNG?!”

“LU JUGA! NGAPAIN MASIH SAMA GUA HAH?!”

Seokmin serta Wonwoo menelan ludahnya gugup. Kecuali Soonyoung. Dengan enteng dia berucap.

“Kalo Jihoon sama Minghao saling bilang ' I Love You' traktir gua burger.”

Seokmin serta Wonwoo saling pandang. “Gak mungkin. Mereka udah mau diambang putus gitu.” Seokmin menjawab ragu.

“Kalo perkataan gua bener traktir gua.”

Seokmin serta Wonwoo mengangguk setuju. “Deal.”

“YAUDAH SANA CARI YANG LAIN KALO UDAH GAK SUKA GUA, HYUNG!”

“LU JUGA! TINGGALIN GUA!”

“GAK BISA, HYUNG!”

“KENAPA? KATANYA GUA GAK GANTENG KAN?”

“LU JUGA NGATAIN GUA GAK GEMESIN!”

“KARNA GUA BALES PERKATAAN LU!”

“LU SELALU BALES PERKATAAN GUA?!”

“IYA, HAO!”

“YAUDAH!”

“YAUDAH!”

“I LOVE YOU, HYUNG!”

“I LOVE YOU!”

Seokmin serta Wonwoo menatap cengo pasangan di depannya. Soonyoung menyeringai puas.

“Traktir burger~”

Seokmin dan Wonwoo masih shock dengan keadaan pasangan yang ada di hadapan mereka.

Sedangkan Soonyoung? Sudah biasa. Dia sudah biasa. Hapal sudah. Adu mulut Jihoon serta Minghao tak bakal bertahan lama kurang dari 30 menit. Dan selalu di akhiri 'I Love You'. Segampang itu mereka berbaikan.

Soonyoung terkekeh. Bangga memiliki teman seperti Jihoon dan juga Minghao. Bagaimana bisa mereka bertahan bersama selama 5 tahun, dengan adu mulut setiap saat?

Antara aneh dan ajaib.

“Udah jangan nangis. Bubur enakan diaduk kok.” Jihoon berucap lembut sambil mengecup pipi Minghao.

“Bubur enak juga kalo gak diaduk, hyung.” Tangannya memilin kemeja bawahnya. Malu dengan sikap Jihoon.

“Mau makan bubur bareng?” Jihoon menawarkan.

“Suapin?”

Jihoon menyeringai. “Pake bibirku kalo perlu.”

“HYUNG!”

Soonyoung geleng-geleng. Antara aneh, ajaib dan absurd.