Puppyfrog

–, Five Ways To Win A Tsundere Boy

Siapa yang gak tau Minghao. Ketua OSIS sekaligus atlet pencak silat. Ganteng, manis dan sopan. Sekali ngomong, suaranya lembut banget. Bahkan tukang kebun sekolah, sampai terpikat sama pesonanya Minghao. Segitu berpengaruhnya.

Semua adek kelas sama kakak kelas suka sama Minghao. Siapa sih yang gak suka sama dia? Kalo ketawa buat dunia cerah, sekali senyum buat semua orang klepek-klepek.

Sayangnya, Minghao itu cuek. Cuek banget. Kadang juga galak. Walaupun dia punya banyak nilai plus, dia tipe orang yang cuek dan realistis. Kalo enggak, ya enggak. Dia gak mau ngasih harapan. Dia gak mau buat orang disekitarnya terlalu bermimpi yang belum tentu bisa terwujud. Makanya, banyak cewek maupun cowok mundur sebelum berperang. Gimana gak mundur, orang mau di deketin aja udah di tolak duluan.

Tapi, ada pengecualian. Disaat semua orang mundur pelan-pelan, ada cowok yang gak kenal putus asa. Bodo amat sama omongan Minghao. Yang penting dia kejar terus sampe mampus.

Namanya Seokmin. Seangkatan sama Minghao. Ramah, baik, dan ganteng tentunya. Sekali senyum, buat orang ikutan senyum. Suaranya bagus. Dan gak abal-abal, dia field commander marching band sekolahnya. Kurang apa lagi coba?

Dan yang bikin heboh seluruh warga sekolah, cuman Seokmin seorang yang tahan dan gak kenal putus asa buat ngejar cintanya Minghao.

Minghao gak peduli. Dia biarin Seokmin ngikutin dia kemana aja. Kayak anjing ngikutin tuannya. Dia bahkan gak nganggep Seokmin itu ada.

Namun, suatu hari Seokmin berubah. Tingkahnya berubah. Segala aktivitasnya berubah. Anak-anak pada bingung. Yang biasanya Seokmin girangnya minta ampun ngikutin Minghao, kini cuek bebek gak peduli sama keberadaan Minghao.

Loh, kok bisa?

Ini semua bermula beberapa hari yang lalu. Seokmin lagi galau. Minghao gak tertarik sama dia. Bahkan lirik dia aja enggak. Seokmin galau segalau-galau-nya. Dia gak tahu harus apa. Apakah dia harus nyerah? Setelah 2 tahun penantian dan pengejaran Seokmin, apakah ini saatnya untuk menyerah?

Seokmin bahkan di bilang alay sama sahabat-sahabatnya. Mereka dukung Seokmin buat nyerah. Nyari orang lain. Lupain Minghao yang bahkan gak hargain tindakan Seokmin. Semua temen-temennya dukung Seokmin. Hari itu, Seokmin down banget. Apalagi hujan melanda. Tambah galau suasana hatinya.

Waktu istirahat pun Seokmin memilih diam di kelas. Malas keluar buat beli makan. Berdesakan sama murid-murid lain. Dia lebih memilih natep hujan dari jendela kelasnya. Ngebuka jendela lebar-lebar. Ngerasain air hujan menerpa wajahnya sedikit.

Tiba-tiba Mingyu dateng sambil bawa susu ultramilk rasa coklat, beserta roti isi ke depan Seokmin.

“Nih makan.”

Seokmin cuman liat sekilas, lalu balik lagi natep hujan.

Mingyu menghela napasnya. “Lu galau karna Minghao? Ah elah. Jangan nyerah dong.”

Seokmin natap Mingyu. Cuman Mingyu yang nyuruh dia gk menyerah.

“Kenapa? Dia aja gak nganggep gua.”

Mingyu mendengus. “Lu berjuang udah 2 tahun, tapi baru galaunya sekarang? Lu goblok apa gimana?”

Seokmin mendelik. “Sialan.”

Mingyu tersenyum miring. “Gini. Lu sekarang sibuk nyiapin lomba MB lu kan? Daripada mikirin Minghao, lebih baik lu mikirin MB lu. Gimana kalo lu menang? Lu pasti dipanggil ke depan pas upacara. Minghao pasti liat lu.”

Seokmin diam. Ucapan Mingyu ada benarnya.

“Lu mau tau gak, apa yang gua lakuin biar bisa dapetin hatinya kak Jihoon yang terkenal galak itu?”

Seokmin terbelalak. Benar juga. Jihoon sama Minghao itu gak beda jauh. Sama-sama galak dan cuek.

“Apa emang?”

Mingyu menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Seokmin. Dengan bisik-bisik penuh rahasia dia berucap, “Five ways to win a tsundere boy.”

Seokmin menatap Mingyu penuh antusias. Berharap bahwa rencananya kali ini berhasil.

******

Hari rabu yang sedang cerah-cerahnya, Seokmin memulai rencananya. Dia beri nama “5 Ways To Win A Tsundere Boy.”

Seokmin berjalan menuju kelasnya dengan ingatan yang sangat jelas akan ucapan Mingyu.

  1. Cuek saat ada crush-mu.

Seokmin udah 2 tahun deketin Minghao. Ngasih perhatian dan ngekorin Minghao kemana pun. Jadi, kalo Seokmin ngejauh, Minghao pasti bakal bertanya-tanya di dalam hatinya.

Dan benar saja. Entah keberuntungan atau apa, Minghao ada di depan kelasnya bareng sama temen-temennya, lagi ngobrolin sesuatu.

Karena kelas Seokmin yang ada di ujung, mau gak mau harus lewatin gerombolan mereka. Yang biasanya Seokmin heboh nyapa Minghao, kini dengan ringannya dia jalan tanpa beban, lewatin Minghao gitu aja.

Gak ada sapaan selamat pagi, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang biasa dia lontarkan. Minghao serta beberapa teman yang ngelihat tingkah Seokmin ngerasa bingung. Aneh aja gitu. Minghao pura-pura gak peduli, padahal matanya liatin punggung Seokmin diem-diem.

  1. Kasih kebaikan kecil saat kamu sedang menjalani 'perang dingin'.

Sudah seminggu Seokmin jauhin Minghao. Udah seminggu dia gak interaksi sama Minghao. Dan udah seminggu pula dia berhasil buat semua orang terheran-heran.

Seokmin diem aja. Saat temen-temennya nanya, dia cuman bilang, “Gua sibuk. gak ada waktu buat dia.”

Gitulah kira-kira. Cuma Mingyu yang tahu rencananya.

Namun, rencana pertama Seokmin harus berakhir.

Seokmin tak sengaja bertatap muka dengan Minghao di kantin. Kedua mata mereka bertemu. Seokmin histeris dalam hati. Namun, dengan kalem dia ngalihin mukanya. Antri di depan soto bareng anak-anak lain.

Minghao yang pura-pura gak peduli, memilih diam di samping Seokmin, ikutan antri buat beli soto.

Saat giliran Seokmin, dia pesen satu mangkok buat dirinya sendiri, sama es kopyor kesukaannya. Beberapa menit kemudian, ibu penjual ngasih es kopyornya di hadapan Seokmin. Sambil nunggu sotonya, Seokmin sedikit ngelirik Minghao. Bertanya-tanya apakah rencananya ini berhasil atau tidak.

“Bu, soto ayam satu sama es kopyor juga satu ya.”

Seokmin menaikkan alisnya heran. Tumben Minghao beli es kopyor.

“Maaf dek. Es nya habis. Yang terakhir buat adek ini.” ujar ibu penjual sambil nunjuk ke Seokmin.

Minghao seperti kecewa. Cuman ngangguk sebagai balasan.

Seokmin nerima soto pesenannya. Buru-buru kasih uang pas ke penjual.

Seokmin nengok ke arah Minghao. Sambil ngasih es kopyornya ke depan Minghao.

“Nih. Buat lu aja. Gua beli yang lain.” ujarnya tenang.

Minghao mengambil es pemberian Seokmin. Baru akan berucap, Seokmin buru-buru membalikkan badan, ninggalin Minghao gitu aja.

Minghao cuman diem. Natep es kopyor yang ada di tangannya, dengan wajah memerah samar memenuhi rona mukanya.

  1. Tarik ulur, kasih sedikit perhatian, yang bisa membekas di ingatannya.

Setelah kejadian es kopyor, Minghao serta Seokmin gak ada interaksi apapun. Seokmin jauhin Minghao lagi. Cuek biasa pas gak sengaja ketemu Minghao. Pokoknya dia berusaha biasa aja.

Minghao mulai kepikiran. Dia ngerasa hampa. Yang biasanya Seokmin ribut, sekarang gak ada sosok itu. Yang biasanya perhatian kini ngejauh. Minghao bingung. Dia kenapa?

Hari Jumat hujan melanda. Seokmin yang dari pagi sampe pulang sekolah gak ikutan kelas, keluar dari ruangan rapatnya kaget pas liat Minghao di ujung koridor meluk dirinya sendiri sambil liatin langit. Seokmin yang kasian sama doi-nya, pelan-pelan berjalan deketin Minghao.

“Kenapa, Hao?” tanya Seokmin pelan.

Minghao tersentak. Menatap Seokmin kaget. “Gak papa.”

Seokmin ngangguk paham. “Yakin? Kedinginan gitu.”

Minghao menatap Seokmin diam, lalu menggeleng.

“Enggak kok.”

Seokmin mendengus. Dengan pelan dia mengangkat hoodie yang membalut badannya. Lalu, menyerahkan ke depan Minghao.

“Nih, pake. Lu lebih butuh. Gua masih ada kegiatan ngurusin MB.”

Seokmin mendorong hoodie-nya ke dada Minghao. Mau tak mau, Minghao menerimanya.

“M-makasih.”

Seokmin ngangguk pelan, lalu berjalan pergi ninggalin Minghao.

Minghao hanya menatap punggung Seokmin serta hoodie yang ada ditangannya, bergantian. Memilih menyembunyikan wajahnya di dalam hoodie milik Seokmin. Mencium aroma khasnya dalam-dalam.

  1. Little skinship.

Seokmin yang sibuk sama lomba marching band nya, lupa sama hoodie yang dia pinjemin ke Minghao kemarin. Pas Seokmin lagi terburu-buru jalan di koridor, Minghao manggil dia sambil bawa hoodie kesayangan Seokmin, berlari kecil mendekati Seokmin.

“Kenapa, Hao?”

Minghao menetralkan napasnya. “Hoodie lu.”

Minghao menyerahkan hoodie milik Seokmin, dengan wajah yang sulit di definisikan.

“Santai aja kali. Lu ambil juga gak papa.”

Minghao menggeleng. “Gak bisa. Ini kan punya lu.”

Seokmin terkekeh. “Gua mah rela ngasih barang-barang gua ke lu.”

Wajah Minghao memerah. Membuat Seokmin ingin berteriak histeris.

“Lucu amat sih lu.” ujar Seokmin sambil mengusap gemas surai rambut Minghao. Dengan pelan dia mengambil hoodie miliknya yang ada di tangan Minghao.

“Thanks ya. Pake dicuciin segala.”

Minghao masih diam. Badannya kaku. Seokmin yang gak tau harus apa memilih tertawa pelan. “Kalo gitu gua duluan ya.”

Seokmin berbalik ninggalin Minghao, dengan senyum lebar di wajahnya, tangannya meremas hoodie yang ada di tangannya.

“Let's see. Will you fall in love with me or not, Hao.”

  1. Confess

Setelah kejadian hoodie, keduanya tak ada interaksi. Minghao yang selalu memikirkan Seokmin, serta Seokmin yang sibuk dengan lombanya. Tak ada interaksi hingga 2 minggu kemudian.

Di hari senin setelah upacara, Seokmin beserta anggota marching band-nya, menampilkan pertunjukan mereka dalam rangka kemenangan lomba yang mereka dapatkan.

Minghao menatap dari jauh. Cara Seokmin memandu dan memimpin seluruh anggotanya. Bagaimana dia mengatur tempo dan kecepatan. Membuat Minghao terpesona.

Hingga pertunjukan selesai, Seokmin serta anggota marching band lainnya membubarkan diri, membantu membawa alat-alat ke dalam ruangan penyimpanan.

Pukul setengah sembilan pagi, jam kosong mereka dapatkan. Guru-guru rapat mendadak. Seokmin yang sedang tertawa dan berbincang-bincang, tak sadar bahwa sedari tadi di pantau oleh Minghao.

Mingyu yang sadar bahwa Minghao menatap kearah mereka, menyikut Seokmin pelan.

“Apaan?”

Seokmin bingung dengan tingkah Mingyu.

“Doi lu lihat kesini mulu.”

Seokmin menatap arah yang ditunjuk Mingyu. Hanya melihat Minghao yang sedang membaca buku.

“Apaan? Dia baca buku gitu.”

Mingyu berdecak. “Pura-pura dia. Coba liat. Bukunya aja kebalik.”

Seokmin melihat buku yang di pegang Minghao. Tertawa pelan melihat tingkah Minghao yang menggemaskan.

Seokmin berjalan mendekati Minghao yang sedang duduk sendiri di bangku depan kelasnya.

Beberapa anak melihat Seokmin serta Minghao penasaran.

“Hei.” sapa Seokmin sambil mendudukkan dirinya di samping Minghao.

Minghao terlonjak. “H-hai.”

Seokmin terkekeh. “Ngapain?”

Minghao gelagapan. “Baca.”

Seokmin menatap jahil. “Baca? Emang bisa baca? Kebalik tuh.”

Minghao tampak sadar. Buru-buru memutar bukunya.

Seokmin tertawa keras. Mengusap rambut Minghao pelan.

“Lucu bener sih lu. Kan gua makin susah buat move on dari lu.”

Minghao menatap Seokmin. “Move on?”

Seokmin ngangguk. Menatap sekelilingnya yang sedang menatap mereka berdua penasaran.

“Lu kan gak suka gua. Daripada buang-buang waktu, mending gua nyari yang lain. Tapi lu nya bikin gemes. Kan gua makin sayang.”

Minghao memerah. Memilih mengalihkan muka.

“A-apasih.”

Seokmin terkekeh. “Itu beneran. Kalo lu sadar gua jauhin lu ya karna itu. Tapi susah sih. Lu nya bikin gemes. Palingan lu gak sadar gua jauhin.”

Minghao diam sejenak. “Kata siapa gua gak sadar? Gua sadar kok.”

Seokmin kaget. “Masa? Kok bisa? Kan gua gak lu anggep.”

Minghao terlonjak. Sedikit merasa tak enak.

“Kan lu selalu heboh di samping gua. Lu ngejauh jadi berasa sepi.”

Seokmin terkekeh. “Dijauhin dulu ya biar sadar.”

Minghao cuman diam. Merasa sadar dengan perbuatannya.

“Santai aja, Hao. Gua udah gak peduli kok. Jadi gak usah ngerasa gak enak. Lu sadar akan keberadaan gua aja, gua seneng.”

Minghao menatap Seokmin lamat-lamat.

“Kenapa, Hao?”

Minghao menggeleng. “Jadi, lu nyerah suka gua?”

Seokmin berpikir. “Gak juga sih. Gua suka lu. Cuman ya gua gak kek dulu. Lagian lu kan gak suka gua. Jadi, yaudah. Palingan bentar lagi gua move on.”

Minghao diam menerawang. “Jangan move on. Suka gua aja.”

Seokmin terkekeh. “Jahat lu. Lu kan gak suka gua.”

“Kata siapa? Gua suka lu kok.”

“Suka sebagai teman, kan?”

Minghao menggeleng. “Suka lebih dari temen.”

Seokmin diam. Suara cie-cie berkumandang di sekelilingnya.

“Gak usah bercanda lu.”

Minghao menggeleng lagi. “Gua gak bercanda. Gua beneran suka lu. Suka waktu lu ngasih gua es kopyor. Suka waktu lu ngasih hoodie lu. Suka semuanya.”

Seokmin diam. Masih gak percaya. “Bohong.”

Minghao menangkup kedua sisi wajah Seokmin. Mengecup pipinya lembut. Membuat semua orang menahan napas.

“Masih gak percaya?”

Seokmin mengerjapkan matanya berulang kali, lalu tertawa keras.

“Percaya kok.”

Seokmin menangkup kedua sisi wajah Minghao. Mengecup dahinya pelan.

“Jadi, kita pacaran?”

Minghao mengangguk pelan, dengan wajah merah merona.

Seokmin terkekeh pelan. Mengambil kedua tangan Minghao dari wajahnya, menggenggam erat keduanya.

“Hai, pacar.”

Minghao mendelik galak. Wajahnya memerah.

“Apasih, Seok.”

Seokmin terkekeh. Memilih mendekap Minghao.

“Lucunya.”

Suara cie-cie serta siulan nakal, menggoda keduanya. Seokmin berterimakasih kepada Mingyu atas saran dan rencananya.

–, Five Ways To Win A Tsundere Boy

Siapa yang gak tau Minghao. Ketua OSIS sekaligus atlet pencak silat. Ganteng, manis dan sopan. Sekali ngomong, suaranya lembut banget. Bahkan tukang kebun sekolah, sampai terpikat sama pesonanya Minghao. Segitu berpengaruhnya.

Semua adek kelas sama kakak kelas suka sama Minghao. Siapa sih yang gak suka sama dia? Kalo ketawa buat dunia cerah, sekali senyum buat semua orang klepek-klepek.

Sayangnya, Minghao itu cuek. Cuek banget. Kadang juga galak. Walaupun dia punya banyak nilai plus, dia tipe orang yang cuek dan realistis. Kalo enggak, ya enggak. Dia gak mau ngasih harapan. Dia gak mau buat orang disekitarnya terlalu bermimpi yang belum tentu bisa terwujud. Makanya, banyak cewek maupun cowok mundur sebelum berperang. Gimana gak mundur, orang mau di deketin aja udah di tolak duluan.

Tapi, ada pengecualian. Disaat semua orang mundur pelan-pelan, ada cowok yang gak kenal putus asa. Bodo amat sama omongan Minghao. Yang penting dia kejar terus sampe mampus.

Namanya Seokmin. Seangkatan sama Minghao. Ramah, baik, dan ganteng tentunya. Sekali senyum, buat orang ikutan senyum. Suaranya bagus. Dan gak abal-abal, dia field commander marching band sekolahnya. Kurang apa lagi coba?

Dan yang bikin heboh seluruh warga sekolah, cuman Seokmin seorang yang tahan dan gak kenal putus asa buat ngejar cintanya Minghao.

Minghao gak peduli. Dia biarin Seokmin ngikutin dia kemana aja. Kayak anjing ngikutin tuannya. Dia bahkan gak nganggep Seokmin itu ada.

Namun, suatu hari Seokmin berubah. Tingkahnya berubah. Segala aktivitasnya berubah. Anak-anak pada bingung. Yang biasanya Seokmin girangnya minta ampun ngikutin Minghao, kini cuek bebek gak peduli sama keberadaan Minghao.

Loh, kok bisa?

Ini semua bermula beberapa hari yang lalu. Seokmin lagi galau. Minghao gak tertarik sama dia. Bahkan lirik dia aja enggak. Seokmin galau segalau-galau-nya. Dia gak tahu harus apa. Apakah dia harus nyerah? Setelah 2 tahun penantian dan pengejaran Seokmin, apakah ini saatnya untuk menyerah?

Seokmin bahkan di bilang alay sama sahabat-sahabatnya. Mereka dukung Seokmin buat nyerah. Nyari orang lain. Lupain Minghao yang bahkan gak hargain tindakan Seokmin. Semua temen-temennya dukung Seokmin. Hari itu, Seokmin down banget. Apalagi hujan melanda. Tambah galau suasana hatinya.

Waktu istirahat pun Seokmin memilih diam di kelas. Malas keluar buat beli makan. Berdesakan sama murid-murid lain. Dia lebih memilih natep hujan dari jendela kelasnya. Ngebuka jendela lebar-lebar. Ngerasain air hujan menerpa wajahnya sedikit.

Tiba-tiba Mingyu dateng sambil bawa susu ultramilk rasa coklat, beserta roti isi ke depan Seokmin.

“Nih makan.”

Seokmin cuman liat sekilas, lalu balik lagi natep hujan.

Mingyu menghela napasnya. “Lu galau karna Minghao? Ah elah. Jangan nyerah dong.”

Seokmin natap Mingyu. Cuman Mingyu yang nyuruh dia gk menyerah.

“Kenapa? Dia aja gak nganggep gua.”

Mingyu mendengus. “Lu berjuang udah 2 tahun, tapi baru galaunya sekarang? Lu goblok apa gimana?”

Seokmin mendelik. “Sialan.”

Mingyu tersenyum miring. “Gini. Lu sekarang sibuk nyiapin lomba MB lu kan? Daripada mikirin Minghao, lebih baik lu mikirin MB lu. Gimana kalo lu menang? Lu pasti dipanggil ke depan pas upacara. Minghao pasti liat lu.”

Seokmin diam. Ucapan Mingyu ada benarnya.

“Lu mau tau gak, apa yang gua lakuin biar bisa dapetin hatinya kak Jihoon yang terkenal galak itu?”

Seokmin terbelalak. Benar juga. Jihoon sama Minghao itu gak beda jauh. Sama-sama galak dan cuek.

“Apa emang?”

Mingyu menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Seokmin. Dengan bisik-bisik penuh rahasia dia berucap, “Five ways to win a Tsundere boy.”

Seokmin menatap Mingyu penuh antusias. Berharap bahwa rencananya kali ini berhasil.

******

Hari rabu yang sedang cerah-cerahnya, Seokmin memulai rencananya. Dia beri nama “5 Ways To Win A Tsundere Boy.”

Seokmin berjalan menuju kelasnya dengan ingatan yang sangat jelas akan ucapan Mingyu.

  1. Cuek saat ada crush-mu.

Seokmin udah 2 tahun deketin Minghao. Ngasih perhatian dan ngekorin Minghao kemana pun. Jadi, kalo Seokmin ngejauh, Minghao pasti bakal bertanya-tanya di dalam hatinya.

Dan benar saja. Entah keberuntungan atau apa, Minghao ada di depan kelasnya bareng sama temen-temennya lagi ngobrolin sesuatu. Karena kelas Seokmin yang ada di ujung, mau gak mau harus lewatin gerombolan mereka. Yang biasanya Seokmin heboh nyapa Minghao, kini dengan ringannya dia jalan tanpa beban lewatin Minghao gitu aja. Gak ada sapaan selamat pagi, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang biasa dia lontarkan. Minghao serta beberapa teman yang ngelihat tingkah Seokmin ngerasa bingung. Aneh aja gitu. Minghao pura-pura gak peduli, padahal matanya liatin punggung Seokmin diem-diem.

  1. Kasih kebaikan kecil saat kamu sedang menjalani 'perang dingin'.

Sudah seminggu Seokmin jauhin Minghao. Udah seminggu dia gak interaksi sama Minghao. Dan udah seminggu pula dia berhasil buat semua orang terheran-heran. Seokmin diem aja. Saat temen-temennya nanya, dia cuman bilang, “Gua sibuk. gak ada waktu buat dia.” gitulah kira-kira. Cuma Mingyu yang tahu rencananya.

Namun, rencana pertama Seokmin harus berakhir, saat dia tak sengaja berharap muka dengan Minghao di kantin. Kedua mata mereka bertemu. Seokmin histeris dalan hati. Namun, dengan kalem dia ngalihin mukanya. antri di depan soto bareng anak-anak lain.

Minghao yang pura-pura gak peduli, memilih diam di samping Seokmin, ikutan antri buat beli soto.

Saat giliran Seokmin, dia pesen satu mangkok buat dirinya sendiri, sama es kopyor kesukaannya. Beberapa menit kemudian, ibu penjual ngasih es kopyornya di hadapan Seokmin. Sambil nunggu sotonya, Seokmin sedikit ngelirik Minghao. Bertanya-tanya apakah rencananya ini berhasil atau tidak.

“Bu, soto ayam satu sama es kopyor juga satu ya.”

Seokmin menaikkan alisnya heran. Tumben Minghao beli es kopyor.

“Maaf dek. Es nya habis. Yang terakhir buat adek ini.” ujar ibu penjual sambil nunjuk ke Seokmin.

Minghao seperti kecewa. Cuman ngangguk sebagai balasan.

Seokmin nerima soto pesenannya. Buru-buru kasih uang pas ke penjual.

Seokmin nengok ke arah Minghao. Sambil ngasih es kopyornya ke depan Minghao.

“Nih. Buat lu aja. Gua beli yang lain.” ujarnya tenang.

Minghao mengambil es pemberian Seokmin. Baru akan berucap, Seokmin buru-buru memvalikkan badan, ninggalin Minghao gitu aja.

Minghao cuman diem. Natep es kopyor yang ada di tangannya, dengan wajah memerah samar memenuhi rona mukanya.

  1. Tarik ulur, kasih sedikit perhatian, yang bisa membekas di ingatannya.

Setelah kejadian es kopyor, Minghao serta Seokmin gak ada interaksi apapun. Seokmin jauhin Minghao lagi. Cuek biasa pas gak sengaja ketemu Minghao. Pokoknya dia berusaha biasa aja.

Minghao mulai kepikiran. Dia ngerasa hampa. Yang biasanya Seokmin ribut, sekarang gak ada sosok itu. Yang biasanya perhatian kini ngejauh. Minghao bingung. Dia kenapa?

Hari Jumat hujan melanda. Seokmin yang dari pagi sampe pulang sekolah gak ikutan kelas, keluar dari ruangan rapatnya kaget pas liat Minghao di ujung koridor meluk dirinya sendiri sambil liatin langit. Seokmin yang kasian sama doi-nya, pelan-pelan berjalan deketin Minghao.

“Kenapa, Hao?” tanya Seokmin pelan.

Minghao tersentak. Menatap Seokmin kaget. “Gak papa.”

Seokmin ngangguk paham. “Yakin? Kedinginan gitu.”

Minghao menatap Seokmin diam, lalu menggeleng.

“Enggak kok.”

Seokmin mendengus. Dengan pelan dia mengangkat hoodie yang membalut badannya. Lalu, menyerahkan ke depan Minghao.

“Nih, pake. Lua lebih butuh. Gua masih ada kegiatan ngurusin MB.”

Seokmin mendorong hoodie-nya ke dada Minghao. Mau tak mau, Minghao menerimanya.

“M-makasih.”

Seokmin ngangguk pelan, lalu berjalan pergi ninggalin Minghao.

Minghao hanya menatap punggung Seokmin serta hoodie yang ada ditangannya, bergantian. Memilih menyembunyikan wajahnya di dalam hoodie milik Seokmin. Mencium aroma khasnya dalam-dalam.

  1. Sedikit skinship.

Seokmin yang sibuk sama lomba marching band nya, lupa sama hoodie yang dia pinjemin ke Minghao kemaren. Pas Seokmin lagi terburu-buru jalan di koridor, Minghao manggil dia sambil bawa hoodie kesayangan Seokmin, berlari kecil mendekati Seokmin.

“Kenapa, Hao?”

Minghao menetralkan napasnya. “Hoodie lu.”

Minghao menyerahkan hoodie milik Seokmin, dengan wajah yang sulit di definisikan.

“Santai aja kali. Lu ambil juga gak papa.”

Minghao menggeleng. “Gak bisa. Ini kan punya lu.”

Seokmin terkekeh. “Gua mah rela ngasih barang-barang gua ke lu.”

Wajah Minghao memerah. Membuat Seokmin ingin berteriak histeris.

“Lucu amat sih lu.” ujar Seokmin sambil mengusap gemas surai rambut Minghao. Dengan pelan dia mengambil hoodie miliknya yang ada di tangan Minghao.

“Thanks ya. Pake dicuciin segala.”

Minghao masih diam. Badannya kaku. Seokmin yang gak tau harus apa pemilik tertawa pelan. “Kalo gitu gua duluan ya.”

Seokmin berbalik ninggalin Minghao, dengan senyum lebar di wajahnya, tangannya meremas hoodie yang ada di tangannya.

“Let's see. Will you fall in love with me or not, Hao.”

  1. Confess

Setelah kejadian hoodie, keduanya taj ada interaksi. Minghao yang selaku memikirkan Seokmin, serta Seokmin yang sibuk dengan lombanya. Tak ada interaksi hingga 2 minggu kemudian. Di hari senin setelah upacara. Seokmin beserta anggota marching band nya, menampilkan pertunjukan mereka dalam rangka kemenangan lomba yang mereka dapatkan.

Minghao menatap dari jauh. Cara Seokmin memandu dan memimpin seluruh anggotanya. Bagiamana dia mengatur tempo dan kecepatan. Membuat Minghao terpesona.

Hingga pertunjukan selesai, Seokmin serta anggota marching band lainnya membubarkan diri, membantu membawa alat-alat ke dalam ruangan penyimpanan.

Pukul setengah sembilan pagi, jam kosong nereka dapatkan. Guru-guru rapat mendadak. Seokmin yang sedang tertawa dan berbincang-bincang, tak sadar bahwa sedari tadi di pantau oleh Minghao.

Mingyu yang sadar bahwa Minghao menatap kearah mereka, menyikut Seokmin pelan.

“Apaan?”

Seokmin bingung dengan tingkah Mingyu.

“Doi lu lihat kesini mulu.”

Seokmin menatap arah yang ditunjuk Mingyu. Hanya melihat Minghao yang sedang membaca buku.

“Apaan? Dia baca buku gitu.”

Mingyu berdecak. “Pura-pura dia. Coba liat. Bukunya aja kebalik.”

Seokmin melihat buku yang di pegang Minghao. Tertawa pelan melihat tingkah Minghao yang menggemaskan.

Seokmin berjalan mendekati Minghao yang sedang duduk sendiri di bangku depan kelasnya.

Beberapa anak melihat Seokmin serta Minghao penasaran.

“Hei.” sapa Seokmin sambil mendudukkan dirinya di samping Minghao.

Minghao terlonjak. “H-hai.”

Seokmin terkekeh. “Ngapain?”

Minghao gelagapan. “Baca.”

Seokmin menatap jahil. “Baca? Emang bisa baca? Kebalik tuh.”

Minghao tampak sadar. Buru-buru memutar bukunya.

Seokmin tertawa keras. Mengusap rambut Minghao pelan.

“Lucu bener sih lu. Kan gua makin susah buat move on dari lu.”

Minghao menatap Seokmin. “Move on?”

Seokmin ngangguk. Menatap sekelilingnya yang sedang menatap mereka berdua penasaran.

“Lu kan gak suka gua. Daripada buang-buang waktu, mending gua nyari yang lain. Tapi lu nya bikin gemes. Kan gua makin sayang.”

Minghao memerah. Memilih mengalihkan muka.

“A-apasih.”

Seokmin terkekeh. “Itu beneran. Kalo lu sadar gua jauhin lu ya karna itu. Tapi susah sih. Lu nya bikin gemes. Palingan lu gak sadar gua jauhin.”

Minghao diam sejenak. “Kata siapa gua gak sadar? Gua sadar kok.”

Seokmin kaget. “Masa? Kok bisa? Kan gua gak lu anggep.”

Minghao terlonjak. Sedikit merasa tak enak.

“Kan lu selalu heboh di samping gua. Lu ngejauh jadi berasa sepi.”

Seokmin terkekeh. “Dijauhin dulu ya biar sadar.”

Minghao cuman diam. Merasa sadar dengan perbuatannya.

“Santai aja, Hao. Gua udah gak peduli kok. Jadi gak usah ngerasa gak enak. Lu sadar akan keberadaan gua aja, gua seneng.”

Minghao menatap Seokmin lamat-lamat.

“Kenapa, Hao?”

Minghao menggeleng. “Jadi, lu nyerah suka gua?”

Seokmin berpikir. “Gak juga sih. Gua suka lu. Cuman ya gua gak kek dulu. Lagian lu kan gak suka gua. Jadi, yaudah. Palingan bentar lagi gua move on.”

Minghao diam menerawang. “Jangan move on. Suka gua aja.”

Seokmin terkekeh. “Jahat lu. Lu kan gak suka gua.”

“Kata siapa? Gua suka lu kok.”

“Suka sebagai teman, kan?”

Minghao menggeleng. “Suka lebih dari temen.”

Seokmin diam. Suara cie-cie berkumandang di sekelilingnya.

“Gak usah bercanda lu.”

Minghao menggeleng lagi. “Gua gak bercanda. Gua beneran suka lu. Suka waktu lu ngasih gua es kopyor. Suka waktu lu ngasih hoodie lu. Suka semuanya.”

Seokmin diam. Masih gak percaya. “Bohong.”

Minghao menangkup kedua sisi wajah Seokmin. Mengecup pipinya lembut. Membuat semua orang menahan napas.

“Masih gak percaya?”

Seokmin mengerjapkan matanya berulang kali, lalu tertawa keras.

“Percaya kok.”

Seokmin menangkup kedua sisi wajah Minghao. Mengecup dahinya pelan.

“Jadi, kita pacaran?”

Minghao mengangguk pelan, dengan wajah merah merona.

Seokmin terkekeh pelan. Mengambil kedua tangan Minghao dari wajahnya, menggenggam erat keduanya.

“Hai, pacar.”

Minghao mendelik galak. Wajahnya memerah.

“Apasih, Seok.”

Seokmin terkekeh. Memilih mendekap Minghao.

“Lucunya.”

Suara cie-cie serta siulan nakal, menggoda keduanya. Seokmin berterimakasih kepada Mingyu atas saran dan rencananya.

–,Pocky

Jun menyangga dagunya, menatap Jihoon lekat-lekat. Menikmati wajah pacarnya yang menggemaskan.

Jihoon menaikkan alisnya heran, bingung dengan tingkah Jun yang aneh saat ini.

“Kenapa kamu?” tanya Jihoon dengan tangan dan mulut yang sibuk menyantap jajan pocky-nya yang baru saja ia beli.

“Gak papa.”

Jihoon memutar matanya malas. Masih asik menikmati cemilannya.

“Gak usah bohong. Bilang cepet.”

Jun menghela napasnya. Masih asik menatap Jihoon.

“Kamu lagi godain aku ya?”

Jihoon hampir tersedak potongan pocky-nya. Menatap Jun tak mengerti.

“Hah?”

Mulut Jihoon sibuk melumat dan menyantap potongan pocky yang di selimuti coklat di sekelilingnya. Menatap Jun tak mengerti.

“Tuh. Sengaja ya? Aku gak peduli kalo sekarang kita di umum loh.”

Jihoon memutar matanya malas. Benar-benar tak paham dengan isi kepala Jun. Tangan Jihoon mengambil sebatang Pocky yang baru. Ia gigit di antara giginya. Tangannya sibuk mmebuka ponsel miliknya.

“Gak jelas.” gumamnya.

Jun bangkit dari duduknya, mendekatkan wajahnya ke arah Jihoon. Tangannya menangkup rahang Jihoon erat-erat. Membuat sang empu tersentak.

Jun menatap Jihoon lekat-lekat. Menikmati ekspresi Jihoon yang bingung dan bertanya-tanya.

“Kamu tahu gak, kamu udah bikin sesuatu bangun dari tidurnya.” bisiknya lirih tepat di depan wajah Jihoon.

Jihoon masih diam. Matanya melotot dengan mulut yang sedikit terbuka, dengan batang Pocky di giginya.

“Diem gini aja kamu imut. Apalagi pas makan Pocky tadi.”

Wajah Jihoon memerah. Masih diam. Menatap Jun balik, tak kalah menantang.

“Tapi caramu makan itu sengaja dibikin gitu ya? Biar apa, hm?”

Jun memiringkan wajahnya. Masih menatap Jihoon lekat-lekat.

“Mau kumakan ya?” Jihoon terlonjak.

Detik berikutnya, Jun mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Jihoon. Mulutnya menyantap batang Pocky yang digigit oleh Jihoon. Membuat sang empu tersentak.

Jun masih menatap Jihoon intens. Mendekatkan wajahnya tak bersisa dengan lelaki di hadapannya itu.

Hingga bibir Jun yang hampir menyentuh bibir Jihoon, Jun memotong batang Pocky yang ia santap. Menjauhkan wajahnya dari Jihoon.

Matanya masih menatap Jihoon lekat-lekat. Dengan seringai tipis terbingkai di wajahnya.

“Sering-sering makan Pocky, ya. Biar aku bisa makan dari mulut kamu.”

Jun mendekatkan wajahnya lagi. Kini mengecup bibir Jihoon yang memerah terbuka. Di akhiri dengan jilatan kecil di ujung bibirnya.

“Ada noda coklat. Aku bantu bersihin.”

Berikutnya, Jun pergi meninggalkan Jihoon, dengan seringai lebar di bibirnya.

“Btw, kamu makin imut kalo bingung.” teriaknya sambil melambai kebelakang.

Jihoon menatap punggung Jun dalan diam. Wajahnya memerah dengan bibir yang gemetar. Jantungnya berdetak tak karuan, berbeda dengan ekspresi marah yang ia tunjukan saat ini.

“JUN SIALANNNN!”

Jun terkekeh. Ia tahu, Jihoon suka. Dia saja yang pura-pura tak suka. Jun yakin keesokan harinya, Jihoon akan menyantap Pocky dengan varian rasa yang lain.

'Dasar tsundere.'

–, Bathrobe

Wonwoo keluar dari kamar mandi, sambil mengikat tali bathrobe yang membalut tubuhnya. Surai rambutnya yang hitam sedikit basah dengan tetesan air yang menetes di atas lantai, beberapa mengalir di sepanjang sisi wajahnya.

Wonwoo mendudukkan tubuhnya di atas kasur. Helaan napas keluar dari bibirnya. Tangannya dengan lincah mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang. Sibuk membuka pesan yang masuk di notifikasinya.

Bunyi pintu yang terbuka lebar, membuatnya terlonjak. Seperti tahu, siapa yang datang dengan brutalnya saat ini.

“Wonwoo...” rengek orang itu.

Dengan wajah yang memerah dan mata sayu, Soonyoung berjalan ke arah Wonwoo yang menatapnya jengah.

“Kenapa lagi?”

Soonyoung cemberut. Bibirnya mengerucut lucu. Pipinya memerah tipis menghiasi wajahnya. Imut sekali.

“Kalah lagi.”

Soonyoung merengek layaknya anak kecil. Dengan santainya dia duduk di atas pangkuan Wonwoo, dengan kedua lengan yang melingkari leher putih Wonwoo.

Wonwoo mendekap pinggang Soonyoung agar tidak jatuh. Menatap diam lelaki imut yang ada di pangkuannya saat ini.

“Makanya, gak usah ikutan main kartu. Sok-sokan kuat minum. Udah tau Minghao sama Mingyu itu jago minum.”

Wonwoo memberi petuah. Seperti biasa, dia akan selalu mengomeli kekasih mungil nya ini jika sudah merengek kalah, dan menyalahkan Minghao serta Mingyu yang membuatnya mabuk tak berdaya. Untung saja Soonyoung masih setengah sadar sekarang.

“Kan pengen main. Lagipula, aku kan jago minum. Cuman Minghao aja yang keterlaluan.”

Soonyoung menjatuhkan kepalanya di atas bahu Wonwoo yang agak basah. Aroma citrus menguar dari ceruk lehernya. Membuat Soonyoung menyembunyikan wajahnya, di ceruk leher kekasihnya.

“Kalo sekali payah ya payah. Gak usah ngelak.”

Soonyoung bergumam saja. Lebih memilih menikmati aroma badan Wonwoo yang membuatnya ketagihan. Membuatnya menghirup napas dalam-dalam.

“Won. Kok badanmu enak baunya.”

Wonwoo terkekeh. “Baru sadar?”

Soonyoung menggesekkan hidungnya di sepanjang leher Wonwoo, membuat sang empu mendongak.

“Emh.. Baunya gak biasa. Sabun baru ya?”

Wonwoo mendesis tertahan. Tangannya menjalar ke seluruh tubuh Soonyoung. Telapak tangannya yang lebar menangkup dua buah bongkahan kenyal milik Soonyoung. Meremasnya pelan.

“Ahhhh..”

Soonyoung menjauhkan wajahnya dari leher Wonwoo. Menatap lelaki di depannya dalam diam.

Tangan Wonwoo menangkup dagu Soonyoung. Turun ke lehernya yang jenjang. Mengusap kulit putih Soonyoung sensual. Membuat sang empu mendongak. Memberikan akses Wonwoo untuk menyentuh kerongkongannya.

Wonwoo menjilat bibirnya pelan. Menatap lapar kekasihnya.

Wonwoo mendekati leher jenjang milik Soonyoung. Menjulurkan lidahnya ke tulang selangka Soonyoung. Menjilat naik hingga bawah dagunya.

“Anghhh... mhhhh..”

Soonyoung mendongak nikmat. Matanya terpejam erat. Kedua tangannya mencengkram erat pundak milik Wonwoo. Menyalurkan rasa nikmatnya.

Kedua tangan Wonwoo mencengkram pantat Soonyoung. Meremas dan memainkannya lembut.

“Ahhh...”

Mulut Wonwoo tak berhenti. Menjilat, mengecap dan menghisap leher Soonyoung. Meninggalkan beberapa tanda kemerahan disana.

Lidahnya naik menjilati tengkuk leher Soonyoung hingga telinganya. Menjilat telinga mungil Soonyoung yang kemerahan. Mengulum layaknya permen. Sesekali menggigitnya gemas.

“Enghhh.. Hahh..”

Wonwoo melepaskan kulumannya. Memilih untuk menyambar bibir ranum milik Soonyoung. Melumat dan menghisap lembut bibir kekasihnya. Bunyi kecipak menyeruak. Diselingi suara erangan tertahan.

Wonwoo sengaja mengigit bibir bawah Soonyoung, membuat sang empu tersentak. Lidahnya yang panjang, buru-buru ia masukkan kedalam rongga mulut Soonyoung. Mengeksplorasi seluruh bagian mulut Soonyoung yang menggoda. Tak luput, lidahnya mengabsen seluruh gigi-gigi Soonyoung. Bersilat lidah saling membelit. Dengan nakal, lidah Wonwoo membelai langit-langit Soonyoung. Menggesek dan menekannya berulang kali.

“Anghhhh... Mhhhhh...”

Tangan Wonwoo naik perlahan. Menyusuri tulang punggung Soonyoung, sensual. Membuat punggung Soonyoung bereaksi. Membusung kegelian.

Jari-jemari Wonwoo menangkup leher Soonyoung. Sedangkan tangannya yang satu meremas rambut Soonyoung. Mengelus kulit kepala Soonyoung lembut. Membuat Soonyoung meremang.

Dengan keras, Wonwoo menjambak rambut Soonyoung kebawah. Membuat ciumannya terlepas. Kepala Soonyoung mendongak.

“Ahhhh..”

Bibir Wonwoo turun mengecupi seluruh inci leher Soonyoung. Dengan gemas menggigiti seluruh bagian lehernya. Bermain di jakun milik Soonyoung. Mengulum dan menghisapnya keras.

“Aahhhh.. Wonwoo... Ahhh..”

Lidah Wonwoo menjilat berulang kali, layaknya kucing. Tangannya bergerak mengangkat baju Soonyoung keatas. Melepasnya dari tubuh Soonyoung. Mengekspos tubuh Soonyoung yang putih pucat.

“Kayaknya setiap kamu mabuk dari kalah main, selalu gini.”

Jari Wonwoo naik mengusap tubuh Soonyoung. Berhenti di kedua puting Soonyoung yang mencuat tegak.

Kedua ibu jari Wonwoo menekan dan mengusap lembut puting milik Soonyoung.

“Ahhhh.. Mmhhh..”

Jari-jari Wonwoo memelintir dan bermain disana. Sesekali meremasnya gemas.

“Ahhhh... Hahhh..”

Tangan Soonyoung meremas bathrobe Wonwoo makin keras. Membuat ikatan bathrobenya sedikit terbuka. Menampilkan dada serta perut Wonwoo yang terekspos di depan mata Soonyoung. Tetesan air masih ada di tubuhnya, membuat Soonyoung ingin menjilatnya.

Wonwoo seperti tahu apa yang Soonyoung pikirkan, dengan sengaja ia membiarkan tubuhnya terekspos. Soonyoung menelan ludahnya.

“W-won... Ahhhh..”

Tangan Soonyoung bergerak mengekplorasi dada dan perut Wonwoo. Menyentuhnya perlahan. Intens dan sensual.

“Hm?”

Remasan di kedua puting Soonyoung berhenti. Berganti dengan usapan-usapan lembut di sisi pinggangnya.

“Hahh... Curang..”

Wonwoo menaikkan alisnya bingung. “Curang?”

Soonyoung mengangguk, dengan wajah yang memerah, dan mata sayu berlinang air mata.

“Kamu tadi vlive pake ini. Pasti banyak yang pengen liat badanmu.”

Jari-jemari Soonyoung mengusap lembut dada dan perut Wonwoo yang memiliki abs tipis.

“Cemburu?”

Soonyoung mendengus. Memilih menyembunyikan wajahnya di leher Wonwoo.

“Gak ada yang boleh lihat badan kamu, selain aku.”

Wonwoo terkekeh. Tangannya bergerak cepat membuka kancing celana Soonyoung serta resletingnya.

“Posesif.”

Soonyoung memilih diam. Lebih memilih mengecap leher jenjang Wonwoo. Menjilat, menghisap dan menggigitnya pelan. Menikmati tetesan air yang masih ada di tubuh kekasihnya.

“Mhhh.. Badanmu seger, Won.”

Wonwoo terkekeh. “Yeah?”

Mulut Soonyoung turun ke dada Wonwoo. Menjilat dan mengecap air yang masih ada di dada Wonwoo.

“Shhh... Kamu haus apa gimana?”

Soonyoung melepas kulumannya. “Kamu bikin haus.”

Wonwoo menyeringai. Dengan secepat dia mengangkat tubuh Soonyoung, membantingnya keatas kasur.

Soonyoung tersentak kaget. Menatap Wonwoo tak percaya.

“Wonwoo!”

Wonwoo terkekeh. “Kenapa?”

Wonwoo melepas ikatan bathrobe-nya. Membukanya pelan, dan meletakkannya dia tas lantai. Menampilkan tubuhnya yang telanjang bulat.

“Kaget?”

Tangan Wonwoo menarik celana Soonyoung dari kakinya. Mengekspos penis Soonyoung yang tegak memerah.

“Oh?”

Wonwoo tampak terkejut. “Gak make daleman?”

Soonyoung memerah. Memilih mengalihkan wajahnya. “D-diem.”

Wonwoo tertawa pelan. “Mesumnya. Jadi dari tadi gak make apapun?”

Wonwoo menggeleng pelan. Tangannya membuka lebar kaki Soonyoung. Membuatnya mengangkang menampilkan lubangnya yang berkedut kemerahan.

“Nakalnya.”

Tangan Wonwoo mencengkram penis Soonyoung. Membuat sang empu mengerang keras.

“Ahnghhhhh... Hahhh..”

Wonwoo menunduk. Mendekati penis Soonyoung yang berdiri tegak. Mengecup ujungnya lembut. Sesekali meniupkan napasnya disana.

“Ahhhh... Hahhh..”

Lidah Wonwoo terjulur. Menjilat ujung penis Soonyoung yang kecil. Tangannya masih meremas penisnya lembut.

“Ngahhhh... Mmhhhh..”

Kaki Soonyoung bergetar. Tangannya mencengkram sprei yang ada di bawahnya. Wajah Soonyoung memerah.

Wonwoo mengulum penis Soonyoung lembut. Menghisap dan menjilatinya layaknya lolipop. Lidahnya mengeksplorasi seluruh bagian penis Soonyoung. Kepalanya naik turun secara konstan.

“Ahhhhh... Wonwoo.. Anghhh..”

Tangan Wonwoo bermain di skrotum Soonyoung. Meremas dan memainkannya lembut.

“Nahhh..... Ahhhh..”

Dada Soonyoung membusung indah. Punggungnya melingkar.

Penis Soonyoung menyentuh tenggorokan Wonwoo. Membuat pandangan Soonyoung memutih. Betapa nikmatnya mulut Wonwoo memanja penisnya.

Wonwoo melepas kulumannya. Bibirnya turun ke lubang Soonyoung. Lidahnya menjilat lubang Soonyoung yang kemerahan.

“Ngahhh.. Hahh...”

Kedua tangannya melebarkan kaki Soonyoung berlawan arah. Membuatnya lebih leluasa.

Lidah Wonwoo bermain di lubang Soonyoung. Mulutnya sibuk mengecap lubang kekasihnya. Menghisap dan menggigit gemas lubang Soonyoung.

“Ahhhh... Wonwoohh.. Ahhhh...”

Kedua ibu jari Wonwoo melebarkan lubang Soonyoung. Membuat lidahnya masuk dengan mudah.

“Ngahhh.... Hahhh... Ahhhh...”

Soonyoung menggila. Erangannya semakin keras. Desahan kenikmatan menguar di udara. Kecipak basah menemani aktivitas keduanya.

Lidah Wonwoo mengekplorasi lubang Soonyoung. Mengobrak-abrik lubang kekasihnya. Menyentuh dinding-dinding Soonyoung yang berkedut lucu. Bereaksi dengan segala sentuhan.

Lubang Soonyoung di santap habis oleh Wonwoo. Seluruh mulutnya mengulum penuh lubang milik Soonyoung.

“Ahhhh... Hahhh.. Ahhh.. Wonwoo... Ahhh..”

Wonwoo menjauhkan wajahnya. Melepas kulumannya. Kedua jarinya siap memasuki lubang Soonyoung yang sudah basah oleh saliva-nya.

Dalam sekali masuk, kedua jari Wonwoo di telan habis oleh dinding-dinding Soonyoung.

“Ahhhhhh... Wonwoo....”

Wonwoo menikmati ekspresi Soonyoung yang tersiksa penuh kenikmatan. Wajahnya memerah. Mulutnya terbuka lebar. Bibirnya basah oleh saliva. Matanya sayu. Suara erangan serta desahan keluar dari mulutnya.

Jari Wonwoo masuk semakin dalam. Menekan seluruh inci lubang Soonyoung. Menggerakkan kedua jarinya layaknya gunting. Berusaha melebarkan lubangnya.

“Anghhhh.. Hahhh... Ahhh....”

Wonwoo tak sengaja menyentuh prostat Soonyoung. Membuat tubuh Soonyoung bereaksi liar. Seringai lebar muncul di bibirnya.

Dengan nakal, Wonwoo snegaja menggerakkan jarinya menyentuh titik kenikmatan Soonyoung. Menumbuknya cepat disana.

“Ahhhh.. No... Ahhh..”

Wonwoo menekan jarinya semakin dalam. Memutar dan menggerakkannya cepat.

“Ahhhh... Ahhhh.. Wonuu..”

Wonwoo melepas kedua jarinya. Membuat suara erangan kecewa lolos dari mulutnya.

Wonwoo meludahkan ludahnya di atas telapak tangannya. Mengoleskannya di seluruh bagian penisnya yang sudah merah dan tegak menantang udara.

Wonwoo mengecup dahi Soonyoung lembut. Memposisikan penisnya di depan lubang Soonyoung.

“Ready?”

Soonyoung menetralkan napasnya. Berlomba menghirup oksigen mengisi paru-parunya.

“Siap.”

Wonwoo menggangguk. Dalam sekali dorong, penisnya masuk perlahan ke dalam penis Soonyoung.

“Ahhhh.. Shit...”

Wonwoo mengeratkan giginya. Merasakan kenikmatan cengkraman dan pijatan lembut dari lubang Soonyoung.

Soonyoung mengerang. Merasakan lubangnya diisi penuh oleh penis Wonwoo.

Dorongan berikutnya, penis Wonwoo masuk menyeluruh. Napas terengah-engah menemani keduanya.

Detik berikutnya, Wonwoo mulai menggerakkan penisnya. Memaju dan memundurkan penisnya konstan. Menumbuk lubang Soonyoung brutal.

“Ahhhh.... Wonwoo.. Ahhh..”

Wonwoo menusuk penisnya cepat. Liar dan brutal. Berulangkali menyentuh prostat milik Soonyoung. Mendorong makin dalan penisnya. Mencari kenikmatan.

“Ngahhhhh... Mmmhhhh.. Hahhh..”

Tangan Wonwoo mencengkram penis Soonyoung.

“Nahhh.. Ahhhh..”

Tusukannya semakin cepat. Tempo berantakan. Tangan yang mengocok cepat penis milik kekasihnya. Memeras dan mencengkramnya keras. Berusaha memeras cairan keluar dari sana.

“Ahhhh... Ahhhh.. Wonuuu.. Ahhhh..”

Soonyoung menggeleng keras. Tak kuasa dengan kenikmatan yang berlimpah. Suara desahan keras serta lengkingan penuh nikmat, keluar dari bibirnya.

Penis Wonwoo bergerak kian cepat. Menusuk ganas. Meborbardir lubang milik Soonyoung dengan brutal. Suara kecipak basah nan erotis meremang di telinga keduanya.

“Ahhhh.. Wonuuhh..”

Jari Wonwoo bermain di skrotum Soonyoung. Menggoyangkannya gemas.

“Ahhhh... Ngahhhh..”

Panas, ganas, liar, erotis.

Keduanya berkolaborasi meraih kenikmatan. Pijatan dan remasan dinding Soonyoung membuat penis Wonwoo terjepit.

“Fuck. Hahh... Shit..”

Wonwoo menggeram keenakan.

Soonyoung menggigit bibirnya gemas. Melihat Wonwoo dengan keringat menghiasi dahinya, serta matanya yang tajam menatap Soonyoung ganas. Rambutnya yang hitam basah oleh keringat. Wonwoo menyisir rambutnya ke belakang.

“Shit.”

Wonwoo menggenggam kedua tangan Soonyoung di kedua sisi kepalanya. Mengeratkan genggamannya.

Tumbukan Wonwoo semakin cepat. Suara erangan Soonyoung semakin meras.

“Ahhhh...Mmhhhh.. Wonuuu..”

Bibir Wonwoo mengecup dahi Soonyoung lembut. Seperti paham jika Soonyoung sudah diujung tanduk.

“Together.”

Tusukan entah kesekian kalinya, remasan dinding Soonyoung semakin erat. Membuat Wonwoo mengerang nikmat.

Detik berikutnya, keduanya sama-sama mengeluarkan cairan dengan derasnya.

Cairan Soonyoung meluncur deras keatas mengenai perut Wonwoo dan juga perutnya. Beberapa menetes di paha Soonyoung.

Begitupula dengan Wonwoo. Cairannya menembak deras ke dalam lubang Soonyoung. Mengisi seluruh bagian lubangnya tanpa ampun.

Napas yang kejar-mengejar mengiringi keduanya. Tubuh yang penuh dengan keringat, serta orgame yang sedang melanda keduanya. Membuat tubuh Soonyoung serta tubuh Wonwoo bergetar penuh kenikmatan. Masih merasakan kenikmatan yang baru saja mereka rasakan beberapa detik yang lalu.

“Kalo kamu kalah main terus, kita bakal gini lagi.” ujar Wonwoo pelan.

Soonyoung memerah. “Tapi kamu suka kan?”

Wonwoo terkekeh. Dengan lembut dia mencabut penisnya. Membuat lelehan sperma miliknya keluar dari lubang Soonyoung yang berkedut.

“Suka lah.”

Soonyoung mendengus. “Kamu juga. Gak usah make bathrobe kalo mau ketemu sama Carat. Jangan lagi!”

Wonwoo terkekeh. Dengan lembut dia mengecup bibir Soonyoung yang memerah.

“Iya-iya.”

Wonwoo menjatuhkan dirinya di samping Soonyoung. Mendekap tubuh kekasihnya, di dalam pelukannya.

“Aku make bathrobe buat mancing kamu aja deh.”

Soonyoung memerah. Memilih menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Wonwoo yang hangat.

–, Rahasia

Minghao menatap box 'ajaib'nya dalam diam. Dengan kemeja kebesaran milik Seungcheol, tanpa bawahan apapun, Minghao duduk diatas ranjang dengan mata yang fokus dengan barang-barang koleksinya yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Seungcheol.

Minghao menelan ludahnya. Ia tahu betul bagaimana perilaku dan sifat Seungcheol. Mungkin, jika Seungcheol tahu dia memiliki barang-barang laknat seperti ini, ia yakin Seungcheol akan meninggalkannya.

Minghao menghela napasnya. Bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya cara ia bisa memuaskan dirinya sendiri. Tanpa sentuhan tangan Seungcheol, kekasihnya.

Jika mengingat semua perlakuan dan sifat Seungcheol, entah mengapa Minghao selalu merasa sesak. Dia tak tahu apa yang menyebabkan Seungcheol tak menyentuhnya beberapa minggu ini. Sudah memakai berbagai cara, namun tetap saja Seungcheol tak berniat untuk menyentuhnya.

Pikiran negatif nilai muncul di otak kecilnya. Apakah Seungcheol selingkuh? Apakah dia tak mencintai Minghao lagi? Apakah tubuhnya sudah tak menarik lagi? Apakah dia sudah tak memuaskan lagi?

Semua saran dari teman-teman Minghao sudah ia lakukan. Namun tetap saja, Seungcheol tak meliriknya kearah sana.

Ciuman dan kecupan manis masih ia dapatkan. Kata cinta dan perlakuan kecil masih ia dapatkan. Namun tetap saja, Minghao bingung. Kenapa Seungcheol tiba-tiba berubah tanpa ada penyebabnya?

Minghao menghela napas. Tangannya mengambil sebuah bando kucing yang berwarna hitam, dengan bulu-bulu halus menyerupai aslinya.

Tangannya memakaikan bando kucing di surai rambutnya. Membuat Minghao lebih manis dan imut dari biasanya. Tangannya bergerak untuk mengambil collar hitam dengan lonceng emas di tengahnya, ia pasang di lehernya yang jenjang. Suara gemerincing lonceng memenuhi ruangan yang sunyi senyap.

Minghao meneguk ludahnya. Ia sudah lama memiliki fantasi seperti ini. Namun karena Seungcheol yang menjauhinya tanpa alasan, membuat Minghao harus bermain solo demi memuaskan hasrat pribadinya.

Minghao melepas kancing kemeja yang membalut tubuhnya. Helaan napas yang sedikit tak sabar keluar dari mulutnya.

Dengan cekatan ia berhasil melepas kemeja Seungcheol dan melemparkannya di atas lantai.

Ia mengambil posisi menyerong, dengan tubuh yang menungging. Kedua tangannya sibuk membuka penutup lube yang bening, berisikan minyak pelumas berwarna kekuningan. Ia tuangkan di kedua jarinya. Meratakan di seluruh bagian jarinya. Setelah selesai, ia arahkan kedua jarinya ke lubang miliknya. Menggerakkan melingkar di sekeliling lubangnya, lalu memasukkan kedua jarinya perlahan.

“Emhh...”

Minghao merenggangkan lubangnya yang mencengkram erat kedua jarinya. Suara desahan tipis keluar dari bibirnya.

Jari-jemarinya mengeksplorasi dinding-dinding sensitifnya. Kedua jari yang lincah, bergerak seperti gunting. Minghao mendongak dengan bunyi gemerincing menemaninya. Kenikmatan ia rasakan.

Hingga tak sengaja jarinya menyentuh titik sensitifnya. Berulang kali Minghao menyentuh prostatnya dengan sengaja. Membuat seluruh inci tubuhnya gemetar akan kenikmatan. Telinga kucing yang ada di atas kepalanya bergerak mengikuti gerakan Minghao. Lonceng yang ada di lehernya ikut bergerak dan berbunyi ringan berkolaborasi dengan suara desahan dan erangannya.

Kedua jarinya ia keluarkan. Tangannya yang gemetar mengambil buttplug dengan ekor kucing sebagai hiasan. Berwarna hitam dengan bulu-bulu halus sebagai bahannya. Minghao melemurinya dengan pelumas di seluruh bagian buttplug. Tak melewatkan seincipun.

Setelah di rasa puas, Minghao mengarahkan ke lubang kenikmatannya. Dalam sekali masuk, buttplug memenuhi lubang merahnya.

Minghao mengerang nikmat. Suaranya melengking. Buttplug yang ia masukkan berhasil mengenai prostatnya dalam sekali hentak. Dinding-dinding lubangnya, mencengkram erat buttplug yang ada di dalamnya. Membuat prostatnya menyentuh berulangkali ujung mainannya.

Minghao mengerang nikmat. Helaan napas tak teratur, serta jari jemari yang mencengkram erat sprei di bawahnya, Minghao membutuhkan kenikmatan lebih.

Tangannya yang gemeteran, mengambil vibrator berukuran kecil dengan warna putih di sekelilingnya.

Masa bodoh dengan pelumas, dalam sekali masuk, Minghao memaksakan vibrator miliknya, masuk dengan buttplug silver yang masih ada di dalam lubangnya.

Erangan dan lengkingan keluar dari bibirnya yang mungil. Napas tak teratur keluar dari mulutnya.

Tangannya bergerak mengambil remote control di dalam box, dengan tak sabaran ia menekan tombol 'sedang'.

“Ahhhhh.... Nghhh.. Cheol....”

Vibrator bergetar di dalam lubangnya, berbenturan dengan buttplug yang mengenai prostatnya.

Kenikmatan tiada tara berhasil ia rasakan. Tangannya yang nakal menekan pilihan 'Cepat' dalam hitung detik pandangannya memutih.

“Ahhhh.... Nghhhh.. Hahh.. Cheolhh..”

Tangannya meremas sprei dibawahnya. Matanya ia pejamkan erat. Desahan dan erangan keluar dari mulutnya. Ujung buttplug yang terus menerus bergetar tepat di prostatnya. Dinding-dinding lubangnya mencengkram erat vibrator dan buttplug-nya. Membuat Minghao makin menggila.

“Ahhhh.. Yahhh... Nghhhh.. Cheol...”

Getaran vibrator serta tumbukan buttplug yang lembut di prostatnya, membuat Minghao berada di kenikmatan duniawi.

Perutnya bergejolak, penisnya tegak kemerahan seperti ingin memuntahkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, Minghao mengerang. Cairan putih keluar dari penisnya. Mengenai perut, paha serta kasur di bawahnya. Napasnya yang berantakan membuat Minghao fokus untuk menetralkan jantungnya. Tangannya mengeluarkan vibrator dari lubangnya. Desisan pelan keluar dari bibirnya. Tubuhnya lemas.

Dengan perlahan, Minghao bangkit dari posisi menunggingnya. Memilih duduk di atas ranjang. Dengan mata yang masih terpejam. Dadanya naik turun mengikuti napasnya.

Matanya terbuka. Detik itu juga jantungnya seakan berhenti. Napasnya tercekat. Di depannya, berdiri diam sang kekasih. Nama yang ia sebut berulang kali di dalam permainan solonya.

“S-seungcheol.”

Sang empu hanya diam. Dengan perlahan berjalan mendekati Minghao. Tangannya bergerak merenggangkan dasi hitam yang melilit lehernya. Dengan kasar dia menarik dasinya, melemparnya ke sembarang arah.

Sabuknya ia lepas dengan terburu-buru, membantingnya di atas lantai. Kemejanya ia buka dengan cepat. Melepaskannya, dan membantingnya sembarang arah.

Kakinya ia naikkan salah satu diatas ranjang. Tangannya mencengkram rahang Minghao. Tatapan mata Seungcheol berhasil mengunci kedua netra Minghao.

“Siapa yang membolehkanmu main sendiri, hm?” bisiknya lirih di depan wajah Minghao. Hembusan napasnya menerpa Minghao.

“Answer me, baby.”

Minghao tersentak. Ia menatap Seungcheol takut-takut.

“Kamu jauhin aku. Kamu hindarin aku. Saat aku ngajak kamu main, kamu selalu ngehindar.”

Seungcheol menghela napasnya. Dengan lembut bibirnya mengecup bibir ranum Minghao yang menggoda.

“Sorry. I hid something from you, like you hid this from me.”

Minghao tersentak lagi. “Cheol...”

“Sejak kapan? Kamu main solo?”

Minghao menatap Seungcheol dalam diam. Bibirnya kelu. Ia tahu, Seungcheol benci jika ia bermain solo.

“Baby.”

Minghao kembali sadar. “3 minggu.”

Seungcheol tampak terkejut. “Oh my, poor my baby. Sorry.”

Minghao menggeleng pelan. “Gak papa. Aku paham. Aku paham sekarang, aku gak menarik lagi.”

Kedua matanya berkaca-kaca. Menatap Seungcheol terluka.

“Astaga. Hao, denger. Ini gak kayak yang kamu pikir.”

Minghao menggeleng lagi. “Gak. Aku tahu sekarang kamu jijik sama aku kan? Punya barang-barang gini.”

Seungcheol menggeleng keras. Kedua tangannya menangkup wajah Minghao. Menatapnya intens.

“Denger, aku gak ada rasa jijik atau apapun itu. Jujur, kamu yang tadi itu bikin aku turn on.”

Minghao memerah. Masih tak percaya dengan jawaban Seungcheol.

“Dan aku gak bosen atau apapun itu. Kamu menarik di mataku, Hao. Apapun yang kamu lakuin itu menarik bagiku.”

Minghao hanya diam. Mendengarkan ucapan Seungcheol.

“Dan ada alasan kenapa aku jauhin kamu.”

Minghao menyimak. Menikmati elusan lembut di rambutnya.

“Aku punya rahasia. Rahasia besar yang udah aku sembunyiin dari kamu lama. Walaupun kita udah lama berhubungan.”

Minghao menelan ludahnya. Masih menatap kedua netra Seungcheol yang segelap malam.

“Dan semakin kesini, rahasiaku itu makin parah. Makin besar keinginannya buat ke kamu juga. Dan aku takut kamu bakal jauhin aku karena ini.”

Seungcheol menyatukan dahi keduanya. Menatap dalam diam mata kekasihnya.

“Karena semua orang yang ku sayangin sebelumnya ninggalin aku karena ini. Dan aku takut. Takut kehilangan kamu. Maka dari itu, aku jauhin segala hal yang berbau seksual sebisa mungkin.”

Minghao menggeleng tak mengerti. “Emang apa itu? Aku gak ngerti. Kalo orang-orang yang ninggalin kamu gak bisa ngertiin kamu, mereka gak pantes disebut orang kesayangan kamu.”

Minghao menangkup kedua sisi wajah Seungcheol. “Kasih tahu aku, Cheol. Please. Can you?”

Seungcheol menghela napasnya. “Promise me you won't leave me.”

Minghao tersenyum lembut. “Aku janji. Aku janji gak bakal ninggalin kamu.”

Seungcheol memejamkan matanya. Ia jauhkan wajah keduanya. Menatap Minghao dalam diam.

“You know BDSM, right?”

Minghao ngangguk pelan. “Aku tahu.”

“Aku suka itu.”

Minghao terbelalak. Menatap Seungcheol kaget.

“Serius?”

Seungcheol ngangguk pelan. “Bahkan aku punya koleksi mainanku.”

Minghao menatap Seungcheol takjub. “Wow. Gak nyangka pacarku sendiri punya fantasi yang hampir sama kayak aku.”

Seungcheol menatap Minghao tak mengerti. “Maksudnya?”

Wajah Minghao memerah. Matanya bergerak kesana kemari, asal tak menatap Seungcheol.

“A-aku dari dulu pengen di dominasi, di hukum, di kasarin sama kamu.” cicitnya.

Seungcheol menatap Minghao tak percaya. Seringai tipis muncul dibibirnya.

“Oh ya? Maka dari itu kamu punya mainan-mainan ini?” ujarnya sambil menyentuh telinga kucing dan collar yang ada di lehernya.

Membuat Minghao mengangguk malu. “Maaf.”

Seungcheol terkekeh. Ia kecup bibir Minghao lembut. “Ngapain minta maaf?”

“Lagipula kita sama-sama punya fantasi. Aku yang pengen dominasi seseorang, dan kamu mau di dominasi seseorang. Impas kan?”

Minghao menelan ludahnya.

Seungcheol mencengkram surai rambut Minghao. Menjambaknya keras.

“Ah.”

Seungcheol bergerak mendekati telinga Minghao. Berbisik pelan.

“Want to play with me?”

Minghao memerah. Jantungnya berdetak kencang.

Dengan malu-malu ia menjawab, “Sure.”

Seungcheol tersenyum miring. “Good boy.” ujarnya sembari mengecup dahi Minghao pelan.

Seungcheol menjauhkan tubuhnya, berjalan mendekati lemarinya.

“Sebelum kita mulai kita harus punya kesepakatan.”

Seungcheol sibuk membuka lemarinya. Mencari sesuatu.

Minghao menatap tubuh topless Seungcheol dalam diam.

“Ada sesuatu yang gak kamu suka? Gak masalah kalo bondage?”

Minghao ngangguk. “Aku gak masalah, Cheol. Aku gak suka kalo udah nyekik, netesin lilin, dan sayat-sayat. Selain itu gak masalah.”

Seungcheol terlihat mengangguk ngerti. “Termasuk verbal?”

Minghao berpikir lama. “Mungkin gak masalah.”

“Karena kamu udah make collar, sama buttplug, ada beberapa mainan yang mau aku kasih tau. Gak masalah kalo pake borgol?”

Wajah Minghao memerah. “Gak papa.”

“Ball gag?”

Minghao menggeleng. “Nope. Aku gak suka.”

Seungcheol mengangguk. “Flogger?”

Minghao berpikir. “Cambuk yang kayak gimana dulu?”

Seungcheol berbalik. Mengangkat cambuk dengan gagang bermotif kotak-kotak merah hitam, dengan cambuk berukuran pendek berbahan kulit, dan seperti rambut.

Minghao nampak berpikir. “Gak masalah.”

“Oke.”

Seungcheol berbalik lagi. Sibuk dengan urusannya.

“How about dildo?”

Minghao bersemu. “Terserah.”

Seungcheol menyeringai. “Aku anggap sebagai iya.”

Seungcheol berjalan mendekati Minghao dengan borgol, cambuk dan dildo di tangannya.

“Okay, kita bahas 'safe word' dan batasan-batasan.”

Seungcheol meletakkan semua barangnya diatas kasur. Berhadapan dengan Minghao.

“Gak masalah kan sama spanking?”

Minghao ngangguk pelan.

“Jambak?”

“Gak masalah.”

Seungcheol ngangguk lagi. “Okey. Sekarang tinggal 'safe word'.”

“Kalo aku udah keterlaluan dan kamu udah gak kuat, just say 'rose'. How about that?”

Minghao setuju. “Aku setuju, Cheol.”

Seungcheol ngangguk paham. “Sekarang berbaring.”

Minghao menelan ludahnya. Ia baringkan tubuhnya. Menatap Seungcheol antusias.

“Angkat kedua tanganmu keatas.”

Minghao melakukannya dengan tenang. Dengan perlahan Seungcheol menaiki kasur. Menindih Minghao yang berbaring tak berdaya. Dengan cekatan tangannya memborgol kedua tangan Minghao.

“Sakit?”

Minghao menggeleng. “Enggak, Cheol.”

Seungcheol mengangkat alisnya heran. “Siapa yang bilang kamu boleh manggil aku Cheol, slave?”

Minghao tersentak. Seluruh tubuhnya meremang.

“Now, you can only call me Sir. Got it?”

Minghao ngangguk cepat.

“Answer me, bitch.”

Seungcheol menjambak surai rambut Minghao. Membuat sang empu mengerang.

“Y-yes, Sir.”

Seungcheol tersenyum puas. “Good boy.”

Tangan Seungcheol diam-diam mengeluarkan cock ring dari sakunya. Membuat Minghao terbelalak. “T-tadi gak ada cock ring.”

Seungcheol menatap menantang. “Oh, sekarang ada.”

Seungcheol memasangkan cock ring diujung penis Minghao. Membuat sang empu mengerang.

“Enghh...”

Seungcheol menyeringai. Tangannya melebarkan kedua kaki Minghao agar mengangkang.

“Lihat kamu sekarang. Mirip pelacur dengan ornamen kucing yang menghiasi tubuhmu.”

Kedua tangan Seungcheol naik ke arah dada Minghao. Meremas kedua nipple miliknya. Membuat Minghao mendesah.

“Ahhhh.... Anghhh...”

Seungcheol menyambar bibir merah milik Minghao. Mengecapnya lembut. Melumat bibir bawah dan bibir atas milik Minghao bergantian. Suara kecipak basah memenuhi ruangan keduanya. Kedua tangan Seungcheol tak tinggal diam. Memilih bermain di kedua nipple Minghao yang teranggurkan.

“Emhh...Ngh....”

Kedua ibu jari Seungcheol bermain disana. Menekan, memelintir dan menariknya keras.

“Ahhh..”

Mulut Minghao terlepas. Membuat Seungcheol kembali meraup bibirnya, dan menelusupkan lidah panjangnya, mengekplorasi seluruh bagian mulut Minghao, mengabsen gigi-gigi miliknya.

Seungcheol sengaja bermain di langit-langit mulutnya. Menggoda berulang kali disana.

“Nghhhh... Mmhhhh..”

Kecupan Seungcheol turun ke dagu dan rahang Minghao. Mengecup setiap inci tak tersisa. Sesekali menggigit dan menjilatnya.

“Ahhh... Nghhh..”

Mulutnya turun ke leher jenjang Minghao. Suara gemerincing lonceng membuat Seungcheol terkekeh.

“Mirip kucing.”

Lidahnya menjilat seluruh inci leher kekasihnya. Menggigit dan menghisapnya. Meninggalkan jejak kemerahan di sepanjang lehernya.

Lidahnya bermain di atas jakunnya. Sengaja membunyikan lonceng leher Minghao berulang kali. Dengan gemas mulutnya menghisap jakun milik Minghao. Sesekali menggigitnya.

“Anghhh... Cheolhh...”

Seungcheol menjauhkan wajahnya. “Lupa? Kamu cuman bisa manggil aku apa tadi?”

Tangan Seungcheol meremas penis Minghao yang memerah tegak.

“Akhhh... Sir... I'm sorry, Sir.”

Seungcheol tersenyum congkak. “Maaf? Harus kah anak baik sepertimu diberi hukuman agar gak ngulangin lagi?”

Seungcheol meremas lebih keras penis Minghao kali ini.

“Akkhhh... Ahhhh.. Maaf.. Gak akan kuulangi, Sir!”

Tangan Seungcheol yang lain menarik buttplug yang ada di lubang Minghao.

“Yakin gak bakal ngulangin?”

“Yes! Yes! Please, forgive me, Sir!”

Seungcheol mengangguk pelan. “Aku maafkan.”

Minghao tersenyum lega.

“Setelah ku beri hukuman.”

Senyum Minghao lenyap.

“Berbalik, Nungging.”

Minghao membalikkan badannya. Dengan kedua tangan yang di borgol, kepala Minghao bersembunyi di balik kedua tangannya yang terborgol. Pantatnya menungging.

Dengan ayunan singkat, tangan Seungcheol menampar bongkahan kenyal milik Minghao.

“Akhhh...”

Seungcheol menampar pantatnya lagi.

“Ahhh.... Sir....”

Kedua pantat milik Minghao memerah menimbulkan jejak telapak tangan dan warna merah yang sangat kentara.

“Kamu suka kan, kuhukum? Hm? Iyakan?”

Seungcheol kembali menampar kedua pantat Minghao. Membuat sang empu tersentak.

“Ahhhh... Sir..Please...”

Seungcheol meremas kedua pantat Minghao. Menjepit buttplug yang masih ada di dalam lubangnya.

“Please what?”

Tangan Seungcheol menarik ekor buttplug dari lubang Minghao. Membuat lubangnya merekah lebar. Sedikit mengeluarkan pelumas berwarna kekuningan.

“T-touch me, Sir.”

Seungcheol meletakkan buttplug di atas kasur, berganti mengambil dildo berwarna merah jambu yang sudah ia siapkan.

“Aku udah sentuh kamu, kan?”

Minghao mengerang saat Seungcheol menampar pantatnya lagi.

“Aahhh.. Sir...”

Dildo yang ada ditangannya sudah siapa di depan lubang Minghao.

“Yes, baby? Want me to put something in to your hole?”

Minghao mengerang mendengar kata-kata kotor dari mulut dominannya.

“Yes! Please, Sir!”

Seungcheol menjilat lidahnya. Seringai lebar muncul di bibirnya.

“As you wish.”

Dalam sekali hentak, Seungcheol mendorong masuk dildo yang ada ditangannya, kedalam lubang Minghao.

“Aahhhhhh.. Nghhhh... Hahhh..”

Suara Minghao melengking. Pantatnya menungging tajam. Kepalanya naik mendongak. Tangannya yang terborgol meremas erat sprei yang ada di bawahnya.

“Suka, baby?”

Minghao mengangguk. Suara lonceng kembali terdengar. Telinga kucing yang ada di atas kepalanya bergerak pelan.

“Yes, Sir!”

Tangan Seungcheol bergerak cepat mengeluarkan dan memasukkan dildo ke dalam lubang Minghao.

“Ahhh.. Ahhh.. Fasterhh.. Ahhh.. Sirrr..”

Seungcheol makin menggerakkan tangannya cepat. Libidonya naik drastis hanya melihat sang kekasih menungging menggairahkan di bawahnya.

“Bagaimana dengan cambukan kecil? You want that, slave?”

Tangan Seungcheol bergerak cepat. Liar dan ganas.

“Yesshh... Ahhh... Yess... Sirr..”

Tangan kanan Seungcheol tak berhenti. Tangannya yang lain bergerak mengambil cambuk yang sudah ia pilih.

“Lima atau tiga?”

Minghao sibuk mengerang dan mendesah.

“Baru sebatang dildo sudah seribut ini.”

Seungcheol tak berhenti. Tangannya ikut memutar dan menekan dildo makin dalam ke lubang Minghao.

“Ahhhh.. Sirr..”

Seungcheol mengangkat cambuknya. “Hitung.”

Splash.

“Ahhh...”

Minghao menggila. Tusukan di lubangnya yang menggairahkan, ditambah cambukan panas di punggungnya.

Splash.

“Ngahhh... Ahhh..”

Tangannya bergetar sebagai tumpuan. Kepalanya mendongak nikmat. Mulutnya terbuka lebar.

“Hitung, bitch.”

Splash.

“Ahhhh... One.. Hahh..”

Tangan Seungcheol menggerakkan dildo makin cepat menumbuk prostat Minghao.

Splash.

“Ngahhhh... Two.. Ahh.. Sir..”

Tangan Seungcheol mencabut dildo yang ada di dalam lubang Minghao.

Splash.

“Ahhhh.. Three.. Sir...”

Seungcheol melempar dildo ke sembarang arah. Ia melepas kancing celananya. Buru-buru melepas celana serta dalamannya. Menampilkan penisnya yang sudah tegak kecoklatan.

Splash.

“Mmhhh... Fourhh..”

Seungcheol meletakkan penisnya di depan lubang Minghao. Dalam sekali hentak, bersamaan dengan pecutnya, dia memberikan kenikmatan tiada tara kepada submissif-nya.

“Ngahhh... Hahhh.. Five... Ahhh..”

Seungcheol membanting cambuknya ke atas kasur. Tangannya mencengkram pinggang Minghao erat-erat.

Tusukkannya ia percepat. Menumbuk keras prostat Minghao yang sensitif.

“Ahhh.... Sir... Fasterhh..”

Gemerincing lonceng, dan derit kasur yang nyaring, menyatu bersama erangan serta desahan keras dari keduanya.

Dinding-dinding lubang Minghao mencengkram erat penis milik Seungcheol. Membuat sang empu menggeram nikmat.

Tubuh Minghao meremang. Merasakan kecepatan tusukan Seungcheol berbeda dari biasanya.

“AAhhh.. Mhhhh.. Hahh..”

Seungcheol membalikkan tubuh Minghao cepat. Membuat sang empu tersentak.

“Ahhh..”

Tangan Minghao naik diatas kepalanya. Bunyi lonceng yang ada di lehernya semakin nyaring. Matanya sayu. Wajahnya memerah padam. Mulutnya terbuka basah.

Penis Seungcheol menghujam tanpa henti di lubang kekasihnya.

“Ahhhh... Ahhhh... Sir...”

Penis Minghao sudah menggembung. Otot-otot terlihat di sekelilingnya. Precum keluar di ujungnya. Terlihat tersiksa.

Seungcheol mendekati Minghao. Mulutnya bergerak mengecup dada kekasihnya.

Menjilat, menghisap dan menggigit sepanjang kulit milik Minghao.

“Ngahhh... Hahhh..”

Seungcheol melahap puting milik Minghao. Menghisapnya keras layaknya seorang bayi. Lidahnya bermain disana. Menjilat layaknya permen. Gigi-giginya menggigit gemas. Sesekali memelintirnya.

“Aahhhh... Nahhhh.. Ahhh.. Hahh..”

Seungcheol menghisap tanpa ampun. Seperti menanti air asi keluar dari sana.

“Sir... Please... Ahhhh..”

Tusukannya makin liar. Ganas dan tak bertempo. Kepala Minghao pening. Merasakan kenikmatan yang berlipat.

“Please what, huh?”

Seungcheol melepaskan kulumannya. Menatap Minghao yang benar-benar erotis.

Tangan Seungcheol bergerak kebawah. Mengelus penis Minghao yang sudah memerah.

“Please.. Ahhh.. Let me cum...”

Tangan Seungcheol bermain disana. Mencengkram sedikit.

“Ngahh..”

Jari-jarinya mengurut penis Minghao lembut. Memijatnya dari bawah hingga atas. Mendekati cock ring yang ada di ujung penisnya.

“Ahhhh.. No... Ahhhh.. Hahhh..”

Tak diam disitu, tangannya bermain di skrotum Minghao yang mungil. Mencengkram dan meremasnya.

“Anghhhh... Hahhh... Ahhhh..”

Tumbukan Seungcheol makin cepat. Seperti paham bahwa Minghao sudah diujung tanduk.

“Sir... Ahhh... Let me... Uhhhh..”

Seungcheol merasa tak tega melihat Minghao yang berlinang air mata dengan pipi yang memerah, serta mulut terbuka yang menggoda.

Jari Seungcheol menarik cock ring terlepas dari penis Minghao. Membuat Minghao mengerang lega.

Tangan Seungcheol memijat dan meremas penis Minghao lembut. Mengocoknya agak cepat.

“Ahhhh... Ahhhh.. Sirhhh..”

Seungcheol mempercepat tusukannya. Merasakan penisnya di cengkram erat oleh dinding lubang Minghao.

“I wanna cum.... Ahhhhh.. Hahhh..”

Seungcheol bergerak mendekati Minghao. Tangannya mencengkram tangan Minghao yang terborgol.

“Cum to me, baby.”

Seungcheol mengeluarkan cairannya ke dalam lubang Minghao. Mendorongnya masuk makin dalam. Merasakan remasan-remasan nikmat yang diberikan oleh lubang milik Minghao.

Sedangkan Minghao mencengkram tangan Seungcheol erat. Mulutnya terbuka. Matanya terpejam nikmat. Cairannya keluar deras mengenai perut Seungcheol dan miliknya. Beberapa mengenai pahanya.

Napasnya tak teratur. Saling kejar mengejar oksigen. Tubuhnya bergetar nikmat karena orgasme yang ia rasakan.

Seungcheol mengambil napasnya dalam-dalam. Merasa terpuaskan malam ini.

Dengan lembut dia mencabut penisnya. Membuat cairannya keluar turun mengenai paha bagian dalam Minghao, dan menetes ke atas kasur.

Minghao mengerang. Merasakan lubangnya yang kosong mendadak.

“Are you okay?”

Seungcheol bertanya sambil mengusap lembut surai rambut Minghao. Tangannya bergerak membuka borgol tangan kekasihnya.

“Aku gak papa.” gumamnya lelah.

Seungcheol melempar borgol ke sembarang tempat. Tangannya melepas bando kucing serta collar yang ada di tubuh Minghao.

“Suka?”

Seungcheol meletakkan bando dan collar milik Minghao di samping kepalanya.

Dengan malu-malu Minghao menjawab. “Em, sedikit.”

Seungcheol terkekeh. “Okey okey.”

Minghao cemberut. Tangannya menarik Seungcheol kepelukannya.

“That was amazing.” bisik Minghao di telinga Seungcheol.

Membuat Seungcheol tertawa. “Glad to heart that.”

Minghao memerah. Menyembunyikan wajahmu di leher Seungcheol.

“Thank you, Sir.”

Seungcheol tertawa pelan. “Sama-sama, baby.”

–, Es batu

Jun rebahan di atas lantai. Tanpa atasan, hanya menyisakan celana pendek kolornya selutut. Peluh keringat menghiasi dahinya.

“Sialan. Kan udah kubilang. Benerin AC-nya. Liat. Sekarang kita kesiksa.” gerutu Jihoon dengan baju tanpa lengan, serta celana pendek di atas lutut, tengah berbaring di atas sofa.

“Ya maaf. Kan ku kira besok masih bisa, ternyata pada tutup.” jawab Jun dengan mulut mengerucut.

Jun akui memang salahnya yang menunda-nunda untuk memperbaiki AC rumahnya. Alhasil, Jun serta Jihoon harus merasakan panasnya hawa musim panas yang sedang memuncak.

Jihoon terlihat tersiksa di atas sofa. Wajahnya berkeringat dan agak memerah.

“Mandi aja gimana?” tawar Jun ke Jihoon. Ia kasihan melihat kekasihnya yang mungil, tersiksa karena cuaca hari ini.

“Kamu lupa? Air kita dibatasin gara-gara musim panas banyak orang yang boros? Kalo kita pake sekarang sama aja.”

Jun menghela napasnya. Frustasi dengan keadaan keduanya. Memang benar. Pemerintah sedang membatasi pemakaian air dikarenakan banyak warga yang boros air di musim panas saat ini.

Sinar matahari yang menyengat dan hawa panas yang melengkapinya, membuat Jun mengerang frustasi. Ingin rasanya ia berendam, di dalam air bercampur es batu.

Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya. Senyum lebar terlukis di bibirnya. Buru-buru ia bangkit, dan berjalan cepat ke arah dapur. Membuat Jihoon menatap Jun aneh.

Disisi lain, Jun bergerak menuju dapur, membuka kulkas, melihat persediaan es batunya. Beruntung, dia memiliki banyak.

Jun mengambil gelas kaca, mengambil es batu yang ada di dalam kulkas, mengisinya penuh ke dalam gelas.

Setelah dirasa puas, Jun menutup kulkas nya, dan membawa gelas yang berisi es batu, kembali ke ruang tengah. Menghampiri Jihoon yang sedang pasrah di atas sofa.

“Kamu ngapain?” tanya Jihoon heran. Melihat Jun membawa gelas bening berisikan es batu.

Jun tersenyum miring. “Aku ada cara biar kamu gak kepanasan. Mau?”

Jihoon menaikkan alisnya. “Apa?”

Jun meletakkan gelas di atas meja. Meletakkan kedua lututnya di antara tubuh Jihoon, menindihnya sedikit.

“Panas, Jun.” desis Jihoon protes.

“Habis ini gak panas. Buka bajumu.” perintah Jun lugas.

Jihoon menatap Jun menyelidik. “Aneh-aneh nih.”

Jun memutar matanya malas. “Mau bantu pacar sendiri dibilang aneh-aneh.”

Jihoon masih menatap Jun tajam, lalu menghela napasnya pelan. “Yaudah iya.”

Jihoon buru-buru mengangkat kaosnya, melepaskan dari tubuhnya, dan meletakkan di atas lantai. Kini keduanya sama-sama telanjang dada.

Jun mengambil dua es batu dari dalam gelas. Kedua tangannya masing-masing memegang es batu. Jihoon menatap dalam diam.

“Coba tutup matamu.”

Jihoon mau tak mau menurutinya. Memilih memejamkan matanya, menanti apa yang Jun lakukan padanya.

Jun mengarahkan kedua tangannya yang memegang es batu, ke dahi Jihoon. Membuat lelaki di bawahnya tersentak. Kaget dengan sensasi dingin yang ada di dahinya.

“Rileks.”

Jihoon berusaha menuruti perkataan Jun. Merasakan es batu bergerak lembut di dahinya. Pelan-pelan dia lebih rileks dari sebelumnya.

Jun yang melihat kekasihnya sudah tenang, mulai menggerakkan es batu ke kedua pelipis Jihoon. Menggerakkan memutar. Lalu turun mengikuti garis wajah Jihoon. Menggerakannya lembut, membawanya ke kelopak mata Jihoon. Membuat Jihoon menghela napas enak. Merasakan matanya mendingin.

Jun menggerakkan es batunya lagi. Kini menuju ke bibir Jihoon. Menggerakkannya memutar, dan menekannya sedikit. Membuat Jihoon bergerak agak gelisah.

Jun menggerakkannya lagi. Kini ke dagu Jihoon, turun ke leher, membuat Jihoon mendongak. Desahan tipis terdengar dari bibirnya.

Jun menjilat bibirnya, pikirannya mulai terisi oleh hal-hal erotis.

Jari-jari Jun membawa kedua es batu di tangannya, mengekplorasi leher Jihoon. Membuat Jihoon makin mendongakkan kepalanya. Desahan mulai keluar. Rasa dingin dan sejuk membuatnya keenakan.

Jun menggerakkan es batunya naik ke telinga Jihoon. Membawanya menyentuh semua bagian telinga Jihoon.

“Ahh.. Hahh..”

Jun membawa es batu yang ada di jarinya ke belakang telinga Jihoon. Turun menyusuri kedua sisi tengkuk Jihoon. Membuat tubuh Jihoon menggelinjang.

Kedua es batu berhenti di pundak Jihoon. Jari-jemari Jun mulai menggerakkan es batu yang ada di tangannya naik-turun secara konstan dari bahu naik ke bawah telinga. Begitu seterusnya hingga es batu habis luruh tak bersisa. Membuat Jihoon menghela napasnya nikmat.

“Enak?” tanya Jun menelisik ekspresi wajah Jihoon yang masih memejamkan matanya.

“Emm. Enak.”

Jun menyeringai. Tangannya mengambil es batu lagi. Kedua tangannya menggenggam es batu. Kini gantian dada Jihoon yang akan ia eksplorasi.

“Mau lagi?”

Jihoon mengangguk pelan. Wajahnya memerah.

Jun menurunkan es batunya di atas dada Jihoon, mulai menggerakkannya pelan. Menggerakkannya memutar. Membuat Jihoon kembali mengeluarkan suara-suara kenikmatan.

Dengan sengaja, Jun menggerakkan es batunya di atas nipple Jihoon. Membuat sang empu memekik keenakan.

“Hyahh... Ahhh..”

Jun menekan dan memutarnya di atas puting Jihoon, membuatnya membanting kepala, dengan dada yang membusung ke atas.

“Ahhh... Hahhh...”

Jun makin menjadi. Es batunya ia gerakkan melingkar di sekeliling nipple Jihoon, membuat sang pemilik mengerang frustasi.

Jun menurunkan es batunya. Menyusuri perut Jihoon yang datar. Tak ketinggalan, ia eksplorasi seluruh kulit Jihoon tak tersisa. Gerakan memutar dan random ia lakukan. Demi mendengar suara Jihoon yang membuatnya ketagihan.

Kedua buah es batu ia biarkan tergeletak di atas perut Jihoon. Tepat di atas pusarnya. Membuat Jihoon mendesis nikmat.

Tangan Jun bergerak menurunkan boxer milik Jihoon. Menampilkan penis kekasihnya yang sudah tegang kemerahan.

Jari-jari Jun membawa kedua es batu tadi, turun menuju selangkangan Jihoon. Membuat Jihoon mengerang.

Kedua es batu yang ada di tangannya, Jun genggam dalam satu tangan. Menyusuri penis Jihoon yang menegang keras.

“Ahhhh.... Junhh..”

Jun menggenggam penis Jihoon dengan es batu di tangannya. Dua buah es batu menekan penis Jihoon dari kedua sisi.

“Ahhhh... Hahhh.. Dinginhh..”

Jun menarik turunkan tangannya bersamaan dengan es batu dan air yang mencair.

Jihoon mendongak keenakan. Punggungnya melingkar indah membentuk busur. Tangannya mencengkram erat sofa yang ada di bawahnya.

Jun menatap ekspresi Jihoon dalam diam. Puas melihat kekasihnya keenakan di bawah kendalinya.

Kedua es batu yang ada di tangan Jun mulai mengecil. Tanda bahwa akan meluruh seluruhnya. Tak mau menyia-nyiakan, Jun melahap kedua es batu yang ada di penis Jihoon, bersamaan dengan penis kekasihnya yang ia lahap.

“Hyahhh.. Ahhh.. Fuck...”

Jun mengekplorasi penis Jihoon yang tegak menggunakan mulutnya. Dengan es batu yang ada di mulutnya, Jun mengulum penis Jihoon naik turun tak bersisa.

Jihoon mendongak keenakan. Suara desahan, erangan serta pekikan keluar dari bibirnya. Matanya sayu, wajahnya memerah, bibirnya merekah basah mengeluarkan saliva.

Jun menggunakan lidahnya, guna memainkan kedua es batu yang ada di mulutnya, agar Jihoon makin keenakan. Dan benar saja. Jihoon mengerang keras. Kepalanya mendongak tinggi. Pinggulnya ia naikkan. Seperti meminta Jun untuk melahap habis penisnya.

“Ahhhhh... Emhhh.. Hahh..”

Jun merasakan es batu sudah luruh mencair tak bersisa. Membuat Jun mulai memainkan lidahnya liar. Mengekplorasi seluruh penis Jihoon dari atas hingga bawah.

Kedua paha Jihoon bergetar. Tanda bahwa ia akan keluar. Sengaja, Jun bergumam di kulumannya, membuat sensasi penuh kenikmatan tiada tara yang Jihoon rasakan.

“Aanghhh... Junhhh..”

Jun menatap kekasihnya dalam diam. Ekspresi Jihoon frustasi bercampur keenakan. Membuat Jun merasakan libidonya semakin naik.

Dengan nakal, Jun menggerakkan kulumannya cepat. Gigi-giginya ia mainkan, membuat sensasi menggelitik di penis Jihoon.

“Junhh... Ahhh... Keluarhh..”

Jun menghisap keras ujung penis Jihoon. Memancing agar Jihoon keluar lebih banyak. Detik berikutnya, Jihoon mengeluarkan cairannya, menyemprot penuh ke seluruh sisi mulut Jun, yang di telan dengan senang hati oleh sang pemilik.

Nafas Jihoon terengah-engah. Badannya masih bergetar pelan, merasakan orgasme yang ia rasakan. Keduanya lupa akan suasana panas yang ada di sekelilingnya.

“Dinginkan?”

Jun menyeringai. Menatap sang kekasih tak berdaya di bawah tubuhnya.

“Berbalik.”

Jihoon hanya diam. Dengan tubuh yang masih bergetar akibat orgasme beberapa detik yang lalu, Jihoon memutar badannya menelungkup. Kaki dan tangannya gemetar.

“Nungging.”

Jihoon mengambil posisi menungging. Kedua lututnya menjadi penompangnya. Wajah ia sembunyikan di atas lengannya.

Jun berdiri di atas kedua lututnya. Penisnya sudah menggembung minta di manjakan.

Tangan Jun mengambil gelas yang berisi es batu yang sudah agak mencair. Ia letakkan di atas punggung Jihoon yang basah oleh keringat.

“Ahhnn...”

Jihoon mendesah keenakan. Merasakan sensasi dingin di punggungnya.

Tangan Jun menggerakkan gelas yang ada di atas punggung Jihoon pelan. Menyusuri semua inci kulit Jihoon tak bersisa.

Sang empu mengerang. Mendesis keenakan karena rasa dingin yang ia rasakan.

Gelas berhenti bergerak. Jun mengambil satu buah es batu yang masih tak mencair, lalu mengangkat gelasnya kembali, meletakkan di atas meja.

Kedua jari Jun menggerakkan es batu di atas pantat Jihoon. Membuat lelaki yang ada di bawahnya mengerang.

Es batu berhenti di lubang Jihoon. Membuat sang empu tersentak. Kulitnya meremang. Merasakan hawa dingin di daerah sensitifnya.

Jun menggerakkan es batu memutar. Melingkari lubang Jihoon yang memerah.

“Ahhhh... Emhhh... Jun...”

“Hm?”

Jari Jun berhenti bergerak. Berhenti tepat di atas lubang Jihoon yang berkedut. Tinggal dorong, es batu bisa masuk kedalamnya.

“Mau ku masukin?”

Jihoon mengerang. Merasakan tekanan dingin di lubangnya.

“Mau?”

Jihoon hanya diam. Mulutnya sibuk mengerang.

“Oke. Aku masukin.”

Dalam sekali dorong, Jun memasukkan es batu ke dalam lubang Jihoon. Membuat si pemilik memekik keras. Kepalanya bangkit dari telungkupnya. Badannya bertumpu di kedua lutut dan sikunya.

Jari Jun mendorong es batu semakin dalam. Bisa ia rasakan dinding lubang Jihoon mencengkram erat. Membuat Jihoon mendesah, merasakan dingin yang ada di dalam lubang nya.

Es batu mulai mencair sedikit demi sedikit. Membuat lelehannya mengalir keluar dari lubang Jihoon. Jun mengeluarkan jarinya, membiarkan es batu diam di dalam sana.

Wajahnya ia dekatkan ke lubang Jihoon. Menyembunyikan wajahnya yang tampan di antara kedua bongkahan kenyal milik kekasihnya.

Lidahnya ia julurkan untuk menjilat air yang mengalir dari lubang Jihoon. Membuat Jihoon terjingkat.

“Anghhh.. Ahhhh..”

Jun menyeruput dan menghisap air yang mengalir dari lubang Jihoon. Mulutnya ia arahkan untuk mengulum lubang Jihoon. Detik berikutnya, Jun menghisap kuat lubang kekasihnya. Menegak air dingin yang keluar dari lubang Jihoon.

“Hyahhh... Anghhh.. Hahh..”

Jun menghisap dan menjilati lubang kekasihnya. Memasukkan lidahnya ke dalam sana. Mengeksplorasi dinding-dinding Jihoon yang terasa dingin.

Lidahnya menyentuh sesuatu yang kecil namun terasa dingin. Menebak bahwa itu adalah es batu yang sudah berukuran kecil, Jun mendorongnya dengan lidah miliknya.

Kedua tangan Jun mencengkram erat bongkahan kenyal milik Jihoon. Melebarkannya sebisa mungkin. Mulut Jun memakan penuh lubang milik kekasihnya.

“Emhhh.. Jun.. Ahhh... Janganhh..”

Jun seakan tuli. Ia dorong terus es batu yang ada di lubang Jihoon hingga meleleh. Saat merasakan air dingin mengalir ke mulutnya, Jun menghisapnya keras, layaknya air minum biasa.

“Anghhh... Hahhh..”

Jun melepas kulumannya. Napasnya terengah-engah. Tak sabar menikmati lubang kekasihnya. Tak beda jauh dengan Jihoon. Tubuhnya berkilat karena keringat. Napas tak teratur terdengar dari mulutnya.

Jun mengambil es batu lagi. Kedua jarinya meletakkan di atas lubang Jihoon lagi. Membuat sang empu mendesis pelan.

Dalam sekali dorong, jari Jun berhasil memasukkan kembali es batu ke dalam lubang Jihoon.

Lubang Jihoon meregang otomatis. Mata Jun menatap lekat-lekat. Tubuh Jihoon bergetar lagi. Merasakan sensasi dingin di wilayah sensitifnya.

Jun bisa merasakan penisnya semakin tegang. Jun mendekatkan tubuhnya ke atas punggung Jihoon. Mengecup tengkuk milik kekasihnya dengan lembut. Meletakkan wajahnya di ceruk leher lelaki di bawahnya.

“Jihoon. I'm going to fuck you now.” erangnya tak sabar.

Jihoon mendesah. Merasakan hawa panas di lehernya. Anggukan pelan ia berikan.

Jun menjauhkan tubuhnya. Ia turunkan celana miliknya. Menampilkan penisnya yang tegak berurat. Tangannya mencengkram pinggang Jihoon erat-erat.

Jun meletakkan ujung penisnya di depan lubang Jihoon. Jun berusaha menenangkan dirinya.

Dalam sekali dorong, penisnya masuk kedalam lubang Jihoon. Dilahap tanpa ampun oleh dinding-dinding milik kekasihnya.

Jihoon mengerang. Merasakan penis Jun yang masuk ke dalan lubangnya. Mendorong es batu yang sudah ada di lubangnya, semakin dalam.

Jun mendongak keenakan. Mulutnya terbuka, merasakan sensasi dingin di ujung penisnya.

Saat dirasa Jihoon sudah mulai terbiasa dengan keberadaan penisnya, Jun mulai menggerakkan penisnya maju-mundur.

Menghantam penisnya ke es batu yang ada di depannya semakin maju. Jun mengerang keenakan. Sensasi dingin dan cengkraman dari dinding-dinding lubang Jihoon, membuatnya merasakan kenikmatan.

Jihoon mendesah. Mulutnya mengeluarkan berbagai suara erotis yang memanja telinga Jun. Suara-suara yang selalu membangkitkan libidonya naik.

Jun menumbuk penisnya cepat dan keras. Membuat Jihoon mengerang nikmat.

“Ahhhh... Jun... Emhhh.. Yahhh..”

Jun mencengkram pinggang Jihoon erat. Mempercepat tumbukannya. Membuat penis Jun keenakan, merasakan sensasi dingin yang berkali-kali ia rasakan.

Jihoon bergetar, saat es batu menyentuh berkali-kali prostatnya. Membuat bibirnya memekik panjang. Membuat Jun menggeram rendah.

Tangan Jun naik menelusuri punggung Jihoon yang melengkung indah. Tangannya bergerak mencengkram rambut Jihoon yang lembut.

“Ahhhh.. Jun...”

Jun menarik rambut Jihoon. Membuat sang empu mendongak tinggi.

Tumbukannya semakin cepat. Es batu yang ada di dalam lubang Jihoon sudah mencair. Suara kecipak basah memenuhi ruangan, di temani dengan desahan dan erangan penuh kenikmatan.

Jun mempercepat tusukannya. Menyentuh berkali-kali prostat Jihoon yang sensitif.

“Hahhh.. Ahhh.. Jun..”

Tubuh Jun mendekati punggung Jihoon yang basah oleh keringat. Kedua tangannya bergerak menyusuri dada Jihoon. Meremas nipple milik Jihoon keras.

“Ahhhh.. Yahhh.. Ahnnn..”

Jun memainkan nipple Jihoon lembut. Memutar dan menekan sensual. Bibirnya ia arahkan untuk mengecap bahu dan tengkuk Jihoon yang polos.

Lidahnya ia julurkan untuk menjilati seluruh telinga Jihoon. Menghisap dan menggigitnya gemas. Tumbukannya semakin cepat.

Bisa Jun rasakan tubuh Jihoon bergetar di bawahnya. Tanda bahwa ia sudah dekat.

Dengan cepat, ia menumbuk prostat Jihoon keras. Menyentuh berulang kali titik sensitif kekasihnya. Membuat Jihoon mengerang berantakan.

“J-jun. Aku deket.”

Mendengar rintihan Jihoon, Jun memberikan tumbukan cepat pada lubang Jihoon. Dinding Jihoon mencengkram erat penis milik Jun.

“S-shit.”

Jihoon mengerang. Memekik keenakan. Cairan menyembur mengenai perutnya dan jatuh di atas sofa.

Jun menggeram. Bersamaan dengan Jihoon, ia mengeluarkan cairannya. Menyemprot penuh lubang Jihoon dengan sarinya.

Jihoon terengah-engah di bawahnya. Tubuhnya masih menggelinjang. Menikmati orgasme yang ia rasakan.

Begitupula dengan Jun. Ia mengambil napasnya dalam-dalam. Berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar keras.

Dengan hati-hati, Jun menarik miliknya dari lubang Jihoon. Membuat sang empu mendesis.

Lelehan cairannya mengalir di sepanjang paha Jihoon. Membuat Jun menelan ludahnya.

“Kamu harus nyuci sofanya.” ujar Jihoon di balik napasnya yang terengah.

Jun mengerucutkan mulutnya. “Iya-iya. Entar ku cuci.”

Jihoon memutar tubuhnya. Berhadapan dengan Jun.

“Kayaknya kita harus mandi. Mau mandi?”

Jihoon mendengus. Melihat senyum tak bersalah dari kekasihnya.

“Gendong.”

Jihoon menaikkan kedua tangannya. Meminta Jun untuk membawanya.

Jun terkekeh. Ia mendekat, merangkul Jihoon ke dalam dekapannya. Mengangkat kekasihnya ke dalam gendongannya. Tangannya mencengkram erat paha bagian dalam Jihoon.

“Bukannya membaik, malah makin lengket. Gak mau tau besok benerin AC-nya.”

Jun terkekeh. Ia kecup pelipis Jihoon, lembut. Membuat sang empu protes.

“Iya aku benerin. Lagian, kamu tadi suka kan? Pake es?”

Jihoon memerah. Merambat hingga lehernya.

“B-berisik.” jawabnya, selagi menyembunyikan wajahnya di bahu Jun.

Jun tertawa pelan. Membawa sang kekasih ke dalam bilik kamar mandi. Menghilang di balik pintu putih bercat biru.

–, Han dan Cheol

Jeonghan terengah-engah, peluh keringat melapisi tubuh dan wajahnya. Kakinya ia selonjorkan di atas tanah.

“Capek?” tanya Seungcheol yang duduk di samping Jeonghan.

Jeonghan kecil mengangguk. “Capek. Gak bakal aku main sepakbola lagi.” ujarnya dengan bibir yang mengerucut.

Seungcheol terkekeh. Ia menyerahkan sebotol aqua dingin di depan Jeonghan.

“Ini minum.”

Jeonghan tersenyum riang. Tangannya meraih cepat botol aqua dari tangan Seungcheol. Meneguknya, seperti tak ada hari esok.

“Ah, segarnya.”

Jeonghan meletakkan botol minumnya diatas tanah. Menikmati matahari yang sudah mau tenggelam dalam diam.

“Wajahmu basah semua, Han.”

Jeonghan mendengus. “Iyalah. Pengen buru-buru mandi.”

Seungcheol tertawa. Ia mengeluarkan tissu dari kantong celananya.

“Habis ini pulang. Nunggu mataharinya tenggelam.”

Jeonghan ngangguk. “Iya deh.”

“Mau aku bersihin muka mu?”

Jeonghan menoleh. “Mau.”

Seungcheol tersenyum kecil. Tangannya dengan telaten mengusap wajah Jeonghan yang penuh oleh keringat. Jeonghan diam saja. Matanya ia pejamkan. Menikmati perlakuan Seungcheol yang lembut padanya.

“Jeonghan.”

Sang empu hanya bergumam.

“Besok main lagi?”

Jeonghan menggeleng. “Gak mau ah. Capek.”

Seungcheol cemberut. “Kenapa gak mau? Gak mau main sama aku lagi?”

Jeonghan membuka matanya. “Aku gak mau main sepakbola. Main yang lain.”

“Main kartu mau?”

Jeonghan berpikir. “Asal gak keringetan aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Besok aku beliin es potong di pak Sabar.”

Jeonghan tertawa girang. “Asik! Janji loh, Cheol.”

“Iya janji.”

Jeonghan menyerahkan jari kelingkingnya ke arah Seungcheol.

“Janji?”

Seungcheol tertawa kecil. Ia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Jeonghan.

“Janji.”

Jeonghan tersenyum lebar. Ia bangkit dari duduknya.

“Ayo pulang!”

Seungcheol ngangguk. Ia berdiri di samping Jeonghan. Kedua tangan mereka otomatis terkait.

“Kadang aku gak mau pulang.” ujar Seungcheol tiba-tiba.

“Kalo gak pulang gimana, Cheol?”

Seungcheol berjalan sambil mengayunkan tangan mereka. “Maunya sama kamu terus.”

Jeonghan kecil mendengus. “Gak usah alay. Kita masih kecil.”

Seungcheol mengerucutkan bibirnya. “Suatu saat nanti aku bakal nikahin kamu.”

Jeonghan memerah. “Iya kita masih kecil, boleh ngimpi kok.”

“Nanti kamu tinggal di rumah. Masak, terus ngasih aku ciuman setiap hari.”

Jeonghan mendengus. Pura-pura geli. Wajahnya kontras dengan cibirannya.

“Kayak aku mau aja sama kamu.”

“Harus mau!”

“Aku mau kalo kamu ngasih sesuatu.”

Keduanya berhenti di persimpangan.

“Apa?! Aku bakal kasih kamu apapun!”

“Apapun?”

“Iya!”

Jeonghan menatap Seungcheol lekat-lekat. Tubuh mereka setara.

“Kasih aku ciuman, baru aku mau nikah sama kamu.”

Seungcheol memerah. “Tapi, kata mama ciuman bisa bikin anak hamil. Aku gak mau kamu hamil, Han.”

Jeonghan terbelalak. Dia ingat perkataan ibunya.

“Tapi kata mama ciuman di bibir yang bikin hamil. Kalo di dahi gak papa kan?”

Seungcheol menerawang dengan pikirannya. Jeonghan juga ikut berpikir.

“Boleh kayaknya. Gak papa. Kalo aku hamil, kamu harus tanggung jawab!”

Seungcheol ngangguk yakin. “Iya. Sini aku cium di dahi.”

Jeonghan mendekatkan tubuhnya ke arah Seungcheol. Tangan Seungcheol menangkup kedua sisi wajah Jeonghan. Bibirnya ia daratnya di dahi Jeonghan dengan lembut.

Seungcheol menjauhkan wajahnya. Menatap Jeonghan dalam diam.

“Jadi, kita nikah kan nanti kalo kita besar?”

Jeonghan memerah. Ia ngangguk malu-malu. “Iya. Aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Okey. Ayo kita pulang. Udah malem.”

Jeonghan ngangguk. “Bye, Cheol. Besok lagi ya.”

“Okey, Han.”

Keduanya berpisah. Berbeda arah. Saling melambai satu sama lain.

Senja dan persimpangan menjadi saksi dari kedua insan yang mengucapkan janji penuh harapan, tepat di jam 6 sore.

–, Han dan Cheol

Jeonghan terengah-engah, peluh keringat melapisi tubuh dan wajahnya. Kakinya ia selonjorkan di atas tanah.

“Capek?” tanya Seungcheol yang duduk di samping Jeonghan.

Jeonghan kecil mengangguk. “Capek. Gak bakal aku main sepakbola lagi.” ujarnya dengan bibir yang mengerucut.

Seungcheol terkekeh. Ia menyerahkan sebotol aqua dingin di depan Jeonghan.

“Ini minum.”

Jeonghan tersenyum riang. Tangannya meraih botol dari tangan Seungcheol cepat. Meneguknya seperti tak ada hari esok.

“Ah, segarnya.”

Jeonghan meletakkan botol minumnya diatas tanah. Menikmati matahari yang sudah mau tenggelam, dalam diam.

“Wajahmu basah semua, Han.”

Jeonghan mendengus. “Iyalah. Pengen buru-buru mandi.”

Seungcheol tertawa. Ia mengeluarkan tissu dari kantong celananya.

“Habis ini pulang. Nunggu mataharinya tenggelam.”

Jeonghan ngangguk. “Iya deh.”

“Mau aku bersihin muka mu?”

Jeonghan menoleh. “Mau.”

Seungcheol tersenyum kecil. Tangannya dengan telaten mengusap wajah Jeonghan yang penuh oleh keringat. Jeonghan diam saja. Matanya ia pejamkan. Menikmati perlakuan Seungcheol yang lembut padanya.

“Jeonghan.”

Sang empu hanya bergumam.

“Besok main lagi?”

Jeonghan menggeleng. “Gak mau ah. Capek.”

Seungcheol cemberut. “Kenapa gak mau? Gak mau main sama aku lagi?”

Jeonghan membuka matanya. “Aku gak mau main sepakbola. Main yang lain.”

“Main kartu mau?”

Jeonghan berpikir. “Asal gak keringetan aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Besok aku beliin es potong di pak Sabar.”

Jeonghan tertawa girang. “Asik! Janji loh, Cheol.”

“Iya janji.”

Jeonghan menyerahkan jari kelingkingnya ke arah Seungcheol.

“Janji?”

Seungcheol tertawa kecil. Ia mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Jeonghan.

“Janji.”

Jeonghan tersenyum lebar. Ia bangkit dari duduknya.

“Ayo pulang!”

Seungcheol ngangguk. Ia berdiri di samping Jeonghan. Kedua tangan mereka otomatis terkait.

“Kadang aku gak mau pulang.” ujar Seungcheol tiba-tiba.

“Kalo gak pulang gimana, Cheol?”

Seungcheol berjalan sambil mengayunkan tangan mereka. “Maunya sama kamu terus.”

Jeonghan kecil mendengus. “Gak usah alay. Kita masih kecil.”

Seungcheol mengerucutkan bibirnya. “Suatu saat nanti aku bakal nikahin kamu.”

Jeonghan memerah. “Iya kita masih kecil, boleh ngimpi kok.”

“Nanti kamu tinggal di rumah. Masak, terus ngasih aku ciuman setiap hari.”

Jeonghan mendengus. Pura-pura geli. Wajahnya kontras dengan cibirannya.

“Kayak aku mau aja sama kamu.”

“Harus mau!”

“Aku mau kalo kamu ngasih sesuatu.”

Keduanya berhenti di persimpangan.

“Apa?! Aku bakal kasih kamu apapun!”

“Apapun?”

“Iya!”

Jeonghan menatap Seungcheol lekat-lekat. Tubuh mereka setara.

“Kasih aku ciuman, baru aku mau nikah sama kamu.”

Seungcheol memerah. “Tapi, kata mama ciuman bisa bikin anak hamil. Aku gak mau kamu hamil, Han.”

Jeonghan terbelalak. Dia ingat perkataan ibunya.

“Tapi kata mama ciuman di bibir yang bikin hamil. Kalo di dahi gak papa kan?”

Seungcheol menerawang dengan pikirannya. Jeonghan juga ikut berpikir.

“Boleh kayaknya. Gak papa. Kalo aku hamil, kamu harus tanggung jawab!”

Seungcheol ngangguk yakin. “Iya. Sini aku cium di dahi.”

Jeonghan mendekatkan tubuhnya ke arah Seungcheol. Tangan Seungcheol menangkup kedua sisi wajah Jeonghan. Bibirnya ia daratnya di dahi Jeonghan dengan lembut.

Seungcheol menjauhkan wajahnya. Menatap Jeonghan dalam diam.

“Jadi, kita nikah kan nanti kalo kita besar?”

Jeonghan memerah. Ia ngangguk malu-malu. “Iya. Aku mau.”

Seungcheol tersenyum lebar. “Okey. Ayo kita pulang. Udah malem.”

Jeonghan ngangguk. “Bye, Cheol. Besok lagi ya.”

“Okey, Han.”

Keduanya berpisah. Berbeda arah. Saling melambai satu sama lain.

Senja dan persimpangan menjadi saksi dari kedua insan yang mengucapkan janji penuh harapan, tepat di jam 6 sore.

–, Hujan, Petir, Blonde boy

Chan berdiri di depan kios toko yang sedang tutup. Sendirian. Menunggu hujan mereda.

Dalam diam, Chan menatap langit yang sedang menangis. Mengumpat dalam hati, mengapa dia tidak membawa payung atau jaket untuk menghangatkan tubuhnya.

Dari kejauhan, Chan melihat seorang lelaki berambut blonde berlari kearahnya, sambil menutupi atas kepalanya dengan tas punggungnya.

Setelah tiba di samping Chan, lelaki bersurai blonde tadi buru-buru menurunkan tasnya dari atas kepalanya. Membersihkan air hujan dari jaketnya.

Chan menatap dalam diam. Melihat pria berambut blonde sibuk dengan urusannya.

Chan menghela napasnya. Lebih memilih mengeluarkan ponselnya. Ingin mengalihkan pikirannya.

Bersamaan dengan suara petir, yang membuat Chan terlonjak, lelaki bersurai blonde tadi, menatap Chan lekat-lekat.

“Jangan main ponsel. Bahaya.”

Chan kaget. Ia hanya mengangguk. Buru-buru mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam kantong.

Chan masih agak kaget. Suara lelaki asing tadi berhasil mencuri perhatiannya.

Suara petir kembali terdengar. Kali ini Chan berusaha tidak terlihat ketakutan. Gengsi dengan orang di sampingnya.

Hujan semakin deras, diiringi dengan angin lebat. Membuat Chan menggigil. Spontan, Chan memeluk tubuhnya sendiri.

“Dingin?”

Chan menoleh. Bibirnya gemetar. Anggukan pelan ia berikan.

Lelaki asing di samping Chan merogoh tas punggungnya, lalu menyerahkan jaket tebal ke arah Chan.

“Ini pake.”

Chan menatap jaket dan wajah orang itu bergantian.

“Gimana kamu?”

Orang di depan Chan menunjuk jaketnya sendiri.

“Masih ada. Gak basah. Masih parah kamu.”

Chan dengan ragu meraih jaket milik lelaki di sampingnya itu. Memakainya cepat, menyelimuti tubuhnya. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, saat merasakan kehangatan di tubuhnya.

“Makasih.” ujar Chan pelan, yang dibalas anggukan oleh si lelaki.

“No problem.”

Keduanya dilanda keheningan kembali. Sama-sama menikmati derai hujan yang lebat. Suara rintikan hujan yang ada di atap toko, mengiringi suasana keduanya.

Suara keroncongan keras membuat Chan menoleh. Menatap lelaki di sampingnya jenaka.

Chan terkekeh. Ia merogoh tas punggungnya, menyerahkan roti isi ke arah lelaki bersurai blonde yang ada di sampingnya.

“Ini. Semoga bisa ganjel perut mu.”

Lelaki di samping Chan memerah. Ragu-ragu ia mengambil roti yang Chan berikan. Menyantapnya pelan. Chan tersenyum kecil melihatnya.

Keduanya diam lagi. Menatap jalan di depan mereka dalam diam. Air hujan mengalir deras di atas jalanan aspal.

“Namaku Hansol.” ujar lelaki di samping Chan tiba-tiba, yang diketahui namanya adalah Hansol.

Chan menoleh, lalu mengangguk. “Aku Chan.”

“Chan.” gumam Hansol pelan. Menimbulkan tanda tanya dari Chan.

“Kenapa?”

“Gak papa.”

Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga suara petir kembali menggelegar. Membuat Chan terlonjak, mendekati Hansol.

Hansol menangkap Chan. Merangkulnya hangat. Melihat wajah Chan yang cemas membuatnya tak tega.

“Takut petir?”

Chan mengangguk cepat. Masih menatap langit was-was.

“Gak papa. Ada aku.”

Chan hanya mengangguk. Setidaknya saat ini dia tak sendirian.

Tangan Hansol tak terlepas. Masih merangkul Chan. Menenangkan lelaki di sampingnya yang masih cemas.

“Gak papa.” ujar Hansol lembut. Mengusap bahu Chan menenangkan.

Entah mengapa Chan merasa tenang. Entah mengapa keberadaan orang asing di sampingnya membuatnya bersyukur. Bersyukur dia tak sendirian. Bersyukur lelaki di sampingnya ini memilih berteduh di tempat yang sama dengannya.

“Udah baikan?”

Chan ngangguk. Memilih menjauhkan tubuhnya. “Makasih.”

“Gak masalah.”

Keduanya berbincang ringan. Membicarakan segala hal. Entah mengapa Chan tak menyesal dengan hujan. Tak menyesal lupa membawa payung. Tak menyesal tak membawa jaketnya.

Hingga tak sadar hujan mereda. Membuat Chan mau tak mau harus pergi. Mau tak mau dia harus berpisah dengan lelaki blonde yang baru ia temui setengah jam yang lalu.

“Udah reda ” ujar Hansol sambil melihat langit yang sudah sedikit terang.

Chan ngangguk setuju. Hujan sudah reda.

“Oh iya, jaketmu.”

Hansol menggeleng. “Bawa aja. Kasih aku kapan saja.”

“Tapi aku gak tau gimana hubungin kamu.”

Hansol terkekeh. “Apa gunanya nomor ponsel.”

Hansol merogoh kantong celananya. Meraih ponsel hitamnya, siap mengetikkan sesuatu.

“Berapa nomormu?”

Chan agak memerah. Lalu ia mengucapkan nomornya pelan.

“Nanti aku hubungin ya. Aku harus pergi.”

Chan ngangguk. Ia melambai kearah Hansol. Menatap kepergian Hansol dalam diam.

Buru-buru Chan meraih ponselnya. Menghidupkannya cepat-cepat.

Sebuah notif pesan dari nomor tak diketahui, membuat jantungnya berdebar.

'Hai, ini Hansol. Mau ketemu besok? Di cafe TEEN.'

Chan tersenyum lebar. Buru-buru membalas pesan dari Hansol.

'Hai, ini Chan. Tentu aku mau. Aku juga mau ngembaliin jaketmu. Jam 4 sore besok?'

Tak berselang semenit, balasan dari Hansol membuat Chan kegirangan.

'Okey, Chan. See you.'

Chan tersenyum lebar. Sama sekali tak menyesal hujan turun hari ini.

–, Undercover

Jisoo mengumpat. Mengusak surai rambutnya kasar. Sumpah serapah keluar dari bibirnya yang mungil.

Jisoo menghela napasnya, sembari mebanting tubuhnya di atas kasur. Meletakkan lengan kirinya diatas wajahnya, menutupi kedua netranya.

Jisoo mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Saudara kembarnya, Jisaa, memohon-mohon padanya, dengan tampang bak anjing kecil, dan mata yang berlinang air mata. Membuat Jisoo mau tak mau mengiyakan keinginan kakak kembarnya itu.

Jisaa, memohon kepada Jisoo untuk menggantikan dirinya diacara festival sekolahnya, yang bertepatan dengan lomba balletnya. Membuat Jisoo tak habis pikir. Mengapa kakaknya itu tidak izin dari sekolahnya? Namun, jawaban Jisaa membuat Jisoo ingin membenturkan kepalanya di dinding.

Dengan alasan 'Aku panitia, tenang saja kamu hanya diam, duduk, melihat anak-anak, gak perlu bersuara. Aku sudah bilang ke panitia lain aku sakit tenggorokan. Jadi, tolong kamu gantikan aku di sekolahku, doakan aku menang okay!'

Jisoo menghela napasnya. Berdoa dalam hati, agar keesokan harinya penyamarannya tidak di ketahui oleh orang lain.

*****

Jisoo mendekap erat buku kepanitiaan di dadanya. Dengan celana pendek selutut, kaos lengan pendek, dan jaket tipis khusus panitia tersampir di tubuhnya. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di punggungnya. Bergerak lembut seirama dengan hembusan angin.

Jisoo berusaha tenang. Mengabaikan tatapan memuja dari berbagai sudut. Jisoo baru mengetahui bahwa kakak kembarnya ini sangat populer. Bahkan sudah berjam-jam lebih dia tidak bersuara, tak ada satupun yang mencurigainya. Mereka semua benar-benar mengira, dia sakit tenggorokan.

Jisoo sempat tak percaya saat melihat pantulan dirinya sendiri di cermin kamarnya. Dengan polesan make up tipis, dan pemerah bibir, Jisoo benar-benar mirip kakak kembarnya.

Tak heran jika tak ada siswa yang mencurigainya.

Pikirannya buyar saat ada seseorang yang menepuk bahunya lembut. Membuat Jisoo menoleh. Terlihat seorang laki-laki dengan rambut acaknya, dan senyum lebar yang membuat hatinya menghangat.

“Hai, Jisaa.”

Jisoo mengangguk pelan. Masih menatap lekat lelaki di depannya.

“Tumben diem mulu. Biasanya banyak bacot. Beneran sakit tenggorokan?”

Jisoo mengangguk sebagai konfirmasi. Membuat lelaki di depannya mengangguk paham.

“Aku ada cara biar tenggorokanmu cepet sembuh. Mau tau?”

Jisoo diam, lalu mengangguk. Tak ada gunanya menolak.

Lelaki di depannya tersenyum lembut. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan rambutnya yang menutupi lehernya. Jemarinya bergerak menyentuh tengkuk lehernya. Membuat Jisoo agak tersentak, merasakan betapa dinginnya tangan lelaki di depannya itu.

Lelaki di hadapan Jisoo, mendekatkan wajahnya ke leher Jisoo. Membuat Jisoo kaget, spontan mendongak. Jantungnya berdebar.

Lelaki di depannya mengecup lehernya. Mengecup lama, lalu melepaskannya.

Wajah Jisoo memerah. Menatap pemuda di depannya tak percaya.

“Semoga cepet sembuh.” ujarnya diiringi tawa ringan.

Lelaki itu bangkit. Meninggalkan Jisoo dengan wajah yang memerah dan jantung yang berdebar keras.

“Jisaa! Gak papa? Diapain sama Seokmin?”

Jisoo menoleh linglung ke arah temannya yang lain. Jisoo menggeleng.

“Kebiasaan Seokmin tuh.”

Jisoo hanya diam. Menatap punggung lekaki tadi yang baru saja Jisoo tahu namanya. Seokmin.

Senyum tipis muncul di bibirnya. Kepalanya berulang kali mengucapkan namanya bagai mantra.

Seokmin. Seokmin. Seokmin.

*****

Jisoo mendudukkan dirinya di atas kasur ruang kesehatan. Teman-temannya memaksa Jisoo untuk istirahat di ruang kesehatan. Entah kapan acara berakhir. Jisoo menikmati waktunya saat ini. Dia benar-benar iri dengan kepopuleran kakak kembarnya.

Jisoo melepas Wig rambutnya. Merasa gerah karena terlalu lama memakainya. Dia mengusak rambutnya lembut. Bersyukur bahwa ruangan kesehatan saat ini sepi. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Membuat Jisoo agak bernapas lega. Bisa menjadi dirinya sendiri untuk sementara, tanpa orang lain tahu.

Atau mungkin tidak?

Karena detik berikutnya, Jisoo tak sempat memakai Wig rambutnya, saat Seokmin, lelaki beberapa jam yang lalu ia temui, masuk ke ruang kesehatan, dan menyibak korden yang Jisoo tempati.

Keduanya saling tatap. Keheningan menyelimuti mereka. Mata Jisoo melebar. Rasa takut menyergap hatinya.

Jisoo menggigit bibirnya cemas. Menatap Seokmin yang hanya diam.

“Ah. Sesuai dugaanku.”

Jisoo cuman diam. Menatap Seokmin yang masih menganalisa dirinya dari atas hingga bawah. Sesekali mengangguk.

“Kamu bukan Jisaa.”

Jisoo tersentak. Napasnya seakan hilang. Mampus sudah.

Seokmin menyeringai. Dengan perlahan dia mendekati Jisoo. Membuat Jisoo tak bergerak di atas kasur, dengan tubuhnya yang disergap oleh tubuh Seokmin. Wajah keduanya sangat dekat. Bahkan Jisoo mampu menghitung bulu mata Seokmin.

“Siapa kamu?”

Jisoo masih enggan bersuara. Ditatap dengan lekat oleh Seokmin, entah kenapa membuat jantungnya berdebar.

“Kamu laki-laki kan?”

Seokmin menatap tubuh Jisoo dari atas hingga bawah. Berhenti tepat di selangkangan Jisoo.

“Apa perlu ku pegang biar kamu bersuara?”

Jisoo terlonjak. Tangannya otomatis menutupi selangkangannya dari pandangan Seokmin. Membuat lelaki di depan Jisoo tertawa.

“Kamu saudara kembarnya Jisaa, kan?”

Mau tak mau Jisoo mengangguk. Membuat Seokmin puas mendengarnya. Dia segera menjauhkan tubuhnya, lalu mendudukkan dirinya di samping Jisoo.

“Sudah kuduga. Tadi waktu aku cium lehermu, aku lihat jakunmu.”

Jisoo memerah saat mengingatnya.

“Kemana Jisaa?”

Jisoo menelan ludah. Harus kah dia jawab?

“Gak mau jawab gak papa.”

Jisoo menggeleng. “Dia ada lomba katanya. Ballet.”

Seokmin tertawa. “Ballet? Sejak kapan anak bar-bar macem dia ikut ballet. Dibohongin kamu sama kakakmu sendiri.”

Jisoo diam. Benarkah kakaknya membohongi dia?

“Nanti coba tanya aja ke kakakmu.”

Jisoo hanya mengangguk pelan. Kepalanya ia tolehkan ke arah Seokmin. “Kamu pacarnya kakak?”

Seokmin terkekeh. “Pacar? Ogah sama dia. Mending sama kamu aja.”

Jisoi memerah. Buru-buru ia alihkan kepalanya menatap arah lain.

“Tapi kan aku laki.” gumam Jisoo ragu.

Seokmin terkekeh. “Emang kenapa kalo laki? Aku kan yang suka kamu. Jadi, terserah aku.”

Jisoo hanya diam. Dia masih yakin jika Seokmin ini suka padanya karena tampangnya yang mirip kakak kembarnya. Siapa yang tak suka dengan kakak kembarnya itu.

“Jisaa itu udah punya pacar. Anak sekolah sebelah. Kayaknya dia gak masuk buat liatin pacarnya. Makanya kamu disuruh gantiin dia disini.”

Jisoo tak habis pikir. Jika kakaknya pulang nanti, dia akan meminta penjelasan. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otaknya. Seperti paham dengan omongan Seokmin.

“Jadi, karena kamu gak bisa dapetin kakakku, kamu mau dapetin adeknya? Yang laki ini? Biar kamu bisa ketemu terus kan sama Jisaa?”

Seokmin diam, lalu tertawa. “Ngapain aku suka sama Jisaa. Kamu sama Jisaa itu beda. Walaupun aku sama kamu baru ketemu hari ini. Wajah boleh sama, tapi sifat kalian beda jauh. Kamu kalem, tenang, pemalu dan kalo ngomong pasti di pikir-pikir. Beda sama Jisaa. Jadi, hilangkan pikiranmu yang ngira aku suka Jisaa tapi gak bisa dapetin dia.”

Jisoo hanya diam. Tangannya bermain di zipper jaketnya.

Seokmin terkekeh. “Aku tertarik sama kamu dari awal pagi ini. Auramu beda, aromamu beda, tingkahmu beda. Makanya aku berani lakuin tadi ke kamu. Kalo kamu Jisaa beneran, kamu bakal mukul aku.”

Jisoo masih bungkam. Lebih memilih mendengarkan ucapan Seokmin.

“Kalo aku pengen kenal dekat sama kamu gimana? Kamu mau?”

Jisoo menoleh. Bertatapan dengan netra Seokmin yang coklat tua. Entah mengapa, Jisoo menyukainya.

Anggukan pelan dari Jisoo, membuat Seokmin tersenyum cerah. Seokmin menyerahkan telapak tangannya di depan Jisoo.

“Ayo, aku antar pulang. Udah pada sepi di luar. Kamu gak perlu nyamar lagi.”

Jisoo menatap tangan Seokmin dan wajah Seokmin bergantian. Dengan pelan dia meraih tangan Seokmin.

Senyum lebar menghiasi bibir Seokmin. Genggamannya ia eratkan.

“Ayo.”

*****

“Hai, Jisaa.” ujar Seokmin sambil menyeringai, saat melihat Jisaa di perkarangan rumahnya.

Jisaa melotot horror, saat melihat adik kesayangannya bergandengan tangan dengan Seokmin.

“S-seokmin?!”

Seokmin tertawa. Jisoo hanya diam. Memilih pasrah dengan keadaan.

“Ini aku. Tenang aja, aku udah tau dari awal kalo Jisaa yang tadi itu bukan Jisaa asli. Adekmu cakep ya.”

Jisoo memerah. Matanya menatap kakaknya dengan perasaan bersalah.

“Gimana bisa kamu ketauan?”

Jisaa menghampiri Jisoo, menariknya agar menjauh dari Seokmin.

“Dia lepas Wig nya di uks. Pas bener akunya masuk.”

Seokmin menjawab diiringi kekehan ringan.

“Jangan deket-deket sama dia! Udah kamu jauh-jauh dari ini makhluk.”

Jisaa menarik Jisoo untuk bersembunyi di belakang punggungnya.

“Gak bisa. Aku sama Jisoo udah janji.”

Seokmin menyeringai. Ia melangkah mendekati Jisaa. Dengan gampang, dia menyingkirkan Jisaa. Membuat Seokmin bisa melihat Jisoo dengan jelas, menatapnya lekat-lekat.

Dengan lembut dia menangkup wajah Jisoo. Kecupan lembut ia daratkan di bibir Jisoo yang mungil, membuat Jisaa melotot tak percaya.

Seokmin menjauhkan wajahnya, mengusap lembut surai rambut Jisoo yang berantakan.

“Nanti hubungi aku.”

Jisoo mengangguk pelan. Wajahnya memerah.

Seokmin menoleh ke arah Jisaa. Melemparkan senyuman congkak.

“Bye, babu.”

Jisaa mengeram. “Sialan.”

Seokmin tertawa. Dia tersenyum lembut kearah Jisoo, yang dibalas anggukan malu dari sang empu.

Saat Seokmin sudah berlalu, buru-buru Jisaa mendekati Jisoo.

“Astaga, kenapa kamu bisa sama itu orang? Astaga.”

Jisoo masih tak paham kenapa kakaknya heboh seperti ini.

“Emang kenapa, kak?”

Jisaa melotot. “Kenapa? Kenapa katamu? Dia musuhku, Jisoo. Musuh!!”

Jisoo tertawa pelan. “Kan musuh kakak. Bukan musuh ku.”

Jisaa berdecak. “Kamu gak tau sifat aslinya.”

“Dia baik kok.”

Jisaa menggeleng pelan. “Udah kena peletnya kamu.”

Jisoo terkekeh. “Gak ah.”

Jisaa menghela napasnya pelan. “Emang kamu udah janji apa sama dia?”

“Oh. Janji buat kenalan lebih jauh. Dia suruh aku janji kalo gak mau penyamaran tadi di publikasikan di sekolah.”

Jisoo berucap polos. Tanpa beban. Membuat Jisaa mengerang frustasi.

“Astaga, Jisoo. Kamu dibodohin!”

Jisoo mengerjap bingung.

“Dibodohin gimana?”

“Ah, tau ah. Bye!”

Jisoo menatap kakaknya bingung.

“Dibodohin gimana sih?”