Puppyfrog

–, Attention

Jun itu bodoh. Itulah yang sering diucapkan oleh teman-teman mereka. Bagaimana bisa dia tidak sadar, bahwa kedua sahabatnya suka padanya? Membuat semua kawan mereka geleng-geleng kepala dengan hubungan Mingyu, Wonwoo dan Jun.

Jun, Mingyu dan Wonwoo adalah sahabat. Mereka bertiga sudah kenal sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Bersahabat sudah lebih dari 10 tahun. Membuat ketiganya kenal dan tahu pribadi masing-masing.

Kecuali Jun. Dia tak tahu persaingan kedua sahabatnya dalam memperebutkan hatinya. Dia tak tahu perkara bahwa Mingyu dan Wonwoo bersaing untuk menjadikan Jun pacar mereka. Jun tak tahu bahwa keduanya sudah bersaing sejak mereka duduk di bangku smp.

Jun itu polos bahkan terlampau gak peka. Dia bahkan gak sadar kalau di sukai oleh dua orang sekaligus. Entah bodoh atau polos.

Seperti saat ini. Mingyu dan Wonwoo ada di kedua sisinya. Rebutan disuapin bakso oleh Jun.

“Gua aja, Jun. Suapin gua.” ujar Mingyu sambil merangkul pinggang Jun.

“Gak usah dengerin Mingyu. Aku aja aja, Jun.” ujar Wonwoo tak ingin kalah. Tangannya menangkup dagu Jun untuk menatapnya.

Minghao menatap ketiganya bosan. Prihatin melihat Jun yang kebingungan.

“Jun. Daripada pusing, mending suapin gua aja.”

Jun menatap Minghao kaget. Lalu tertawa. Tangannya mengarah ke mulut Minghao.

“Yaudah, buat Minghao aja.”

Minghao menyeringai. Mulutnya melahap bakso yang ada di sendok Jun. Membuat Mingyu dan Wonwoo menatap Minghao kesal.

Minghao terkekeh. “Buruan suapin dua pawang lu, Jun. Gantian noh. Ribet amat.”

Jun baru paham. Ia menganggukkan kepalanya.

“Bener juga. Gantian aja ya.”

Jun mengarahkan sendok nya ke arah Mingyu, lalu gantian ke Wonwoo.

Membuat Jun tersenyum senang melihat kedua sahabatnya rukun.

“Enak kan?”

Mingyu ngangguk, di setujui oleh Wonwoo.

“Sekarang gantian kalian suapin aku. Ayo.”

Jun membuka mulutnya ke arah Wonwoo. Membuat Wonwoo makin gemas. Dengan lembut dia menyuapkan nasi pecel ke mulut Jun. Yang dibalas senyum riang oleh sang empu.

“Enak.”

Jun mengunyah lembut. Lalu berganti menatap Mingyu. Ia membuka mulutnya. Menanti Mingyu untuk menyuapinya juga.

Mingyu tersenyum kecil. Mengarahkan sendoknya untuk menyuapi Jun nasi soto miliknya.

Jun senang. Berhasil menyenangkan kedua sahabatnya.

“Enak juga.”

Minghao memutar matanya malas. Gemas ingin mengatakan pada Jun bahwa kedua sahabatnya itu suka padanya.

“Jun.”

Minghao memanggil. Membuat Jun menatap Minghao tak mengerti.

“Kalo ada orang yang suka ke lu gimana? Tapi lebih dari satu orang, dan mereka berdua saingan buat dapetin lu. Gimana?”

Mingyu serta Wonwoo tersedak. Melayangkan tatapan tajam kearah Minghao.

Jun menerawang. Berpikir sejenak.

“Ya gak papa. Kan hak semua orang. Artinya mereka beneran sayang sama aku.”

Mingyu serta Wonwoo menatap Jun tertegun.

“Tapi lu gak bisa milih keduanya, kan?” tanya Minghao penasaran.

Jun ngangguk setuju. “Iya lah gak bisa. Maruk dong aku.”

Minghao terkekeh. “Tapi lu suka dua orang, itu termasuk maruk gak?”

Jun tersedak. Wajahnya memerah. Menatap Minghao gugup.

“A-apasih. Gak usah dibahas.”

Minghao terkekeh. “Gak salah kok suka orang lebih dari satu.”

Mingyu serta Wonwoo menatap tak mengerti.

“Heh, maksudnya apaan? Jun lu suka 2 orang?!” Mingyu heboh.

“Jun, kok gak cerita ke aku?”

Wonwoo serta Mingyu heboh. Sibuk bertanya siapa orang yang Jun sukai. Membuat Jun menghela napasnya pelan.

“Minghao asal ngomong itu. Jangan dipercaya ya.”

Mingyu menatap Jun serta Minghao bergantian. Begitu pula Wonwoo. Seperti meminta penjelasan.

“Lu bertiga itu sama-sama goblok. Satunya gak peka, yang dua tambah gak peka. Dah ya, gua duluan.”

Minghao bangkit. Mengabaikan teriakan Mingyu serta Wonwoo padanya.

Jun memijat dahinya pelan. Tak habis pikir dengan mulut Minghao.

Mingyu serta Wonwoo bertukar tatap. Seperti paham dengan telepati keduanya.

“Jun, ayo balik.”

Mingyu bangkit, menarik Jun untuk bangkit juga. Wonwoo ikut bangkit. Wajahnya masih tak bisa di deskripsi kan.

Jun menelan ludahnya kasar. Merasakan hawa-hawa tak mengenakkan dari kedua sahabatnya.

“Mingyu.. Wonwoo..”

Ketiganya berjalan bersama diselimuti keheningan. Jun mengigit bibirnya takut. Menatap wajah kedua sahabatnya yang ada di sisinya ragu-ragu. Wajah keduanya keras. Tak ada senyum di bibir keduanya.

Jun pasrah. Pasrah dengan semuanya.

*****

“Apa maksud lu Jun suka dua orang?”

Mingyu mendorong Minghao di tembok. Mencengkram kemeja Minghao. Membuat sang empu meringis.

Wonwoo berdiri di samping Mingyu, sambil bersedekap menatap Minghao tajam.

Minghao terkekeh. “Liat. Lu berdua malah ngajak ribut ke gua. Harusnya ke cowok kesayangan lu. Ngapa ke gua.”

Mingyu menggeram. Tangannya semakin mendorong Minghao ke dinding.

“Gak usah banyak bacot. Siapa yang lu maksud?”

Minghao tertawa mengejek. “Kan keliatan bener gobloknya. Daripada ngurusin gua, kenapa lu berdua gak rebut perhatian Jun? Bikin dia gak suka sama tuh orang. Ngapain lu berdua buang-buang waktu rebutan Jun. Jun aja bisa suka dua orang, kenapa dia gak bisa suka lu berdua juga?”

Mingyu menatap Minghao dalam diam. Tangannya ia lepaskan dari kemeja Minghao.

Minghao buru-buru merapihkan bajunya. Menatap Mingyu serta Wonwoo heran.

“Heran dah gua. Ngapain buang waktu buat ngeroyok gua. Mending lu pergi, taklukin hati si Jun. Buruan tembak. Ke duluan orang yang di suka sama Jun, mampus lu.”

Minghao berbalik meninggalkan keduanya. Membuat Mingyu serta Wonwoo saling tatap.

“Siapapun orang yang di suka Jun, gak bakal gua biarin. Sementara kita harus kerjasama. Lu gak mau kan Jun di rebut orang lain?”

Wonwoo mendengus. “Lu pikir gua mau? Mending gua berbagi sama lu daripada relain Jun sama orang lain.”

Mingyu mendengus. “Gua bakal nyari orangnya, sambil kita berdua jalanin rencana.”

Wonwoo diam. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang. “Gak bakal gua biarin Jun di ambil orang lain.”

*******

Jun menatap punggung kedua sahabatnya cemas. Keduanya sudah mendiaminya dari istirahat pertama hingga jam terakhir. Ia mengutuk ucapan Minghao yang kelampau bebas itu.

Jun pasrah. Menyiapkan mentalnya sekuat mungkin. Ia meletakkan kepalanya di atas meja. Menatap langit yang cerah dari tempatnya berada. Menyalahkan perasaannya yang menyukai Mingyu serta Wonwoo secara bersamaan.

Jun menyukai kedua sahabatnya. Dia terlalu takut untuk mengungkapkannya. Memilih diam dan mengubur perasaan tabunya dalam-dalam. Dia yakin, jika Mingyu serta Wonwoo tahu akan kebenarannya, keduanya pasti jijik padanya.

Dada Jun sesak. Ia menahan air matanya keluar.

Sebuah elusan lembut di rambutnya, membuat Jun terlonjak. Mengangkat kepalanya. Melihat Mingyu tersenyum lembut padanya.

“Kenapa?”

Jun menggeleng. Matanya mencari keberadaan Wonwoo.

“Mana Wonwoo?”

“Di atap. Mau ke atap?”

Jun mengangguk. Dia berdiri, mengikuti Mingyu dalam diam.

Menatap punggung Mingyu lekat-lekat. Hatinya berharap dia bisa menggapai sahabatnya yang satu ini.

Saat dirinya tiba di atap, terlihat Wonwoo sedang berdiri, menatap langit dalam diam.

Jun menghampirinya. Berdiri di samping Wonwoo, diikuti oleh Mingyu yang berdiri mengapit Jun diantaranya dan Wonwoo.

Ketiganya diam. Menatap langit lekat-lekat.

“Kita gak marah kamu suka sama siapapun kok, Jun.” ujar Wonwoo tiba-tiba, membuat Jun tersentak. Namun, memilih diam.

“Cuman lu harusnya sadar. Di samping lu ada yang sayang sama lu dari lama. Kenapa lu milih suka sama orang lain?” kini giliran Mingyu yang berucap.

Jun bingung. Namun masih bungkam.

“Jun. Kalo kita berdua suka sama kamu gimana?” tanya Wonwoo yang kini menatap Jun lekat-lekat.

Jun bingung. “Maksudnya?”

“Kalo gua sama Wonu suka sama lu gimana?”

Jun menatap Mingyu tak mengerti.

“Kalo aku sama Mingyu saingan buat dapetin kamu, kamu percaya gak?”

Jun kini menatap Wonwoo lagi. Otaknya berjalan lambat.

“Kalo gua sama Wonu saingan dari smp, lu percaya gak? Buat dapetin lu.”

Jun berdebar. Otaknya bingung. Terlalu banyak menerima informasi dalam sekali waktu.

“Kita berdua saingan, sampe gak tau kalo kamu suka orang lain.”

Jun diam. Bibirnya ia gigit pelan. Matanya berlinang air mata.

“Kita gak masalah lu suka siapa aja. Cuman, apa lu gak lihat perhatian kita ke lu? Gak sadar? Kita berdua suka sama lu, Jun. Tapi, lu nya polos. Gak peka. Gak nyangka lu ada suka orang. Dua orang lagi.”

Mingyu tertawa miris. Membuat Jun makin bersalah.

“Apapun yang terjadi, kita tetep sahabat kamu kok, Jun.”

Senyum Wonwoo lemah. Membuat Jun makin menangis.

Jun meraih kedua tangan sahabatnya. Menggenggam tangan keduanya. Meletakkannya di dadanya.

“Mingyu... Wonwoo..”

Suaranya agak serak.

“Maaf.. Aku gak tahu. Maaf aku gak peka. Maaf aku gak sadar selama ini.”

Mingyu menatap Jun dalam diam. Begitupula dengan Wonwoo.

“Aku juga suka kalian. Maaf aku suka kalian dari lama. Tapi, aku gak berani bilang. Takut kalian berdua jijik sama aku. Takut kalian kecewa sama aku. Maaf aku suka dua orang. Maaf aku suka kalian berdua.”

Mingyu serta Wonwoo tersentak. Menatap Jun kaget.

“Apa? Kamu suka kita berdua, Jun?”

“Jadi, yang dibilang Minghao itu kita berdua?”

Jun ngangguk. Menatap Wonwoo serta Mingyu bergantian.

“Maaf.”

Tawa keras keluar dari mulut Mingyu. “Jadi yang lu suka itu kita? Astaga. Pantesan Minghao hina gua goblok.”

Wonwoo terkekeh. “Aku gak nyangka.”

Jun memerah. Kedua tangan sahabatnya ia genggam erat. “Maaf. Aku juga gak nyangka kalian saingan.”

Wonwoo tersenyum lembut. Tangannya mengusap rambut Jun lembut.

“Gak papa. Kita udah biasa sama sifatmu yang polos kok.”

Jun memerah. Tangan Mingyu beralih untuk meraih pinggang Jun mendekatinya.

“Sifat lu yang goblok justru bikin gua suka.”

Jun makin memerah. Menimbulkan kekehan ringan dari keduanya.

“Jadi, kita pacaran?” tanya Wonwoo memastikan.

Tangannya melingkar di leher Jun. Wajah Jun merona.

“G-gak tau.”

Mingyu tertawa. “Yaudah kita pacaran.”

Ia kecup pucuk kepala Jun. Membuat Jun makin malu.

Wonwoo terkekeh. Tangannya mengapit dagu Jun. Membuat Jun menoleh.

Wonwoo mendaratkan kecupan lembut di bibir Jun. Membuat sang empu makin memerah.

Mingyu menggeram kesal.

“Bisa-bisanya lu nyium Jun.”

Wonwoo menyeringai. “Siapa cepat dia dapat.”

Mingyu berdecak. Membuat Jun terkekeh. “Mingyu boleh nyium juga kok.”

Membuat Mingyu tersentak. Senyum lebar terlintas di bibirnya.

Mingyu menangkup rahang Jun. Dia daratkan bibirnya di bibir Jun yang memerah.

Membuat Jun tersenyum malu.

“Impas kan?” ujarnya setelah kecupan keduanya terlepas.

Membuat Wonwoo serta Mingyu tersenyum.

“Ayo pelukan.”

Jun menarik kedua tubuh kekasihnya kedalam pelukannya. Membuat Mingyu serta Wonwoo mendekapnya erat.

“Kita gobloknya keterlaluan. Saling suka tapi gak sadar.” ujar Mingyu sambil terkekeh.

“Lu kan emang goblok.” Wonwoo membalas.

Jun terkekeh. Tangannya menepuk-nepuk punggung Wonwoo serta Mingyu.

“Gak ada yang goblok. Kita semua emang kelampau polos.”

Kekehan terdengar dari mulut ketiganya. Menikmati pelukan hangat di bawa langit biru yang cerah.

–, Beauty and The Puppy

Cantik. Itulah gambaran Jeonghan di mata Mingyu. Rambut hitamnya, senyumnya yang cerah, serta matanya yang menyipit seperti bulan sabit, membuat Mingyu berdebar jika melihatnya.

Jeonghan itu seperti malaikat. Terlihat sulit untuk di jangkau. Bersinar dan mempesona.

Mingyu hanya bisa memuja dari jauh. Apa yang ia harapkan dari Jeonghan. Menyukainya balik? Mingyu tersenyum miris.

Tak bisa. Ia tak ingin berharap lebih. Apa yang Mingyu harapkan dari keberadaannya yang tak terlihat? Tak memiliki teman dan tak diharapkan.

Apa yang kau harapkan dari Mingyu yang dekil dan berbadan bongsor. Apa yang kau harapkan?

Sudah cukup bagi Mingyu memuja Jeonghan dari jauh. Dari jendela kusam perpustakaan sekolahnya. Menatap Jeonghan yang tertawa riang di kelilingi oleh orang-orang cantik lainnya.

Satu-satunya media yang bisa ia jangkau agar merasa dekat dengan Jeonghan adalah radio sekolah.

Jeonghan adalah penyiar radio sekolahnya. Mingyu selalu mengirimkan pesan dan lagu-lagu yang ia suka agar Jeonghan tahu keberadaannya. Hanya itu sudah cukup bagi Mingyu.

Hingga suatu hari, Jeonghan berucap bahwa ia menyukai seseorang. Di siaran radionya ia berucap ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya.

Hati Mingyu remuk. Patah berserakan. Dia tak pernah sesakit ini.

Mingyu belum siap. Ia tahu Jeonghan itu cantik. Namun, ia belum siap melihat Jeonghan bersanding dengan orang lain.

Namun siapakah dia. Hanya pria aneh berbadan gemuk dan berwajah dekil. Bahkan Jeonghan pun enggan melihatnya.

Sejak itu, Mingyu menghindari segala hal tentang Jeonghan. Berhenti melihatnya dari jendela perpustakaan. Enggan mendengar suaranya lagi di radio. Mingyu tak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi.

Entah apa yang menyadarkan dirinya, Mingyu mencari pelampiasan. Olahraga adalah pelampiasannya. Ia menyalurkan emosi serta kesedihannya dengan olahraga. Ia berusaha tidak mengingat Jeonghan dipikirannya.

Pola makannya berubah. Ia jarang makan. Entah kemana mood makannya pergi. Ia makan secukupnya. Asal perutnya terisi. Kegiatannya saat ini adalah olahraga, olahraga dan olahraga. Hingga tak sadar ia berhasil menghilangkan 10 kg dari tubuhnya.

Mingyu menatap dirinya yang saat ini, di depan cermin. Matanya hampa. Tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya. Bentuk wajahnya juga berubah. Tubuhnya terlihat lebih tegap. Namun semua itu tak mengubah apapun. Mingyu menghela napasnya.

Lagi-lagi ia harus menghindari semua tempat yang selalu di kunjungi oleh Jeonghan.

Mingyu lelah sebenarnya, cuman bagaimana lagi. Ia sudah terlanjur jatuh terlalu dalam pada pesona Jeonghan.

Mingyu berjalan menuju sekolahnya dengan tenang. Menyapa beberapa nenek-nenek dan anak kecil yang ia kenal.

Mingyu kadang bersyukur bahwa dia tidak satu kelas dengan Jeonghan.

Senyumnya pudar saat Mingyu melihat Jeonghan di depannya. Sedang berjongkok mengelus anak anjing yang ada di pinggir jalan.

Mingyu menelan ludahnya. Dengan buru-buru dia berbelok arah. Terpaksa mengambil jalan memutar.

Mingyu mengumpat. Kenapa dia harus bertemu Jeonghan seawal ini?

Mingyu mengusak rambutnya kasar. Lelah dengan perasaannya.

Hingga 10 menit kemudian dia tiba di sekolahnya. Setelah mengambil jalan memutar demi menghindari orang yang ia suka. Bodoh memang.

Mingyu menjalani hidupnya seperti biasa. Menghindari Jeonghan seperti biasa.

Mingyu kembali menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Kali ini tidak untuk memandangi Jeonghan. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk membaca buku yang sudah ia catat.

Sibuk dengan buku-buku yang ia pilih, tangannya berhenti saat sebuah suara yang ia hafal memanggilnya.

Mingyu menoleh patah-patah. Menatap Jeonghan yang cantik seperti biasa, tersenyum lebar sambil menunjuk buku yang ada di rak tertinggi.

Mingyu seperti paham. Berusaha agar tenang, Mingyu berjalan mendekati Jeonghan.

Berjarak beberapa senti, Mingyu menggapai buku yang Jeonghan inginkan.

Dengan sedikit menunduk, dia menyerahkan buku yang pegang di harapan Jeonghan.

Jeonghan tersenyum lembut. Mengucapkan terimakasih.

Mingyu mengangguk. Baru akan berbalik, tubuhnya di dorong ke rak buku. Membuat Mingyu tersentak kaget. Menatap Jeonghan tak mengerti.

“Hei..”

”...Mingyu.”

Mata Mingyu melebar. Menatap Jeonghan yang sedang menatapnya intens.

“Aku tahu siapa kamu...”

”..puppy.”

Mingyu tersentak. Masih shock. Jeonghan tahu dia? Tahu bahwa dia adalah 'puppy'?

“Aku tahu kamu sejak lama.”

“Aku tahu kamu sejak lama. Asal kamu mau tahu, puppy.”

Mingyu menatap Jeonghan tak percaya. Masih kaget dengan semua ini. Bagaimana bisa Jeonghan tahu, orang di balik akun 'puppy' yang ia gunakan untuk mendekatkan diri dengan Jeonghan di siaran radio nya?

“Gak nyangka pernyataanku waktu itu bakal buat kamu jadi gini. Hm.”

Mingyu menelan ludahnya.

“Kenapa diem aja, puppy? Gak mau nanya siapa yang aku maksud di radio waktu itu?”

Mingyu cuman diam. Mengigit bibirnya pelan.

“Itu kamu. Percaya gak yang berhasil menarik perhatiannya itu kamu?”

Mingyu menggeleng. Jeonghan tertawa. “Aku juga gak percaya.”

“Aku lihat kamu di bawah hujan deras. Masih sempat-sempatnya ngasih payung buat anjing di pinggir jalan. Sejak itu aku selalu liatin kamu di sekolah. Tapi kamu gak sadar kayaknya.” lanjutnya.

“Jadi.. Jangan ngehindari aku, okay? Kayak dulu aja. Gimana, puppy?”

Mingyu benar-benar masih tak percaya. Apa dia dipermainkan? Apa dia mimpi?

“Aku gak bohong. Aku gak mainin kamu. Dan kamu gak mimpi, kalo kamu mau tau.”

Mingyu memerah. Seakan Jeonghan bisa membaca pikirannya.

“Jadi, gimana puppy? Mau sama aku?”

Jeonghan menyerahkan tangannya di depan wajah Mingyu.

Mingyu mengangguk pelan. Mengambil tangan Jeonghan pelan. Membuat senyum cerah menghiasi wajah Jeonghan.

“Ayo, puppy.”

Jeonghan menarik tangan Mingyu, membuat Mingyu mengikutinya. Senyum lebar membuat wajah Mingyu semakin tampan.

“Iya, cantik.”

Jeonghan menoleh kebelakang. Tawa renyah keluar dari bibirnya.

“Aku tahu itu.”

Mingyu terkekeh. Lebih memilih mengikuti Jeonghan, yang menggenggam tangannya erat.

–, First kiss

“Won, ayo ciuman.”

Wonwoo tersedak colanya, saat Soonyoung mengatakan hal itu tiba-tiba. Matanya melotot ke arah Soonyoung. Shock dengan perkataan lelaki di depannya.

Saat ini keduanya ada di dalam kamar Wonwoo. Rencana mereka mengerjakan soal kimia bersama. Namun, keduanya tak kunjung memulai.

“Apa sih, Nyong. Gak usah aneh-aneh.”

Wonwok tak habis pikir dengan pikiran Soonyoung.

“Kan kita berdua jomblo tuh. Gua penasaran sama rasanya ciuman gimana. Makanya, ayo kita ciuman.”

Wonwoo melotot. “Yang penasaran elu, yang kepo elu, kenapa gua yang ikutan repot.”

Soonyoung mengerucut imut. “Ayolah, Won. Bantuin gua.”

“Ogah! Lagian lu udh sering ciuman kan sama emak bapak lu.”

“Beda lah! Gua mau nya sama orang lain.”

Wonwoo mendengus. “Kenapa harus gua? Temen lu yang lain kan ada. Jihoon, Minghao.”

“Lu mau gua di gebukin sama pawangnya?”

Wonwok memutar matanya malas. “Gak usah lebay. Jun sama Mingyu gak selebay itu. Tinggal izin ke mereka lu bisa dah cipokan.”

Soonyoung berdecak. “Gak segampang itu, Won. Udahlah sama lu aja. Ya ya?”

Wonwoo menaikkan alisnya. Agak heran. Kenapa Soonyoung bersikeras seperti ini?

“Kenapa harus gua? Gua gak butuh alasan konyol lu.”

Soonyoung diam. Tangannya memainkan jarinya sendiri.

“Y-ya kan tadi gua udh bilang. Gua pengen sama lu.”

“Cuman pengen sama gua?”

Soonyoung ngangguk. “Iya. Gua gak mau sama siapa-siapa.”

“Yakin sama gua? Yang nantinya bakal ngerebut first kiss lu?”

Soonyoung menelan ludahnya. “Yakin. Gua cuman pengen sama lu. Gua rela first kiss gua di rebut sama lu.”

Wonwoo mendekati Soonyoung. Wajah keduanya sangat dekat. Hanya menyisakan beberapa senti.

“Kenapa lu rela? Gua kan cuman temen lu.”

Soonyoung memerah. Menjalar hingga leher serta telinganya.

“Y-ya karena lu temen gua, gua mau.”

Wonwoo menyeringai. Ia dekatkan wajahnya dengan wajah Soonyoung kembali. Hidung mereka bersentuhan.

“Tapi sama temen-temen lu, lu gak mau. Padahal sama-sama temen. Kenapa pengen sama gua?”

Soonyoung diam. Lidahnya kelu. Matanya terkunci memandang mata Wonwoo yang bundar kecoklatan.

Wonwoo mendekati telinga Soonyoung yang memerah. Ia hembuskan sedikit napasnya, membuat Soonyoung sedikit gemetar.

“Kenapa, Soonyoung? Hm? Kenapa lu cuman pengen sama gua?” Bisik Wonwoo pelan.

Tangan Wonwoo bergerak melingkari pinggang Soonyoung. Jemarinya naik menelusuri tulang punggung Soonyoung. Membuat punggung Soonyoung bereaksi.

“Nghhh..”

Wonwoo menjulurkan lidahnya. Menjilat telinga Soonyoung yang memerah. Menggodanya sedikit.

“Wonwoo...”

“Hm?”

Tangan Wonwoo menelusup ke dalam kaos Soonyoung. Jemarinya merambati perut dan dada Soonyoung yang polos.

Kedua ibu jarinya mengusap nipple Soonyoung. Menekan dan memainkannya.

“Ahhh...”

Wonwoo mendekati ceruk leher Soonyoung. Hidungnya menelusuri leher pucat lelaki di depannya.

Ia kecup penuh kelembutan disana. Menjilat, menggigit dan menghisapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan.

“Ahhhh.. Hahh... Wonn..”

Wonwoo menyeringai. Ia kembali berbisik di telinga Soonyoung.

“Kenapa? Kenapa pengen sama gua?”

Jari Wonwoo tak berhenti bermain di kedua nipple Soonyoung. Membuat Soonyoung mengerang.

“Lu suka gua kan?”

Soonyoung tersentak. Pikirannya tak fokus.

“Iya kan? Lu suka gua kan?”

Soonyoung menggeleng. Bibirnya ia katupkan. Menahan suara-suara aneh yang keluar dari mulutnya.

Wonwoo menyeringai. Memutuskan untuk menggoda Soonyoung.

“Oh? Gak suka?”

Tangan Wonwoo turun ke celana Soonyoung. Tangannya menelusup ke dalam boxer yang dikenakan oleh Soonyoung.

“Tapi, kenapa lu gua giniin diem aja?”

Bersamaan dengan itu, tangan Wonwoo yang lebar mencengkram penis milik Soonyoung.

Soonyoung berteriak. Punggungnya melingkar. Tubuhnya gemetar dan lemas.

“Lu suka gua kan?”

Tangan Wonwoo bermain di penis Soonyoung. Mengocoknya cepat. Mengurut dari bawah hingga pangkal penisnya. Ibu jarinya bermain di ujung penis Soonyoung. Menggosok dan menekannya gemas.

“Ahhhh... Hahh.. Wonuuu... Stopp...”

Wonwoo tak mengindahkan permintaan Soonyoung.

“Gua berhenti kalo lu jujur sama gua. Lu suka gua kan?”

Soonyoung tak menjawab. Mulutnya sibuk mengeluarkan erangan dan desahan kenikmatan.

Wonwoo mencengkram lebih keras. Membuat Soonyoung terlonjak. Kocokan tangan Wonwoo di penis Soonyoung tak berhenti.

“Ahhhh.... Wonnn.... Mau keluarrr...”

Wonwoo menutup ujung penis Soonyoung menggunakan ibu jarinya. Membuat Soonyoung mengerang frustasi.

“Gua bakal biarin lu keluar, kalo lu jujur sama gua. Lu suka gua?”

Soonyoung menggigit bibirnya. Matanya sayu. Tubuhnya gemetar.

Jemari Wonwoo mencengkram keras. Soonyoung mengerang.

“Ayo.”

Napas Soonyoung terengah-engah. Kepalanya mengangguk lemah.

“Iya. Gua suka lu.”

Wonwoo tersenyum puas. “Good boy.”

Tangannya kembali bermain. Kali ini lebih cepat. Sedikit dicengkram.

Soonyoung mendongak keenakan. Bibirnya mengeluarkan desahan erotis. Kedua tangannya mencengkram bahu Wonwoo.

“Ahhhh... Wonuuu... Ahhhh”

Cairan Soonyoung keluar deras. Melumuri telapak tangan Wonwoo.

Napas Soonyoung tersengal. Wajahnya memerah. Matanya berair.

Wonwoo tersenyum lembut. “Coba jujur dari awal, gua gak bakalan gini ke lu.”

Soonyoung diam. Masih enggan menatap Wonwoo.

“Jadi, lu suka gua?”

Soonyoung diam. Malas menjawab.

“Gak mau denger perasaan gua ke lu?”

Soonyoung menggeleng. Tubuh serta pikirannya sedang lelah.

“Gua tau lu gak suka gua.”

Wonwoo terkekeh. “Kata siapa?”

Kali ini Soonyoung menatap Wonwoo tepat di mata.

“Gua suka lu kok.” lanjutnya lagi.

Soonyoung terbelalak. Menatap Wonwoo tak percaya.

“B-bohong.”

“Kalo gua bohong, ngapain gua ngelakuin hal barusan? Main-main?”

Soonyoung memerah. “J-jadi kita saling suka?”

Wonwoo menyeringai. “Yes, baby.”

Soonyoung merona. Memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Wonwoo.

Wonwoo terkekeh. “Jadi gak, gua cium? Katanya penasaran.”

Soonyoung menatap Wonwoo malu-malu. “J-jadi.”

Wonwoo terkekeh. “Lucu bener sih lu.”

Wonwoo mendekati wajah Soonyoung. Mempertipis jarak keduanya. Tatapan mereka tak terputus. Hingga bibir keduanya bertemu, keduanya enggan menutup mata.

Saling mengecap satu sama lain, bersamaan dengan menyelami netra keduanya. Lumatan-lumatan lembut, membuat Soonyoung melumer.

Akhirnya, Soonyoung menutup matanya. Menikmati ciuman pertama mereka penuh kelembutan.

Keduanya melepas bibir masing-masing, saat membutuhkan pasokan oksigen. Keduanya saling tatap, menyelami perasaan keduanya.

“Gua suka lu.” ujar Soonyoung tiba-tiba.

Wonwoo terkekeh. “Gua tahu.”

Soonyoung memerah. Menatap lekat-lekat wajah Wonwoo yang juga menatapnya.

“Gua suka lu.” ujar Wonwoo membalas.

Soonyoung tersenyum. “Gua tahu.”

Keduanya menyatukan bibir masing-masing kembali. Saling mengecap satu sama lain, seperti tiada ada hari esok untuk keduanya.

–, Teman Online

Minghao punya teman online. Ia kenal lewat aplikasi twitter. Minghao yang dasarnya suka film-film western, memutuskan untuk membuat akun twitter, guna melampiaskan kesukaannya. Dari situlah ia tak sengaja bertemu dengan salah satu akun yang bernama CatLover.

Namanya lucu. Orangnya asik diajak untuk mengobrol. Minghao menghabiskan hampir berjam-jam berselancar di twitter hanya untuk mengobrol dengannya.

Hingga tak terasa mereka sudah saling kenal selama 5 bulan. Minghao senang memiliki teman seperti CatLover. Dia juga perhatian. Selalu menanyakan segala sesuatu mengenai Minghao. Minghao nyaman dengannya. Apalah Minghao aneh? Tidak juga.

Karena Minghao orangnya frontal dan terbuka, dia berkata jujur kepada pemilik akun CatLover. Minghao berkata bahwa dia menyukai CatLover. Dia nyaman dengannya. Tak peduli apa kelaminnya, wajahnya, keadaannya. Minghao tak peduli. Minghao terobsesi? Anggap saja seperti itu.

Dan CatLover merespon dengan baik. Dia berkata bahwa ia laki-laki. Berusia 2 tahun lebih tua. Dan yang terpenting adalah CatLover juga merasakan hal yang sama.

Akhirnya, keduanya memutuskan untuk bertemu secara real life. Minghao senang bukan main. Dia gugup sekaligus penasaran. Bagaimana sosok orang yang ia sukai itu?

Mereka berdua bertukar nama. Dan memutuskan untuk bertemu di taman kota. Beruntungnya, mereka satu daerah.

Tanpa basa-basi, Minghao segera menyetujui. Mereka berdua berjanji untuk bertemu pukul 4 sore. Dan sekarang, Minghao duduk di salah satu bangku taman. Hatinya berdegup kencang. Matanya menunduk menatap ponsel. Menunggu pesan dari CatLover.

Minghao sudah mengatakan bahwa ia menunggu di salah satu bangku dekat pohon beringin.

Minghao menatap ponselnya cemas. Bagaimana jika orang yang Minghao tunggu tidak datang? Menipunya?

Minghao menghela napasnya panjang. Memutuskan untuk mengantongi ponselnya. Ia menatap langit cerah dalam diam.

Sebuah tepukan pelan, menyentuh bahu Minghao. Membuat Minghao menoleh. Tampak seorang pemuda tampan dengan surai hitam, serta kacamata bening bertengger di hidungnya.

“Minghao?”

Minghao ngangguk. “Iya. Siapa ya?”

“Wonwoo.” balasnya lembut.

Minghao terbelalak. Menatap Wonwoo tak percaya. Apakah benar orang yang ada didepannya ini CatLover?

Minghao speechless. Pemuda yang ada di depannya sangat tampan. Wajahnya tajam. Senyumnya menawan. Matanya berkilau indah. Dan jangan lupa, suaranya yang lembut dan dalam. Minghao benar-benar terpesona.

“Wonwoo?”

Wonwoo mengangguk. Ia mendudukkan dirinya di samping Minghao. Masih saling tatap dalam diam.

“Kenapa?”

Minghao menggeleng. “Enggak papa. Kamu ganteng.”

Wonwoo terkekeh. Menatap Minghao lekat-lekat.

“Oh ya? Kamu juga manis. Lucu lagi.”

Minghao memerah. Menatap Wonwoo malu-malu.

“M-makasih.” Cicitnya kecil.

Wonwoo terkekeh. Tangannya mengusak rambut Minghao pelan.

“Udah nunggu lama?”

“Gak kok. Baru datang.”

“Syukurlah. Aku kira kamu gak bakal datang, karena takut aku nipu.” kekehnya pelan.

Minghao menelan ludahnya. Padahal tadi dia sempat berpikir seperti itu.

“Aneh ya. Dulu kita chatan lancar, pas ketemu jadi canggung.” lanjut Wonwoo lagi, dengan tawa pelan diakhir kalimat. Minghao ngangguk setuju.

“Maaf kalo aku gak seasik di chat.” ujar Minghao pelan. Dia takut Wonwoo tak nyaman dengannya.

“Aku juga. Maaf aku orangnya biasa-biasa aja. Jujur, kamu di kehidupan nyata gini, bener-bener cantik. Aku jadi tersanjung kamu bisa nyaman sama aku.”

Minghao memerah. Senyum lembut yang menghiasi bibir Wonwoo, membuat jantungnya berdetak kencang.

“K-kamu juga. Aku minder disampingmu.”

“Kenapa minder?”

“Kamu ganteng. Aku juga tersanjung kamu nyaman sama aku.”

Wonwoo terkekeh. “Makasih. Tapi, kamu gak perlu minder. Kamu itu cantik, manis sama imut di waktu yang sama. Jadi, aku betah walau cuman liatin kamu.”

Wajah Minghao memerah. “Makasih.”

Wonwoo tertawa. “Kamu gampang malu ya? Telinga kamu merah. Jadi makin imut.”

Minghao tersedak. Kaget dan malu karena pujian Wonwoo.

Wonwoo terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung Minghao pelan.

“Gak usah kaget. Aku bilang sesuai fakta kok. Aku gak mengada-ngada.”

Minghao hanya diam. Dia tahu, dia manis dan imut. Banyak orang yang sudah memujinya. Tapi, jika pujian itu keluar dari bibir Wonwoo, entah kenapa sensasinya berbeda.

“Pinjem tanganmu, boleh?” ucap Wonwoo tiba-tiba.

Minghao menatap Wonwoo bingung. “Buat apa?”

“Megang tangan kamu.”

Wajah Minghao merona. Matanya bergerak kesana-kemari. Dengan ragu dia menyerahkan tangannya, yang langsung di genggam oleh Wonwoo.

“Jadi, kita kencan?”

Minghao mengangguk malu. Menatap tangannya yang terkunci di genggaman Wonwoo.

“Ayo.”

Wonwoo menariknya bangkit. Mengajak Minghao untuk berjalan disampingnya.

“Anggap aja kita udah pacaran. Gak perlu kata resmi, kan?”

Wonwoo menatap Minghao lekat-lekat. Meminta konfirmasi.

“Iya.” gumamnya.

Wonwoo terkekeh. Ia goyangkan pelan genggaman mereka.

“Lucunya.”

Minghao merona. Memilih menikmati keadaannya dalam diam.

–, Pos ronda, sore dan gitar

Jun itu kalau sore hari, suka nongkrong di pos ronda. Karena di depan pos ronda itu lapangan luas, dia selalu suka ngelihat matahari terbenam disana. Sambil dengerin lagu atau nyemil kentang manis kesukaannya.

Pos ronda kalau sore sepi. Apalagi menjelang malam. Kadang kalau siang, sama anak kecil dibuat rumah-rumahan. Atau pas sorenya, kadang dibuat markas main kartu sama anak-anak cowok kompleksnya. Pernah Jun ikutan main sama mereka. Lucu aja gitu.

Seperti biasa, pos ronda lagi sepi. Jun sendirian. Dia make jaket denimnya, biar gak kedinginan. Karena lagi musim hujan, ibunya takut dia sakit gara-gara kedinginan.

Di tangan Jun ada kentang manis yang udah dikukus sama ibunya. Dia makan pelan-pelan sambil liatin matahari terbenam. Cahaya orange sedikit kemerahan, menerpa tubuhnya. Membuat Jun menawan jika dipandang dari dekat.

Jun gak sadar jika ada orang lain mendekatinya. Terlalu fokus ngeliatin sunset, sampai gak sadar sama sekelilingnya.

Suara petikan gitar, membuat Jun menoleh. Matanya mengerjap lucu, dengan mulut yang penuh dengan kentang manis.

Di depan Jun, ada seorang lelaki tampan. Rambutnya hitam. Wajahnya putih. Tatapannya tajam. Menatap Jun lekat-lekat.

Jun hanya diam. Menatap orang asing di depannya tak mengerti.

Orang yang ada di depan Jun tertawa pelan. Melihat tatapan polos bak anak kecil, yang menatapnya penasaran.

“Namaku Seungcheol. Orang baru pindah di kompleks sini.”

Jun cuman diam. Memilih mendengarkan ucapan lelaki di depannya itu.

“Boleh duduk sini kan? Mau main gitar juga. Boleh?”

Jun diam beberapa detik, lalu mengangguk. Mulutnya sibuk menggigit kentang manis yang ada di tangannya.

Seungcheol tertawa. Tangannya mulai bergerak memetik gitar.

Jun mengembalikan pandangannya. Menatap matahari terbenam dalam diam, diiringi petikan gitar yang menenangkan jiwa.

Suara Seungcheol sangat berat. Berat dan dalam. Membuat Jun terpukau.

Sesekali Jun ikut bersenandung. Tubuhnya ia goyangkan sedikit, mengikuti irama.

Seungcheol tersenyum saat melihat bahwa Jun menikmatinya. Ia jadi percaya diri dengan kemampuannya.

Beberapa menit setelahnya, matahari sepenuhnya terbenam. Menghilang di ganti kegelapan.

Nyanyian dan petikan gitar Seungcheol terhenti. Jun menoleh. Menatap Seungcheol tak mengerti. Seakan protes dalam diam.

Seungcheol terkekeh. “Udah malam. Gak pulang?”

Jun tampak sadar. Dia ngangguk tanda setuju. Kentang manis yang ada di tangannya, sudah kandas.

Jun bangkit dari duduknya, membersihkan pantatnya dari debu.

Jun berjalan pelan menuju rumahnya, diikuti oleh Seungcheol di sampingnya.

“Oh iya, siapa namamu?” tanya Seungcheol penasaran.

“Jun.”

Seungcheol ngangguk pelan. “Rumahmu yang mana.”

Jun menunjuk rumah bertingkat dua dengan cat putih serta pohon mangga besar di pekarangannya.

“Ah. Kita tetangga.”

Seungcheol terkekeh. Jun paham sekarang. Ternyata Seungcheol lah yang pindah di samping rumahnya.

Saat tiba di depan rumah masing-masing, Jun serta Seungcheol berpisah.

“Kita harus sering-sering keluar bareng, Jun.”

Jun ngangguk saja. Berharap dalam hati akan sering bertemu dengan Seungcheol.

“Oh iya. Kamarmu yang mana?”

Jun menaikkan alisnya. Agak heran, kenapa Seungcheol bertanya hal itu. Dengan pelan dia menunjuk salah satu kamar di lantai dua, dekat dengan jendela rumah Seungcheol.

“Itu? Wah, kamarku pas sampingmu.”

Jun menatap Seungcheol kaget. Tak percaya.

“Jangan risih ya entar kalo aku main gitar malam-malam. Anggep aja pengantar tidur. Kapan lagi kan di nyanyiin sama cowo ganteng kayak aku.”

Seungcheol menyeringai, sambil mengedipkan matanya sebelah. Membuat Jun agak memerah.

“Bye, Jun. Sampai ketemu nanti malam.”

Seungcheol tertawa pelan, meninggalkan Jun yang masih memerah.

Jun buru-buru menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan keinginannya, untuk menjadikan suara Seungcheol pengantar tidurnya.

–, Rokok

Mingyu itu perokok aktif. Dan Minghao sudah lelah untuk mengingatkan Mingyu agar berhenti merokok. Sudah ia jelaskan panjang lebar bahaya merokok hingga kerugian yang dialami tubuh, jika mengkonsumsi rokok setiap harinya. Namun, memang dasarnya Mingyu itu bebal, dia masih saja merokok. Katanya susah lepas. Katanya rokok itu nikmat. Pelampiasan Mingyu jika ia banyak pikiran. Minghao menggelengkan kepala jika mendengarnya.

Seperti saat ini. Minghao menatap Mingyu bosan, yang sedang menghisap rokoknya nikmat, sambil bermain ponsel.

“Gyu.”

Mingyu hanya bergumam. Matanya tak terlepas dari layar ponsel.

Minghao menghela napas. Tangannya dengan kasar merebut batang rokok dari tangan Mingyu.

Mingyu mendongak. Matanya tampak keberatan.

“Apa sih, Hao?”

Minghao memutar matanya malas. “Kenapa belum berhenti ngerokok?”

“Gak bisa susah.”

“Bisa! Kamunya aja yang belum mau nyoba.”

Mingyu mengusap wajahnya kasar. “Jangan buat pertengkaran lagi, Hao. Masalah ini, itu masalahku. Urusanku mau ngerokok atau gak. Itu hak ku. Kamu bukan siapa-siapa ku.”

Minghao hanya diam. Memang benar perkataan Mingyu. Dia bukan siapa-siapanya. Bukan keluarganya. Bukan kekasihnya. Hanya teman biasa. Hanya sahabatnya.

Mata Minghao berair. Dadanya terasa sesak. Semua yang dikatakan Mingyu benar adanya. Memang siapa dia? Berani melarang Mingyu ini dan itu.

Air mata turun mengalir di pipinya. Tenggorokannya tercekat. Minghao menatap Mingyu dalam diam.

Mingyu menghela napasnya. Dia bangkit dari duduknya, lalu berpindah untuk duduk di samping Minghao. Tangannya melingkari pinggang Minghao. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah sahabatnya.

“Shhhh, jangan nangis. Maaf. Ini salahku.”

Minghao masih tak bisa diam. Tangisnya makin deras. Ia bingung dengan perasaannya. Perkataan Mingyu terngiang-ngiang di kepalanya. Kenapa Minghao sepeduli ini? Kenapa hatinya sakit saat Mingyu mengatakan hal yang sebenarnya?

Mingyu menarik Minghao ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya pelan. Kata-kata menenangkan keluar dari mulutnya.

Minghao menyembunyikan wajahnya di leher Mingyu. Tangannya membalas pelukan Mingyu. Mencengkram erat kaosnya.

“Udah, Hao. Jangan nangis. Maaf, ucapanku kasar.”

Mingyu menjauhkan tubuh mereka. Tangannya bergerak untuk menghapus air mata yang ada di pipi Minghao. Mengusapnya lembut, penuh perasaan.

Minghao menggeleng. “Ucapanmu bener. Bukan hak ku buat ngelarang kamu. Maaf, Gyu.”

Mingyu tersenyum lembut. Tangannya menangkup kedua pipi Minghao. Ibu jarinya menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Minghao.

“Aku mau berhenti ngerokok.”

Minghao menatap Mingyu lekat-lekat.

“Tapi ada syaratnya.”

Minghao menatap Mingyu penasaran.

“Kalau kamu jadi pacarku.”

Senyum Mingyu melebar. Menatap Minghaonya intens.

Wajah Minghao memerah dan agak sembab. “Gak usah bercanda.”

Mingyu tertawa pelan. “Serius. Aku bakal berhenti ngerokok demi kamu. Tapi, kamu jadi pacarku dulu.”

Minghao merona. Bingung ingin menjawab apa.

“Mau gak?”

Minghao hanya mengangguk pelan. Tak sanggup mengeluarkan suaranya.

Mingyu terkekeh. Tangannya menggerakkan kepala Minghao gemas.

“Lucunya.”

Minghao mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Mingyu gemas. Ia kecup bibir Minghao cepat. Membuat Minghao tersentak.

Kekehan Mingyu berkumandang di telinga Minghao.

“Mau bikin aku berhenti ngerokok kan?”

Minghao hanya menatap Mingyu dalam diam. Masih shock dengan kejadian barusan.

“Ganti rokoknya pake ciumanmu. Deal?”

Seringai Mingyu melebar. Menatap Minghao jenaka.

Minghao merona. Menjalar hingga lehernya.

“Diam mu kuanggap iya.”

Selanjutnya, Mingyu melumat bibir Minghao lembut. Rasa manis dan tembakau bercampur di lidah mereka. Mengecap rasa asing namun memabukkan di mulut keduanya.

–, Hard

Ini semua karena Chan. Minghao menggerutu sepanjang siaran Vlive mereka.

Oke, ini bukan salah Chan. Chan adalah salah satu dongsaeng kesayangan Minghao. Dia lucu, menggemaskan dan penurut. Ditambah lagi wajahnya yang polos bak bayi kecil.

Minghao merutuki otaknya yang kotor. Hanya karena tangan Chan mengenai selangkangannya, tidak seharusnya ia tegang saat ini.

Minghao berusaha menenangkan dirinya. Berusaha menghilangkan pikiran kotornya. Berusaha menyembunyikan celananya yang menggembung.

Saat siaran Vlive selesai, semua member membubarkan diri. Termasuk Minghao. Ia buru-buru ke kamar mandi terdekat, untuk menuntaskan pikirannya yang kotor.

Minghao berjalan cepat, tak sadar bahwa Chan melihat tingkahnya sedari tadi.

*****

Minghao mendorong pintu toilet pria. Bersyukur suasana di dalamnya sepi. Tak ada satupun orang. Minghao menghembuskan napasnya lega. Setidaknya tak ada yang melihat keadaan penisnya saat ini.

Minghao berjalan menuju bilik yang kosong, Minghao memasukinya lalu menutupnya rapat-rapat.

Wajahnya benar-benar memerah. Entah apa yang akan terjadi jika salah satu member melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Minghao baru akan duduk di atas closet, saat ketukan di depan biliknya terdengar. Membuat Minghao tersentak.

“Hyung.”

Mata Minghao melebar. Apakah itu suara Chan?

“Hyung.”

Minghao gemetar. “Y-ya?”

“Buka pintunya.”

Minghao panik sekarang. Kenapa Chan ingin bertemu dengannya?

“Kenapa?”

Minghao malu. Jujur, ia tidak ingin bertemu dengan Chan saat ini.

“Ada hal penting yang harus aku sampaikan.”

Minghao berpikir. Mungkin ada hubungannya dengan jadwal Seventeen?

Dengan pelan dia membuka kunci biliknya, membuka pintunya sedikit.

Chan mendorong keras. Membuat Minghao mundur beberapa langkah.

Chan masuk secara paksa, menutup pintu dan menguncinya cepat.

Minghao tersentak. Melihat Chan yang menatapnya lekat. Wajah Minghao memerah.

“C-chan? Apa yang mau kamu sampaikan?”

Suara Minghao bergetar. Antara salah tingkah dan malu yang bercampur aduk.

“Apakah kamu tegang, hyung?” Chan berbisik lirih. Ia majukan tubuhnya, mempertipis jarak keduanya. Mendorong Minghao pelan, membuat Minghao jatuh terduduk diatas closet.

Tangan Chan terangkat, jari-jarinya mengusap wajah Minghao lembut. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah Minghao yang merona.

“Mau ku bantu?” bisiknya lagi.

Minghao meremang. Tatapannya tak terlepas dari kedua netra dongsaengnya.

“C-chan..”

Chan mendekatkan hidungnya ke telinga Minghao. “Hm?”

Minghao bergetar. Tangannya terangkat untuk menggenggam bahu Chan. “B-bantu aku.”

Wajah Minghao merah padam. Matanya sedikit berair. Chan menyeringai dalam diam.

“Tentu.”

Chan berjongkok, berhadapan dengan selangkangan Minghao yang menggembung.

Tangan Chan mengelus penis Minghao yang menggembung.

“Aaahhh... Hahh...”

Chan menatap wajah Minghao yang memerah dan memejam keenakan.

“Bisa buka celanamu? Atau mau ku bantu?”

Minghao ngangguk pelan. Tangannya gemetar untuk membuka celananya.

Dengan cepat dia membuka sabuknya, melepas kancingnya, dan menurunkannya hingga batas mata kaki.

Celana dalamnya ia turunkan, hingga lututnya. Menampilkan penisnya yang tegak berwarna merah menggoda.

Chan bersiul. “Lihatlah ini. Apakah ini akibat dari tanganku tadi, Hyung?”

Minghao memerah. Tak ingin menjawab.

“Aku anggap sebagai iya.”

Tangan Chan mengelus penis Minghao perlahan. Mengusapnya dari ujung ke pangkal.

Minghao mendongak. Tangannya menggenggam closet di bawahnya.

“Ahhhh... Channhh..”

Chan hanya diam. Fokusnya kini ada di penis Minghao.

Ibu jarinya ia arahkan untuk mengusap ujung penis Minghao. Menggerakkannya melingkar sesuai bentuknya.

Minghao terlonjak. “Akhhhh... Hahhh... Hahh..”

Chan menjilat bibirnya pelan. Ingin menggoda lebih, penis milik hyungnya.

Tangannya ia gerakkan untuk menggenggam penis Minghao. Agak menyengkramnya sedikit.

Minghao mendongak keenakan. Pahanya bergetar. Ia gigit bibirnya gemas.

“Enak, hyung?”

Minghao ngangguk. Chan menyeringai. Menatap Minghao lekat-lekat.

“Kamu cantik ya... Hao.”

Minghao tersentak. Bibirnya terbuka. Merasakan penisnya yang di cengkram erat.

“Kamu suka, Hao?”

“Ahhh... Ahhh... Hahhh..”

Ada sensasi tersendiri saat Chan memanggilnya 'Hao'. Membuat tubuh Minghao menggelinjang.

Jari-jari Chan menggoda penis Minghao yang tegang. Menggerakannya seperti ia bermain slime kesukaannya.

“Ahhhhh... Hahhh... Channhhh..”

Chan terkekeh. “Kamu ingin orang lain tahu bahwa kamu seperti ini, Hao?”

Minghao menggeleng. Bibirnya ia katupkan erat.

“Kurangi suaramu.”

Tatapan Chan tajam. Menatap lekat Minghao dari tempatnya. Membuat Minghao mau tak mau harus patuh.

Chan tersenyum puas saat lihat hyungnya diam tak berkutik. Ia dekatkan bibirnya ke penis Minghao, menjulurkan lidahnya untuk menjilat ujung penis Minghao.

Minghao tersentak. Tangannya ia arahkan untuk menutupi mulutnya.

“Anghhhhh... Hahhhh...”

Chan tertawa. Lucu dengan reaksi Minghao.

Bibirnya ia arahkan untuk mengulum ujung penis Minghao. Menggunakan lidahnya untuk bermain di dalam.

Tubuh Minghao gemetar. Punggungnya melingkar indah. Dadanya membusung ke depan. Matanya ia pejamkan erat, dengan suara yang ia tahan sebisa mungkin.

“Anghhhh... Ngahhhh... Hahhh..”

Chan memajukan wajahnya. Memasukkan lebih dalam penis Minghao, ke dalam mulutnya yang hangat.

Minghao tersentak. Merasakan kontak fisik dengan mulut Chan yang hangat dan basah.

Chan memaju mundurkan wajahnya. Lidahnya ia mainkan di dalam. Menjalar dan mengekplorasi sepanjang penis Minghao.

“Anghhhhh... Chanhhh.. Hahhh...”

Minghao berusaha menutupi suaranya. Matanya berair karena rasa nikmat.

Chan menghisap dan menyesap penis Minghao. Giginya ia sengaja mainkan di sana. Membuat rasa nikmat dan geli secara bersamaan.

Minghao mati-matian menahan teriakannya. Merasakan penisnya di manja oleh dongsaeng kesayangannya.

Chan menatap Minghao lekat. Mempelajari ekspresi wajah Minghao dalam diam.

Dengan nakal ia bergumam. Membuat penis Minghao bergetar. Menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Ngahhhhh.... Ahhhh... Hahhh..”

Minghao kelepasan. Ia tak kuat menahan suaranya. Bibirnya terbuka lebar. Matanya menatap Chan pasrah.

Chan tersenyum puas. Dengan sengaja ia hisap kuat-kuat ujung penis Minghao.

“Hyahhhhh.... Ahhhhh...”

Chan kembali memasukkan seluruh penis Minghao di dalam mulutnya.

Tangannya yang lain menggenggam paha Minghao, dan tangan satunya bermain di skrotum Minghao. Menggenggam dan mengelitiki skrotumnya nakal.

Minghao membanting kepalanya di dinding. Tangannya mencengkram erat closet di bawahnya. Bibirnya megap-megap, tak ada suara yang keluar.

Chan memaju mundurkan wajahnya cepat. Tangannya tak henti memainkan skrotum milik Minghao.

Tubuh Minghao gemetar. Pahanya bergetar kencang. Menggelinjang, siap untuk menyemprotkan cairannya.

“Aahhhh... hahhhh... Chanhh... Akuu mau...”

Chan bergumam. Membuat Minghao makin menggila.

“Ahhhhh... Chanhhh...”

Minghao bergetar. Tubuhnya meremang. Menyemprotkan cairan nikmatnya ke dalam mulut Chan. Tubuhnya menggelinjang, menikmati orgasme yang ia rasakan.

Chan menelan semua cairan Minghao tanpa ampun. Menikmati layaknya ia sudah biasa. Chan menghisap kuat-kuat penis Minghao. Tak menyisakan sedikitpun cairan di sana.

Tubuh Minghao masih gemetar. Napasnya tersengal. Keringat menyelimuti tubuhnya. Wajahnya berantakan.

Chan menjauhkan wajahnya. Mengeluarkan penis Minghao dari mulutnya. Lidahnya ia jilatkan di bibirnya. Memastikan tidak ada setetes pun cairan yang tertinggal disana.

“Enak?”

Minghao hanya ngangguk. Tubuhnya lemas. Chan terkekeh.

Tangannya ia gunakan untuk memakaikan kembali celana Minghao.

Minghao hanya pasrah. Mengangkat tubuhnya sedikit agar Chan mudah untuk menaikkan celananya.

“Lemes?”

Minghao ngangguk. Masih menikmati orgasmenya.

“Mau di gendong?”

Minghao memerah. Memilih untuk menggelengkan kepala.

Chan terkekeh. “Ayo. Kita udah di tungguin.”

Tangan Chan menarik tangan Minghao. Minghao hanya bisa pasrah. Mengikuti Chan dalam diam.

“Makasih, Chan.” gumamnya pelan.

Chan tertawa. Tangannya tergerak untuk mengusak rambut Minghao pelan.

“Sama-sama, Hao.”

Minghao memerah. Hanya bisa diam dan mengikuti Chan dari belakang. Tangan mereka bertautan, seperti tak ada hal yang luar biasa terjadi beberapa menit yang lalu.

–, Jus jeruk

Minghao meraih jus jeruk yang ada di depannya. Bersamaan dengan tangan kekar lainnya, yang meraih jus jeruk yang Minghao pegang.

Kepalanya menengok otomatis. Menatap orang asing yang memegang jus jeruknya.

“Permisi. Ini udah gua pegang duluan.” ujar Minghao datar. Moodnya sedang gak bagus. Ditambah orang asing yang ingin merebut jus jeruknya.

Orang asing yang ada di samping Minghao tertawa mengejek.

“Heh, bocah. Jelas-jelas gua duluan yang megang. Minggir. Ini punya gua.”

Minghao tak ingin kalah. Ia tarik jus jeruknya mendekati dadanya.

“Punya gua, Om! Ngalah kek.”

Orang asing di depan Minghao menarik jus jeruknya mendekati tubuhnya.

“Punya gua bocah. Siapa yang lu panggil om, hah? Umur gua masih 20an.”

“Ganteng tapi om-om percuma.”

Orang asing di depan Minghao tertawa. “Apa? Ganteng? Iya gua tau, gua ganteng.”

Minghao memerah. Kembali menarik jus jeruknya. Keduanya tarik-menarik sebotol jus jeruk di kedua tangan mereka.

“Bacot ya. Udahlah om, ngalah aja. Buat gua. Gua udah rebutan dari seminggu. Masa gk kasian.”

Minghao menggunakan jurus andalannya. Memasang wajah memelas, dan bibir yang mengerucut lucu.

Lelaki di depan Minghao tampak diam. Di dorongnya Minghao, menempel rak minuman.

Minghao kaget. Tersentak dengan perlakuan orang asing di depannya.

“Nama lu siapa?” tanya orang asing itu, sambil menatap Minghao lekat-lekat.

“M-minghao.”

Oke, Minghao takut sekarang. Tatapan orang yang ada di depannya, berhasil membuat tubuhnya merinding.

“Minghao. Jangan manggil gua om. Nama gua Seungcheol. Panggil gua Cheol.”

Minghao diam. Tampak ragu.

“Ayo bilang.”

Mata orang di depannya sangat tajam. Menatap Minghao lekat-lekat.

“C-cheol.”

Seungcheol, menyeringai. Tangannya melepaskan genggamannya di botol yang mereka rebutkan.

“Good boy. Karena gua baik, dan lu nya lucu, gua ngalah. Sebagai gantinya gua minta nama ig lu.”

Jarak keduanya masih dekat. Minghao berdebar. Masih shock dengan perlakukan Seungcheol.

“Em. Xuminghao. Digabung.”

Seungcheol mengangguk paham. “Good. Kalo gitu gua pergi duluan. Entar gua hubungi.”

Seungcheol memasang senyum miring. Ia kecup pelan bibir Minghao yang mungil. Membuat mata Minghao melebar kaget.

Seungcheol tertawa. Ia jauhkan tubuhnya dari Minghao. Berjalan pelan meninggalkan Minghao.

“Gua duluan, bocah.”

Seungcheol pergi meninggalkan Minghao diiringi dengan kekehan ringan dari bibirnya.

Minghao tampak tak sadar. Otaknya berhenti bekerja. Beberapa detik kemudian barulah ia sadar akan perilakuan Seungcheol barusan. Wajahnya memerah. Menatap punggung Seungcheol panik.

“OM OM SIALAN.”

Seungcheol tertawa, mengirimkan kedipan nakal ke arah Minghao.

Minghao memberi jari tengah, bercampur antara malu dan marah.

“Ciuman pertama gua, anjir.”

Minghao menyentuh bibirnya. Masih merasakan bibir Seungcheol yang tertinggal di bibirnya.

“Gak papa lah. Orangnya ganteng.”

Minghao menangkup pipinya. Segera pergi ke arah kasir untuk membawa pulang jus jeruknya.

–, Kakak kelas

Siapa yang gak tahu Jeonghan. Ketua osis dan idola semua angkatan. Ganteng, tinggi, ramah dan menawan. Semua orang jatuh cinta sama dia. Bertekuk lutut. Begitupula dengan Chan. Murid biasa yang suka sama kakak kelasnya.

Seperti remaja lainnya, Chan diam-diam suka kakak kelasnya. Lihatin dari jauh, memuja dari jauh, bahkan mengkhayal dari jauh. Seperti remaja pada umumnya.

Dia gak berani buat sekedar say hai ke kakak kelasnya. Dia juga gak mau di anggap sok kenal sok dekat. Chan pura-pura gak suka, padahal suka.

Disaat semua teman kelasnya heboh sama Jeonghan, Chan cuman diam. Di pojok kelas, sambil liatin langit yang sedang cerahnya. Padahal dalam hati dia juga heboh.

Chan suka kalau udah jam istirahat. Itu adalah kesempatan Chan buat ngelihatin Jeonghan bareng anak gengnya, yang jalan santai ke arah kantin.

Chan bakal makan di atap sekolahnya, yang ia akses secara ilegal, ngelihat Jeonghan dari atap, memuja si doi dari jauh.

Seperti saat ini. Chan makan sambil nungguin geng Jeonghan lewatin lapangan buat ke kantin. Anehnya mereka belum lewat. Chan nyeruput sodanya dalam diam. Matanya masih sliweran buat nyari Jeonghan. Dia udah lama gak liat si doi dari pagi.

Aneh. Chan bingung. Biasanya jam segini, Jeonghan dan kawan-kawan udah lewat diiringi teriakan adek kelas yang alay. Kemana Jeonghan? Apa dia gak masuk? Begitulah isi kepala Chan.

Chan menghela napasnya. Berbalik, untuk pergi dari atap.

Langkahnya terhenti saat lihat Jeonghan di depannya.

Chan melongo. Dia gak yakin. Apakah yang dia lihat itu beneran atau imajinasinya?

Chan menggelengkan kepalanya. Ia berbalik lagi. Melupakan bayangan Jeonghan yang ia lihat barusan. Memilih menatap lapangan lekat-lekat. Masih menanti keberadaan Jeonghan.

“Hei.”

Chan terlonjak. Menengok kearah samping. Wajah Jeonghan yang tampan sangat dekat dengan wajahnya.

“Uwaaa.”

Chan tersentak kaget. Otomatis menjauh.

Jeonghan terkekeh. Menikmati wajah Chan yang lucu.

“Hai.” ucap Jeonghan dengan senyum tipis di bibirnya.

Chan megap-megap. Tak tahu harus berucap apa.

“Lucu ya kamu.”

Wajah Chan memerah. Lebih memilih diam.

“Kenapa? Nyariin aku ya tadi?”

Chan menggeleng cepat. Wajahnya masih memerah.

“Gak usah bohong. Aku tahu kamu sering lihatin aku.”

Chan masih shock. Menatap Jeonghan dalam diam.

“Segitu gantengnya ya aku?”

Chan bingung harus menjawab apa. Ia anggukkan saja kepalanya.

Jeonghan terkekeh. Tangannya terjulur untuk mengusak rambut Chan pelan.

“Jangan lucu-lucu. Nanti aku suka, gimana?”

Chan memerah. Menyebar ke leher serta telinganya.

“Mau aku suka kamu?”

Chan masih tak bersuara. Ia bingung. Tentu saja ia ingin.

“Aku anggap sebagai iya.”

Jeonghan terkekeh. Menyangga wajahnya di tembok pembatas.

“Jadi, mau jadi pacarku?”

–, I can hear you

Soulmate. Satu kata yang berhasil membuat Wonwoo berpikir dengan keras. Konsep takdir yang menyatukan sepasang insan, setelah keduanya menginjak umur 17 tahun.

Wonwoo adalah orang yang biasa-biasa saja. Membenarkan adanya gerakan tangan takdir. Wonwoo penasaran. Siapa takdirnya? Siapa belahan jiwanya? Siapa soulmate?

Seumur hidup Wonwoo, dia memikirkan konsep soulmate dan ikatan takdir. Berharap hubungannya sama seperti kedua orang tuanya.

Hingga suatu pagi. Setelah ia menginjak umur 17 tahun, seperti biasa ia melakukan kegiatannya. Pergi ke sekolah, dan bertemu teman-temannya. Namun hari itu berbeda.

Ia bisa mendengar suara seseorang di dalam pikirannya. Suara yang sangat familiar. Wonwoo bertanya-tanya. Siapa dia? Apakah itu soulmatenya?

Orang itu berbicara banyak hal. Mulai dari panasnya matahari, susahnya soal fisika, dan betapa menjengkelkannya guru mereka.

Wonwoo terkekeh dalam diam. Begitu lucunya orang itu.

Lalu saat makan siang di mulai, ia melihat Soonyoung. Soonyoung yang ceria. Soonyoung yang tersenyum lebar.

Soonyoung tak sengaja menatap Wonwoo. Keduanya saling tatap. Tak mengucapkan apapun.

'Astaga Wonwoo. Ganteng kayak biasa. Matanya astaga. Dia lihat aku? Hah? Asli tuh? Apa lihat ke belakangku? Mampus. Jangan kepedean, Nyong.'

Wonwoo tersentak. Melihat Soonyoung yang mengalihkan pandangannya, sibuk dengan yang lain.

Jantung Wonwoo berdetak kencang. Apakah barusan ia mendengar suara pikiran Soonyoung?

Apakah Soonyoung bisa mendengarkan pikirannya juga?

Wonwoo mencobanya.

'Soonyoung?'

Soonyoung tersentak. Dia diam. Matanya melirik Wonwoo. Patah-patah.

Wonwoo tertawa. Merasa benar dengan dugaannya.

Dengan pelan dia menghampiri Soonyoung. Duduk di depannya.

“Kita soulmate?”

Soonyoung menatap Wonwoo terkejut. Wajahnya memerah.

“M-mungkin.”

Wonwoo terkekeh. “Beneran soulmate kayaknya. Kamu bisa denger suaraku tadi kan?”

Soonyoung ngangguk pelan. Wajahnya masih memerah.

“Berarti dari lama kamu bisa denger suaraku?”

Soonyoung tampak berpikir. “Iya. Tapi aku gak tau kalau itu kamu. Kamu selalu penasaran sama soulmatemu. Mikir tentang konsep soulmate. Terus hari ini kamu mikir lucunya soulmatemu. Gitulah.”

Wajah Soonyoung memerah padam. Menjalar hingga lehernya.

Wonwoo terkekeh. “Aku juga barusan denger. Kamu bilang aku ganteng.”

Soonyoung terbatuk. “Jangan dibahas.”

Wonwoo tertawa. “Jadi, soulmate. Kapan kita kencan?”

Soonyoung menunduk malu. Matanya bergerak kesana kemari.

“Kapan aja.” Gumamnya pelan.

Wonwoo terkekeh. Menikmati tingkah Soonyoung yang malu-malu.

“Sekarang gimana? Kencan pertama nih. Mau pesen apa, soulmate?”

Soonyoung memerah. Memilih menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.

“Uh, terserah. Terus, jangan manggil aku soulmate.”

Wonwoo mengangkat alisnya heran. “Emang kenapa? Kan bener kamu soulmateku. Emang mau dipanggil apa? Sayang?”

Soonyoung memukul Wonwoo. Salah tingkah dengan ucapannya.

“Soonyoung aja.” cicitnya pelan.

Wonwoo tertawa. Senang bahwa ia berhasil menggoda lelaki di depannya.

“Iya, Soonyoung sayang.”

Soonyoung merah padam. Memilih pasrah dengan godaan Wonwoo, yang menggetarkan hatinya.