Puppyfrog

–, Morning

Pagi itu, hujan deras sekali. Langit benar-benar mendung. Seperti melampiaskan kemurungannya. Seokmin membuka mata. Bangun dari tidurnya. Ia menatap jam yang tergantung di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 7 pagi lebih 10 menit.

Seokmin menguap. Merenggangkan otot-ototnya. Untung saja ia bekerja nanti siang. Bersyukur ia mendapatkan bagian kedua.

Kepalanya menengok ke samping kanan. Terlihat Jisoo masih terlelap di alam mimpi. Wajahnya tenang. Polos. Seperti seorang bayi. Seokmin tersenyum lembut. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut, yang menutupi mata kekasihnya.

Seokmin bangkit. Mengecup lembut kepala Jisoo, lalu beranjak pergi dari kasurnya.

Kakinya ia langkahkan menuju arah dapur. Memutuskan untuk membuat sarapan, serta secangkir kopi dan segelas susu untuk Jisoo.

Ia mengambil sebungkus roti dari lemari dapurnya. Mengambil mentega dan pisau roti dari nakas dapur.

Ia oleskan beberapa lembar roti dengan mentega. Ia taburkan dengan meses coklat.

Setelah puas membuat sarapannya, Seokmin merebus air. Mengambil cangkir favoritenya, dan mug sedang untuk susu coklat Jisoo.

Sembari menunggu, Seokmin berjalan ke arah ruang tengah. Memilih menyalakan televisi untuk mengenyahkan keheningan.

Seokmin kembali ke arah dapur. Mematikan kompor, lalu mengangkat panci ke atas kain bersih.

Tangannya bergerak mengambil toples yang berisi kopi. Ia sendokkan beberapa, memberi setengah sendok makan untuk gulanya.

Seokmin mengambil susu coklat Jisoo yang ada di atas nakas. Mengambil 2 sendok makan, lalu ia masukkan ke dalam gelas.

Setelah selesai, tangannya bergerak menuang air panas ke dalam cangkir dan mug Jisoo. Setengah gelas kira-kira.

Seokmin meletakkan kembali panci di atas kain bersih. Ia tambahkan air biasa, agar tidak terlalu panas.

Setelah mengaduk keduanya, Seokmin membawa ke ruang tengah. Meletakkan di atas meja, beserta sarapannya yang sudah ia buat.

Seokmin mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Memilih menyandarkan punggungnya. Menonton tayangan tv di pagi hari.

Tangannya mengambil cangkir yang berisi kopi. Menyeruputnya pelan. Menikmati pagi hari ditemani derasnya hujan, yang menenangkan jiwa.

Jisoo berjalan ke arah Seokmin. Wajah khas bangun tidur. Matanya masih setengah sadar. Seokmin melihatnya. Terkekeh dengan sikap kekasihnya.

Ia letakkan kopinya kembali di atas meja. Tangannya merentang lebar, menanti Jisoo ke dalam dekapannya.

Jisoo tersenyum. Memilih duduk di depan Seokmin, di antara kedua pahanya.

Ia sandarkan punggungnya, di dada bidang Seokmin. Memilih menyamankan tubuhnya, menikmati dekapan Seokmin yang hangat.

“Kok udah bangun?”

Jisoo bergumam. Memilih mengusap pelan tangan Seokmin yang ada di perutnya.

“Gak ada kamu tadi.”

Seokmin terkekeh. Ia mengecup lembut ceruk leher Jisoo.

“Baru kutinggal ke dapur udah kangen.”

Jisoo menggerutu. Memukul paha Seokmin keras.

“Cerewet.”

Seokmin tertawa. Mengeratkan pelukannya. Ia menyesap aroma rambut Jisoo yang harum. Ia daratkan kecupan-kecupan kecil di pipi Jisoo. Membuat Jisoo tertawa geli.

“Good morning, baby.” bisik Seokmin lembut. Membuat telinga Jisoo memerah.

“Morning.” balas Jisoo malu-malu.

Seokmin terkekeh. Lebih memilih mengeratkan pelukannya, menikmati tingkah Jisoo yang menggemaskan.

–, Teman khayalan

Wonwoo punya teman khayalan. Namanya Mingyu. Sedari kecil, ia sudah bermain dengan Mingyu. Mengobrol, tertawa bersama dan bermain sama. Keluarganya tahu akan keberadaan teman khayalannya.

Seiring Wonwoo tumbuh dewasa, Mingyu juga tumbuh bersamanya.

Wonwoo sadar bahwa Mingyu hanya imajinasinya. Pikirannya terbuka. Tidak seharusnya ia menganggap Mingyu itu ada. Mingyu itu tidak ada. Sosoknya hanya bentuk imajinasi kecil dari otaknya.

Wonwoo berusaha mengabaikan keberadaan Mingyu. Menganggap bahwa Mingyu itu tidak ada. Lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Mingyu marah. Saat dulu dia menghabiskan waktu dengan Wonwoo, kini Wonwoo tak menganggapnya. Seolah keberadaannya lenyap.

Mingyu berusaha mencari perhatian Wonwoo. Menggerakkan barang, membuat suara-suara, meninggalkan jejak. Ia ingin Wonwoo sadar akan keberadaannya.

Wonwoo kesal. Ia benci. Ia berusaha menghilangkan Mingyu dari pikirannya. Dari hidupnya. Tak seharusnya dia memiliki teman khayalan di usianya yang sebesar ini.

Wonwoo mengabaikan eksistensinya. Mengabaikan seluruh pergerakan benda-benda yang ada di kamarnya. Mengabaikan suara-suara asing di telinganya.

Hingga suatu ketika, Wonwoo pulang dari sekolahnya. Melihat kamarnya berantakan. Buku-bukunya berserakan.

Ada sepucuk kertas yang tergeletak di atas meja belajarnya.

Wonwoo mengambilnya. Membacanya dengan perlahan.

Hatinya mencelos melihat pesan yang tertera di atas kertas.

'Wonwoo, aku mencintaimu. Terimakasih atas selama ini. Aku harap kamu selalu mengingatku.

-Mingyu'

Wonwoo mengedarkan pandangannya. Kamarnya kosong. Keberadaan Mingyu tak ada. Lenyap. Selamanya.

–, 3 am

Minghao mengerjapkan matanya. Menatap langit-langit kamarnya, dalam diam. Ia tak bisa terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, dan dia masih belum bisa masuk ke alam mimpi.

Minghao menghela napasnya. Ia bangkit dari tidurnya, memilih menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Tangannya meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Sibuk dengan pikirannya, apakah ia harus menelpon salah satu temannya atau tidak. Minghao benar-benar butuh tidur.

Ia menelusuri daftar kontaknya. Mengira-ngira siapa yang mau ia ganggu waktu tidurnya.

Jarinya menekan salah satu kontak. Memutuskan untuk menelpon Seokmin.

Ia dekatkan ponselnya di telinganya. Menunggu sang lawan bicara mengangkat teleponnya.

'Halo.'

Suara Seokmin serak. Khas orang bangun tidur.

“Seokmin.”

Seokmin menjawab dengan gumaman. Minghao tebak, Seokmin sedang setengah sadar sekarang.

“Gak bisa tidur.”

Minghao merengek seperti anak kecil. Terdengar kekehan dari sebrang telepon.

'Terus? Gak ada hubungannya sama aku, Hao.'

Minghao mendengus. Tangannya memeluk guling. Mendekapnya erat di dada.

“Buat aku ngantuk. Udah mau pagi aku belum tidur juga.”

Seokmin tertawa. 'Kamu ganggu orang lain tidur, telepon jam 3 pagi, cuman nyuruh aku buat bikin kamu ngantuk?'

“Jahat bener kamu jadi temen, Seok.”

'Emang aku temenmu?'

“Sialan.”

Seokmin terkekeh. Minghao tersenyum dalam diam. Memang pilihan tepat untuk menelpon Seokmin saat ini.

'Kenapa dari sekian banyak orang, kamu nelpon aku?'

Minghao tampak berpikir. “Gak tau. Pengen gangguin aja.”

'Sialan. Serius aku, Hao.'

Minghao tertawa. “Emm, apa ya. Mungkin karena aku pengen denger suaramu?” suara Minghao bernada, seperti menggoda.

Seokmin tertawa keras. 'Lagi ngegombal, Hao?'

“Udah syukur ku puji. Gak tau diri.”

Seokmin terkekeh. Suaranya merdu. Membuat Minghao perlahan-lahan mulai mengantuk.

'Berarti aku macam lullaby ya. Biar kamu tidur.'

“Hm. Ngedongeng dong, Seok. Pengen denger suaramu.”

Seokmin tertawa pelan. Ada jeda sebelum dia berucap. 'Dongeng apa aja?'

Mata Minghao sudah memberat. Dia menyamankan posisinya. Berbaring di atas kasur.

“Iya, dongeng apa aja.”

Seokmin tampak berdengung. 'Aku ceritain kisah ku aja.'

Minghao hanya bergumam. Meletakkan ponsel di atas pipinya. Lengannya memeluk guling.

'Ada cowok namanya Seokmin. Punya temen banyak. Punya kenalan juga. Banyak yang suka dia.'

Minghao terkekeh. Lucu mendengar bahwa Seokmin menceritakan dirinya sendiri.

'Tapi hati Seokmin, hanya tertuju pada satu orang saja. Sayangnya, orang yang di sayang oleh Seokmin tidak pernah menganggapnya lebih dari teman.'

Minghao diam. Tampak berpikir. Siapa orang itu?

'Orang itu membuat hari-hari Seokmin menjadi lebih ceria. Tak peduli bahwa Seokmin akan tersakiti, dia merasa bahagia. Sudah cukup orang itu menemani hari-harinya sebagai teman.'

Minghao memilih diam. Mendengarkan cerita Seokmin dengan seksama.

'Setiap hari Seokmin menjaganya. Melindunginya. Menemaninya. Orang itu selalu merepotkan Seokmin. Mengganggunya. Namun, Seokmin tak peduli. Dia senang melakukannya. Senang menghabiskan waktu dengannya.'

Minghao masih tak bersuara. Mengeratkan genggamannya pada guling yang ada di pelukannya.

'Dan orang itupun sedang menghubungi Seokmin sekarang.'

Keduanya hening. Tak ada yang bersuara. Minghao masih mencerna ucapan Seokmin.

“Jadi, itu aku?”

Seokmin diam. Ada suara helaan napas dari arah sebrang. 'Iya.'

“Sejak kapan?”

'Gak tau. Maaf. Jangan ngerasa terbebani. Aku tahu kamu gak suka aku.'

Senyap. Keduanya hanya diam.

“Aku suka kamu.”

Minghao memberi jeda. “Lebih dari teman.”

Seokmin terkekeh. 'Gak usah bohong. Aku tahu kamu cuman gak enak sama aku. Udah sana tidur.'

“Enggak! Aku gak bohong. Aku beneran suka kamu.”

Seokmin diam. Terlihat ragu. 'Beneran?'

“Hm. Ngapain aku bohong.”

'Jadi, kamu nelpon aku karna kamu kepikiran aku?'

Wajah Minghao memerah. Ia sembunyikan di balik gulingnya.

“Berisik.”

Seokmin tertawa. 'Pasti lagi malu.'

Minghao memilih diam. Gak tau harus ngomong apa.

'Gak tidur, Hao?'

Minghao mendengus. “Gimana mau tidur, goblok. Baru ngomongin perasaan.”

Seokmin tertawa keras. 'Salting ya?'

“Anying. Jangan di bahas.”

Seokmin tertawa keras. Semangat untuk menggoda Minghao.

'Jadi kita apa nih? Pacaran atau apa?'

Wajah Minghao memerah. Bersyukur bahwa mereka mengobrol via telepon.

“Gak tau.” gumamnya.

'Hah? Apa?'

“Pikir aja sendiri.” tukas Minghao sebal.

Seokmin terkekeh. 'Yaudah kuanggap kita pacar deh.'

“B-berisik. Dah aku mau tidur.”

'Eih, gak usah alasan pake tidur. Jangan tidur kamu.'

Entah kenapa Minghao berdebar. Jantungnya berisik di balik dadanya.

“Emang kenapa?”

Seokmin diam. Lalu tertawa kecil. 'Pengen ngobrol sama kamu.'

Minghao memerah. Tak tahu harus menjawab apa. “Ini udah subuh, Seok.”

'Siapa yang nelpon duluan ya?'

Minghao terbatuk. Salah tingkah dengan ucapan Seokmin.

Seokmin terkekeh. 'Sana tidur. Besok kita ketemu juga kan.'

Minghao ngangguk pelan. “Iya.”

'Yaudah sana tidur.'

Minghao bergumam. Masih betah mendengar suara Seokmin.

“Good night.”

'Good morning, Hao.'

Minghao tertawa. 'Good morning, Seok.'

'Mimpiin aku ya, pacar.'

Minghao memerah. Bisa-bisanya Seokmin seperti ini.

“K-kamu juga.”

Seokmin terkekeh. 'Aku selalu mimpiin kamu kok, pacar.'

Minghao berdeham. Menghilangkan rasa saltingnya.

'Dah sana tidur.'

Minghao bergumam. Mengucapkan selamat tinggal, lalu mematikan teleponnya.

Wajahnya terlukis senyum lebar. Hatinya terasa ringan.

Matanya ia pejamkan, berharap hari esok segera tiba.

Beberapa menit kemudian, Minghao jatuh dalam kegelapan. Dengan senyum tipis menghiasi wajahnya, dan suara Seokmin yang terngiang-ngiang di telinganya.

–, Petir

Malam itu hujan deras. Suara petir menggelegar di luar sana. Seakan menyalurkan kemarahannya. Cahaya kilat menyilaukan mata. Membuat belasan jiwa menciut ketakutan.

Chan salah satunya. Menyembunyikan tubuhnya di balik selimut hangatnya. Memejamkan matanya erat, berusaha menghalau suara petir dari gendang telinganya.

Giginya menggigit pelan bibir bawahnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya, bahwa ia ketakutan. Perasaannya gundah. Jantungnya berdebar keras. Ia meremas kuat selimutnya. Berusaha menenangkan dirinya.

Dalam hati mengucapkan belasan doa, agar orang yang ia harapkan ada di sampingnya.

Hatinya egois. Namun, ia tahu cuaca diluar sana tak bersahabat. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak ia harapkan. Ketakutan dan kecemasan bercampur aduk menyelimuti hati dan pikirannya.

Takut karena keganasan malam itu, cemas dengan hal-hal negatif yang menyandra pikirannya.

Kamarnya senyap. Hanya ada suara deru napasnya. Derasnya hujan mengiringi senyapnya malam. Ruangannya gelap. Tak mampu hanya sekadar bangkit, menyalakan saklar lampunya.

Chan tak berani membuka mata. Ia hanya menunggu dan menunggu. Merasakan segala ketakutan dan kecemasannya.

Elusan lembut di dahinya, membuat Chan terlonjak. Matanya terbuka lebar.

“Hei.” ucap orang itu. Orang yang ia tunggu-tunggu.

Chan segera bangkit. Meraih tubuh lelaki di hadapannya, memeluknya erat.

Menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Menghirup aromanya dalam-dalam.

Usapan lembut di punggungnya, berhasil menenangkan Chan. Dekapan erat dari sang empu, berhasil membuat Chan kembali tenang. Seluruh perasaan gundah, cemas dan gelisahnya hilang entah kemana. Bersyukur bahwa seluruh opini negatifnya hanya kecemasan biasa.

“Kapan dateng?”

Suara Chan serak. Sedikit bergetar. Orang di hadapannya Chan terkekeh.

“Kamu sibuk ketakutan, gak sadar aku udah pulang.”

Chan mengeratkan dekapannya. Tangannya mencengkram punggung besar lelaki di pelukannya.

“Aku khawatir. Takut juga.”

“Takut aku kenapa-kenapa ya?”

“Hansol!”

Hansol, lelaki di dekapan Chan, terkekeh. Usapan tangannya di punggung Chan, tak berhenti.

“Maaf-maaf. Aku tahu kamu khawatir. Aku gak papa kok. Ini sekarang aku disini.”

Chan hanya diam. Memilih merasakan kehangatan Hansol dalam pelukannya. Berusaha menghilangkan ketakutannya, yang masih tersisa di relung hatinya.

“Aku kira kamu udah gak takut petir.”

Chan lebih memilih diam. Malas menjawab.

“Jangan marah, Chan.”

Suara Hansol sangat lembut. Lembut dan dalam. Terkandung banyak makna di dalamnya.

Chan tak bisa berlama-lama kesal dengannya. Hatinya seolah luluh dengan semua ucapan Hansol.

“Enggak kok.” gumam Chan di balik bahu Hansol.

Hansol tertawa. Tangannya bergerak, mengusap rambut Chan pelan. Menyisirnya lembut. Chan memejamkan matanya. Menikmati semua sentuhan menenangkan dari Hansol.

“Jangan takut. Aku udah disini.”

Chan hanya bergumam. Lebih memilih menyamankan dirinya di bahu Hansol. Usapan lembutnya tak berhenti. Sengaja membuat Chan terlelap dalam dekapannya.

“Think of lightning as a song. Song for the brave. Think of rain as a song. And you are the brave one.”

Hansol berbisik lembut. Bibirnya ia kecupkan di sepanjang wajah Chan yang terlelap. Pucuk kepalanya ia kecup. Usapannya melembut.

Hansol menjauhkan tubuhnya. Membawa Chan berbaring di atas kasur. Tubuhnya ia baringkan di samping Chan, mendekapnya erat ke dalam dada bidangnya.

Selimut hangat ia tarik untuk menutupi keduanya. Membuat Chan beringsut semakin mendekatinya.

Hansol terkekeh. Tangannya bergerak untuk merapihkan surai rambut kekasihnya.

Wajah damai Chan yang tenang, membuat hati Hansol menghangat.

Ia kecup pelan dahi Chan. Tangannya melingkar indah di pinggang kekasihnya.

“Good night, sweety. Sweet dreams.”

Setelahnya kegelapan menyelimuti keduanya. Menghantar kedua insan ke dalam indahnya alam mimpi.

–, Coklat, Mungkin dan Seandainya

Jun itu sahabatnya Jisoo. Mereka udah kenal, sejak mereka di taman kanak-kanak. Jun yang pindahan dari China, rumahnya sebelahan sama rumah Jisoo.

Mereka lama-lama akrab. Makin deket. Makin lengket juga. Sampai mereka duduk di bangku menengah atas. Hubungan Jun dan Jisoo gak berubah.

Anehnya kedekatan mereka gak bisa cuman dibilang sahabat. Terlalu intim untuk label sahabat. Memang ada sahabat yang pelukan setiap saat? Pegangan tangan? Tidur berdua?

Berasa gak nyentuh satu sama lain itu, aneh bagi mereka. Bahkan orang disekitar mereka jadi salah paham. Mereka ini pacaran atau sahabatan?

Dan anehnya lagi, mereka gak pernah pacaran. Pernah lah deket-deket biasa, tapi gak sampai pacaran. Makin bingung kawan-kawan mereka.

Jun serta Jisoo biasa aja. Mereka berasa normal dengan kegiatan mereka.

Mereka gak sadar sama hati mereka yang udah berubah. Gak sadar sama jantung mereka yang udah berdetak aneh. Gak sadar sama sifat cemburu yang tiba-tiba muncul di saat yang gak tepat. Mereka gak sadar.

Perlakuan mereka satu sama lain udah merubah pertemanan mereka. Gak ada satupun dari mereka yang berani ngungkapin isi hati mereka yang sebenarnya. Mereka cuman ngikutin arus. Ngikutin apa kata takdir buat hubungan mereka.

Mereka gak pusing mikirin hubungan mereka. Selama mereka nyaman, mereka aman-aman aja. Tapi, di lubuk hati mereka, pasti ingin mendeklarasikan bahwa lelaki yang ia suka, itu miliknya.

Dibalik candaan Jun, dibalik senyum lembut Jisoo, tersimpan banyak emosi di dalamnya.

Hubungan mereka abu-abu. Hingga sebungkus coklat merubah segalanya. Merubah hubungan keduanya. Merubah isi hati Jisoo serta Jun.

Sebungkus coklat, yang membuat hubungan mereka berubah.

******

Jam pelajaran Kimia lagi kosong. Gurunya ada acara mendadak. Anak kelas pada heboh. Senang bukan main. Jisoo dan Jun tak kalah senang. Mereka pergi ke kantin. Beli cemilan sama minuman.

Mereka berdua pergi ke tempat favorite mereka. Atap sekolah. Tempat itu udah tempat wajib yang harus di datengin sama mereka.

Gak dateng ke atap, gak afdol. Serasa makan ketupat tanpa opor. Setiap hari pasti mereka kesana.

Mereka duduk lesehan. Gak peduli sama kotornya atap, toh nanti bisa di bersihin lagi.

Jun bersandar pada pagar pembatas. Di sampingnya Jisoo sedang sibuk membuka cemilannya. Bahu mereka bersentuhan. Tak ada pikiran untuk memberi jarak.

Jun menyesap soda yang ada di tangannya. Menikmati semilir angin yang menyapu lembut kulitnya.

Jisoo sibuk membuka bungkus coklatnya. Menyantapnya dengan nikmat. Layaknya anak kecil yang pertama kali makan coklat.

Jun melirik sedikit. Terkekeh dengan tingkah Jisoo.

“Itu belepotan. Makan pelan-pelan. Gak ada yang mau ambil coklatmu.”

Jisoo menoleh. Menatap Jun penuh tanya. “Mana yang belepotan?”

Tangannya sibuk menggosok kedua pipi serta bibirnya. Jun terkekeh.

“Disini.”

Jun mendekatkan wajahnya ke wajah Jisoo. Menyisakan jarak beberapa senti. Ibu jari Jun menyentuh lembut bibir lelaki di hadapannya.

Jun menatap instens bibir Jisoo. Jarinya mengusap noda coklat yang mengotori ujung bibirnya.

Jisoo membeku. Napasnya ia tahan. Kedua netranya menatap intens apa yang Jun lakukan. Menikmati lembutnya jari Jun yang menyentuh bibirnya.

Jun menaikkan pandangannya. Menatap mata Jisoo lekat-lekat. Tangannya beralih menangkup dagu Jisoo lembut.

Keduanya saling tatap. Menyelami perasaan masing-masing. Menikmati waktu yang ada. Menikmati tingkah lelaki di hadapannya.

“Hei.” bisik Jun lembut.

Tatapannya tak terlepas sedetikpun dari Jisoo.

“Hm?”

“Kalau seandainya aku bilang aku suka kamu gimana?”

Jisoo terdiam. Matanya melebar. Kaget dengan ucapan Jun barusan.

“Maksudnya?”

“Kalau aku bilang aku suka kamu gimana?”

Jisoo menelisik mata Jun dalam-dalam. Berusaha mencari jawaban dari ucapan Jun.

“Ya gak papa.”

Jun tersenyum tipis. “Gak nolak?”

“Enggak.”

Jun menaikkan alisnya heran. “Kenapa? Harusnya kamu tolak lah. Kan kamu gak suka aku.”

“Kata siapa aku gak suka kamu.”

Jun diam. Wajahnya tak berekspresi. “Kamu suka aku sebagai teman kan?”

Jisoo ngangguk. Tentu saja dia suka Jun sebagai temannya.

“Kalau aku suka kamu lebih dari teman gimana? Sebagai sepasang kekasih?”

Jun berucap pelan. Agak ragu. Matanya sedikit goyah.

“Gak gimana-gimana.”

Jun diam. Tampak mencerna jawaban Jisoo. Tangannya menangkup sebelah pipi Jisoo. Mengusap lembut tulang pipinya.

“Kamu gak nolak?”

“Enggak.”

“Kenapa?”

Jisoo menatap Jun lekat-lekat. Ia menjilat bibirnya yang kering. Agak bimbang dengan jawabannya.

“Karena aku juga suka kamu mungkin. Lebih dari teman.”

Jun menatap Jisoo penuh tanda tanya.

“Mungkin?”

Jisoo mengalihkan pandangannya. Enggan menatap Jun.

“Kan yang kamu bilang seandainya. Gak beneran kan?” kata Jisoo.

Jun terkekeh. Ia dekatkan jarak keduanya. Hidung mereka bersentuhan.

“Kalo aku hilangkan kata 'seandainya' gimana? Aku suka kamu.”

Jun berbisik lirih. Napasnya menyapa kulit wajah Jisoo.

“Kalau gitu, aku juga suka kamu.”

Jun terkekeh. Tangannya menepuk pelan pipi Jisoo.

“Jadi kita saling suka?”

Jisoo ngangguk pelan. “Mungkin.”

Jun tertawa. “Jadi, kita pacar?”

“Maybe.”

“Kenapa kok mungkin?”

Jisoo menerawang. “Karena kita gak pacaran pun udah kayak orang pacaran.”

Jun terkekeh pelan. “Ada yang beda. Kita gak saling cium sama bertukar kata cinta.”

Jisoo memerah. “Kalau gitu, sekarang kita saling cium sama bertukar kata cinta?”

“Itu kalau kamu mau.”

Keduanya diam. Senyum riang terlukis di kedua bibir mereka.

“Kalau gitu kita pacar.”

Jun menyatukan dahi mereka. Ibu jarinya mengusap pelan pipi Jisoo.

“Hai, pacar.”

Jisoo terkekeh. Matanya membentuk bulan sabit. “Hai juga, pacar.”

Jun menyatukan bibir keduanya. Menikmati rasa manis di bibir merah Jisoo. Rasa coklat yang manis serta lembutnya bibir Jisoo yang memerah, membuatnya terbang ke langit.

Jun menjauhkan wajah keduanya. Memberikan kecupan sebagai akhir.

Keduanya saling bertukar senyum. Menatap intens, lawan bicaranya.

“Gak perlu pakai kata 'seandainya' kalau mau jujur.” ujar Jisoo mengejek.

“Gak perlu pake kata 'mungkin' kalau mau nerima.”

Jisoo memukul dada Jun. Yang dibalas kekehan keras dari sang empu.

“Sialan.”

Jun tertawa. Memilih mendekap Jisoo di pelukannya. “Gak perlu kata 'seandainya' dan 'mungkin', kalau kita saling suka.”

–, Cuddle

Jun selonjoran santai di atas sofa. Kakinya yang panjang, ia biarkan menjuntai. Pandangannya terarah menatap televisi. Tangannya terkulai memegang remote tv. Sungguh menikmati hari Minggunya kali ini. Memutuskan untuk bermalasan sekali-kali.

Jun malas mandi. Malas berdiri. Bahkan untuk sekedar mengambil ponselnya di atas meja, dia malas. Benar-benar menikmati harinya sekarang.

Tayangan tv di hari minggu memang selalu menghibur. Tawa renyah keluar dari bibirnya. Matanya melengkung membentuk bulan sabit. Kaki panjangnya bergerak liar, saking lucunya.

Jihoon datang dari arah dapur. Berdecak melihat kelakuan Jun yang bar-bar.

Dengan kasar ia memukul paha Jun. Menyuruh kakinya untuk menyingkir.

“Apasih, sayang?”

Jihoon mendengus. “Minggir. Ini sofa punya bersama. Jangan di kuasain.”

Jun terkekeh. “Gak mau.”

Wajah Jun benar-benar menjengkelkan. Membuat Jihoon ingin menginjaknya.

“Gak usah nyari ribut, Jun. Minggir.”

Jun terkekeh. “Emang mau ngapain?”

“Berak. Ya duduk, bego.”

Jun tertawa keras. “Yaudah tinggal duduk.”

Jihoon memutar matanya malas. “Emang mau ku dudukin kamunya?”

Jun menatap Jihoon menantang. “Duduk sini.”

Tangan Jun menarik Jihoon agar duduk di atas pahanya. Tangannya yang lain merangkul bahu Jihoon, menariknya agar berbaring di atas tubuhnya.

Kepala Jihoon tepat di atas dada bidang Jun. Mendengar sayup-sayup debaran jantung Jun yang menenangkan.

Tangan Jun yang lain, memeluk perut Jihoon yang datar.

“Enak kan?”

Jihoon cuman diam. Pasrah dengan kelakuan Jun. Lebih memilih menyamankan dirinya di atas Jun.

Kaki Jun menindih kaki Jihoon. Mendekap si mungil layaknya guling.

“Aku bukan guling, Jun.”

“Siapa yang bilang kamu guling? Kan kamu pacarku.”

Wajah Jihoon memerah. Menjalar hingga telinganya.

“Liat deh. Kakiku panjang daripada punyamu.”

“Ya terus? Mau pamer?”

Jun terkekeh. Hidungnya menghirup aroma rambut Jihoon yang harum.

“Enggak. Jadinya cocok kan kalo aku meluk kamu gini. Kakimu bisa ketutup semua sama kakiku. Coba lihat.”

Jihoon menundukkan pandangannya. Menatap kakinya yang bersembunyi di balik kedua kaki Jun yang panjang.

Jihoon bergumam. Kepalanya ia letakkan lagi di dada Jun.

“Beruntung kamu punya pacar kayak aku. Udah tinggi, kaki panjang, ganteng, jago masak, humoris lagi. Kurang apa coba.”

Jihoon mendengus. Memilih menahan tawa. Jiwa narsis Jun sedang muncul.

“Iya-iya bangga.”

Jun terkekeh. Kakinya melingkari kaki Jihoon erat. Mendekapnya bagai tak ada hari esok.

“Jadi, kegiatan kita apa hari ini?” tanya Jun yang sedang memainkan jarinya di dada Jihoon.

“Malas-malasan.”

Memang benar. Mereka sedang bermalas-malasan.

“Bahasa kerennya cuddle, Ji.”

Jihoon terkekeh. “Cuddle.”

Jun ikut tertawa. “Benerkan. Nih sekarang kita lagi cuddle.”

Jihoon tersenyum. Ia mengangkat wajahnya menatap Jun, yang ternyata menunduk untuk memandangnya.

“Iya-iya, Jun.”

Jun tersenyum lembut. Bibirnya ia daratkan untuk mengecup pucuk kepala Jihoon.

“Mari kita nonton sambil cuddle.”

Jihoon terkekeh. Membiarkan Jun dengan segala keunikannya.

–, Cold and Warm

Hansol adalah tipe orang yang tidak peduli dengan sekitarnya. Dia menikmati hidupnya apa adanya. Saat semua kawannya sibuk mencari soulmate masing-masing, Hansol hanya diam menikmati hari-harinya seperti biasa.

Di dunia ini, saat kamu berumur 17 tahun, kamu dapat merasakan kehadiran soulmate mu melalui indra perasamu. Seperti penciuman, penglihatan, pendengaran dan kepekaan.

Dari yang diceritakan sahabat-sahabatnya, Hansol sudah menjumpai beberapa contoh.

Mingyu misalnya. Dia dapat mencium aroma tubuh soulmatenya. Hanya Mingyu seorang. Kata Mingyu, aroma Minghao seperti coklat dan kue kering. Atau Seungcheol, yang dapat melihat warna aura dari soulmatenya. Kata Seungcheol, warna aura Jeonghan berwarna merah muda bercampur biru laut. Adapula Wonwoo, yang dapat mendengar suara pikiran Soonyoung. Semua orang memiliki cara mereka sendiri, untuk mengetahui soulmatenya.

Hampir semua sahabatnya sudah menemukan soulmate mereka. Tersisa Hansol dan juga Seokmin.

Hari ini Hansol berumur 17 tahun. Dia penasaran. Apa yang ia dapatkan untuk mengetahui keberadaan soulmatenya. Karena ulang tahun Hansol bersamaan dengan Seokmin, maka kesebelas kawan mereka, merayakan ulang tahun keduanya bersamaan. Memutuskan untuk makan di salah satu cafe favorite mereka.

Hansol duduk bersebelahan dengan Seokmin. Mereka berada di tengah-tengah kawan mereka. Dan anehnya, tubuh Hansol terasa panas. Panas yang tidak mengganggu. Panas yang membuatnya nyaman.

“Apa pendingin cafe nya gak nyala?”

Hansol mulai bertanya. Dia masih merasakan panas saat ini.

“Iya. Panas bener ini.” celetuk Seokmin.

Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa kepanasan. Seokmin juga.

“Gak tuh. Dingin sekarang. Yakin lu berdua gak papa?”

Jeonghan menatap Hansol serta Seokmin khawatir.

Hansol diam. Mungkin dia agak demam.

Hansol tak ambil pusing. Dia melanjutkan makannya. Merasakan hawa panas dari sisi kanannya.

Hingga satu jam kemudian, mereka memutuskan untuk pulang. Hansol masih merasakan panas.

Satu per satu kawan-kawannya pamit. Begitupula dengan Hansol.

“Gua duluan ya. Makasih buat kalian. Udah mau ngerayain bareng.”

Hansol pamit pulang, setelah berpelukan dengan semua teman-temannya.

Sepanjang jalan, tubuhnya kedinginan. Iya. Hansol menggigil. Padahal cuaca cerah biasa. Tidak hujan. Biasa saja. Tapi kenapa tubuhnya menggigil?

Hansol tak bisa berjalan. Dia berhenti. Bersandar pada salah satu tembok toko.

Dia memeluk dirinya sendiri. Ingin cepat pulang, namun kakinya tak bisa melangkah.

Bibirnya gemetar. Wajahnya pucat. Tubuhnya tak bisa diam.

Hansol berusaha menghangatkan tangannya. Meniup-niupkan napasnya.

Getaran ponsel di saku celananya, membuat Hansol berdecak.

Dengan kesusahan, dia merogoh sakunya. Mengambil ponselnya.

Nama Seokmin terlihat di layar ponselnya.

“Halo.” jawab Hansol dengan suara seraknya.

'Kamu dimana?'

Hansol mengedarkan pandangannya.

“Deket Big Match.”

Terdengar dari arah sebrang yang sedang panik.

'Bisa balik ke cafe?'

Hansol masih menggigil. “Gak bisa.”

'Dingin?'

Hansol terdiam. Bagaimana Seokmin bisa tahu.

“Iya.”

Dari arah sebrang hanya keheningan. Tak ada suara.

'Aku juga kedinginan.'

Hansol diam. Tampak berpikir. Jangan-jangan Seokmin soulmatenya?

“Kita soulmate?”

Seokmin tampak diam. 'Mungkin.'

Hansol memeluk tubuhnya erat. Dia ingin berlari ke Seokmin. Dia ingin bertemu dengannya. Namun, tak bisa. Tubuhnya terlalu dingin. Kakinya tak bisa ia gerakkan.

“Aku gak bisa kesana.”

'Kenapa?'

“Gak bisa jalan.”

Ada suara berisik dari sebrang telepon. Hansol pusing. Kepalanya pusing.

'Jangan kemana-mana. Aku kesana.'

Telepon di putus oleh Seokmin. Hansol hanya bisa menyandar. Orang-orang menatapnya penasaran, tak ada niat membantunya sedikitpun.

Hansol hanya bisa meratapi nasibnya. Kemampuan yang ia dapatkan unik namun juga menyusahkan. Bagaimana bisa ia berjauhan dengan Seokmin nanti? Apakah dia akan selalu berdua dengannya? Walaupun itu ke toilet?

Wajah Hansol sedikit memerah. Berusaha menyingkirkan pikirannya yang aneh.

“Hansol.”

Hansol menoleh. Terlihat Seokmin yang terengah-engah.

Tubuh Hansol mendadak menghangat. Dingin yang ia rasakan lenyap.

Hansol berbalik. Berjalan mendekati Seokmin.

Tangan Seokmin terlentang lebar. Seperti menyambut Hansol.

Perlahan, Hansol memeluknya. Mendekapnya erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Seokmin.

Tangan Seokmin melingkari tubuh Hansol. Mendekapnya erat. Menghirup aroma Hansol dalam-dalam.

Tubuh mereka menghangat. Berbagi kehangatan. Dingin yang mereka rasakan, hilang entah kemana. Lenyap tak berbalik.

Senyum Hansol melebar. Ia jauhkan tubuhnya sedikit. Menatap Seokmin dengan lekat.

“Jadi, kamu Soulmateku?” tanya Hansol.

Seokmin tertawa. Tangannya bergerak merapihkan rambut Hansol.

“Kejadian sekarang bukti kita soulmate.”

Hansol mendengus. “Kenapa harus gini? Jadi kita gak bisa jauhan?”

“Bagus dong. Kita harus deketan. Biar gak kedinginan.”

“Kalo kita kerja gimana? Kuliah? Di masa depan gimana?”

“Gampang. Kita serumah, sekamar, sekasur, mandi berdua, kuliah di tempat yang sama, kerja di tempat yang sama. Simple.”

Hansok memutar matanya malas. “Gampang kalo ngomong.”

Seokmin terkekeh. “Ayo ke rumahku.”

“Ngapain?”

“Ngenalin ke ortu lah. Kita harus minta restu. Karena kita gak bisa jauhan, otomatis kita harus serumah.”

Hansol melotot. “Gila. Gak pernah mikir kalau soulmateku itu kamu.”

“Aku juga.”

“Kita beda kepribadian kok bisa jadi soulmate.”

Seokmin tersenyum. “Justru karena beda inilah kita harus saling melengkapi. Apa gunanya soulmate kalau gitu. Iya kan?”

Hansol memerah. “Iya juga sih.” gumamnya.

“Ayo pergi. Habis dari rumahku, ke rumahmu. Kamu harus ngenalin orang tuamu ke aku.”

Hansol hanya diam. Pasrah dengan perlakuan Seokmin. Tangannya di genggam erat. Keduanya jalan berdampingan.

“Terserah lah.”

Seokmin terkekeh. “Hai, soulmate. Awet-awet ya.”

Hansol mendengus. Mengabaikan Seokmin yang tertawa menggodanya.

–, Sasaeng

“Please, Seungkwan bantu aku.” ujar Minghao dengan tatapan bak anjing kecil yang tersakiti.

Seungkwan memutar matanya malas. Berusaha tak luluh oleh tatapan Minghao yang sok polos.

“Gak bisa. Itu perbuatan ilegal. Gimana kalo aku ketangkep? Masuk penjara? Ya tuhan, kenapa aku bisa punya temen macem kamu.” Ucap Seungkwan sambil mengacak rambutnya kasar. Kesal dengan kelakuan Minghao.

“Sekali ini aja. Please? Nanti aku traktir di sekolah setiap hari.”

Minghao tak berhenti disitu. Ia terus melayangkan jurus andalannya.

“Hao. Permintaanmu itu aneh-aneh. Fans macem apa kamu? Bahaya.”

Seungkwan benar-benar frustasi. Tak habis pikir dengan isi otak Minghao.

Minghao mengerucutkan bibirnya. “Aku kan minta temenin kamu doang. Buat nemenin aku ke hotel tempat nginepnya CHILLI. Pengen nyari tissu yang habis di pake Mingyu. Please?”

Seungkwan membuang napasnya kasar. “Kamu tahu gak? Itu udah masuk kategori Sasaeng. Mau idolamu benci kamu? Kalau ketahuan gimana?”

Seungkwan benar-benar ingin menangis. Kawannya satu ini membuat Seungkwan emosi tingkat dewa.

“Tapi kan aku gak berbahaya. Cuman ngambil tissu di kamarnya Mingyu, terus kita balik.”

Seungkwan ingin membenturkan kepalanya saat ini. Dia pasrah dengan kebodohan Minghao yang sangat murni.

Dengan pelan dia memijat pangkal hidungnya. Tampak berpikir.

“Sebentar doang kan? Kalau kita ketangkap terus masuk penjara, aku gak bakal maafin kamu, Hao.”

Minghao melompat senang. Tangannya memeluk Seungkwan erat. “Iya-iya. Janji. Aman kok.”

Seungkwan menghela napasnya kasar. “Jadi kapan?”

Minghao melepaskan pelukannya. Menatap Seungkwan berbinar. “Malam ini. Kamu bantuin aku. Gak sampe 5 menit, kita keluar.”

Seungkwan langsung sakit kepala. Mendadak kepalanya pening. “Terserahlah. Pokoknya pas udah dapet apa yang kamu mau, kita langsung balik.”

Minghao mengangguk antusias. “Iya-iya. Ayo aku traktir ramen. Hehe.”

Beginilah Seungkwan. Lemah dengan sikap sahabatnya. Walaupun agak absurd, dia tetap menyayangi Minghao.

“Hm. Ayo.”

******

CHILLI. Grup boyband yang berisikan 4 orang. Sedang mengadakan fanmeeting di kota Seungkwan. Dia tak begitu tahu tentang CHILLI. Namun, karena Minghao dia tahu beberapa hal tentang mereka.

Yang dia tahu hanya dua member. Vernon dan juga Mingyu. Bayangkan jika kalian menjadi Seungkwan, yang tiap harinya mendengarkan ocehan Minghao tentang Mingyu.

Mingyu yang ini, Mingyu yang itu. Seungkwan pusing rasanya. Lelah mendengar nama Mingyu dari mulut Minghao. Namun apa yang bisa ia lakukan. Jika mereka adalah alasan Minghao ceria, Seungkwan ikut senang.

Disinilah dia. Menemani Minghao yang mengendap-endap di lorong hotel. Mengecek nomor kamar.

“Mana kamar Mingyu?”

Seungkwan sudah mulai was-was.

“Hm. Dari orang yang aku kenal, antara kamar 380 sama 381. Salah satu kamarnya, itu kamar Mingyu.”

Sudah ia duga. Seungkwan tak pernah salah dengan feeling nya.

“Jadi, aku bantuin kamu nyari tissu yang gak berharga itu?”

Minghao nyengir. “Bantuin ya. Katanya personil CHILLI lagi makan malem. Kita bisa cek kamar mereka.”

Seungkwan bingung. Gimana cara ngeceknya?

“Gimana masuknya? Kan pake kartu.”

Minghao tersenyum cerdik. Menyerahkan kartu ke tangan Seungkwan.

“Nih. Kamu cek kamar 380. Aku 381.”

Minghao segera berjalan mendekati kamar 381. Sibuk dengan kegiatannya.

Seungkwan menghela napasnya. Dengan pasrah berjalan mendekati pintu kamar 380, yang ada di depan kamar 381.

“Hao. 5 menit. Kalo gak dapet, langsung keluar.”

Minghao ngangguk. Membuka pintu kamar 381. “Iya. Aman.”

Setelahnya Minghao masuk ke dalam kamar. Menutupnya sedikit.

Seungkwan benar-benar tak habis pikir.

Dengan pelan dia menggesek kartu yang ada di tangannya. Membuka pintu kamar perlahan. Memasukinya takut-takut.

Berdoa dalam hati, agar dirinya masih bisa keluar dengan aman.

“Semoga aku masih bisa ngeliat langit.”

*******

Vernon dan juga Mingyu berjalan menuju kamar mereka. Mengambil salah satu barang mereka yang tertinggal.

“Aku ke kamarku juga, Sol. Mau ngambil charger.”

Vernon ngangguk. Dia berjalan ke arah pintu kamarnya. Kaget, melihat pintunya yang sedikit terbuka.

Dengan pelan dia mendorongnya. Agak curiga jika ada seseorang yang masuk kamarnya.

Dan benar saja. Vernon melihat punggung seseorang, sedang membelakanginya, sibuk dengan tempat sampah yang ada di dekat pintu.

“Siapa kamu?” ujarnya datar.

Sosok asing yang sedang berjongkok, tampak tersentak. Diam tak bergerak.

“Aku tanya, siapa kamu?”

Sosok asing itu berdiri perlahan, membalikkan badannya takut-takut.

“Uh....”

Vernon menaikkan alisnya. “Siapa kamu?”

Orang asing di depan Vernon tampak shock dengan kehadiran Vernon.

“S-seungkwan.”

Vernon menyandarkan tubuhnya di dinding. “Seungkwan. Fansku?”

Seungkwan menggeleng. “Bukan!”

“Sasaeng fans?”

Dia menggeleng lagi. “Bukan-bukan.” wajahnya tampak ingin menangis.

“Terus? Kenapa bisa masuk kamarku? Apalagi kalau bukan Sasaeng fans?”

Seungkwan menggeleng keras. “Aku bahkan bukan fans group kalian. Astaga. Aku nemenin temanku. Ini aku jujur. Aku nemenin temanku yang lagi nyari tissu Mingyu. Please, jangan laporin ke polisi.”

Seungkwan menangkupkan tangannya memohon. Matanya tampak berlinang air mata.

“Temenmu? Temenmu fans? Berarti sekarang lagi di kamar Mingyu?”

Seungkwan ngangguk. Terlihat tak berdaya. “Iya. Sudah kularang, tapi tetep pengen kesini. Astaga. Aku disini juga korban. Tolong, jangan lapor.”

Vernon menghela napasnya pelan. Agak kasian juga. “Tapi kamu tahu namaku?”

Seungkwan tampak diam. Berpikir sejenak. “Vernon? Aku gak hapal. Maaf.”

Vernon memijat pelipisnya pelan. Tangannya merogoh sakunya. Menghubungi Mingyu.

“Halo, hyung. Iya di sini ada. Oke-oke.”

Vernon mematikan ponselnya. Menatap Seungkwan dari atas hingga bawah.

“Namamu tadi Seungkwan?”

Seungkwan ngangguk pelan. Masih menangisi nasib sialnya.

“Beruntung aku baik. Ayo keluar.”

Vernon berbalik. Membuka pintunya. Bersamaan dengan Minggu yang membuka pintu kamarnya. Mempersilahkan seorang lelaki asing yang keluar, wajahnya memerah dan sembab.

Seungkwan keluar kamar. Menghampiri Minghao yang habis menangis.

“Kwannie.”

Seungkwan memeluk Minghao erat. “Kan udah kubilang. Bahaya. Untung kita gak dilaporin.”

Minghao ngangguk lemah. Hidungnya memerah. Pipinya basah. “Maaf. Aku gak bakal ngulang lagi.”

Seungkwan menghela napasnya. Mengusap rambut Minghao lembut. “Iya-iya. Ayo kita minta maaf ke mereka.”

Minghao serta Seungkwan membalikkan badannya. Membungkuk bersama ke arah Mingyu dan juga Vernon.

“Maafkan kami.”

Vernon menatap keduanya dalam diam. Begitupula Mingyu.

“Jangan diulang.” ujar Mingyu dengan suara datarnya.

Minghao ngangguk pelan. “Terimakasih. Kita gak ngulangin lagi.”

Mingyu ngangguk. Menatap Vernon balik. “Dan jangan mikir buat ngelakuin ini lagi.” tambah Vernon yang menatap Seungkwan.

Minghao serta Seungkwan menunduk dalam. Malu dengan perbuatan mereka.

“Ya udah. Sana pulang.” ujar Mingyu pelan. Minghao ngangguk. Mengajak Seungkwan balik.

Keduanya pamit. Lalu berbalik pergi. Mingyu serta Vernon sayup-sayup mendengar percakapan keduanya.

“Gak bakalan ku turutin maumu, Hao.”

“Maaf. Astaga. Aku tadi nangis-nangis.”

“Nemu gak tissunya? Gak guna.”

“Maaf. Tapi asli Mingyu ganteng banget kalo dari deket. Vernon gimana? Ganteng kan?”

“Gak mikir sampe sana. Aku masih waras. Gak kayak kamu.”

Mingyu serta Vernon saling tatap. Keduanya menutup pintu mereka.

“Yang namanya Minghao manis juga.”

Vernon mendengus. “Mulutmu.”

Mingyu terkekeh. “Yang namanya Seungkwan juga lumayan. Gak di pepet?”

Vernon memutar matanya malas. “Ayo, hyung. Gak usah banyak omong.”

Mingyu terkekeh. Berjalan berdampingan dengan Vernon. Menatap punggung dua orang yang mereka temui tadi.

“Tapi mereka emang lucu sih.” ujar Vernon menambahkan.

Mingyu terkekeh. “Yang Minghao punyaku. Ambil yang Seungkwan.”

Vernon mendengus. Tak habis pikir dengan pembicaraan mereka.

–, Riding You

Minghao duduk di atas motornya dengan tenang. Sorak sorai para penonton yang datang ke balapan kali ini, membuat Minghao bersemangat sekaligus tegang. Seperti biasa, Minghao akan memenangkan pertandingan kali ini. Siapapun lawannya, pasti Minghao lawan.

Dengan motor hitam miliknya, ia yakin malam ini ia akan kembali memenangkan balapan.

Seperti malam-malam sebelumnya. Minghao hanya akan menonton orang-orang dari kejauhan. Dia malas untuk sekedar ngobrol basa-basi. Minghao hanya akan bertanding, lalu pulang membawa sejumlah uang yang cukup banyak.

Namun, sebuah taruhan untuk balapan malam ini, berhasil membuat Minghao terpacu dalam ambisi.

Minghao adalah orang yang ambisius. Apapun yang terjadi, Minghao akan memenangkan taruhan ini. Dan membuat orang yang menantang Minghao malu hingga tak mau memunculkan dirinya lagi.

Apa yang membuat Minghao sekesal ini?

Semua bermula dari kemarin malam. Group teman-temannya heboh. Kata mereka 'Tan Kim' datang. Minghao heran. Siapa pula itu 'Tan Kim'. Dilihat dari reaksi group chatnya, pasti orang itu sangat terkenal.

Menurut penuturan teman-temannya, karena Minghao ini pembalap baru, dia tidak tahu keberadaan 'Tan Kim'.

Minghao baru 6 bulan mengikuti balapan liar. Didesak oleh kebutuhan di ibu kota, mau tak mau Minghao harus mencari uang tambahan dengan balapan. Lagipula, dia memang suka memacu kecepatan dan membuat adrenalinnya membuncah.

Kembali lagi, kata anak-anak groupnya, 'Tan Kim' hanya akan muncul sekali dalam setahun. Itupun jika pertandingan besar. Namun entah kenapa, 'Tan Kim' muncul di pertandingan biasa. Dan yang lebih mencengangkan lagi. 'Tan Kim' mangajaknya bertanding.

Iya. Menantang Minghao bertanding. Apa yang dilakukan Minghao? Tentu saja menerimanya. Masa bodo dengan yang namanya 'Tan Kim'. Apapun yang terjadi, Minghao lah yang akan menjadi pemenang.

Teman-teman Minghao bersorak sekaligus memuji Minghao. Kata mereka, jika 'Tan Kim' mengajakmu bertanding, maka kemampuanmu diakui olehnya. Minghao tentu bangga. Walaupun dia tak tahu, bagaimana kemampuan si 'Tan Kim' ini, dipuji oleh pembalap senior suatu kebanggaan oleh Minghao. Dan yang membuat Minghao lebih terkenal lagi adalah Minghao baru saja terjun ke balapan liar hanya dalam waktu 6 bulan, namun berhasil membuat 'Tan Kim' menantangnya.

Pagi tadi, saat Minghao akan berangkat menuju kampusnya, sebuah pesan dari groupnya berhasil membuat Minghao hampir membanting ponselnya.

Mereka mengatakan bahwa 'Tan Kim' memiliki taruhan unik. Uang senilai 10 juta won. Minghao hampir ternganga. Uang sebanyak itu cukup bagi Minghao untuk hidup di kota metropolitan macam Seoul.

Mereka mengatakan jika Minghao memenangkan pertandingan malam ini, 'Tan Kim' akan memberikannya uang senilai 10 juta won, langsung di hadapan Minghao. Dan jika Minghao kalah, dia harus membayar dengan tubuhnya.

Pagi itu, Minghao ingin menolak permintaan si 'Tan Kim'.

Minghao tak masalah jika harus di bayar dengan tubuhnya. Dia bi. Dia tak masalah dengan gender. Yang membuatnya kesal adalah, bagaimana bisa si 'Tan Kim' ini begitu percaya diri, jika Minghao akan kalah?

10 juta won dibandingkan dengan tubuhnya, itu terlalu sedikit. Oh, ayolah. Tubuh Minghao tidak semurah itu.

Akhirnya, salah satu tangan kanan 'Tan Kim' mengatakan, bahwa taruhannya ia naikkan. 100 juta won. Jika Minghao kalah, ia harus membayar dengan tubuhnya.

Uang sebesar itu akan Minghao tolak? Tidak. Dia tak akan menolaknya. 'Tan Kim' seperti mendeklarasikan perang. Minghao tak akan kalah darinya. Seperti apasih kemampuan 'Tan Kim' ini. Sebegitu yakinnya dia memasang taruhan tinggi.

Dan satu informasi penting dari kawan-kawannya. Tidak ada yang tahu bagaimana rupa dari 'Tan Kim' ini. Dia selalu datang memakai helm full face hitam, dan jaket kulit andalan. Itu kata mereka.

Masa bodo. Minghao tak peduli. Yang jelas tujuannya kali ini adalah membuat 'Tan Kim' malu dan membawa uang 100 juta won ke dalam kantongnya.

*****

Suara motor besar yang mencolok, membuat semua mata menengok ke asal suara. Motor besar berwarna hitam, pengendara yang memakai kaos putih dilapisi jaket kulit hitam, serta ripped jeans hitam yang melapisi kaki jenjangnya, membuat seluruh mata menatapnya. Jangan lupakan helm full face yang menutupi seluruh wajahnya.

'Tan Kim'.

Minghao menatap orang itu dengan tajam. Melihatnya dengan santai mengendarai motor mendekati Minghao.

'Tan Kim' menghentikan motornya tepat di sampingnya. Menatapnya dari balik helm hitam miliknya.

Minghao memakai helm dengan tenang. Menyalakan motornya. Terlihat seorang wanita berdiri di hadapan keduanya, berada di tengah-tengah.

Minghao serta 'Tan Kim' memainkan gas motor mereka. Berusaha memanaskan mesin motor keduanya.

“Are you ready?” tanya wanita dengan membawa sapu tangan putih ke arah 'Tan Kim'.

Dia mengangguk. Tangannya tak henti memainkan gas.

“Are you ready?” tanya wanita di hadapan mereka kearah Minghao.

Minghao mengangguk. Posisinya sudah siap. Berharap dewi fortuna memberikan keberuntungan padanya malam ini.

“Bersiap!”

Minghao mengambil ancang-ancang. Pandangannya fokus kedepan.

“Go!”

Minghao menancapkan gasnya semaksimal mungkin. Matanya menatap jalan di depannya dengan tajam.

Beruntung, Minghao berhasil menyolong start dan meninggalkan 'Tan Kim' di belakangnya. Namun, 'Tan Kim' tak tinggal diam. 'Tan Kim' menyusul Minghao. Motornya melaju kencang. Tepat di samping Minghao. Minghao bisa merasakan tawa mengejek dibalik helm full face orang itu.

Tak terima, Minghao menyalip lawannya. Saling kejar-mengejar satu sama lain tanpa celah. Para penonton bersorak ramai. Meneriakkan jagoan mereka masing-masing. Selama 5 putaran, mereka saling kejar mengejar. Saling salip menyalip. Kurang 1 putaran lagi. Minghao dan 'Tan Kim' tak ingin mengalah satu sama lain.

Sayangnya dewi fortuna tidak memihak Minghao. 'Tan Kim' berhasil mencapai garis finish terlebih dulu. Beda 5 detik dengan Minghao.

Minghao mengumpat dalam hati. Sorakan para penonton membuatnya tuli.

Minghao tak terima. Namun bagaimana lagi. Ini sudah ketentuan mereka. Minghao menghela napasnya.

“Terima nasibmu, Hao.” ujar salah satu temannya sambil menepuk bahu Minghao pelan.

Minghao memutar matanya malas.

“Banyak omong.”

Mereka terkekeh. “Lagipula ini pertama kalinya kamu kalah, Hao. Santai saja.”

Ingin rasanya Minghao menonjok temannya. Santai katanya. Dia akan kehilangan keperjakaannya sebentar lagi.

'Tan Kim' menatapnya. Ingin rasanya Minghao menendang helm orang itu.

Dengan malas Minghao mengangkat wajahnya. Membuat si 'Tan Kim' menggerakkan kepalanya. Berusaha memberitahu Minghao untuk pergi bersamanya.

Minghao mengumpat dalam hati. Menyesal menyetujui taruhan malam ini.

“Aku pergi dulu.” ucap Minghao lelah.

“Beri tahu kami jika sudah selesai, oke.”

Minghao menendang kaki temannya. Membuat sang empu mengaduh kesakitan.

“Sialan.”

Minghao segera mengendarai motornya mendekati 'Tan Kim'.

“Cepat.” ujarnya.

'Tan Kim' mengangguk, lalu melambai kepada para penonton, lalu pergi melajukan motornya, diikuti oleh Minghao di belakangnya.

******

Minghao serta 'Tan Kim' menyewa kamar di salah satu hotel kecil. Tidak terlalu mewah, biasa-biasa saja. Minghao hanya diam. Mengikuti dari belakang.

Jantung Minghao berdetak kencang. Masih tak siap merelakan keperjakaannya kepada orang asing yang belum tentu jelas bentukannya.

Minghao berusaha kalem dan tenang. Jika tahu begini, dia tak akan menerima tawaran 'Tan Kim'. Kenapa pula Minghao ambisi sekali, untuk melawan orang ini.

Minghao menghela napasnya. 'Tan Kim' berhenti di depan pintu kamar. Tak sadar mereka telah sampai di kamar yang mereka sewa.

Dengan perlahan, 'Tan Kim' membuka pintu dan mempersilahkan Minghao untuk masuk terlebih dahulu.

Minghao berjalan masuk. Melihat keadaan kamar dengan teliti.

“Mau mandi dulu atau langsung?” tanya 'Tan Kim' yang suaranya teredam oleh helm.

Minghao menengok kebelakang. Terlihat 'Tan Kim' melepas jaket kulitnya, dan menyampirkannya di salah satu sofa. Tangannya bergerak melepas helm full facenya.

Kepalanya menunduk. Dia menggoyang-goyangkan kepalanya. Membuat rambutnya bergerak liar. Tangannya meletakkan helm kesayangannya di atas meja, lalu mengacak-acak rambutnya.

Minghao menatap penasaran. Bagaimana rupa 'Tan Kim' ini.

Saat 'Tan Kim' mengangkat wajahnya. Minghao menahan napasnya. Seluruh waktu terhenti. Tubuhnya membeku.

Keduanya saling tatap. Saling menelusuri wajah satu sama lain.

Minghao memuji betapa tampannya 'Tan Kim' yang ada di hadapannya saat ini. Rambut hitam yang berantakan, kulit tan yang menggoda, tatapan matanya yang tajam, serta seringai tipis yang ada di bibirnya. Minghao gila. Sungguh gila.

“Panggil Mingyu. Namaku Mingyu. Kamu Minghao kan?”

Suaranya berat dan dalam. Agak sedikit serak. Terdengar sangat renyah di telinga Minghao.

Minghao hanya mengangguk. Tak berani mengeluarkan suara. Dirinya masih sibuk mengagumi paras 'Tan Kim' atau bisa Minghao panggil Mingyu.

“Mau mandi dulu atau langsung?” tanyanya lagi.

Minghao berdeham. Berusaha menenangkan dirinya. “Langsung aja. Lagian kotor lagi kan.”

Mingyu terkekeh. Oh, betapa Minghao ingin menerjang Mingyu saat ini. Gigi taringnya yang sedikit terlihat, membuat Minghao histeris secara internal.

Bagaimana bisa ada lelaki yang seatraktif ini?

Minghao jadi tidak menyesal kalah dalam balapan tadi.

“Mesum juga kamu.”

Minghao memerah. Apa yang salah dengan jawabannya. Kan memang benar.

“Mau ku lepaskan atau lepas sendiri?” tanya Mingyu mendekati Minghao.

Minghao hanya diam. “Apanya?”

Mingyu tersenyum tipis. Dirinya sudah sangat dekat di hadapan Minghao. Hanya berjarak beberapa senti. Minghao harus mendongak.

“Bajumu.” bisiknya sambil menatap lekat bibir Minghao.

Minghao gelagapan. “Ah, um l-lepas sendiri.”

Mingyu terkekeh. “Oke.”

Setelahnya Mingyu membuka kaosnya. Menampilkan otot dada yang kekar, serta absnya yang menggoda. Minghao menelan ludahnya.

Mingyu melempar kaosnya ke sofa yang ada di sebrang kasur, lalu menatap Minghao. Bibirnya menukik menggoda.

“You like it?”

Minghao memerah. Tak mau menjawab.

Minghao buru-buru melepas jaket kulitnya. Meletakkannya di atas lantai. Agak gugup karena di tatap oleh Mingyu.

Tangannya bergerak melepas kaosnya. Lalu meletakkan di atas jaketnya.

Kini keduanya sama-sama telanjang dada. Mingyu menatap lekat Minghao. Memandang dari atas hingga bawah.

“Baru pertama kali?” tanya Mingyu sambil menggerakkan jarinya menyentuh dada Minghao, menelusurinya menggunakan telunjuknya. Membuat Minghao meremang.

“Iya.” bisiknya.

Mingyu tersentak. Tampak terkejut, lalu kembali tenang. “So, I was the first for you?”

Minghao memerah. Dia mengangguk pelan.

Mingyu meraih pinggangnya. Tangan kekarnya ia lingkarkan di pinggang Minghao yang ramping.

Bibirnya ia arahkan ke telinga Minghao. “It's an honor to be the first for a beautiful man like you.”

Mingyu berbisik tepat di telinga Minghao. Menjilat sedikit telinganya. Membuat Minghao gemetar.

Mingyu menjauhkan tubuhnya. Bergerak melepas celananya.

“Buka celanamu.”

Mingyu menurunkan celananya. Menyisakan celana dalamnya yang berwarna hitam.

Buru-buru Minghao melepas celananya. Menurunkannya, dan menyisakan celana dalamnya yang berwarna merah.

“I can't wait to tease yours.” ucap Mingyu sambil mendorong Minghao ke atas kasur.

Minghao sedikit kaget dengan perlakukan Mingyu.

Terlihat Mingyu menaiki atas kasur, memerangkap tubuh Minghao di antara tubuhnya dan kasur.

Napas Minghao tersengal. Sedikit tidak sabar.

Mingyu menyentuh sisi wajahnya. Mengusap pipinya pelan.

“Can I kiss you?” bisik Minggu tepat di depan bibir Minghao.

Minghao ngangguk sedikit. Agak pelan. Senyum tipis timbul di bibir Mingyu.

“Thanks.”

Setelahnya Mingyu mendaratkan ciumannya di bibir Minghao. Melumatnya pelan. Lembut. Sangat lembut. Lidah mereka saling menggoda. Membelit satu sama lain. Suara kecipak basah memenuhi pendengaran mereka.

Mingyu menggigit bibir Minghao pelan. Membuat Minghao mengerang.

Dengan sensual Mingyu mengeksplorasi mulut Minghao. Mengabsen gigi-giginya. Menggoda langit-langitnya. Menusuk-nusukkan lidahnya di sana.

Minghao mengerang. Mendesah dalam ciuman mereka.

Tangan Mingyu turun mengusap leher Minghao. Ibu jarinya menekan jakun Minghao. Mengusapnya pelan secara melingkar.

Minghao mendongak. Membuat ciuman mereka terlepas. Mingyu menggeser ciumannya. Mengecup inci demi inci kulit Minghao. Di kecupnya pelan rahang Minghao. Menjilat serta menggigitnya pelan. Membuat Minghao melenguh keenakan.

Ciumannya naik. Menuju telinga Minghao yang memerah.

Di jilatnya pelan telinga Minghao. Mengulum penuh, telinganya. Menghisap serta menggigitnya.

“Ahh... Mingyu..”

Mingyu melesakkan lidahnya di lubang telinga Minghao. Bermain disana. Melingkari lubang telinganya, sesekali ia menusuk-nusukkan lidahnya disana.

Piercing Minghao ia mainkan. Ia kulum dan ia gigit pelan. Menariknya sedikit. Membuat Minghao mengerang.

Ciuman Mingyu turun ke leher Minghao. Ia kecup pelan seluruh leher Minghao. Menghisap dan menjilatnya. Ia sesap lebih nikmat leher putih milik Minghao. Membuat Minghao mendesah keenakan.

Dengan sensual Mingyu menjilat dari batas lehernya, hingga dagu Minghao. Membuat Minghao mendongak. Desahan tertahan keluar dari bibirnya.

Nafas Minghao tersendat. Mingyu menggigit seluruh permukaan leher Minghao. Memberikan kissmark sebanyak yang ia inginkan.

Ciumannya turun ke dada Minghao. Ia kecup dengan lembut seluruh permukaan dada Minghao. Menjilatnya menggoda. Membuat Minghao membusungkan dadanya.

Dengan gemas, Mingyu mengecup kedua nipple Minghao. Membuat nipple sang empu tegak berdiri.

Penuh kelembutan, Mingyu menjilat pelan nipplenya. Sangat pelan. Membuat Minghao mengerang. Ia kulum nipple Minghao masuk kedalam mulutnya.

Ia hisap, dan gigit dengan gemas. Menariknya berulang kali. Membuat nipple Minghao basah oleh air liur milik Mingyu.

Badan Minghao menggelinjang. Nipple Minghao yang satunya, Mingyu mainkan dengan jari miliknya. Telunjuk serta ibu jarinya bermain disana. Memelintir, menekan serta menariknya gemas.

Minghao membusungkan dadanya. Punggungnya melengkung indah. Membentuk seperti busur.

Erangan serta desahan keluar dari bibir Minghao. Napasnya berantakan.

Mingyu melepaskan kulumannya. Kecupannya turun ke perut Minghao. Mengecupnya penuh kelembutan. Lidahnya ia julurkan untuk menjilat abdomen Minghao. Menjilatnya dari bawah hingga dada Minghao. Minghao mendongak keenakan. Desahan keluar dari bibirnya.

“Ahnghhh.... Ahhh.. Mingyu...”

Mingyu menjilat berulangkali. Sesekali memberi tanda di perut Minghao.

Lidahnya berhenti di pusar Minghao. Mingyu bermain disana. Menjilat serta menghisap pusar Minghao. Sesekali melumatnya. Tubuh Minghao menggeliat.

Tangan Minggu mendekap pinggang Minghao, agar tak banyak bergerak.

Lidahnya ia julurkan, turun hingga ke celana dalam Minghao.

Mingyu mengecup pelan penis Minghao, yang menggembung di balik celana dalamnya.

Minghao tersentak. “Ah.. sshh..”

Mingyu mendaratkan kecupan di sana. Sengaja ia tekan. Menggoda sedikit penis lelaki di bawahnya.

“Ahhh.... Hahhh..”

Mingyu menarik celana dalam Minghao turun hingga lepas dari kakinya. Melempar asal kesembarang arah.

Penis Minghao mencuat. Sedikit bergoyang.

Mingyu menjilat bibirnya. Sedikit tidak sabar.

Dengan lembut ia genggam penis Minghao ke dalam genggamannya. Membuat tubuh Minghao tersentak. Punggungnya naik, kepalanya mendongak.

Mingyu menatap Minghao yang sungguh ekspresif. Membuat libidonya semakin naik.

Dengan sensual, Mingyu menjulurkan lidahnya, menjilat ujung penis milik Minghao.

“Mingyuh.. mnhh... Ahh..”

Mingyu menjilat berulang kali. Menjilat dari ujung kebawah. Hingga mengenai skrotum milik Minghao.

Membuat Minghao mendesah keras. Tangannya mencengkram sprei di bawahnya. Mulutnya terbuka mengeluarkan suara-suara kenikmatan.

Mingyu memasukkan penis Minghao ke mulutnya penuh. Mengulumnya nikmat, dalam sekali masuk.

Minghao berteriak. Merasakan kehangatan mulut Mingyu yang memanjakan penisnya.

Dengan cepat, Mingyu memaju mundurkan kepalanya. Mengulum penis Minghao. Menghisap serta memainkan lidahnya disana. Melingkari dan mengeksplorasi penis Minghao yang tegak berwarna kemerahan.

Mingyu semakin memperdalam kulumannya, hingga mengenai tenggorokannya.

Minghao berteriak. Desahan kenikmatan keluar berantakan dari mulutnya. Tangannya sudah menarik kencang sprei yang ada di bawahnya. Tubuhnya bergetar keenakan.

“Aaahhh... Mingyuhh... Enakhh..”

Mingyu bergumam. Membuat Minghao menggelinjang.

Minghao bisa merasakan dirinya akan keluar.

Mingyu seperti sadar, dengan gencar dia mengulum penis Minghao. Menghisap ujung penis lelaki di bawahnya keras. Sangat keras.

Membuat Minghao menyemprotkan cairannya ke dalam mulut Mingyu. Tubuhnya bergetar. Pinggulnya bergerak tak teratur.

Mulut Minghao terbuka. Tak bersuara. Matanya melebar. Air liur mengalir di pipinya.

Tubuhnya bergetar penuh kenikmatan. Over sensitif melanda tubuhnya.

Mingyu melepaskan kulumannya. Ia telan cairan Minghao layaknya air biasa.

Lidahnya ia julurkan, untuk menjilat bibirnya.

“Bahkan cairanmu manis.”

Minghao mengatur napasnya. Tersengal-sengal.

Mingyu mendorong lutut Minghao naik hingga perutnya. Membuat kaki Minghao terlipat. Minghao hanya pasrah. Tubuhnya lemas.

“Because this is the first time for you, then I will make it full of pleasure.”

Minghao memerah. Menatap Mingyu dalam diam.

Mingyu menunduk. Menghadap lubang Minghao yang merekah. Tak pernah terjamah.

Mingyu meniupkan napasnya di lubang Minghao. Membuat Minghao menggeliat tak nyaman.

Mingyu menyeringai. Dengan pelan ia julurkan lidahnya. Menjilat lubang milik Minghao.

“Hyahhh.. Ahhh...”

Mingyu menjilat sepanjang lubang Minghao. Menjilat dari lubang hingga skrotum milik Minghao. Membuat Minghao mengejang. Punggungnya melengkung.

Mingyu tak menghentikan permainannya. Lidahnya menjilat melingkar. Sangat pelan. Membuat Minghao frustasi sekaligus keenakan.

Tangan Mingyu bergerak membuka lebar lubang Minghao. Lidahnya ia julurkan kedalam. Memasuki lubang Minghao yang mungil.

Mingyu menggeram saat lidahnya di cengkram erat oleh dinding Minghao.

Makin semangat, Mingyu memasukkan lidahnya makin dalam. Membuat mulutnya mengulum penuh lubang milik Minghao.

Minghao mendesah, mengerang dan memekik keenakan.

Tangannya ia cengkram ke atas bantal yang ia gunakan.

Mingyu mengeksplorasi lubang Minghao menggunakan lidahnya. Melingkari dinding Minghao dengan lembut. Ia hisap sesekali lubang Minghao dengan gemas.

“Ahh... Mingyuh...Nghh..”

Lidahnya sengaja ia tusuk-tusukkan kedalam. Membuat Minghao mengejang keenakan.

Dengan santai Mingyu melepas kulumannya. Jari telunjuknya segera ia masukkan kedalam.

“Akhhh... Hahhh... Ahhh..”

Minghao merasa aneh di bawah sana. Rasanya asing.

Mingyu semakin memasukkan jarinya ke dalam lubang milik lelaki dibawahnya. Menekan serta mengusap dinding lubang milik Minghao.

Ia arahkan jarinya semakin dalam. Menggerakannya melingkar, berusaha melonggarkan lubang Minghao.

“Ahh... Unghh.. Mingyuhh..”

Minghao mendesah saat Mingyu menyentuh sesuatu yang membuatnya melayang.

Mingyu berulangkali menyentuh prostat milik Minghao. Menyentuh dan menekannya. Membuat Minghao berteriak keenakan.

Dengan gemas Mingyu menggoda prostat Minghao. Menyentuhnya berulangkali. Membuat Minghao menggelinjang.

“Aahhhh... Mingyuhh... Janganhhh..”

Mingyu terus bermain disana. Tak mendengarkan keluhan Minghao.

Tubuh Minghao mengejang. Perutnya berkontraksi. Dinding Minghao mencengkram erat jari milik Mingyu. Mingyu sepertinya peka.

Dengan sengaja ia sentuh berulangkali. Menekannya keras.

“Aaahhhh... Ahhh.. No.. Ahhh...”

Minghao keluar kedua kalinya. Pinggulnya naik. Cairannya menyemprot keras mengenai perut serta kakinya.

Minghao tersengal. Napasnya tak beraturan. Tubuhnya bergetar keenakan.

Mingyu mengeluarkan jarinya. Tangannya ia gosokkan pelan di paha Minghao. Berusaha menenangkan Minghao.

“Baru satu jari. Gimana kalo kumasukin punyaku?”

Minghao memerah. Napasnya masih tak teratur.

Mingyu mendorong pinggul Minghao naik. Kaki Minghao menyentuh sisi kepalanya. Mingyu memuji betapa lenturnya Minghao saat ini.

Lubang Minghao ada di depan wajahnya. Ia menatap Minghao lekat. “Gak sakitkan kalo gini?”

Minghao menggeleng. Untungnya Minghao memiliki tubuh yang lentur.

Mingyu meniup lubang Minghao pelan. Membuat lubangnya bereaksi.

Mingyu mendekatkan wajahnya ke lubang Minghao, kedua ibu jarinya membuka lebar lubang Minghao.

Dengan pelan dia mengeluarkan ludahnya, meneteskannya ke dalam lubang Minghao.

Minghao merasakan sesuatu yang dingin di dalam lubangnya.

Dengan pelan Minggu menyiapkan 2 jarinya. Dalam sekali masuk, ia lesakkan kedua jarinya ke dalam. Membuat Minghao berteriak.

“Akhh... Hahh... Ahh..”

Mingyu memasuk dan mengeluarkan jarinya berulang kali. Memaju mundurkan dengan cepat. Ia menggerakkan jarinya seperti gunting di dalam.

Ia memasukkan jarinya yang ketiga. Menusukkannya cepat di dalam lubang Minghao. Sesekali menggerakkan ketiga jarinya melingkar. Membuat lubang Minghao semakin melebar.

Setelah di rasa cukup, Mingyu mengeluarkan jarinya.

Ia menurunkan celana dalamnya. Menampilkan penisnya yang tegang kemerahan.

Minghao sudah berada di posisi awalnya. Terbaring lemah. Kakinya masih ia lipat hingga mengenai perutnya.

Mingyu meludahkan air liurnya ke telapak tangannya. Mengoleskan di penisnya yang sudah tegak berwarna merah. Otot-otot terlihat di sepanjang penisnya.

Minghao menatap takut-takut, dan Mingyu tahu akan hal itu.

Di kecupnya pelan dahi Minghao. Turun ke pelupuk matanya, hidungnya lalu berhenti di bibirnya. Mingyu mengecup berulangkali di sana. Berusaha membuat Minghao rileks.

Minghao sedikit demi sedikit percaya. Tangan Mingyu yang satunya, ia gunakan untuk menggenggam tangan Minghao. Mengunci kelima jari mereka.

“Rileks.”

Minghao mengangguk. Napasnya sudah normal. Kini ia siap.

Minghao mengangguk. Mengkode Mingyu bahwa ia sudah siap.

Mingyu menggenggam penisnya, menyiapkan di depan lubang Minghao.

Dengan perlahan dia memasukkan penisnya ke dalam. Melesakkannya perlahan.

Minghao berteriak. Kepalanya mendongak. Tangannya meremas tangan Mingyu.

Dalam sekali hentak, Mingyu berhasil memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang Minghao.

Napas Mingyu tersengal. Merasakan pijatan-pijatan lembut di penisnya.

“Ah, fuck.”

Minghao berusaha mengatur napasnya. Berusaha membuat tubuhnya rileks.

Beberapa menit berdiam diri, Minghao mengangguk.

Tangannya meremas tangan Mingyu.

Mingyu mulai memaju mundur kan tubuhnya. Penisnya ia keluar-masukkan pelan. Minghao bergerak secara konstan. Seirama dengan Mingyu.

Tangan Mingyu yang lain, bergerak untuk menggenggam tangan Minghao. Mengunci kelima jarinya, dan membawa kedua genggaman tangannya di atas kepala Minghao.

Minghao mendesah, mengerang dan berteriak.

Mingyu berulang kali menumbukkan penisnya di prostat milik Minghao. Membuat Minghao menggelinjang keenakan.

“Ahh... Hahh.. Ahnn..”

Mingyu mempercepat tusukkannya. Mulutnya ia arahkan untuk melumat bibir Minghao. Melumatnya rakus. Kecupannya turun ke lehernya, dadanya dan nipplenya.

Ia kulum nipple Minghao. Menghisapnya keras.

Dada Minghao membusung. Merasakan kenikmatan yang berlipat ganda.

Tusukan Mingyu berulangkali mengenai prostatnya.

Mulut Mingyu tak berhenti. Semakin menghisap dan menyesap nipple milik Minghao.

“Unghh.. mingyuh.. nghh...”

Minghao mendongak keenakan. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan suara kenikmatan.

Mingyu semakin gila. Mabuk dengan suara Minghao yang serak dan basah. Meneriakkan namanya.

Mingyu semakin mempercepat tumbukkannya. Sengaja berulang kali mengenai prostat Minghao.

“Ahhh.. Gyuuhh.. Ahhh.. Akuhh..”

Mingyu menumbuk cepat. Bunyi kecipak tusukkannya sangat jelas. Derit kasur mengalun bersamanya.

“Come to me, Hao.”

Minghao menyemburkan cairannya. Menyemprot keatas, mengenai dada Mingyu serta perutnya. Beberapa mengenai perut serta kaki Minghao.

Beberapa detik setelahnya Mingyu menyusul. Memperdalam tusukkannya. Menyemburkan cairannya di dalam.

Penampilan Mingyu berantakan. Rambutnya basah oleh keringat. Berantakan. Tubuhnya mengkilap karena aktivitas mereka. Membuat kulitnya semakin coklat.

Minghao mengatur napasnya, sambil menikmati pemandangan di atasnya.

Wajah Mingyu basah oleh keringat. Membuat wajahnya semakin tampan.

Mingyu menatap keadaan Minghao yang ada di bawahnya. Tubuh putihnya yang basah oleh keringat dan cairan milik keduanya. Dadanya naik turun karena napas yang tidak teratur. Matanya basah oleh air mata. Lelehan saliva mengalir di leher serta dagunya. Rambut hitamnya berantakan. Bibirnya merah merekah.

Mingyu benar-benar terpesona akan Minghao.

“Kamu gak papa?”

Minghao ngangguk. “Gak papa. Capek.”

Suaranya serak. Bahkan nyaris hilang. Mingyu terkekeh. Di kecupnya dahi Minghao lembut. Genggaman keduanya ia eratkan.

“Let's sleep then.”

Mingyu mencabut penisnya dari lubang Minghao. Membuat Minghao mendesis.

Tubuh Mingyu ia rebahkan di samping Minghao. Mendekap Minghao kedalam pelukannya.

“Tidur.” bisik Mingyu, sambil mengusap punggung Minghao pelan.

Minghao mengangguk. Melesakkan wajahnya di dada Mingyu. Memejamkan matanya, berusaha masuk ke alam mimpi.

Mingyu mengecup pucuk kepala Minghao. Meletakkan pipinya di atas pucuk kepala Minghao.

“Sweet dreams.” bisiknya.

Lalu kegelapan, menelan keduanya.

******

Mingyu membuka matanya pelan. Cahaya matahari mengenai tubuh Mingyu dan juga Minghao. Ia lihat Minghao yang masih terlelap di atas dadanya.

Senyum lembut muncul di bibirnya. Dengan pelan ia mendaratkan kecupan di kepala Minghao. Mengusap rambut Minghao lembut.

Minghao menyamankan posisinya.

Mingyu terkekeh. Betapa menggemaskannya Minghao saat ini.

Tiba-tiba ia teringat alasan mengapa ia menantang Minghao bertanding.

Saat itu, ia tak sengaja mendengar temannya mengenai pembalap baru. Namanya Minghao. Tak pernah kalah sekalipun.

Mingyu penasaran, iseng dia menonton dengan tampilan aslinya. Ia menonton balapan Minghao. Kemampuan Minghao memang patut diakui.

Hingga saat Minghao melepaskan helmnya, Mingyu terpanah. Wajah Minghao yang putih, serta bibirnya yang merah merekah membuat Mingyu ingin mengulumnya.

Wajah manis serta imut Minghao, membuat tidurnya tak nyenyak. Wajah cantik serta tampan Minghao, membuat Mingyu tak fokus bekerja.

Akhirnya ia menyuruh temannya untuk mengatakan bahwa 'Tan Kim' menantang Minghao bertanding.

Dan untungnya, dia menang. Dia hampir kalah. Hampir saja. Beruntung dia berhasil terlebih dahulu, memasuki garis finish.

Usapan Mingyu tak berhenti. Hingga Minghao terbangun. Mendongakkan kepalanya, menatap Mingyu lekat.

“Hei. Pagi.” ucap Mingyu sambil tersenyum.

Minghao ngangguk. Menyamankan posisinya.

“Sakit?”

Minghao ngangguk lagi. Lubang nya memang sakit.

“Bisa naik motor sendiri? Atau mau kuantar?”

Minghao diam. Wajahnya memerah. “Bawa sendiri.”

Suaranya serak. Habis. Mungkin marena dia sibuk berteriak semalam.

Mingyu tak menghentikan usapannya. Masih betah bermain di rambut Minghao.

Namun, suara dering telepon membuatnya mengerang.

Dengan enggan Minghao mengangkat wajahnya. Berpindah ke atas bantal. Mingyu bergerak ke bawah. Mengambil ponselnya yang ada di atas lantai.

Buru-buru ia mengangkat teleponnya.

“Halo.”

”....”

“Iya, baiklah.”

”.....”

“Hm. Bye.”

Mingyu mematikan ponselnya lalu kembali merebahkan dirinya di samping Minghao.

Dia tatapnya Minghao lekat-lekat. “Aku harus pergi.”

Minghao ngangguk pelan. Agak tak rela. “Iya.”

Mingyu menatap Minghao dalam diam. Di kecupmya lembut dahi Minghao. Membuat sang empu memejamkan matanya.

“Gak papa?”

“Gak papa. Sana pergi.”

Mingyu mengusak rambut Minghao pelan. Lalu bangkit dari kasur. Mencari pakaiannya.

“Kamu mandi aja dulu. Aku langsung ada kerjaan di studio.”

Minghao hanya diam. Menatap Mingyu yang sibuk di depannya.

“Berapa nomormu. Aku bakal menghubungimu nanti.”

Minghao mengucapkan nomornya. Mingyu mengangguk lalu menatap Minghao lekat.

Mingyu sudah rapih dengan pakaiannya. Walaupun belum mandi, tidak menyurutkan ketampanannya.

“Kalo gitu aku pergi dulu.”

Minghao ngangguk.

“See you.”

“See you.”

Mingyu berjalan cepat menghampiri Minghao, lalu mengecup bibirnya lembut.

Ia melempar senyum kearah Minghao, yang di balas anggukan dan senyum lelah. Mingyu buru-buru berbalik dan berjalan cepat. “Bye!” teriaknya.

Minghao terkekeh. Setelahnya pintu tertutup. Menyisakan Minghao seorang diri.

Sebuah suara notifikasi membuat Minghao bangkit. Meraih jaket yang ada di atas lantai. Mengambil ponselnya.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

'Hey, sweetheart. Bagaimana jika nanti malam kita pergi makan? Aku traktir. Simpan nomorku. Mingyu.'

Minghao terkekeh. Lalu membanting tubuhnya kembali di atas kasur.

Dengan cepat dia membalas. 'Okey. 8 pm.'

'Deal, babe.'

Minghao terkekeh. Dia memejamkan matanya. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya.

Tak ada rasa sesal sama sekali kalah taruhan, dalam diri Minghao. Anggap saja ini kemenangan dalam hal lain.

–, Diary

Jeonghan berlari di sepanjang lorong. Suara hentakan kakinya, berbenturan dengan lantai keramik sekolahnya. Napasnya tersengal. Pikirannya kacau. Jeonghan buru-buru masuk menuju kelasnya. Berjalan cepat menghampiri bangku mejanya.

Kepala ia longokkan, mengintip isi lacinya. Kosong.

Jeonghan panik. Ia mengecek seluruh kelas. Takut jika ia salah taruh.

Namun nihil. Bukunya tak ada. Jeonghan meremas rambutnya frustasi.

Betapa cerobohnya Jeonghan. Bagaimana bisa ia melupakan buku diarynya yang berharga?

Anggap saja Jeonghan itu rajin. Sejak kecil hingga ia berusia 17 tahun, dia memiliki buku diary. Itu adalah barang wajib yang harus dimiliki Jeonghan. Sejak kecil ibunya telah mengajarkan Jeonghan, untuk meluapkan isi hatinya lewat tulisan. Hingga menjadi kebiasaan bagi Jeonghan. Semua rahasia yang ia miliki ada di buku diarynya. Dan dengan bodohnya, Jeonghan menghilangkannya saat ini.

Jeonghan menggigit bibirnya cemas. Mulai berpikir macam-macam. Bagaimana jika yang menemukan adalah salah satu temannya yang berniat jahat? Bagaimana jika rahasianya di bongkar oleh orang itu?

Jeonghan merasa matanya berkabut. Air mata tampak menggenang di pelupuk matanya. Jeonghan buru-buru mengusap matanya. Berusaha berpikir positif. Berharap jika yang mengambil bukunya adalah orang baik. Jeonghan berharap dalam hati, bukunya ada di tangan orang yang tepat.

******

Jisoo melempar dirinya di atas kasur. Dengan buku bersampul biru muda yang ada di tangannya, Jisoo menatap penuh penasaran.

Ini bermula, saat Jisoo terlambat bangun karena membolos pelajaran. Rencana awal, dia hanya membolos hingga pelajaran Kimia. Namun yang terjadi adalah, dia terbangun hingga bel pelajaran berakhir berbunyi. Dia bangun setengah jam setelahnya. Menyadari lorong serta kelas-kelas yang lain sudah kosong, tanpa ada penghuni.

Jisoo dengan santai mengambil tas miliknya yang ada di deretan paling belakang.

Saat ia akan pergi, sebuah buku yang sedikit mencuat dari bawah laci seseorang, membuatnya penasaran.

Dengan pelan, dia ambil buku bersampul biru yang ada dilaci, membukanya perlahan.

Mata Jisoo melebar, saat melihat nama Jeonghan terpampang di halaman kedua.

Jisoo menimbang, ingin membawanya atau meninggalkannya di tempat semula.

Akhirnya, rasa penasaran Jisoo lah yang menang. Dia masukkan buku Jeonghan ke dalam tasnya, lalu pergi meninggalkan kelas secepatnya.

Dan disinilah Jisoo. Tengkurap, dengan buku di tangannya.

Dengan pelan dia buka. Membaca satu demi satu cerita-cerita Jeonghan.

Senyum tipis dan tawa lirih keluar dari bibirnya, saat tahu bahwa Jeonghan kesal dengan guru Kimia mereka. Atau Jeonghan yang senang sekali dengan koleksi speakernya.

Jisoo menemukan hal unik yang tidak diketahui orang lain.

Ada beberala fakta yang membuat Jisoo gemas dengan Jeonghan.

Pertama, Jeonghan harus tidur menggunakan selimut berwarna biru. Harus. Jika tidak, ia tidak akan bisa terlelap dalam mimpi.

Kedua, Jeonghan suka mengoleksi film-film Disney. Jisoo terkekeh saat membaca fakta itu.

Ketiga, Jeonghan tergila-gila dengan buku dongeng. Mulai sekarang Jisoo akan membeli buku dongeng untuk Jeonghan.

Keempat, Jeonghan memiliki kebiasaan unik. Menggunakan huruf besar saat menulis diary jika ia senang. Menulis dengan huruf kecil jika ia sedih. Dan tebak, semua isi diary Jeonghan kebanyakan berhuruf besar semua. Jisoo senang bahwa Jeonghan selalu bahagia.

Dan kelima. Fakta yang membuat Jisoo ternganga sekaligus senang. Jeonghan menyukai Jisoo.

Jisoo harus berulang kali membaca untuk mempercayainya.

Senyum lebar terpasang di wajahnya. Sebuah rencana terlintas di otaknya.

*******

Selama seharian ini, Jeonghan tidak fokus belajar. Menatap papan tulis dengan raut kosong. Lagi-lagi bangku Jisoo tidak ada penghuni.

Jeonghan menyukai Jisoo sejak masa orientasi. Saat Jisoo menolongnya karena terjatuh dari tangga. Namun sayangnya, Jeonghan serta Jisoo tidak pernah saling berbicara. Jeonghan menjaga jaraknya dengan Jisoo. Takut lelaki itu tahu perasaannya yang sebenarnya.

Jeonghan masih memikirkan buku diarynya. Semalaman dia cemas. Susah terlelap. Walaupun sudah memakai selimut birunya, dia tetap tidak bisa terlelap.

Jeonghan menghela napasnya. Bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran berakhir. Semua siswa buru-buru keluar kelas, meninggalkan sekolah.

Namun tidak dengan Jeonghan. Dia lebih memilih mencari bukunya kembali. Kali saja, orang yang mengambil bukunya menyembunyikan di suatu tempat.

Saat ruangan kelas sudah sepi, menyisakan Jeonghan seorang diri, dia melakukan pencarian. Melihat seluruh laci. Mengecek belakang papan tulis. Melihat loker-loker yang ada di belakang kelas.

Nihil. Bukunya tak ada. Dengan lemas, Jeonghan mengambil tasnya, dan keluar kelas.

Sebuah benturan keras, membuat tubuhnya mundur selangkah. Jeonghan mengaduh kesakitan. Tangannya mengusap dahinya pelan.

Jeonghan menaikkan pandangannya ke depan. Terkejut saat melihat Jisoo ada di depannya.

“Jisoo?”

Jisoo tersenyum. “Hai. Kamu gak papa? Maaf muncul tiba-tiba.”

Jeonghan membeku. Tak tahu harus menjawab apa. “Um, gak papa.”

Jisoo mengangguk. “Kenapa masih disini? Kenapa belum pulang?”

Jeonghan menggigit bibirnya. Haruskah ia bilang bahwa ia kehilangan bukunya?

“Nyari bukuku.”

Jisoo menaikkan alisnya. “Buku? Buku apa?”

Jeonghan makin cemas. Harus banget Jeonghan bilang, kalo yang hilang itu buku diarynya?

“Um, buku tulis.”

Jisoo ngangguk. “Buku biru?”

Jeonghan tersentak. Menatap Jisoo kaget. “Iya!”

Jisoo terkekeh. “Maksudmu ini?”

Jisoo menunjukkan buku biru di hadapan Jeonghan. Buku diary yang dicari-cari Jeonghan dari kemarin.

Mata Jeonghan melebar. Kaget saat tahu bahwa, Jisoo yang mengambil bukunya.

“Gimana bisa ada di kamu?”

Jisoo menyeringai. Dia menyandarkan tubuhnya di ambang pintu.

“Aku ambil. Ku bawa pulang. Ku baca.”

Jeonghan tersentak. Menatap Jisoo takut-takut. “B-baca?”

Jisoo ngangguk. “Iya, ku baca.”

Jeonghan memerah. Itu artinya, apakah Jisoo tahu jika dia menyukai Jisoo?

“Dan aku tahu semua rahasiamu.”

Jisoo menatap Jeonghan lekat. Seringai tipis menghiasi bibirnya.

“Apa maumu?”

Jisoo tertawa. “Aku gak mau apa-apa. Tenang aja.”

Jisoo menyerahkan buku Jeonghan kembali ke pemiliknya. “Ini. Lain kali simpen baik-baik. Untung aku yang ambil. Bukan orang lain.”

Justru karena Jisoo yang ambil, makin berbahaya bagi Jeonghan.

Jeonghan mengambil bukunya. Memegangnya erat-erat.

Jisoo melewati tubuh Jeonghan, untuk masuk ke dalam kelas. Mengambil tasnya, lalu memakainya.

Jisoo kembali kehadapan Jeonghan. Memajukan wajahnya, mendekati wajah Jeonghan.

“Ah, dan aku juga suka kamu. Makasih udah suka orang macam aku.” ucap Jisoo pelan, dengan senyum mautnya yang memikat.

Jeonghan tersentak. Wajahnya memerah.

Jisoo menyeringai. Tangannya ia lingkarkan ke pinggang Jeonghan. Menariknya mendekat.

Jeonghan tersentak. Tangannya otomatis berada di dada Jisoo.

Jisoo mendekatkan bibirnya ditelinga Jeonghan yang memerah. Dia berbisik pelan.

“So, you want to date me?”